
Reyna kini telah sampai di apartemennya, gadis itu melemparkan ponsel yang baru saja ia mainkan untuk melapor pada dokter Martin perihal keputusannya memecat Aldo.
Gadis itu bahkan tidak bisa berfikir dengan jernih, amarahnya seperti terguncang, fikirannya masih melayang dengan mata yang memerah. Reyna segera melepaskan jas putih yang ia kenakan.
Gadis itu memegangi kepalanya yang tengah merasakan pusing yang begitu luar biasa. Sejujurnya, ia tak ingin menggunakan pribadi Falery dalam kehidupannya lagi, karena walau bagaimanapun Falery adalah gadis yang kasar dan sombong, temperamennya juga buruk dan tidak sabaran. Tapi ia harus melakukannya saat itu juga, karena karakternya bukanlah tandingan Aldo.
"Tenang Reyna, tenang, kamu Reyna kamu bukan Falery" gumamnya sambil mengacak rambutnya sendiri. Gadis itu kemudian masuk kedalam kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan shower tanpa peduli pakaiannya yang masih melekat ditubuhnya. Ia hanya ingin karakter Falery dalam tubuhnya menghilang saat ini.
Setelah selesai mengguyur tubuhnya, kini gadis itu keluar dengan hanya memakai kimono serta handuk yang melilit rambutnya. Gadis itu kini duduk di sofa, ia mengambil ponsel dan mengetikkan pesan kepada Yasya.
Setelah selesai gadis itu memijit pelipisnya, fikirannya kembali menerawang. Entah apa yang ada dalam fikirannya saat ini. Dalam situasi ini ia hanya butuh ketenangan.
Ting tong.
Suara bel berbunyi didalam apartemen gadis itu. "Bukannya belum ada lima menit aku chatting Yasya, kenapa dia kesini?" batinnya membuat Reyna kembali ke kamar dan mengganti bajunya dengan segera.
Gadis itu kemudian kembali keluar dan membuka pintu dengan kartu akses yang ia miliki. Hal yang tak terduga terjadi, tiada orang yang berada dibalik pintu, gadis itu mengedikkan bahu, namun sebelum ia menutup kembali pintu tersebut, tiba-tiba saja ia melihat sebuket bunga mawar merah yang tergeletak dibawah lantai.
Gadis itu meraih bunga tersebut, dan segera masuk kedalam apartemennya tanpa memperdulikan sekitar.
Perlahan Reyna membolak-balikkan mawar tersebut, ia memperhatikannya dengan seksama siapa pengirim tersebut, namun kenyataannya nihil tak ada satupun surat atau kertas menandakan pengirimannya.
Gadis itu menaruh bunga tersebut diatas meja ruang tamunya. Ia bahkan tak sempat berfikir untuk mencari tahu siapa pengirim misterius yang memberikannya sebuket bunga yang ditinggalkannya didepan pintu apartemen.
Reyna kini berencana untuk keluar dari apartemen, rasanya bosan sekali berada dirumah yang begitu sepi tanpa ada tanda-tandanya makhluk bernyawa kecuali dirinya.
Setelah bersiap-siap untuk keluar dengan hanya memakai dress hitam dan juga kacamata, ia keluar dari ruangan tersebut dan tak lupa mengunci pintunya kembali.
Baru saja membalikkan tubuhnya, gadis itu dikejutkan oleh sosok Yasya yang kini berada dihadapannya membawa sebuket bunga mawar. "Yasya! kamu ngagetin aja deh ah" kata Reyna yang kini memegangi dadanya yang berdetak kencang.
"Hehehe, maaf deh sayang. Nih bunga buat tuan putri tercinta" Reyna melirik bunga tersebut, ia segera meraihnya dan memeluk tubuh Yasya membuat pria itu membalas pelukannya dengan manja.
"Sya, kamu tumben deh tadi ngirim aku bunga sekarang bawain bunga lagi. Hari ini ada apa sih? jangan-jangan kamu udah tau ya?" mendengar perkataan dari gadis dihadapannya membuat Yasya mengernyit. Ia bahkan tak tau apa yang dimaksud mengirim bunga untuknya, dan apa maksud dari perkataan terakhir dari Reyna.
"Aku nggak ngirim bunga kok, baru ini aku bawain bunga buat kamu" kata Yasya membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya dan menarik lengan Yasya untuk keluar dari apartemennya.
Gadis itu tampak curiga dengan sekitarnya, memang beberapa hari lalu ia seperti diawasi. Namun perasaan itu ia tangkas karena tidak adanya bukti. Entah siapa yang membuntutinya kali ini, tapi Reyna merasa hidup sendiri tidaklah mudah untuknya. Apalagi ia adalah seorang gadis, mungkin ia hanya bisa mengandalkan Yasya sebagai pelindungnya dan juga sekaligus orang yang ia percayai.
"Reyna, kamu kenapa sih?" tanya Yasya yang kini tengah berada didalam mobil. Pria itu tampak menatap Reyna dengan pandangan penuh kekhawatiran.
"Sya, aku udah pernah cerita kan ke kamu kalo Michael ngejar-ngejar aku. Aku takut Sya, aku takut dia bener-bener ikutin aku sampai ke sini. Terlebih dia pernah nelfon aku waktu itu, kamu tau kan gimana aku cerita ke kamu tentang dia. Aku curiga kalo selama ini yang ikuti aku itu dia Sya" kata Reyna yang kini menatap Yasya dengan wajahnya yang begitu ketakutan.
Memang benar Reyna telah bercerita perihal Michael padanya. Yasya sudah tau segalanya, namun karena teror tersebut tidak berlanjut, ia mengira bahwa itu hanyalah orang usil atau hanya bermain-main saja. Namun semakin kesini, Yasya malah semakin khawatir dengan gadis dihadapannya, apalagi Reyna tinggal sendiri di apartemennya.
"Reyna, aku percaya kamu, tapi kita nggak punya bukti yang kuat buat nuduh Michael. Tapi demi keselamatan dan juga keamanan kamu, aku bakal tinggal ditempat kamu sampai keadaan memang benar-benar aman" kata Yasya membuat Reyna sedikit lega. Gadis itu kini memeluk Yasya meski masih ada rasa ketakutan dalam dirinya.
***
Sebuah nisan bertuliskan nama Almira Syakieb membuat kedua insan itu menunduk seraya meletakkan sebuket bunga yang telah Reyna persiapkan selama diperjalanan. Yasya yang kini memakai kemeja hitam dengan celana senada membuat dirinya tampak berwibawa dan semakin tampan.
Gadis itu tak henti-hentinya menatap wajah pria pujaannya meski kini mereka berada ditempat pemakaman. "Jangan liat aku kaya gitu" ujar Yasya seraya tertawa kecil melihat senyum Reyna yang begitu nyaman dilihatnya, namun mendebarkan untuknya.
Kini tatapan gadis itu beralih, kepada nisan didepannya dan mengelus batu tersebut dengan lembut.
"Kalo aja mama masih hidup, pasti dia bakal seneng banget bakal punya calon mantu kaya kamu Sya. Apalagi dia adalah satu-satunya keluarga aku" kata Reyna bersama suara seraknya membuat pria disampingnya menyentuh pundak gadis itu dan mengelusnya.
"Mama kamu pasti bahagia kok sayang, terlepas dia disini atau tidak. Dia pasti lagi liatin kita" ujar pria tersebut sembari menggenggam jemari Reyna dengan erat membuat gadis itu tersenyum hangat.
"Ma, aku dan Yasya bakal nikah sebentar lagi ma, minggu depan putri mama satu-satunya bakal tunangan sama orang yang paling dia cintai" Reyna menghapus jejak air matanya yang mengalir dipipinya. Gadis itu bahkan tak sadar dengan apa yang ia rasakan. Rasa hampa tanpa keluarga disampingnya. Hanya Almira yang tersisa, dan ia telah pergi jauh meninggalkannya selama ini