
Ceklek
Suara pintu menggema diruang instalasi rumah sakit yang terbaring pria paruh baya disana.
Kini Thomas bisa tersenyum kembali setelah masa-masa kritisnya ia lewati.
"Daddy, bagaimana kabarmu?" Zayn yang baru saja darang dari luar membuat pria itu tersenyum kearahnya.
"Sudah lebih baik nak, senang bisa melihat kalian lagi."
"Dimana mommy dan kak Grace?"
"Mereka keluar sebentar" Zayn duduk tepat disamping bangsal Thomas yang kini mulai menghembuskan nafas leganya setelah dirinya beberapa saat lalu masih bernafas dibantu dengan alat pernafasan rumah sakit.
"Nak, daddy tidak melihat adikmu. Dimana dia?" Pertanyaan itu sontak membuat Zayn membulatkan matanya, dirinya tak tau harus berkata apa pada sang ayah yang kali ini berharap pada putri kesayangannya itu.
"Pa, jangan fikirkan yang lain dulu, lebih baik kau jaga kesehatanmu."
"Aku percaya pada putri ku Zayn, dia tidak mungkin melakukan itu."
Zayn menatap Thomas gelisah, rasa serba salah kini seperti menohok hatinya. Haruskah ia berkata yang sejujurnya?? haruskah ia katakan perbuatan yang dilakukan adiknya itu? Zayn begitu ragu.
"Dad, ku harap kau masih ingat jika Falery bukan putri kandung mu. Dia juga bukan adikku."
Thomas mengernyitkan keningnya, dirinya merasa heran dengan fikiran putranya itu. Bahkan dulu ia sangat menyayangi Falery, namun kenapa sepertinya ada sesuatu yang membuatnya seperti membenci adiknya. Kesadarannya yang baru saja terbangun tak dapat membuat dirinya mengetahui secara pasti apa yang terjadi.
"Apa yang kau katakan Zayn? apa aku salah dengar? bukankah kau menyayangi Falery?."
"Dad, kau harus mengerti, dia bukan Falery. Dia adalah Reyna, Reyna yang kita kasihani, hingga terlalu memanjakannya."
Thomas menggeleng, dirinya tak tau dengan jalan fikiran Zayn lagi. Dadanya ikut sesak mendengar pernyataan Zayn barusan.
"DIA FALERY ZAYN! dia adikmu, dia juga anakku. Siapa yang kau bicarakan hingga nadamu berubah seperti ini haa? aku sudah tidak mengenalmu lagi."
"Dad, Falery ya sebaik yang kau kira. Apa kau memilih Falery yang tak pernah datang kemari daripada kami yang senantiasa memberikan dukungan untukmu."
Deg
Jantung yang berpacu cepat kini seakan terhenti, Thomas membisu sekejap, dirinya mulai berfikir dengan akal sehatnya. Bagaimana mungkin Falery tidak menjenguknya, bahkan dirinyalah yang membuat Thomas terbangun dari masa komanya. Dengan hanya mendengar suara isakan malaikat kecil itu Thomas bisa bangkit dari hidup dan mati yang tak pernah ia rasa selama ini.
Plakkkk
"DIAM KAU! Falery tak seperti itu, dia yang membangunkan ku saat aku tak sadarkan diri."
Satu tamparan keras, membuat pria dihadapan Thomas terdiam sesaat.
"Dad kumohon, kau pasti hanya bermimpi. Dia tidak mungkin berada disini."
Air mata merembes disudut mata pria paruh baya itu. Ia kecewa, entah dengan Zayn ataupun Falery, ia tak tau. Tapi ia pun menyesal karena telah mengacaukan semua ini. Ia seharusnya tidak masuk dalam ruangan yang dipenuhi obat-obatan hingga membuat Falery dibenci oleh Zayn.
"Cukup Zayn, keluar dari sini!" teriak Thomas penuh amarah.
"Tapi dad" tukasnya tak digubris oleh sang ayah.
"Aku bilang KELUAR!" Zayn tidak dapat berkata, dirinya menunduk lesu dengan wajahnya yang muram. Langkah pria itu lemas keluar dari ruangan Thomas yang kini tak mau melihat keberadaannya.
Dakkk
Zayn mengacak rambutnya, dirinya menyesal dengan perkataannya pada Thomas.
"Falery? dia datang kemari ck. Tidak mungkin, pasti daddy hanya bermimpi" gumamnya lalu beralih duduk diruang tunggu dengan nafas panjangnya.
***
Tak tak tak
Suara langkah kaki gadis cantik itu terdengar diatas bongkahan salju yang semakin menebal dibawah kakinya. Falery berjalan perlahan dengan langkahnya yang pasti, tak lupa pakaian hangat dan syal serta sepatu boot melengkapi setelannya hari ini setelah musim dingin yang menerpa tiada henti.
Gadis itu duduk dibangku taman, dirinya memegang beberapa berkas dan juga tas ransel kecil dipunggungnya. Rambutnya tergerai indah dengan wajahnya yang cantik bagai dewi mitologi.
"Huffft" hembusan nafas dengan nafasnya yang semakin membeku membuat gadis itu mengepalkan kedua tangannya yang tak memakai sarung tangan.
"Aku lupa memakai sarung tangan ck" gumamnya sambil mengusap-usap kedua jemarinya untuk meminimalisir kedinginan dalam tubuhnya.
Tiba-tiba saja sepasang sarung tangan tersohor didepan matanya. Gadis itu mendongak, menatap pria yang tak asing baginya.
Buru-buru ia mengalihkan pandangannya, seolah tak ingin melihat wajah pria itu selamanya.
"Fay" Alfian duduk disamping Falery, gadis itu tiba-tiba bangkit tanpa mau menatap wajahnya.
"Kau pasti kedinginan kan? maaf, aku hanya tidak ingin membiarkan mu hampa dalam kesendirian."
Falery masih membelakangi tubuh pria itu yang kini mulai frustrasi.
"Tolong Fay, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua."
"Dokter Alfian, maafkan aku jika sebelumnya aku terlalu keras padamu. Tapi sekarang aku bukanlah Falery. Sekarang kau bisa berlari sepuasmu, kau bisa menikmati hidup dan mencintai orang yang benar tanpa persetujuan ku."
Alfian kembali bangkit, dirinya membalikkan tubuh gadis itu hingga mata mereka saling bertemu.
"Fay, aku mohon!"
"Biarkan kali ini aku saja yang memohon. Alfian, kau begitu mencintai Clara bukan? kumohon tinggalkan aku, berjuanglah demi cinta mu padanya. Jangan memilihku karena kau merasa kasihan ataupun merasa bersalah. Karena sungguh, aku sudah menemukan cinta lama ku."
"Apakah dia Iryasya?" Falery hanya tersenyum tipis, dirinya menyentuh punggung dokter Alfian dan mengusapnya perlahan.
"Kau tentu sudah tau kan perasaan kami berdua, bahkan sebelum kecelakaan itu. Jadi kuharap kau bersyukur dengan cinta yang kau dapatkan. Kau tak perlu berjuang untuk cintamu, tidak seperti perjuangan ku dengan dia. Kami melewati berbagai rintangan dan ketegangan, tapi ternyata sepertinya Tuhan hanya mengujiku."
Falery menatap langit, dirinya tersenyum simpul sambil memegangi berkas-berkasnya.
"Buktinya sampai saat ini, dimanapun aku berada, dia bisa menemukan ku."
"Fay, a.. aku benar-benar" Falery mengulurkan tangannya, dirinya menunggu jabatan tangan dari Alfian yang kini membisu tanpa bersuara menatapnya heran dengan dahi yang berkerut sempurna.
"Jangan pernah minta maaf lagi. Aku waktu itu hanya emosi sesaat. Mulai hari ini kita berteman?."
Alfian menatap tangan Falery yang masih menyambut jabatan tangan darinya, dirinya perlahan membalas salam dari Falery dan ikut tersenyum.
Alfian menarik tangan Falery, dirinya merengkuh tubuh gadis itu, membuat dirinya berhambur memeluk tubuh Alfian yang kini menyesal dengan apa yang ia perbuat.
"Reyna maafkan aku, aku menyesal telah menyakiti gadis sebaik dirimu. Aku janji tidak akan pernah mengecewakan mu setelah ini, kau memberiku banyak keyakinan Reyna. Aku sangat berterimakasih padamu."
Falery tersenyum simpul, dirinya membalas pelukan hangat dari Alfian padanya. Gadis itu mengelus punggung Alfian dengan lembut.
Falery merenggangkan pelukannya, dirinya menatap Alfian yang kali ini mulai tenang dengan segala beban yang sebelumnya ia rasakan.
"Baiklah, mulai sekarang kita berteman."
Alfian menyodorkan jari kelingkingnya yang dibalas oleh Falery, gadis itu mengikat kelingking Alfian dengan senyum sahabat darinya.
Kini Falery bisa bernafas dengan lega, tiada beban darinya kepada Alfian. Perlahan lahan dirinya mulai memperbaiki semuanya dengan ingatan yang selama ini ia ketahui.
Tak tak tak
Suara langkah kaki Falery dan Alfian yang kini tengah berjalan beriringan membuat nada melodi indah ditengah hujan salju yang semakin lebat siang itu. Kini mereka berdua berjalan sambil memegang kopi masing-masing untuk sekedar menghangatkan tubuh.
"Rey"
"Aku masih Falery Al. Hahaha"
Alfian merasa canggung, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Perasaan yang ia lalui bersama Falery dulu kini berbeda jauh terlepas ingatan gadis itu muncul kembali.
"Jadi kau tadi mau bilang apa dokter?"
"Oh tu, ummm"
Falery menyenggol lengan Alfian, dirinya tersenyum sambil menatap Alfian yang terlihat kaku dan berbeda seperti dulu. Falery tak bisa menahannya, ia terlihat terkekeh geli kala melirik Alfian yang begitu gugup berjalan bersamanya.
"Jangan terlalu formal. Aku ini Falery Al, Falery tunangan mu, apa kau lupa? hahaha" Alfian tersentak mendengar kalimat yang keluar dari mulut gadis disampingnya. Entah apa yang ia rasa, perasaan nyaman dan ingin melindungi dia begitu besar namun ia tak ingin egois terhadap perasaannya saat ini.
Tampak wajah pria itu memerah membuat gadis disampingnya menahan tawa sesaat.
"Fay, jangan tertawa."
"Hahaha maaf maaf, tapi kau terlalu lucu Al, wajahmu merah" Alfian menghentikan langkahnya membuat Falery mengikutinya. Gadis itu mencoba meredam tawanya untuk menghilangkan kekesalan pada Alfian yang sempat terpancing sesaat.
"Haha. Baiklah baiklahaku takkan menggodamu lagi okay."
Falery berhenti dengan aktivitas kekehannya yang membuatnya sedikit lelah. Gadis itu fokus pada langkahnya dan menyesap coklat hangat ditangannya.
Hangat
Rasa yang pernah ia rasakan beberapakali mengingatkan gadis itu pada pria yang sangat ia cinta. Pertemuan pertama kali berawal dari secangkir kopi beraroma vanila.
"Al, kau tau aku adalah orang terbodoh di dunia ini."
Falery melangkah cepat, dirinya melihat kursi panjang disamping trotoar, gadis itu melangkah dan mempersilahkan Alfian untuk duduk bersamanya.
"Hey, apa yang kau katakan Falery. Kau adalah gadis baik, kau tidak bodoh mengerti."
"Um aku tau itu, makanya aku sering dibodohi."
Terlihat wajah Alfian yang terlihat murung. Membuat Falery tergugah untuk menenangkan hatinya.
"Hey, kau tak usah terbawa dengan kata-kata ku. Aku kan sudah bilang tidak usah mengingat sesuatu yang tidak perlu diingat. Hahaha aku hanya bercanda."
"Tapi aku memang salah Fay. Aku tau kau memaafkan aku, tapi aku pasti tidak akan pernah lupa dengan kesalahan yang kubuat terhadap mu."
Falery menyentuh punggung pria itu lagi. Dirinya merasa bersalah dengan apa yang ia katakan barusan.
"Tidak ada yang perlu disesali Al, semua sudah terjadi."
Falery menghembuskan nafasnya, bersiap untuk melanjutkan kata-katanya.
"Aku sungguh tidak menyinggung mu, tapi aku memang bodoh, berulang kali Yasya meyakinkan ku bahwa aku adalah Reyna, namun aku menampik semua itu, aku berkata kasar padanya, aku menganggap dia gila. Huffft, entahlah setelah ini ia mau memaafkan aku atau tidak."
Alfian tersenyum, dirinya mengacak rambut Falery dengan lembut.
"Tentu saja ia akan memaafkan mu Fay. Karena kau sendiri tidak bermaksud untuk bersikap demikian."
"Tapi" lanjutnya yang sempat ragu.
"Apa yang kau ragukan lagi, aku percaya hanya Yasya yang dapat membuatmu bahagia."
Falery mengangguk, dirinya mencoba menyemangati diri. Apa yang dikatakan Alfian memang benar, tak ada keraguan darinya untuk tak yakin pada tekat yang telah ia buat.