The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Mencari



Langkah kaki Reyna tegas ditemani Yasya yang kini hendak menyusul dirinya yang semakin cepat berjalan. Namun agaknya Reyna begitu tak sabaran untuk memasuki lobi rumah sakit besar yang semula pernah menjadi tempat singgahnya untuk bekerja.


"Suster" ujar Reyna yang kini tengah berdiri tepat didepan ruangan administrasi seraya menahan nafasnya yang semakin menderu.


"Bisa saya bantu nona?" tanya suster itu dengan ramah.


"Bulan lalu pasien bernama Reynaldi Malik, punya riwayat jantung, dan dia juga sempat operasi di rumah sakit ini. Saya minta tolong sus, saya butuh informasi tentang dia" perkataan Reyna membuat suster itu menaikkan sebelah alisnya. Ia tersenyum dan menolak dengan halus permintaan Reyna yang baru saja terlontar.


"Mohon maaf nona, pihak rumah sakit tidak bisa memberikan data pribadi kepada orang asing sebelumnya karena ini termasuk privasi pasien yang harus kami jaga" kata suster itu membuat Reyna mengernyitkan keningnya.


"Sus, saya mohon sus, ini penting, mereka keluarga saya."


Suster itu masih saja bersikukuh dengan pendapatnya. Ia menggeleng seraya menolak halus permintaan Reyna yang terkesan memohon.


"Rey, tenang, kamu harus sabar ya" kata Yasya yang kini menepuk pundak Reyna membuat mata gadis itu berkaca. Kini giliran pria itu yang maju, ia mengambil beberapa lembar uang ratusan dari dalam sakunya dan menyodorkannya tepat didepan suster itu membuat wanita dengan baju khas berwarna putih itu menaikkan sebelah alisnya.


"Suster, saya mohon, informasi ini penting sekali untuk kami. Ini masalah keluarga


sus" kata Yasya seraya memberikan lembaran uang tersebut, namun sayangnya suster masih bertahan untuk bungkam dan menggeleng.


"Maaf, tapi kami benar-benar tidak bisa tuan, ini sudah menjadi aturan rumah sakit" kata suster itu masih kekeuh dengan pendiriannya. Namun Yasya masih tak gentar, dengan menatap Reyna kini yang menunduk, ia merasa harus menolongnya apapun yang terjadi.


Yasya memberikan uang lebih banyak lagi dari dalam dompetnya. Bahkan nominalnya saja jika dilihat dari ketebalannya bisa bernilai jutaan. Yasya tak perduli, baginya Reyna yang lebih penting saat ini, serta keberadaan keluarga gadis itu.


"Saya mohon sus" terlihat suster itu tercengang melihat segepok uang dihadapannya. Suster itu menelan ludahnya dengan kasar, rasanya ragu untuk memberitahu atau harus bungkam. Siapa juga yang tidak tergiur dengan lembar uang metah yang kini berada dihadapannya.


Namun hal yang tidak terduga pun terjadi, wajah datar dari pria paruh baya yang kini menghampiri mereka menatap tajam manik mata ketakutan dari suster itu. Suster itu menunduk, ia bahkan tak berani menatap atasannya yang kini berdiri tepat dibelakang kedua orang yang hampir saja menyuapnya. Untung saja ia masih tak bergeming, apa jadinya jika tadi ia menyetujui permintaan orang tak dikenal. Bisa-bisa ia kena pecat yang tak terhormat dari rumah sakit sebesar itu.


"Mohon maaf, tolong tarik kembali uang anda, karena rumah sakit kami tidak menerima uang haram seperti ini" ujar pria paruh baya itu membuat kedua pasangan itu membalikkan tubuh mereka.


Reyna hanya bisa terdiam dengan pandangannya yang kini mengarah pada sosom Martin, sedangkan Yasya sekali lagi menahan amarahnya sejenak. Namun tak dapat dipungkiri jika kini matanya menatap Martin dengan berapi-api seraya menunjukkan rahangnya yang semakin mengeras.


"Maksud anda apa dokter Martin? anda kira saya tidak bisa membuat rumah sakit ini bangkrut dalam satu malam sekalipun" ujar pria itu tegas, sedikit mengancam membuat Reyna kini yang berada disampingnya menyentuh jemari Yasya untuk meredakan emosinya yang kini hampir memuncak.


Respon Martin kini hanya terkekeh geli, melihat hal itu membuat Yasya benar-benar dibuat kesal olehnya. Ia seperti meremehkan, apalagi mengingat perlakuannya terhadap Reyna, ia masih enggan untuk menghormati orang tua yang seumuran dengan papinya itu.


"Jika anda ingin silahkan saja, ini juga bukan rumah sakit milik keluarga saya. Saya hanya pegawai, dan berhak bagi saya untuk menolak uang suapan dari anda" ujarnya membuat Yasya semakin tak bisa mengontrol emosinya. Namun lagi dan lagi Reyna masih bertahan dengan menarik lengan Yasya untuk menahan amarah yang pria itu rasakan.


"Saya katakan sekali lagi, saya semakin bersyukur telah mengeluarkan dokter yang tidak bertanggungjawab seperti wanita anda, dan saya harap anda sebagai seorang pengusaha besar tidak mencontoh orang seperti dia tuan Ferdiansyah" sambung Martin lagi seraya melirik gadis dihadapannya membuat mata Reyna membulat sempurna, sambil menahan tangan Yasya yang semakin mengepal, Reyna hanya bisa tersenyum miris. Ia tak ingin Yasya terlibat masalah dengan orang tua seperti dia, mungkin ini hanyalah kesalahpahaman saja, tapi kesalahan Martin juga adalah tidak ingin mendengarkan ulasan dari siapapun.


"Sya, kita pergi aja, lagian orang seperti dia tidak akan mengerti" kata Reyna yang kini menggandeng jemari Yasya untuk keluar drai rumah sakit itu, jika saja Yasya egois, ia lebih memilih untuk menghajar Martin habis-habisan.


Tak perduli seberapa hormat kedudukannya, Yasya hanya mementingkan perasaan Reyna. Namun kali ini ia mencoba untuk meredam segalanya, langkahnya cepat dengan tatapan tajam yang masih menyorot pada Martin yang kini menatap sinis mereka dari jauh.


Langkah kaki Reyna dengan cepat menarik Yasya keluar dari rumah sakit besar itu. Namun sebelum mereka memasuki mobil, seorang pria berlari mendekati mereka seraya menghadang kedua pasangan itu untuk berhenti sejenak.


"Reyna, Yasya, tunggu, kalian mau kemana?" pertanyaan itu membuat Yasya membalikkan tubuhnya, menatap Alfian dengan tatapan gundah yang ia rasakan. Bahkan Reyna sendiri bungkam dengan wajahnya yang begitu murung.


"Sya, aku naik mobil dulu ya" kata Reyna seraya menghembuskan nafas lelahnya. Yasya hanya mengangguk, mungkin ia juga malas mengingat kejadian yang tadi. Walau bagaimanapun Alfian adalah sahabatnya, ia menatap lurus pandangan Alfian yang sedari tadi mengernyit.


"Kenapa Sya? kalian berobat? tadi kom kayanya ada dokter Martin juga. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan, panggil gue" kata Alfian dengan senyum ramahnya. Namun Yasya hanya menggeleng, ia menghela nafasnya sebelum menceritakan segalanya pada sahabatnya itu.


***


Brakkkk


Sebuah gebrakan meja tak membuat pria paruh baya yang duduk disana terkejut. Ia malah menatap tajam tatapan penuh amarah drai Alfian.


"Saya ingin keluar dari rumah sakit ini, dan saya kecewa terhadap anda."


"Apa begini cara anda berbicara pada atasan dokter Al? anda adalah dokter paling dipercaya dirumah sakit ini, jadi pikirkan baik


lagi sebelum anda keluar" kata Martin seraya melepaskan kacamatanya dan menatap Alfian lamat-lamat.


"Saya nggak perduli, Reyna sudah berjuang banyak. Dia bahkan menyelamatkan seseorang dan berakhir di pecat. Ini semua nggak adil, dan anda dengan seenaknya mengusir mereka berdua tanpa tau maksud dan tujuan yang sebenarnya. Saya kecewa dokter Martin, mulai hari ini saya Alfian Mahesa keluar dari rumah sakit laknat ini" kata Alfian yang kini mulai berapi-api. Jika saja tidak melihat situasi dan juga tempat bisa jadi Martin sudah habis oleh pukulan dari Alfian.


Martin semakin tak bisa menahan emosinya, ia kembali menggebrak meja. Membuat Alfian menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu sebelum dirinya keluar dari sana.


"Oh jadi karena dua orang pesuap itu anda berani menentang atasan, tindakan anda benar-benar tidak terpuji dokter Al" ujar Martin yang kini kepalanya tak kalah berasapnya dari Alfian.


Alfian membalikkan tubuhnya seraya tersenyum sinis pada Martin yang kini masih menampakkan senyum penuh arti.


"Asal anda tau dokter Martin yang terhormat, Reyna Malik, dia bahkan rela mengoprasi ayahnya sendiri, Reynaldi Malik. Dia bahkan rela tidak dibantu seorang dokter sekalipun, sekarang bahkan dia meminta informasi tentang ayah kandungnya yang sudah lama hilang, dan anda bersikap seolah mereka adalah seorang penjahat. Benar-benar tidak masuk akal" kata Alfian seraya menggeleng lalu kemudian keluar dari ruangan Martin.


Pria paruh baya itu masih bisa mendengar suara Alfian yang berdengung di telinganya.


"Apa?! jadi Reyna?" ia tampak menutup mulutnya tak percaya. Ia mengusap kasar rambutnya frustasi.