
Seorang dokter muda berumur 32 tahun kini sedang berkeringat dingin, dengan baju dan masker membalut wajah serta tubuhnya, menyelamatkan seorang pasien yang berada dibangsal tepat dibawahnya.
Rasa lega kini menyelimuti hatinya setelah fikiran dan juga hatinya bekerja keras merasakan dan berfikir untuk kelangsungan hidup wanita yang kini terbaring tak sadarkan diri itu.
Kini Alfian bisa bernafas dengan lega, akhirnya kondisi pasiennya sudah kembali seperti semula.
Tubuhnya yang bergetar kini merasakan lemas akibat perasaan gugup tiap kali dirinya menyelamatkan nyawa seseorang, mengingatkan dirinya pada gadis 5 tahun lalu.
Alfian mendengus, kini pria itu duduk di kursi tunggu sambil melepaskan maskernya yang ia pakai.
"Akhirnya..." ucapnya sambil mengalihkan pandangannya, pria itu mengambil ponselnya memperhatikan foto seorang gadis yang sengaja dipajang olehnya menjadi sebuah wallpaper.
Gadis manja dengan sikapnya yang lembut, meskipun dibalik sifat angkuh dan kasarnya Falery, namun sisi lain dari gadis itu bisa membuat Alfian bisa tersenyum sendiri.
"Kaulah penyemangat ku Fay, aku sangat mencintaimu."
Gumamnya dengan pelan sambil tersenyum.
"Al" suara lembut seorang wanita membuat pria itu menoleh sambil dengan cepat menyembunyikan ponselnya.
"Kau" ucapnya menggantung sambil bangkit, menghindari gadis itu yang tak asing baginya.
"Apa kabar mu?" pertanyaan itu membuat Alfian mengalihkan pandangannya, tanpa mau memandang gadis yang kini semakin mendekati dirinya.
"Kenapa kamu kesini?."
"Aku hanya ingin bertemu denganmu, apa itu salah?" tanya Clara dengan nada suaranya yang begitu manja.
"Kamu nggak perlu kesini, aku sibuk" kata Alfian sambil melangkah, membuat gadis itu menarik lengan Alfian yang kini berhenti dan segera menghempaskan tangan gadis itu.
"Al, aku minta maaf, aku nyesel. Aku mau balikan sama kamu" kata gadis itu membuat Alfian menggeleng dengan cepat seraya menghempaskan tangan gadis itu yang masih setia bertengger dilengannya.
"CUKUP! cukup Ra, aku mohon, jangan ganggu aku lagi. Kita udah pisah, jadi tolong pergi dari sini jika kamu tidak ada kepentingan lain" kata Alfian dengan tegas membuat Clara, mantan Alfian menatap punggung pria itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Alfian, kalo kamu pengen kita nikah sekarang juga, aku akan setuju. Aku mau nikah sama kamu, tapi tolong, maafin aku."
"Sekarang udah terlambat Ra, hubungan kita nggak perlu diterusin lagi. Lebih baik, kamu melupakan ku dan cari orang lain yang mau kamu ajak nikah."
"Al... aku cuma pengen nikah sama kamu, aku nyesel udah ninggalin kamu demi karier aku, tapi sekarang aku bakal memperbaiki semuanya, bahkan aku rela melepaskan profesi aku demi kamu" ujar Clara dengan isakannya yang dipenuhi air mata.
Alfian menggeleng, dan segera menjauh dari Clara yang kini tengah meneteskan air mata yang ia tahan sedari tadi.
Pria itu berjalan dengan cepat, memasuki ruangan pribadinya dan duduk dengan kasar.
Fikirannya melayang, mengingat masa-masa yang pernah ia lalui bersama Clara, pria itu melipat kedua tangannya, melepaskan kacamata yang nyaris menemaninya setiap saat.
Tangannya mengepal seolah rasa kesal seperti menjalar disetiap urat syaraf yang ia rasakan.
***
Suara langkah kaki yang cepat dari seorang gadis bersamaan dengan dering diponsel gadis itu yang kini berada di tas genggamnya membuat gadis itu menghentikan langkahnya seketika.
"Hallo"
"FALERY!" teriakan nyaring dari pria disebrang sana membuat telinga Falery merasakan sakit yang amat menjadi, dia bahkan bisa menebak sang kakak yang kini tengah murka padanya akibat sifatnya yang semaunya sendiri.
"Kakak stop. Ada apa?" kata Falery seolah tidak terjadi apa-apa, membuat pria disebrang sana semakin geram.
"Cepat pulang sekarang, atau kau mau ku kurung dalam kamar mu selama sebulan" begitu kata Alan mengancam. Namun alih-alih Falery takut, ia justru mengabaikannya dan menahan tawanya.
"Kau yang diam-diam menyelinap dan tak naik pesawat bersama ku. Apa kau gila, menuduh kakak mu yang sangat protektif terhadap mu bisa meninggalkan mu sendirian disana ha?!" Falery mendengus, punggungnya bersandar pada mobil berwarna merah miliknya yang kini terparkir rapi tepat dibelakangnya.
"Kak Alan, aku masih ada jadwal, kau pasti tak teliti kemarin, aku ada panggilan di studio dan di cafe" ujar Falery tenang sembari tersenyum.
"Jangan membuat alasan yang tidak masuk akal Fay, cepat pulang atau kau akan tau akibatnya."
"Kumohon kak, aku bersama Sarah disini, kau tenang saja. Lagipula aku tidak ada pekerjaan disana, aku akan bosan nantinya."
Alan memutar bola matanya, fikirannya selalu tertuju pada sang adik yang kini berada jauh dari jangkauannya. Hatinya seperti dirundung kepahitan ketika mengingat ketika Falery terjatuh dari gedung itu tempo hari.
"Kata siapa kau tak punya pekerjaan, kau disini akan diundang bergabung bersama Forest group, kau akan jadi model utama untuk majalah perusahaan milik mereka."
Oke, kini Falery semakin frustasi. Sepertinya Alan tidak lebih mudah ditangani daripada sebelumnya. Karena memang Falery sering berbuat demikian untuk bertindak hal bebas diluar jangkauan kakaknya. Falery menarik nafasnya dalam-dalam, siap untuk bertarung pendapat.
"Kak" namun belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya suara Alan dengan tegas menyambar.
"Tidak ada bantahan, cepat pulang, atau kau akan tau sendiri akibatnya."
tut... tut... tut....
Alan mematikan ponselnya dengan sepihak, membuat gadis yang kini tengah berdiri tegak itu menendang batu dibawahnya.
"Uuuuggghhht kak Alan. Kau ini keterlaluan" ucapnya sambil memasuki mobil merah miliknya.
***
Falery kini telah sampai dihotel miliknya, rasa kesal yang ia rasakan masih terasa bersamaan dengan koper yang ia seret beserta baju-bajunya yang berhamburan kemana-mana.
tok tok tok....
Suara ketukan pintu membuat Falery menghentikan aktivitasnya.
"Fay... ini aku" suara familiar itu membuat Falery menoleh sambil berteriak.
"Masuk."
Ceklek....
Suara terbukanya pintu membuat Falery acuh pada gadis yang kini memasuki kamar hotelnya. Sarah mendengus kesal, menghampiri sahabatnya yang kini telah disibukkan oleh barang-barangnya sendiri.
"Jadi kau mau pulang sekarang?"
"Mau bagaimana lagi, kau tau kan Alan Gilbert itu seperti apaa" ucapnya sambil terus mengemasi barang yang tersisa, membuat Sarah menatap malas pada barang-barang bawaan Falery.
"Lalu kau... akan meninggalkan ku disini?."
"Tidak ada yang mengundangmu untuk datang kemari" kata Falery dengan santai, meskipun kadang perkataan dari sahabatnya ini terlalu kasar dan blak-blakan tapi Sarah sangat mengerti betapa kesalnya gadis itu.
Dia paling tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh keluarganya apalagi pada kedua kakaknya membuat Falery kadang tak bisa menikmati hidupnya walau tanpa tekanan namun penuh peraturan.
"Baiklah... aku disini masih ada urusan, minggu depan aku akan kembali untuk mengikuti wisuda."
Falery menghentikan kegiatannya sambil menatap sahabatnya itu dengan senyuman tipis sambil menepuk sebelah pundak Sarah.
"Jaga dirimu" begitu kata Falery, kata-kata yang mungkin sebagian orang akan kesal jika mendapat pesan hanya seperti itu setelah ia meninggalkan. Namun, begitulah ia, dua kata itu bagi Sarah adalah kata-kata yang mewakili bagaimana khawatirnya Falery saat meninggalkan sahabatnya sendiri.