
Suasana musim semi semakin hangat kala bunga bermekaran disepanjang jalan kota Florida.
Begitupun Falery yang kini tengah keluar dari pusat perbelanjaan usai dirinya pulang dari kegiatan dirumah sakit yang menguras tenaganya.
Kini Falery dan Lilia berjalan beriringan dengan masing-masing membawa tas kecil berisi sayuran.
"Fay, sepertinya kita berpisah disini, sayang sekali rumah kita tidak searah dan kebetulan aku tidak membawa mobil" ucap Lilia yang kini berhenti didepan bus yang hendak ia tumpangi.
"Santai saja, aku tak apa-apa, sampai rumah hubungi aku ya."
Lilia mengangguk, ia tersenyum sembari memeluk tubuh sahabatnya itu. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya dan memasuki bus, tak lupa lambaian tangannya menjadi perpisahannya dengan Falery usai bekerja seharian.
Falery tersenyum, ia menghembuskan nafasnya dan melanjutkan perjalanannya. Fikirannya menerawang, mengingat Michael yang semakin tak dapat ditebak olehnya.
Suara dari Lilia pun menggema di fikirannya.
"**Fay, apa kau fikir bos menarikmu sebagai asistennya tidak ada alasan?" tanya Lilia dengan pandangannya itens.
"Apa maksudmu?" tanya Falery balik.
"Kenapa dia mengajakmu makan siang?, kenapa dia hanya banyak berbicara dengan mu sedangkan yang lain tidak, dan juga kau pernah bercerita bahwa bos juga pernah tersenyum padamu. Itu cukup membuktikan bahwa Michael memiliki perasaan untukmu**."
Falery menggeleng dengan cepat. Apa yang ia fikirkan, bagaimana bisa pendapat dari Lilia mempengaruhi dirinya.
Bukankah ia telah berubah menjadi seseorang yang lebih sederhana. Bahkan ia yang sebelumnya memakai make up kini tak lagi memakainya ditambah lagi dengan kacamata besarnya.
'Mana mungkin Michael menyukaiku?!' batinnya sambil terus melangkah.
Gadis itu menyebrang sebuah persimpangan jalan. Fikirannya masih melayang dengan tatapan kosong.
tin... tin... tin...
Sebuah suara klakson mobil besar membuatnya terkejut dari arah berlawanan.
Namun peristiwa yang akan terjadi selanjutnya tak dapat ia duga sebelumnya.
Sebuah tangan meraih tubuhnya. Hingga Falery bisa merasakan tubuhnya yang kini memeluk tubuh besar seseorang yang menolongnya.
Dirasakan aroma maskulin yang familiar di indra penciumannya.
'Ini seperti,' batin Falery dengan perasaannya yang kini tidak karuan.
Dengan gerakan cepat gadis itu memundurkan tubuhnya, matanya menengadah menatap pria yang kini juga menatapnya lekat.
Pandangannya masih sama seperti dulu, teduh dengan kehangatan yang ia berikan.
Tiba-tiba Falery mulai merasa rindu, rindu akan hadirnya pria yang kini telah hadir didepan matanya.
Namun sayangnya, mungkin ini hanyalah sebuah bayangan dalam hatinya, harapan yang tak mungkin menjadi nyata.
"Kenapa kau selalu ceroboh, bagaimana jika tidak ada aku?" kata pria itu yang kini tengah khawatir.
Falery memijit pelipisnya, bukan karena perkataan pria itu, namun ia hanya ingin menerima kenyataan yang ada.
"Terimakasih Yasya" kata Falery singkat.
Yasya tersenyum, ia mendekati tubuh Falery membuat gadis itu terperanjat dan mundur beberapa langkah darinya.
"Kenapa kau menjauh?" Yasya terkekeh apa yang dirasakan gadis dihadapannya itu. Apa dia takut?
Falery menggeleng, ia mencoba tersenyum untuk menutupi kerapuhan yang ia rasakan.
"Ada banyak orang disini, jika seseorang mengenali kita, mereka akan salah paham, kau juga harus menjaga nama baikmu sebagai calon suami Sarah."
Entah mengapa pandangan Yasya berubah sendu. Namun Falery dengan cepat menepis rasa itu ia lebih memilih untuk menunduk tanpa berani menatap mata pria itu, pria yang membuat jantungnya selalu berdegup dengan kencang.
***
"Dulu saat aku jatuh dari gedung, kau yang menolong ku, saat aku diculik dan hampir diperkosa Alex, kau juga yang menolong, dan yang terakhir saat aku hampir celaka kau juga yang datang untuk menolong ku, hahaha sepertinya aku berhutang nyawa padamu Yasya" ujar Falery yang kini berjalan sejajar dengan langkah pria disampingnya.
Falery terdiam, dirinya tertegun beberapa saat kala Yasya mengatakan hal demikian. Suatu hal yang membuat hatinya kian berdebar.
"Hahaha, jangan terlalu berlebihan, aku serius, aku bahkan tidak tau harus membalas mu dengan apa" ucapan Reyna serius sambil menatap Yasya yang kini tak pernah menghilangkan raut senyuman di wajahnya.
"Kenapa kau tidak mengajak ku ke suatu tempat atau mentraktirku, kebetulan aku juga sudah mulai lapar."
Falery tersenyum kikuk, ia mengangguk tanda setuju.
Gadis itu mengajak Yasya ke resort, tempat peristirahatan dan juga restoran. Dimana tempat itu adalah tempat kesukaannya saat musim semi tiba.
Pengunjung bisa menikmati makan siang saat bunga bermekaran dan juga bukit-bukit menjadi hijau oleh datangnya musim semi. Begitu indah dan menakjubkan.
"Waw, sejak kapan kau tau tempat ini?" tanya Yasya dengan dirinya yang berdecak kagum oleh pemandangan dilantai dua spring restaurant.
"Sudah lama, bagaimana menurutmu?" tanya Falery kembali membuat pria yang kini masih menikmati pemandangan sore itu beralih senyum kearahnya.
"Indah, sangat indah" ucap Yasya yang kini beralih menatap Falery dengan pandangannya yang kembali teduh.
Falery buru-buru memalingkan wajahnya, ia meraih buku menu yang berada dihadapannya dan bersiap untuk memesan.
"Um, kau mau pesan apa?" tanya Falery dengan wajahnya yang gugup.
"Apapun yang kau pesan."
Falery mengangguk seraya memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan.
Suasana kembali hening, dengan Yasya yang kini hanya menatap Falery dengan tatapan kerinduan.
"Sejak kapan kau kembali? sudah bertemu dengan Sarah?" tanya Falery seraya mencairkan suasana yang sempat menegang.
Sore hari memang waktu yang sepi untuk menikmati pemandangan, karena mendekati malam tiada yang dapat dilihat kecuali kegelapan pada bukit-bukit yang terpampang jelas disekeliling rest area.
Begitupun Yasya dan Falery yang kini mereka hanya berdua di lantai dua. Mungkin beberapa orang ada di lantai bawah, namun keheningan ini menjadi begitu sepi kala tiada perbincangan diantara mereka.
"Sudah dua hari ini" jawab pria itu singkat membuat Reyna berulangkali tersenyum palsu dihadapan Yasya.
"Aku tak menyangka pernikahan mu akan berlangsung beberapa hari ini, siapapun pasti akan beruntung jika memiliki seorang istri seperti Sarah" ucap Falery mencoba untuk mencairkan suasana.
Tiba-tiba saja tangan Yasya menyentuh punggung tangannya. Gadis itu terperanjat, matanya membelalak menatap Yasya yang kini tak pernah berhenti untuk menatapnya.
"Reyna, bisakah kita membahas yang lainnya" ucap Yasya dengan pupil yang bergetar. Matanya berkaca-kaca siap untuk menumpahkan isinya.
Falery menggeleng, ia terkejut dengan apa yang dikatakan Yasya padanya. Buru-buru dirinya menarik tangannya dari Yasya.
"Ka... kau salah faham, aku bukan Reyna, sudah kukatakan aku Falery" ucap Falery sambil memalingkan wajahnya.
"Aku permisi dulu" Falery bangkit untuk menghindari Yasya, namun sebuah tangan mencegahnya untuk pergi. Ia menarik lengan Falery dan memeluknya dari belakang.
Sontak Falery terkejut dibuatnya. Ia hanya terdiam dengan getaran pada tubuhnya kala mencium aroma maskulin yang begitu ia rindukan sejak lama.
"Kenapa?! kenapa kau menghindariku Reyna? apa kau fikir aku hanya asal bicara?! Aku sudah tau segalanya dari Alfian, dan kau tak perlu menghindariku. Hiks, Reyna, selama ini aku selalu mencintaimu, aku selalu bermimpi bisa menyusulmu, atau bahkan aku berfikir bahwa kau belum juga pergi dari dunia ini. Kau tak tau betapa gilanya aku tanpamu. Jangan pergi lagi sayang, aku tak mampu tanpamu."
Yasya memeluk tubuh Falery semakin erat.
Gadis itu tak bisa menahan tangisnya. Pecah begitu saja diiringi kerinduan yang ia rasakan.
Ia masih membisu, menikmati setiap pelukan hangat dari pria yang sangat ia cintai.
"Hiks, maafkan aku Yasya, hiks aku memang seorang pengecut. Ya, aku adalah Reyna."
Falery melepaskan pelukannya Yasya. Ia beralih menghadap tubuh pria itu dan memeluknya dengan erat.
"Hiks, Reyna, akhirnya setelah sekian lama aku mencari sekian lama aku menjadi gila, dan kau ternyata datang padaku."
Falery hanya terdiam dengan tangisannya yang menjadi. Dibalasnya pelukan Falery yang begitu hangat oleh Yasya. Sebuah perasaan hangat dan nyaman yang selama ini ia rindukan kini akhirnya bisa ia rasakan kembali.