
"Reyna maafkan bang Rey" ujar pria itu sembari mengunyah makanannya dengan air mata yang merembes dipipinya.
Setelah selesai dengan acara makan malamnya yang terbilang sepi. Pria itu mengemasi makanannya dan menaruh sisanya di kulkas, sedang piring yang berserakan ia cuci dengan pelan agar ayahnya tak terganggu dengan suara berisik karenanya.
Pria itu naik ke atas kamarnya. Tanpa disadari langkahnya terhenti diambang pintu, pandangannya beralih menatap pintu kamar bernuansa pink yang menggambarkan sosok manja dari gadis yang begitu ia rindukan.
Langkahnya melaju pasti, membuka pintu tersebut dengan pelan. Dirasakannya hawa hangat yang menyeruak kala telah sampai didalamnya.
Foto-foto ketika Reyna masih bayi sampai gadis itu menginjak dewasa, terpampang jelas didinding kamar dengan beberapa lampu hias menerangi kamarnya yang cukup luas tersebut.
Reyhan menghela nafasnya, ia duduk disisi ranjang untuk sekedar melepas kerinduannya terhadap adik kesayangannya itu. Tangannya meraih foto diatas nakas, ia melihat betapa bahagianya Reyna kecil yang tengah mencium wajah polosnya yang menginjak pubertas pertama.
Ia mengingat betapa indah kenangannya bersama dengan gadis itu. Begitu indah dan juga sangat menyenangkan rasanya, andai saja waktu dapat berlalu, maka ia akan selalu melindungi adiknya setiap waktu. Namun apa yang harus ia lakukan jika semua hanya ibarat nasi menjadi bubur.
Pria itu mengusap lembut frame yang berada ditangannya.
"Maafin bang Rey ya, bang Rey nggak bisa jagain kamu" ujar Reyhan dengan matanya yang mulai berkaca.
"Reyhan" suara familiar itu membuat Reyhan gelagapan. Pria itu segera bangkit sembari menaruh pigura tersebut dengan asal.
Ditatapnya mata pria paruh baya yang kini menatap matanya dengan pandangan sayu.
"Papa, papa belum tidur?" ujar pria itu seraya menghapus air matanya yang terlihat hampir jatuh dari sudut matanya.
Reyhan mencoba untuk tersenyum, pandangannya beralih teduh seraya menampakkan keceriaan seperti biasanya. Sejujurnya ia tak ingin Reynaldi melihat keadaannya yang terlihat menyedihkan, ia harus membangkitkan semangat ayahnya meskipun sebenarnya ia sendiri juga terpuruk.
Pria paruh baya itu mendekat, dengan tatapannya yang begitu teduh seraya memberikan pelukan pada putra satu-satunya tersebut.
"Papa tau, kamu juga sama sedihnya seperti papa" ujarnya sambil merangkul pundak Reyhan dan mengisyaratkannya untuk duduk kembali seperti semula.
"Tapi kamu jangan mencoba untuk menyembunyikan segalanya" kata Reynaldi yang kini mulai merasa tegar dan beralih menepuk paha putranya.
"Itu nggak seperti apa yang papa pikirin kok, Reyhan baik-baik aja. Cuma pengen liat-liat kamar Reyna sebentar, abis itu tidur deh hehe" ujar Reyhan dengan senyuman yang coba ia tunjukkan.
Meskipun begitu Reynaldi sebenarnya tau apa yang puteranya coba sembunyikan darinya. Tiada yang lebih mengenal anak-anaknya daripada dirinya sendiri.
"Maafkan papa, mungkin papa selama ini selalu mengurung diri dan jarang mengajak kamu untuk bicara. Papa tau beban apa yang berada di pundak kamu Reyhan, papa tau karena papa juga mengalaminya."
"Pa," Reyhan mencoba mengelak, namun pandangan pria paruh baya itu semakin lamat memandanginya yang kini hanya terdiam dengan bibirnya yang bergetar.
"Papa ini orang tua kamu Reyhan, siapa yang lebih mengenal kamu daripada orang tua kamu sendiri?" Reynaldi sejenak menjeda kalimatnya. Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru ruangan kamar tersebut. Tubuhnya bangkit dan menyentuh foto yang menggantung dibawah lampu hias kamar tersebut.
Foto seorang Reyna yang selalu ceria tanpa ada guratan beban diwajahnya. Reyhan hanya terdiam dengan air matanya yang tertahan. Bahkan ia sendiripun takut untuk menatap mata sang ayah.
"Seharusnya kita lebih banyak membicarakan hal ini, seharusnya dari awal kita lebih bisa berbagi dan terbuka. Ini semua salah papa Reyhan, maafin papa yang selalu egois menutup diri. Seandainya dulu papa tidak percaya dengan laporan hasil DNA yang diberikan Cintya mungkin papa nggak akan memperlakukan putri papa sendiri seperti itu."
"Maksud papa?."
"Iya Reyhan, dulu ketika papa ingin membuktikannya sendiri bahwa Reyna memang bukan anak papa. Papa meminta Cintya untuk melakukan tes DNA, sejujurnya papa ingin mengurusnya sendiri. Namun karena bujuk rayunya, papa akhirnya mempercayakan padanya tentang itu. Dan benar saja hasilnya negatif, tidak disangka ternyata malah Cintya yang memang sengaja menjebak keluarga kita."
Reyhan sempat mengepalkan tangannya. Ia tak terima dengan apa yang dilakukan Cintya pada keluarganya. Padahal mereka tak pernah berbuat salah padanya.
Tapi mau disesali seperti apapun, nasi tetaplah menjadi bubur. Reyna dan Almira tidak akan pernah kembali.
Kini fokus Reyhan hanya satu, ia ingin melupakan hal yang telah lalu. Memberikan semangat dan juga tujuan hidup untuk ayahnya.
"Pa, maafin Reyhan pa" ujar pria itu dengan air mata yang menetes disudut matanya. Pria itu tak bisa menyembunyikannya lagi. Ia butuh seseorang yang merangkulnya.
"Reyhan, seharusnya papa yang minta maaf. Papa bukan orang tua baik untuk kalian, papa gagal Reyhan. Seharusnya papa bisa menjaga Almira dan Reyna, tapi papa malah melakukan sebaliknya" ujar pria itu yang kini memeluk Reyhan dengan tubuhnya yang mulai renta.
Kini mereka sama-sama menyadari. Ternyata saling menguatkan itu penting, apalagi dari hati dua orang yang saling rapuh. Penyesalan kini tinggallah sebuah penyesalan. Tapi tujuan hidup tetaplah sama.