
"Kamu adalah orang yang baik Fay, aku yakin kamu pasti bisa berubah. Jika kamu balas dendam, apa yang kamu dapatkan? hidup kamu tidak akan puas dengan adanya kebencian."
"Cukup Sya, cukup!. Kamu nggak tau apa yang aku rasain, kamu nggak pernah ada diposisi aku, jadi cukup buat nyadarin aku" ujar Reyna yang kini segera membuka pintu mobil dan keluar dari sana.
Yasya segera memarkirkan mobilnya, ia menghela nafasnya sejenak seraya mengacak rambutnya frustasi. Ia tak tau lagi aps yang akan Falery perbuat, seharusnya Reyna bisa merasakan sakit dibagian perutnya tapi mengapa masih saja Falery hadir.
Baginya tiada lagi yang perlu ia fikirkan kecuali keberadaan Reyna sekarang ini yang harusnya ia cari. Yasya segera membuka mobilnya ia kini tengah berada di jalan dekat taman kota. Tatapannya mencari sosok gadis itu namun usahanya nihil. Yasya segera meraih ponsel yang berada disaku celananya. Ia beberapa kali menelfon Reyna namun tak kunjung ada jawaban dari gadis itu.
"Reyna, kamu dimana sayang?" gumam pria itu seraya mengacak rambutnya frustasi.
***
"Jangan terlalu difikirkan Sya, Falery itu sebenarnya seperti kita, dia tidak mungkin melukai seseorang jika dia tidak dilukai duluan. Tenang aja, nanti dia juga pasti pulang sendiri kok" kata Agatha disebrang sana membuat Yasya sedikit bisa bernafas dengan lega.
"Iya Ta, makasih" ujar pria itu kemudian segera mematikan ponselnya. Yasya melangkahkan kakinya menuju sebuah rumah makan, padahal hari telah menjelang siang tapi ia belum sempat sarapan sedari tadi. Untung saja ia sudah memesan makanan dan sekarang ia tinggal mengambilnya saja ditempat itu.
Yasya menuju sebuah kasir untuk mengambil pesanannya. Setelah itu ia keluar dari rumah makan tersebut, tatapannya yang semula menatap bungkusan ditangannya tiba-tiba saja terkejut oleh sosok perempuan yang kini sama ekspresinya dengannya.
"Iryasya?! ini kamu? apa kabar?" pertanyaan itu terlontar begitu saja, namun berbeda halnya dengan Yasya yang kini agak merasa canggung.
"Syahbila, kamu ngapain kesini?" pertanyaan itu membuat Syahbila tersenyum kikuk. Kini ia beralih menjabat tangan Yasya, namun sayangnya Yasya membawa dua bingkisan dikedua tangannya masing-masing.
"Sorry" ujarnya membuat Syahbila menarik tangannya lagi untuk menjauhkan dari pandangan Yasya yang kini tampak canggung terhadapnya.
"Oh, nggak apa-apa kok, mau aku bantu?" tawaran itu membuat Yasya sontak menggeleng.
"Nggak usah Bil, aku bisa sendiri kok. Lagian aku juga mau pulang, kamu aja baru dateng pasti mau pesen makanan kan?" pertanyaan itu membuat Syahbila tersenyum seraya menggaruk tengkuknya.
"Awalnya sih gitu, tapi liat kamu aku jadi pengen bantu. Sekalian, kita udah lama nggak ketemu, oh ya kamu kesini sama siapa?" pertanyaan itu membuat Yasya menggeleng.
"Sendirian" kata Yasya singkat.
"Kalo gitu aku bantu ya?, sini aku bantuin" Yasya belum sempat mengatakan sesuatu namun Syahbila segera mengambil inisiatif untuk menarik salah satu bungkusan dari tangannya. Yasya hanya bisa menghela nafasnya.
"Oh ya Sya, udah lama kita nggak ketemu, ternyata kamu dari dulu masih sama ya. Gimana keadaan om Adi?" pertanyaan akrab itu kembali membuat Yasya merasa tak nyaman. Ia lebih memilih untuk bersikap dingin daripada harus meladeni setiap pertanyaan dari Syahbila dengan sikap yang sama.
"Habis ini mau kemana lagi Sya?" tanya Syahbila lagi membuat Yasya berkali-kali membuang nafasnya saking bosan.
"Pulang" kata Yasya cuek.
"Kalo gitu aku boleh dong ikut, aku udah lama nih nggak main ke rumah kamu. Aku juga pengen ketemu sama om Adi, boleh ya?" pertanyaan itu membuat Yasya menggeleng. Ia tampak ragu untuk menyetujui permintaan. Syahbila yang terlalu berlebihan san sifatnya yang tidak mudah menyerah itu.
"Aku ada urusan kerjaan habis ini, lagian bukannya kamu itu selalu sibuk ya?" kata Yasya seraya menyandarkan kepalanya di pintu mobilnya.
"Kamu masih inget banget sih, jangan-jangan kamu masih inget apa makanan favorit aku ya?" pertanyaan itu membuat Yasya membuang muka. Bahkan ia sendiripun tak berniat meladeni Syahbila saat ini, suasana dan juga keadaan membuat pria itu tak tau lagi harus menghadapi Syahbila seperti apa lagi.
"Kamu nggak usah kepedean gitu deh Bil, udah ah aku males ladenin kamu. Aku mau pulang!" kata Yasya tegas seraya hendak memasuki mobilnya. Namun tanpa disangka Yasya yang kini tengah duduk di jok pengemudi tiba-tiba saja dikejutkan oleh keberadaan Syahbila yang tiba-tiba saja masuk tanpa permisi dan duduk bersebelahan dengannya.
"Sya, aku kangen sama kamu. Semenjak kita pisah, aku nggak bisa lupain kamu sampai sekarang" kata Syahbila seraya memeluk lengan Yasya yang membuat pria itu terkejut. Ia bahkan tak menyangka jika Syahbila senekat itu padanya.
Segera setelah itu Yasya mendorong tubuh Syahbila untuk menjauh darinya. Ia merasa risih dengan keadaannya sendiri. Fikirannya kini kembali termakan oleh keadaan Reyna yang sama sekali belum ia temukan keberadaannya.
"Kamu apa-apaan sih Bil? jangan keterlaluan deh! aku nggak suka tau! mending kamu cepet keluar dari mobil aku sekarang."
"Sampai kapan kamu bisa lupain dia Sya? dia udah meninggal, dulu kalopun nggak ada dia di kehidupan kita, hubungan kita pasti bakal baik-baik aja Sya, nggak kaya sekarang. Gara-gara ******* itu."
"Cukup Bil! kamu nggak berhak ngomong sesuatu yang buruk tentang Reyna. Kita udah selesai dari dulu, seharusnya kamu ngerti kalau aku selamanya nggak akan pernah cinta sama kamu" kata Yasya dengan nada tegasnya membuat Syahbila kini hanya bisa menunduk. Yasya bahkan tak sadar kini gadis itu telah mengeluarkan air mata.
"Apa nggak ada kesempatan lagi buat kita sama-sama?" pertanyaan itu seketika membuat Yasya yang kini menatap kaca mobilnya menggeleng.
Syahbila kini tersenyum, ia menganggap seraya mengusap air matanya yang berjatuhan. Ia menatap Yasya dan tersenyum kearah pria itu.
"Kalo gitu, nggak bisa ya kita temenan aja. Aku cuma pengen berhubungan baik sama kamu, aku nggak pengen ada masalah atau hal yang belum kelar diantara kita" perkataan gadis itu membuat Yasya sedikit meliriknya, ia melihat pipi Syahbila yang basah. Tapi ia tak memperdulikannya, toh apa yang dia katakan memang benar adanya.
"Oke, kalo cuma temenan aku bakal fine kok" kata Yasya yang kini membuat pipi Syahbila merona.
"Kalo gitu, aku boleh kan main ke rumah kamu" pertanyaan itu kembali terlontar. Meski
agak berat, namun mau bagaimana lagi. Lagi pula pernyataannya tadi sudah sangat jelas. Yasya akhirnya menghela nafasnya seraya mengangguk menyetujui permintaan dari Syahbila.