The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
bahagia ku juga bahagia mu



"Fay, kumohon maafkan aku" ujar Alfian dengan matanya yang penuh dengan penyesalan. Gadis itu mencoba kuat, diusapnya air mata yang menggenang.


Kini Alfian hanya bisa merutuki kebodohannya, dirinya menyesal telah mengatakan kebohongan pada Yasya yang membuat dirinya salah faham atas kematian Reyna.


"Aku janji, aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Yasya. Aku menyesal Fay, itu semua kulakukan agar tidak ada yang tau tentang keberadaan mu."


"Kenapa kau lakukan itu Al?" Falery masih enggan menatap wajah pria yang kini tengah memohon padanya. Pandangannya mendongak dan sesekali menatap salju dibawahnya.


"Karena aku dan keluarga Gilbert pernah berjanji padamu, untuk menyembunyikan ini semua dari orang-orang yang pernah ada dihidupmu."


Falery tersentak, dirinya membelalak mata sambil mengingat-ingat kejadian yang pernah ia alami. Gadis itu menerawang jauh tepat dimana masa lalunya terjadi.


"Jangan pernah katakan pada siapapun kak, Reyna sudah mati. Dia telah pergi, aku yang berada disini bukanlah dia. Kau harus janji padaku."


Falery baru ingat, dirinya pernah mengikat janji pada orang-orang disekitarnya untuk menyembunyikan dirinya.


Namun kini, semuanya berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan. Sebuah penyesalan kini membuat gadis itu semakin tak bisa berkata. Gadis itu meneteskan air matanya lagi, tubuhnya tak kuasa dan bersimpuh di atas salju.


Jalanan yang cukup sepi karena hari semakin dingin membuatnya tak segan untuk mengungkapkan apa yang ia rasa. Kini ia harus menerima segalanya, kesalahan pahaman dan juga merelakan kebahagiaan untuk sahabatnya akan lebih baik daripada menuruti egonya.


"Fay, maafkan aku! kita, kita belum terlambat Fay, sebelum Yasya menikah kita masih ada kesempatan untuk memberitahu dia. Aku, aku akan kembali dan mengatakan yang sebenarnya."


Langkah Alfian siap untuk beranjak, namun Falery segera menahannya sebelum pria itu menjauh pergi.


Falery menggeleng dengan tatapan pasrah.


"Tidak perlu Al. Biarkan saja!" Alfian mengernyitkan keningnya, dirinya semakin tak bisa menebak apa yang diinginkan oleh gadis dihadapannya.


"Kenapa?!" Falery menunduk, ditahannya air mata yang semakin deras mengalir untuk tidak terisak dihadapan Alfian. Gadis itu mencoba mengatur nafasnya, mengatur dadanya agar tidak bergetar merasakan kesedihan.


"Mungkin, aku dan dia memang tidak ditakdirkan untuk bersama Al."


Alfian menarik kedua lengan Falery, menatap tajam kearah gadis itu, meski tatapan gadis itu masih enggan ia tuju.


"Kau berhak bahagia Falery!. Aku akan membantumu, karena aku tau ini bagian dari kesalahan ku juga! Falery, kau bilang aku harus memperjuangkan cinta ku, kau bilang aku harus mempertahankan orang yang berarti bagiku. Tapi kenapa perkataan mu sendiri seperti tidak berguna untukmu haa?" Falery melepaskan tangan Alfian dari lengannya. Gadis itu masih mengeluarkan air mata dan sesekali menyekanya.


"Apa kau fikir aku ingin Al? hiks, Sarah adalah sahabat baikku, dia bagai saudara untukku, dan Yasya terlihat sudah bahagia dengannya. Apa kau fikir Yasya akan selamanya mengingat ku? dia juga butuh kebahagiaan Alfian. Aku tidak ingin melukai Yasya dan Sarah karena keegoisan ku! hiks, aku menyayangi Sarah dan aku juga mencintai Yasya, biarkan aku yang mengalah Al. Aku bukan siapa-siapa lagi bukan? aku juga bukan Reyna lagi. Jadi akan lebih baik jika seperti ini."


Alfian menghela nafasnya, matanya berkaca-kaca dengan hatinya yang ikut tercekat. Gadis dihadapannya bukanlah Falery, Falery adalah pribadi yang keras, namun Reyna adalah gadis yang lemah dan kuat.


Gadis dihadapannya pernah tersakiti oleh keluarganya sendiri, keluarga yang pernah menyia-nyiakan dirinya.


"Fay, kau juga berhak bahagia kan."


"Kebahagiaan ku adalah melihat orang yang aku cintai bahagia Al, tidak lebih dari itu." Falery menghapus air matanya, kini dirinya hanya ingin melihat pria yang sangat ia cintai itu bahagia, tiada tujuan lain. Entah mengapa perasaannya tidak bisa berubah dan berpaling meski banyak lelaki yang begitu mendambakan Falery.


Falery bangkit dengan air matanya yang ia seka. Wajahnya tergurat indah senyuman cantik, meski tiada yang dapat menyangkal betapa sedihnya perasaanya kali ini.


Tit... tit... tit...


Suara monitor pasien menggema diruangan Thomas dirawat. Pria itu kembali koma setelah keadaannya yang kian memburuk beberapa waktu lalu.


Sedang diluar ruangan tengah terlihat seluruh keluarganya menungguu kesadaran Thomas.


"Ini semua gara-gara Falery!" ucap Zayn dengan nada benci dan kesal. Pria itu menapakkan kerutan diwajahnya yang kian menyimpulkan rasa kebencian pada gadis itu.


"Zayn, tenanglah nak! daddy pasti akan baik-baik saja" ucapan dari Ajeng tak dapat membuat hatinya tenang, yang ada malah rasa semakin benci pada adik angkatnya itu.


Grace kini tengah menatap cemas meski bibirnya sedikit melengkung sebuah senyuman dan kepuasan. Wanita itu menyentuh punggung suaminya yang kini masih tak bisa lepas dari pandangannya pada Thomas didalam sana.


"Alan" Alan menoleh dengan tatapan pasrah membuat Grace menyimpan sedikit penyesalan dalam masalah ini.


'Maafkan aku Alan, aku harus mengorbankan daddy untuk kepuasan ku sendiri. Ini semua kulakukan karena aku sangat mencintaimu, sekali lagi mohon maafkan aku.'


"Grace hiks,"


"Alan tenanglah! daddy pasti akan baik-baik saja. kita berdoa saja untuk kesembuhannya okay!" kata Grace menghibur.


"AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN FALERY MOM!" teriakan Zayn membuat Alan dan juga Grace menoleh pada Zayn yang kini masih duduk dengan kepalan tangannya yang begitu kuat.


"Nak, mommy juga kecewa dengan dia nak, tapi yang terpenting bukan dia saat ini, bukan siapa yang membuat daddy seperti ini, tapi kesembuhannya lebih penting daripada yang lain."


."Mom, waktu itu aku bertemu dengannya."


Mata Grace terperanjat, dirinya membelalak mata sambil menatap ketakutan pada Zayn yang kini mulai serius berbicara.


"Fay, Falery bertemu dengan mu? apa yang ia katakan Zayn? apa dia mengatakan sesuatu tentang ku?" Grace terlanjur panik, hingga dirinya tak menyadari perilakunya sendiri yang begitu gugup. Wanita itu menenangkan dirinya kala seluruh keluarganya menatapnya dengan tanya.


Grace menatap mereka secara bergantian dan mengatur nafasnya seperti biasa.


"Mak, maksud ku, aku takut dia mengada-ada, aku takut ia menuduhkan. Karena waktu itu tidak ada orang lain dirumah selain aku."


"Tidak, dia bahkan tidak menyebutkan siapapun. Dia hanya bilang kalau dia ingin bebas" uap Zayn yang kini menatap curiga pada Grace yang tengah membulatkan matanya.


"O.. oh.." ucap Grace singkat.


"Alan, aku.. aku mau ke toilet sebentar ya" Alan hanya mengangguk sambil menatap pasrah.