The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kantor



Suara burung berkicau bersamaan dengan cahaya mentari yang menyeruak melewati celah kaca dari kamar hotel membuat Kanaya menggeliat. Gadis itu menghela nafasnya seraya menguap, ia mengucek matanya seraya menajamkan indera penglihatannya yang baru saja terbuka.


"Hoampph" Kanaya bangkit, matanya kini terbuka lebar oke cahaya remang yang masuk kedalam hotelnya. Namun, matanya tiba-tiba membelalak kala Reyhan tiba-tiba tidur disampingnya.


Matanya tiba-tiba membulat, ia buru-buru mengintip bagian bawahnya yang masih utuh mengenakan piyama lengkap. Jantungnya berdegup kencang saat ini, ternyata semalam dirinya tidur satu ranjang dengan Reyhan.


"Udah bangun? kamu kenapa panik gitu?" pertanyaan itu membuat Kanaya tercengang melihat Reyhan yang kini dengan santai menatapnya dengan senyuman. Bahkan perasaannya sudah bercampur aduk dari tadi tapi Reyhan sama sekali tidak peka.


"Kak, kenapa aku tidur disini? bukannya tadi malam aku tidur di sofa ya" ujar Kanaya membuat Reyhan bangkit dan memeluk tubuh gadis itu membuat mata Kanaya semakin membelalak. Jantungnya kini semakin berpacu kala Reyhan mencium puncak kepalanya tanpa permisi.


"Mana mungkin aku biarin kamu tidur disofa, aku nggak tega tau liat pacar aku kedinginan"


"Kak, tapi aku- aku nggak pernah tidur satu ranjang sama cowok" kata Kanaya yang kini wajahnya mulai merona seraya menunduk untuk menghindari pandangan Reyhan yang begitu menawan itu.


"Kamu tenang aja sayang, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kok. Lagian kalo aku kebablasan aku nggak akan lepas tanggung jawab kok" goda Reyhan membuat gadis disampingnya itu semakin merona dan memukul pelan dada bidang pria itu.


"Kakak apaan sih!"


"Aw, sakit Nay" keluh Reyhan seraya memegangi dadanya yang kini masih terlihat membiru membuat Kanaya kini panik dan buru-buru mengelusnya.


"Ma-maaf kak, sakit ya? aku nggak sengaja" kini senyum pria itu mengembang seolah mengartikan banyak hal, Kanaya yang kini menyadari jika dirinya menyentuh bagian dada pria itu yang begitu bidang ia hanya bisa menelan ludah seraya memalingkan wajahnya.


"Kenapa? kayanya kamu hobi deh megangin, kenapa nggak diterusin, aku nggak ngelarang kok" perkataan Reyhan yang begitu intim itu membuat wajah Kanaya cemberut. Ia juga menahan wajahnya yang kini mulai merona karena godaan dari Reyhan yang tiada habisnya. Reyhan mulai tertawa, ia mengangkat wajah Kanaya untuk mencium bibirnya dengan lembut. Benar-benar lembut, membuat Kanaya meremas seprai dibawahnya saking gugupnya.


Reyhan semakin menarik tengkuk gadis itu membuat ciuman mereka semakin dalam. Sama halnya dengan Reyhan, Kanaya pun mengalungkan tangannya dileher pria itu. Reyhan buru-buru membuka kimononya tanpa melepaskan pagutan diantara mereka. Kanaya membelalakkan matanya tatkala dirinya menyadari jika Reyhan kini sudah bertelanjang dada dihadapannya. Ia melepaskan ciuman itu membuat Reyhan mengerutkan keningnya.


"Kak Reyhan" sejujurnya Kanaya terpana melihat tubuh Reyhan yang begitu atletis. Ia menelan ludahnya kasar kala Kini Reyhan berpindah posisi berada diatasnya.


"Aku cinta sama kamu Nay" bisik Reyhan yang kini mulai turun menciumi leher jenjang Kanaya membuat Kanaya sesekali mendesah. Ada rasa geli yang membuat Kanaya tak bisa menahannya. Reyhan kini membuka paksa piyama Kanaya dan melemparnya kesembarang tempat.


"Panggil aku Nay"


"Kak-Reyhan, ah ah!" teriakan Kanaya bahkan tak terindahkan lagi membuat nafsu Reyhan kini semakin meninggi.


***


"Kemana si Reyhan semalam?" tanya Zayn tiba-tiba yang datang membawa setumpuk berkas dihadapan adiknya yang kini tengah sibuk dengan beberapa file dalam monitornya.


"Tau! katanya sih nginep dirumah temen" ujar Reyna tak acuh seraya masih fokus mengetik dan mengarahkan mouse dihadapannya.


Zayn menghela nafas, padahal ada yang ingin dirinya sampaikan mengenai...


"Hay sayang!" mata Zayn tiba-tiba membelalak kala pria itu datang tanpa permisi. Baru saja difikirkan ternyata Yasya sudah datang ke perusahaannya untuk menjemput Reyna.


"Yasya! kesini kok nggak bilang-bilang sih? kan kita bisa janjian di luar" kata Reyna dengan senyuman andalannya membuat Zayn hanya bisa menyebikkan bibirnya seraya meracau tak karuan.


"Hey! stop!" kata Zayn tegas membuat gerakan keduanya terhenti. Tatapan mata Zayn kini begitu dingin, memang benar jika dua orang sudah kasmaran, dunia terasa mikik sendiri, sedangkan yang lain hanya kebagian ampasnya saja.


"Lo ngapain kesini nggak pakek permisi? udah ganggu orang kerja, main peluk adek gue sembarangan" perkataan Zayn membuat Yasya memutar bola matanya. Sedangkan Reyna hanya bisa cemberut. Kakaknya satu itu, selalu mengganggu suasana saja, jika saja ia bisa segera menemukan tambatan hati pasti Zayn tidak akan repot untuk mengurus hal seperti ini.


"Tau kok, lagian gue kesini cuma mau jemput Reyna aja, mau cari cincin sama pesen kue habis itu gue balikin nanti" kata Yasya seraya menatap Reyna dengan senyum andalannya. Memang ketika mereka berada di hadapan Zayn maupun Reyhan pasangan itu tak bisa bermesraan seperti biasa.


"Hey! Reyna masih banyak kerjaan. Reyhan juga belum dateng, lo mau gue mati disini gara-gara banyak file yang harus gue tanganin sendiri" protes Zayn pada kedua sejoli itu membuat Reyna dan Yasya saling berpandangan.


"Kak Zayn kan udah lama pegang perusahaan ini sendiri, masa seharian ditinggal nggak bisa sih. Lagian kan bentar lagi aku mau nikah" ujar Reyna tak kalah memojokkan membuat Zayn kini melepaskan kacamatanya itu.


"Nah, udah berapa tahun lo ngurus perusahaan? bentar lagi Reyhan pasti juga dateng kok. Yuk Rey jalan" ajak Yasya tak sabar seraya menarik jemari Reyna membuat Zayn membelalakkan matanya dan berteriak memanggil keduanya, namun sayang mereka tak menggubris perkataan Zayn.


"Kak Zayn itu ganggu suasana banget deh, kaya nggak pernah jatuh cinta aja, bener-bener!" kesal Reyna seraya melangkahkan kakinya keluar dari gedung perkantoran itu disusul dengan Yasya yang kini berjalan bergandengan tangan dengannya.


"Udahlah, dia kan juga masih jomblo, iri kali. Itu masih mending cuma Zayn coba kalo ada abang kamu" kata Yasya menambahi membuat gadis itu mengangguk seraya mengikuti langkah Yasya yang semakin cepat.


"Bang Reyhan!" seru Reyna seraya menghentikan langkahnya kala melihat Reyhan dan Kanaya berjalan berdua dengan kedua tangan mereka yang bertautan. Senyuman terpancar indah dikeduanya membuat Reyna buru-buru menghampiri mereka.


"Bang Reyhan!" teriak gadis itu seraya meninggalkan Yasya yang kini tengah menggeleng seraya berdecak karena kehebohan Reyna. Tapi untunglah satu musuh sudah tumbang dengan pasangannya, kini halangan Yasya tinggal satu, siapa lagi kalau bukan Zayn.


"Berangkat bareng nih? kok jam segini baru nyampe" kata Reyna seraya melirik kedua tangan mereka yang saling bertautan. Kanaya hendak melepaskan genggamannya, namun dengan cepat Reyhan menahannya untuk mempertahankan genggaman mereka.


"Aku sama Kanaya udah pacaran" ujar Reyhan membuat Reyna tersenyum sendiri dan melirik Kanaya yang tengah menunduk dengan wajahnya yang merona.


"Oh ya! semalem-"


"Rey! ayo berangkat" belum sempat Reyna menyinggung Reyhan yang tidak pulang semalaman kini Reyna harus berangkat dengan Yasya untuk mempersiapkan pernikahan mereka.


Lain halnya dengan Reyhan dan Kanaya yang saling melirik. Kanaya bahkan tak berani mengingat kegiatan mereka tadi pagi.


"Aku mau pergi sama Yasya dulu, tolong jagain abang aku ya Nay, kalo dia nakal jewer aja kupingnya" kata Reyna seraya tertawa kecil kemudian berlari menemui Yasya yang kini bersedekap dada menunggunya.


Sepeninggal Reyna, Reyhan kini menatap gadisnya yang kini tengah menunduk tanpa mau menatapnya itu. Pandangannya seolah kosong, entah apa yang dipikirkan olehnya.


"Kamu mikirin apa?" pertanyaan itu membuat Kanaya mendongak, ia menatap manik mata Reyhan yang selalu membuat hatinya berdebar.


"Nggak ada kok kak" kata Kanaya yang kini tersenyum pada kekasihnya itu.


"Yang bener?"


"Iya sayang, beneran" jawabnya seraya mendongak dan menyentuh pipi Reyhan dengan gemas.