The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Tanggal pernikahan



Biar tambah semangat lagi bacanya, author kasih foto-foto mereka. Yang lupa biar inget, dan yang inget biar tambah greget 😆. Sebelumnya author minta maaf karena selalu jahat sama kalian, bikin emosi naik turun, belum lagi hiatus berminggu-minggu. Gimana? kurang kejam nggak jadi orang? wkwkwk 😂😂 jangan lupa ya yang belum follow, boleh follow dulu, vote yang banyak dan komen yang banyak juga biar authornya tambah semangat lagi.




Ciyeee yang udah mau nikah 😝




Uwuwuwu 🥰



Ciye yang masih jomblo, kapan nyusul uy? 😂


_____________________________________________


Reyhan menyandarkan kepalanya dipundak Kanaya, kali ini semua yang ingin ia ungkapkan termasuk masalah Reyna dan dirinya dengan Novi. Rasanya lega sekali ketika ia bisa mengutarakannya pada gadis yang ia cintai.


Taman yang sepi dengan bunga-bunga cantik ditengahnya membuat susana menjadi semakin romantis. Tempat itu adalah tempat dimana Reyhan mengajak Kanaya untuk pertama kalinya, sekaligus tempat dimana ia melepaskan segala keluh kesah dan beban yang ia rasakan.


Kanaya memeluk tubuh Reyhan, ia mengelus pundak lelaki itu untuk memberikan ketabahan serta kekuatan.


"Sekarang aku tau kenapa kakak ngehindar dari Reyna, kalo kak Reyhan dari awal cerita aku pasti bakal bantu kakak kok" kata Kanaya membuat Reyhan tersenyum dan beralih meraih jemari gadis itu. Posisinya kini masih sama, bersandar dipundak Kanaya dengan manja.


"Aku nggak mau orang yang paling aku cintai khawatir, aku nggak mau kamu terlibat. Maafin aku, karena aku kemarin penyakit kamu kambuh, aku bener-bener minta maaf. Saat itu aku takut banget kamu kenapa-kenapa, aku nyesel ninggalin kamu."


"Itu karena kakak memang ada urusan penting dan harus nemuin pak Yasya dirumah, waktu itu sebenernya aku juga sempat kecewa sama kakak, tapi setelah denger penjelasan dari kakak, aku paham. Sekarang aku udah sembuh, aku udah ada disini, jadi stop buat nyalahin diri sendiri. Karena aku juga salah, aku udah berfikir yang enggak-enggak ke kak Reyhan."


Reyhan menarik kepalanya, ia menatap manik mata Kanaya yang kini seolah bersinar dan memberikan ketenangan padanya. Mereka saling bertatapan satu sama lain, jemari Reyhan kini bergerak menyentuh pipi Kanaya. Dengan senyuman dan juga rona diwajahnya membuat Reyhan semakin mencintai gadis dihadapannya itu.


"Aku sayang sama kamu Nay, makasih karena kamu udah mau bertahan, makasih karena kamu udah nolak lamaran orang lain demi nunggu aku yang pengecut ini" Kanaya memeluk tubuh Reyhan, ia ingin harinya lebih berwarna dan bahagia tanpa memikirkan masalah apapun.


"Aku nggak mau denger apapun, terimakasih maupun minta maaf. Aku cuma pengen kita berdua bisa ngelewatin ini sama-sama, aku nggak mau ngerusak kebahagiaan aku karena masa lalu. Kita lupain ini sama-sama ya?" kata Kanaya seraya melepaskan pelukannya. Reyhan meraih jemari Kanaya, ia mengecup jemari gadis itu dan tersenyum kearahnya.


"Iya, apapun yang kamu mau, aku pasti bakal turutin"


***


"Sayang!" kata Yasya yang kini merengkuh tubuh Reyna dari belakang membuat gadis itu terkejut dibuatnya. Kini Yasya menyandarkan dagunya dipundak Reyna membuat gadis itu menggeliat.


"Sya, dilihat orang nanti, malu" kata Reyna seraya membalikkan tubuhnya dan tersenyum kepada calon suaminya itu. Begitupun Yasya yang kini tertawa ketika melihat wajah Reyna yang begitu lucu.


"Kamu makin hari makin cantik aja, aku jadi nggak sabar buat nikahin kamu" bisik Yasya membuat Reyna tersipu dibuatnya Memang kalau soal hal goda-menggoda Yasya paling jago, apalagi membuat Reyna blushing seperti saat ini.


"Apaan sih!" kata Reyna memukul pelan dada bidang Yasya yang kini tengah memakai kemeja itu.


"Aku jemput kamu sekalian mau ngajak fitting, sekalian makan siang" Reyna menaikkan sebelah alisnya. Fitting? bahkan tanggal pernikahan saja belum ditentukan, mana bisa secepat itu mencari gaun pengantin untuk dirinya.


"Sya, kita kan belum tentuin pernikahan kita, kok buru-buru banget sih" ujar Reyna seraya bergelayut manja pada lengan pria itu membuat Yasya mengacak rambut gadisnya itu dengan gemas.


"Udah kok, aku sama papi sama om Rey juga udah setuju" Reyna menatap Yasya dengan tatapan aneh, mana mungkin sudah ditentukan. Lagipula tidak ada konfirmasi sama sekali, dan kapan mereka menentukannya. Reyna benar-benar tak habis fikir, kini dirinya tertawa renyah membuat Yasya menjitak kepala Reyna pelan.


"Aw, sakit tau sayang!"


"Lagian kamu dikasih tau malah ketawa, emang lucunya dimana?"


"Kamu itu jangan halu deh, emang sejak kapan tanggal pernikahan kita diatur? emang kamu udah kerumah aku lagi?"


"Emang udah kok, tadi pagi, aku sama papi kerumah kamu, seminggu lagi kita bakalan halal Rey, aku bakal milikin kamu seutuhnya. Lahir dan batin" seru Yasya dengan senyuman andalannya, dan dapat dipastikan bagaimana ekspresi wajah Reyna kali ini. Pastinya begitu terkejut tak menyangka.


"Apa?! kamu? kamu beneran? cepet banget?" kata Reyna masih dengan wajahnya yang oenuh dengan beribu pertanyaan dibenaknya.


"Kenapa? kamu nggak suka?" pertanyaan itu membuat Reyna memanyunkan bibirnya. Bagaimana mungkin tidak suka, tapi dirinya masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Yasya barusan.


"Bukan nggak suka sayang, tapi itu cepet banget, emang kita bisa persiapin itu selama seminggu ini? dan kamu juga gitu? kenapa nggak ngasih tau aku dulu, ngeselin deh!" kata Reyna dengan wajahnya yang kini ditekuk masam. Bahagia sih bahagia, senang sih senang, tapi Yasya bahkan tidak memberitahu padanya sebelumnya.


"Sayang, aku pengen ngasih kejutan ke kamu, sekaligus aku pengen kamu cepet-cepet jadi istri aku. Aku nggak tahan rasanya kalo deket kamu terus, kamu nggak takut kalo nafsu aku nggak bisa aku bendung kaya sebelum-sebelumnya?" perkataan Yasya begitu intim membuat Reyna bergidik ngeri oleh perkataannya tadi. Ia sebenarnya percaya pada Yasya, tapi kembali lagi setan selalu menjadi orang ketiga diantara dua insan yang saling jatuh cinta seperti Reyna dan juga Yasya.


"Aku-" Reyna menggigit bibirnya, bukannya ia tak siap, tapi ini terlalu mendadak baginya. Yasya meraih pundak Reyna, jemarinya menyentuh wajah gadis dihadapannya itu dengan lembut serta tatapan yang hangat.


"Aku cinta sama kamu Rey, aku pengen milikin kamu seutuhnya, aku pengen ngerasain indahnya surga dunia sama kamu. Aku pengen kamu layani aku dan kita hadapi kehidupan sama-sama sampai hari tua. Cuma kamu Reyna, dari dulu sampai sekarang."


Reyna menghela nafasnya, siapa juga yang akan menolak kata-kata manis dari pria tampan dihadapannya ini. Bukannya dulu Reyna pernah bilang ia ingin cepat-cepat dinikahi setelah keluarganya berkumpul. Sekarang dimana nyalinya? Reyna mengingat kenangan mereka dengan rapi, ia bahagia memiliki Yasya, dan memang benar apa yang dikatakan pria itu. Mereka sama-sama menginginkannya, jadi kenapa tidak?.


"Aku juga cinta sama kamu Sya, aku juga pengen cepet-cepet nikah sama kamu" kata Reyna dengan senyuman manisnya membuat Yasya kini bisa bernafas dengan lega.