The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Undangan



Gedung bertingkat dengan beberapa pohon menghiasi halaman dan bunga-bunga bermekaran. Taman bermain yang menghiasi panti asuhan didepan Reyna itu sangat ia rindukan. Kini langkahnya turun dari mobil, bersamaan dengan Yasya yang menyusul Reyna memandangi banyak anak-anak yang berlari dan bermain disana.


"Ayuk!" ajak gadis itu seraya menggandeng lengan calon suaminya dengan manja. Langkah Reyna disambut oleh anak-anak yang kini menyapanya satu persatu. Gadis itu buru-buru melepaskan tangannya saat dirinya mulai malu diperhatikan oleh anak-anak yang berada disana.


"Kak Reyna!" sapa salah satu anak perempuan yang kini tersenyum pada Reyna. Begitupun gadis itu membalas senyumannya.


"Reyna, kamu kesini? udah lama nggak mampir apa kabar?" suara pengasuh wanita terdengar tak asing kala dirinya menggendong anak kecil. Reyna tersenyum pada wanita setengah baya itu, usianya kira-kira 40 tahunan dengan wajah yang begitu keibuan membuat Reyna semakin nyaman dibuatnya. Gadis itu buru-buru menyalami wanita itu yang baru saja menyambutnya.


"Tante, aku kangen sama anak-anak jadinya aku kesini, terus sekalian mau ngasih kabar kalau lusa aku bakal nikah" kata Reyna seraya melirik Yasya yang kini juga beralih menyalami pengasuh itu membuat wanita itu tersenyum dan dengan tatapan tak menyangka.


"Loh, kok mendadak banget? ini calon suaminya?" tanya wanita itu seraya menunjuk Yasya, Reyna mengangguk, Yasya hanya bisa menyunggingkan senyumnya. Dia seperti orang bodoh saja saat ini, melihat dari keakraban keduanya bisa ditebak jika Reyna sudah sering main ketempat ini tanpa memberitahu Yasya.


"Iya tante, namanya Yasya, Sya, ini Tante Hermin"


"Ganteng ya! pinter kamu cari cowok" kata tante Hermin menggoda membuat kedua pasangan itu merona.


"Tante bisa aja sih, ini undangannya, maaf ya tan emang mendadak banget. Aku juga belum kesini karena persiapan juga buat acara lusa" kata Reyna seraya menyerahkan undangan bercorak bunga-bunga berwarna merah itu oada wanita yang kini tersenyum padanya.


"Ah santai aja, tapi maaf loh tante nggak bisa hadir di acara kalian soalnya ada kunjungan dari dinas. Oh ya, selama kamu kesini belum pernah ketemu dokter Martin kan? kebetulan hari ini dokter Martin mau kunjungan" perkataan tante Hermin membuat Reyna membelalakkan matanya. Ia juga melirik Yasya yang kini menaikkan sebelah alisnya, mencoba menebak dari raut wajah Reyna yang tiba-tiba gugup. Atau jangan-jangan, selama Reyna berkunjung kemari? ia sama sekali sengaja untuk menghindari Martin?.


"Tan-tante kapan dokter Martin kemari?" tanya Reyna dengan wajah gugupnya, membuat tante Hermin menaikkan sebelah alisnya.


"Setengah jam lalu berangkat, mungkin bentar lagi sampek? kenapa Rey?" pertanyaan itu membuat Reyna tambah gugup. Matanya kini membulat dengan sempurna.


"Kebetulan hari ini aku mau ke toko bunga tante, jadi nggak bisa lama-lama"


"Loh, kok gitu? kan kamu belum ketemu sama pak Martin, bentar lagi pasti orangnya sampai kok" kata tante Hermin membuat Reyna cepat-cepat meraih amplop tebal dari dalam tasnya dan memberikannya pada tante Hermin.


"Ah nggak apa-apa tante, saya masih belum siap ketemu pak Martin. Ini titip buat anak-anak ya? tante nggak perlu cerita dulu soal saya selama ini yang ngasih sumbangan kemari pada beliau" memang selama Reyna mengunjungi panti asuhan itu, dirinya seolah menghindar jika Martin hendak berkunjung dan selalu berpesan yang sama pada tante Hermin. Entah mengapa tante Hermin pun tak tau, Reyna hanya mengatakan jika ia akan menemui Martin pada waktunya.


"Loh Reyna!" bahkan suara Hermin tak digubris sedikitpun oleh Reyna maupun Yasya yang kini melangkah menuju mobilnya.


"Maaf ya, selama ini aku nggak pernah cerita kalo aku sering datang kesini. Kamu marah nggak?" pertanyaan itu membuat Yasya terkekeh. Dengan pelan ia menginjak gas mobilnya untuk keluar dari bangunan itu.


"Ngapain aku marah, aku malahan bangga sama kamu. Tapi kenapa kamu nggak mau ketemu sama dokter Martin selama menjadi penggalang dana disitu?" Reyna menghela nafasnya, ia fikir Yasya akan peka terhadap posisinya.


"Aku nggak mau beliau salah paham sama aku, kamu tau kan beliau orangnya kaya apa? aku cuma takut niat baik aku dikira cari muka atau malah nantinya aku nggak dibolehin lagi kesana" ujar Reyna dengan suaranya yang lemah. Yasya mengusap lembut puncak kepala Reyna. Ia tau Reyna sangat perduli dengan kemanusiaan, mungkin masa lalunya lah yang membuat gadis itu menjadi lebih penyayang seperti ini.


***


Binar mata pria paruh baya itu kini menelisik setiap anak yang kini bermain lepas dihalaman panti. Pria itu melangkahkan kakinya tatkala dirinya baru saja turun dari mobil dan masuk kedalam gedung itu. Hangat ia rasakan saat beberapa anak menyambutnya dan mengecup punggung tangannya.


"Selamat sore pak Martin, mari silahkan" ujar Hermin yang kini mempersilahkan pria itu untuk masuk kedalam bangunan panti asuhan tersebut.


"Bagaimana perkembangan anak-anak bulan ini, ada yang sakit? atau mereka kekurangan sesuatu?" tanya dokter Martin yang kini melangkahkan kakinya bersejajar dengan langkah Hermin.


"Mereka cukup baik pak, ada beberapa anak yang kurang gizi karena susah makan. Tapi syukurlah setelah minggu lalu diberi vitamin sedikit demi sedikit mereka mau makan" kata Hermin menjelaskan. Martin hanya manggut-manggut, ia kini beralih duduk di sofa tempat ruangan kantor yang biasa menjadi persinggahannya.


"Pak Martin mau minum apa?" tawar Hermin yang kini berdiri disampingnya itu.


"Kopi saja" kata Martin membuat wanita setengah baya itu mengangguk lalu berlalu pergi.


Martin menghela nafasnya, beberapa hari terakhir ini ia harus disibukkan dengan operasi pasien yang silih berganti membuat kepalanya penat. Pandangannya menerawang menatap beberapa berkas di meja. Pria itu kemudian bangkit dan meraih salah satu berkas data dari anak-anak. Namun belum sempat tangannya meraih berkas itu, sebuah undangan berwarna merah membuat dirinya tergugah untuk meraihnya.


"Pak Martin kopinya?" suara itu membuat Martin membalikkan tubuhnya. Ia menatap intens Hermin yang kini menaikkan sebelah alisnya bertanya-tanya.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Hermin seraya meraih nampan yang baru saja ia gunakan untuk membawa cangkir kopi.


"Undangan apa ini?" sontak saja Hermin membelalakkan matanya. Kacau sudah rahasia yang harus ia tutup sementara tentang Reyna.


"Itu dari-"