
"Apaa?! tapi kenapa?" pertanyaan itu membuat Yasya enggan untuk mengatakan yang sebenarnya. Jika ia tau dulunya Yasya begitu depres, dan itu karena kehilangan dirinya, lalu Adi bertengkar hebat dengan Dian, pada akhirnya Adi memutuskan untuk menceraikan Dian begitu saja.
'Kalau aku cerita itu semua, apa kamu bakal nerima Rey?' batin Yasya seraya menatap Reyna dengan wajahnya yang penuh kebimbangan.
"Bisa nggak, kita jangan bahas mami dulu, maafin aku Rey, bukannya aku nggak mau cerita dan berbagi sama kamu, tapi aku bener-bener sedih inget kejadian itu" perkataan Yasya membuat Reyna menghela nafasnya, mungkin Yasya memang belum waktunya untuk terbuka, apalagi itu soal hal pribadi.
"Nggak apa-apa kok, aku ngerti" ujar gadis itu seraya mengelus pundak Yasya.
***
Weekend telah tiba, kini Reyna mengunjungi makam Almira, tak lupa sebuket bunga indah dan juga doa yang ia haturkan kepada mamanya.
"Sya, habis ini kita bakalan cari keberadaan papa sama kak Rey, kira-kira gimana ya tanggapan mereka soal keberadaan aku?" pertanyaan itu membuat Yasya mengelus puncak kepala Reyna.
"Jangan khawatir, kakak kamu dan papa kamu pasti sayang banget sama kamu, aku yakin mereka pasti bakal seneng juga" kata Yasya yang kini mencoba untuk menghibur Reyna.
Langkah mereka kini perlahan meninggalkan pemakaman itu, masih ada yang mengganjal dihati Reyna entah apa, tapi gadis itu menepis fikirannya yang aneh-aneh.
Kini Reyna dan Yasya beralih memasuki mobil, dibutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk sampai ditempat tinggal Reyhan dan Reynaldi. Mobil Yasya kini tengah bersiap untuk membelah jalanan ibukota. Entah mengapa, mendekati rumah mereka rasanya hati Reyna ingin meledak saja. Antara siap dan belum siap, namun tekatnya kini sudah bulat, ia tak ingin mengulur-ulur waktu lagi untuk mencari keberadaan keluarganya.
Setelah setengah jam berlalu, bahkan tiada percakapan didalam mobil sedikitpun, tampak Reyna yang memang enggan karena kegugupannya membuat gadis itu lebih memilih untuk bungkam.
Kini mobil itu bahkan sudah memasuki gang perumahan Reyhan. Ketika Reyna dan Yasya telah sampai disana, gadis itu tercengang melihat rumahnya yang kini terlihat sepi. Bagai tidaa penghuni didalam sana.
Reyna segera keluar dari mobil Yasya, begitupun pria itu yang kini antusias untuk mengikuti langkah Reyna. Gadis itu bahkan baru saja menyadari jika tepat disisi halaman itu kini terdapat plakat bertuliskan dijual.
"Sya? dijual? ini maksudnya apa Sya?" pertanyaan Reyna bahkan Yasya pun sudah menyadari bahwa mereka telah pindah dari sana.
***
Kanaya kini tengah bangun dari tidurnya, biasanya jika weekend begini ia tidak akan punya kegiatan sedikitpun. Bahkan waktu telah menunjukkan jam 9 pagi, namun ia baru saja terbangun dari tidurnya seraya merasakan kantuk yang luar biasa.
Gadis itu kini meraih ponselnya, ia iseng-iseng melihat timeline di notifikasi medis sosialnya. Namun ia dikejutkan tatakala pesan singkat dari Reyhan membuat gadis itu terjingkat dan tersadar seketika.
Kamu ada acara nggak? kalau senggang, jalan yuk.
Begitu kiranya chat dari Reyhan yang membuat Kanaya kadang bisa senyum-senyum sendiri. Meskipun belakangan ini mereka tampak dekat, namun Kanaya tak mau berharap lebih, karena ia tau yang menyukai Reyhan itu bukan hanya dirinya saja .
Kanaya buru-buru membalas pesan tersebut, ia tak mau meninggal kesan gadis cuek sedikitpun pada Reyhan.
Aku lagi nggak ngapa-ngapain sih kak, nggak ada acara juga. Kebetulan pas bosen nih, ayuk!
Balas Kanaya buru-buru, gadis itu kini menunggu Reyhan untuk membalas pesannya. Terlihat tulisan mengetik dari pesan yang tertera pada isi chat Kanaya.
Oke, aku jemput setengah jam lagi ya.
Kanaya kini menggigit bibir bawahnya, ia memeluk boneka besar miliknya seraya tersenyum sendiri mengingat Reyhan yang kini mengajaknya untuk berkencan.
"Aduh aku lupa, aku harus dandan yang cantik nih" gumam Kanaya yang kini memulai sibuk kesana kemari dikamarnya.
Setelah beberapa saat berlalu, ini Kanaya sudah siap dengan penampilannya. Dress selutut berwarna peach, serta rambut panjang sepunggung ia gerai, tak lupa dandanan yang natural namun tetap menampilkan auranya.
Kini gadis itu hanya bisa tersenyum memandangi dirinya di depan cermin. Ia juga tak bisa membayangkan bagaimana nanti jika bertemu dengan Reyhan untuk pertama kali.
Suara bel pintu membuat gadis itu segera turun dari kamarnya, ia meraih tas kecil miliknya dan segera keluar dari sana. Langkah Kanaya yang semula cepat, kini mendadak pelan tatkala mendekati pintu yang hendak ya buka.
Kanaya perlahan mendekati pintu itu, ia tekah bersiap untuk menyambut kedatangan Reyhan. Perlahan gadis itu membuka pintu dan benar saja, ia mendapati Reyhan yang kini tengah terlihat tampan dengan jaket kulitnya serta kaos putih didalamnya. Wangi khas parfum Reyhan kini menyeruak, memenuhi indra penciuman Kanaya.
"Hay kak" sapa Reyhan yang masih terdiam dengan tatapannya yang terkunci pada gadis dihadapannya. Jelas saja, Kanaya yang terlihat dewasa dengan memakai baju kerja saat ia berada di kantor kini mendadak berubah menjadi gadis cantik dengan tampilan manja.
Reyhan masih terpaku, ia bahkan menekan salivanya tatakala memperhatikan penampilan Kanaya dari atas sampai bawah.
"Kamu cantik Nay" kata Reyhan membuat Kanaya menaikkan sebelah alisnya karena suara Reyhan begitu lirih baginya.
"Kakak tadi bilang apa?" pertanyaan itu membuat Reyhan membelalakkan matanya, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal hendak memberikan alasan pada gadis dihadapannya.
"Nggak, nggak apa-apa kok, kamu udah siap kan? jalan yuk" ajak Reyhan membuat gadis itu mengangguk san tersenyum senang. Kini Reyhan telah membeli motor besar ninja berwarna hitam. Ia memang sengaja membelinya agar tidak setiap hari naik kendaraan umum maupun nebeng pada Hengky.
"Kak? naik motor ya? tapi aku pake dress" kata Kanaya yang kini menggaruk rambutnya. Reyhan bahkan sampai lupa, ia kini menepuk jidatnya seraya berfikir keras agar bisa tetap jalan-jalan hari ini.
"Aduh, aku lupa, gimana ya?" Reyhan mencoba berfikir keras.
"Apa aku ganti aja?" pertanyaan itu membuat Reyhan menggeleng dengan cepat.
"Jangan! kamu cantik kalo pakek itu" perkataan Reyhan yang keceplosan membuat gadis dihadapannya membelalakkan matanya seraya terlihat kini pipinya yang semakin merona. Jangankan dirinya, kini Reyhan sama malunya dengan Kanaya.
Reyhan kini melepaskan jaketnya, ia mendekatkan tubuhnya kearah Kanaya, hal itu membuat Kanaya tertegun seketika. Pandangannya menatap Reyhan yang lebih tinggi darinya, pandangan mereka juga saling bertemu, namun tak ada satupun perkataan yang keluar dari mulut masing-masing.
Reyhan melilitkan jaketnya pada pinggang Kanaya, hal itu membuat Kanaya hanya bisa menelan salivanya kala mereka semakin berdekatan. Bahkan suara jantung keduanya kini bisa terdengar jelas jika mereka mempertahankan posisi itu.
"Kanaya" kata Reyhan yang kini menatap manik mata gadis itu dengan serius.
"I, iya kak?" tanya gadis itu yang kini mulai gugup.
"Udah selesai."
"Hah?" Kanaya menaikkan sebelah alisnya.
"Ayuk jalan, aku udah selesai cari solusi biar kamu nggak bingung lagi naik motor aku" kata Reyhan membuat Kanaya menghela nafasnya.