The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Perubahan



"Terima kasih Fay, hanya kaulah yang mengerti aku, berkat mu perasaan ku lebih baik sekarang" ucap Sarah disela ia berjalan beriringan bersama Falery yang kini tersenyum tipis kearahnya.


"Aku sangat mencintai Yasya Fay, entah mengapa tiba-tiba ia menelfon dan bicara bahwa ia membatalkan pernikahan kami secara sepihak, dia hanya meminta maaf dan tidak mengatakan apapun. Jujur, aku syok dan aku marah. Bahkan semuanya sudah dipersiapkan dan entahlah."


Falery menelan salivanya, mendadak wajahnya murung dengan alisnya yang berkerut.


'Sarah, maafkan aku, ini semua terjadi karena aku, semua salah ku. Tuhan jangan biarkan Sarah tau yang sebenarnya, dia pasti sangat kecewa padaku, dan tolonglah aku untuk membujuk Yasya untuk tidak membatalkan pernikahannya.'


Langkah kaki mereka seketika berhenti saat telah sampai diparkiran mobil tepat di hadapan mobil Sarah.


"Hey, kenapa kau yang sedih?" tanya Sarah membuat Falery menggeleng dan kembali tersenyum.


"Tidak, aku hanya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya dirimu saat ini"


"Kau tenang saja, semua pasti akan berakhir dengan baik, ayah ku akan ke Indonesia untuk menemui paman Adi dan membicarakannya baik-baik."


Falery kembali mengulas senyum diantara kekhawatirannya yang masih terbesit dalam fikirannya.


"Semoga semuanya berjalan dengan lancar" Ucap Falery dan langsung dipeluk oleh Sarah.


Pandangan Michael mendadak sayu menatap dua sahabat yang saling berpelukan jauh ditempat ia berdiri.


Saat perempuan yang memeluk Falery itu pergi, ia memberanikan diri untuk mendekati gadis yang masih berdiri dipinggir jalan itu.


"Sudah selesai?."


Suara familiar itu membuat Falery tersentak seketika. Ia membalikkan tubuhnya dan menatap Michael dengan wajah penuh bersalah.


"Bos, maaf, sebenarnya dia" Falery mendadak menghentikan kata-katanya kala Michael mulai memotong pembicaraan yang belum ia tuntaskan.


"Aku tidak perduli dengan urusan mu, tapi pekerjaan tetaplah pekerjaan, kau sudah naik jabatan, tapi masih sehari kau bekerja, begini hasilnya?."


Falery menelan salivanya. Mungkin apa yang dikatakan oleh Michael memang benar adanya. Ia tak mematuhi peraturan yang ada, dengan keluar di jam kerja.


Falery masih diam dengan kerutan didahinya tanpa berani menatap pandangan tajam dari Michael.


"Jika kau ingin menghukum ku, maka aku silahkan saja" kata Falery pasrah.


"Ikuti aku sekarang," ucap Michael memotong perkataan Falery dan segera membalikkan tubuhnya. Falery hanya bisa mengelus dada dan melangkah untuk mengikuti Michael yang berjalan mendahuluinya.


Kini Michael dan Falery telah sampai disebuah salon, dengan Falery yang masih keheranan.


Mereka kini keluar dari mobil hitam milik Michael.


"Salon? bos, kenapa kau ajak aku kesini?" sebuah pertanyaan dari Falery tak digubris oleh Michael. Pria itu segera melangkahkan kakinya tanpa menanggapi apa yang dikatakan oleh Falery padanya.


"Ada yang bisa kami bantu tuan?" seorang wanita dari dalam salon menyambut Michael yang diikuti oleh langkah Falery yang tepat berada dibelakangnya.


Falery terperangah, matanya menatap tajam tubuh Michael yang membelakanginya. Ia menggeleng dengan cepat kala wanita itu mempersilahkannya untuk masuk.


"Tidak perlu." Michael membalikkan tubuhnya, ia menatap Falery dengan pandangannya yang begitu menakutkan. Membuat Falery berulang kali menelan kasar salivanya.


"Kau itu asisten ku, mau ditaruh mana wajahku jika aku punya karyawan yang tak pandai memperbaiki penampilan seperti mu."


"Tapi, tapi tidak ada yang salah dengan penampilan ku."


"Anggap ini hukuman, dan laksanakan sekarang juga." Ujar Michael tegas.


Falery menghela nafasnya, ia mengikuti instruksi dari pelayan salon untuk masuk dan mendandaninya.


"Mari nona"


Falery mengangguk pasrah.


"Baiklah."


Jam berdetak seolah menunggu gadis yang kini tak kunjung keluar dari ruangan makeup.


Sedang kini sang pria masih tak bergeming dari layar ponsel miliknya.


Matanya terperanjat kala melihat sepasang kaki melangkah keluar dari ruangan yang semula berulang kali ia lirik.


Perlahan matanya menengadah dengan perasaan canggung dan juga jantungnya yang kian berdebar.


Puncaknya matanya tak dapat berkedip saat kecantikan yang luar biasa keluar dari dua bola mata Falery yang kini menatapnya dan mengalihkan pandangan seolah gugup dengan penampilannya.


Gadis itu menggaruk tengkuknya, mengerjapkan matanya beberapa kali saat Michael tak kunjung memberi respon.


Hanya menatapnya dengan wajah kagum dan mulut yang menganga.


"Bos, bagaimana?"


Tanyanya membuat Michael membuang muka dan mulai sadar dengan apa yang ia lakukan.


"Biasa saja"


Ucapnya membuat Falery bernafas lega.


Gadis itu kini memberanikan diri untuk memakai soflen dan kembali menggerai rambutnya.Tak lupa dandanan yang natural dan baju putih serta rok span hitam ala kantor melengkapi penampilannya yang sangat sempurna.