The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kaulah Reynaku



"Al, aku minta maaf. aku ada pekerjaan mendadak, aku harus segera pergi" ucap Falery yang terlihat tergesa-gesa dengan wajahnya yang penuh kekhawatiran, membuat Alfian bangkit dari duduknya.


"Ada apa Fay? kenapa kau sepertinya khawatir sekali?"


"Tidak apa, aku hanya lupa jika hari ini aku harus menjalani pemotretan" kata Falery sembari menghela nafasnya.


"Baiklah, kau tenang saja okay" ucap Alfian sambil menyentuh kedua pipi gadis itu, membuat Falery terdiam seketika memandangi wajah tampan pria dihadapannya.


"Biar kuantar bagaimana?" tanya Al yang kini dibalas gelengan oleh Falery


"Tidak perlu Al, aku bisa sendiri. "


"Santai saja Fay, kita akan segera menikah, kuharap kita bisa lebih dekat lagi."


Falery meraih kedua tangan Alfian yang menangkup wajahnya.


"Aku tau, tapi itu masih lama, kumohon jangan paksa aku, lain kali saja okay" kata gadis itu membujuk membuat Alfian mau tak mau menuruti perkataan gadisnya itu.


"Baiklah, tapi kau harus menjaga dirimu baik-baik, jika terjadi sesuatu, cepatlah hubungi aku" ucap Alfian sambil menghela nafas pasrahnya disambut dengan anggukan daru Falery yang kini dengan cepat melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari kediamannya.


Falery melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, diraihnya ponsel yang ia genggam sedari tadi, dan memencet ponselnya dengan cepat.


"Hallo, kantor Forest... dimana presdir sekarang?" tanya gadis itu dengan suara khawatirnya.


"Dengan siapa?" tanya seseorang wanita disebrang sana


"Falery Gilbert... aku akan mengadakan pertemuan kali ini."


"Maaf nona, presdir sekarang sedang tidak bertugas. Jika kau mau, kami akan menghubungi beliau saat ini juga."


"Tidak perlu, dia tidak menjawab telfon ku. Katakan saja, siapa yang dapat dihubungi agar dapat terhubung dengannya?" gadis itu menghentikan mobilnya seketika, dengan kilat amarah beserta rasa khawatir yang melanda ditengah musim salju yang berhembus, menghilangkan hawa dingin dalam tubuhnya.


"Nona, kau bisa hubungi Kenny, dia asisten pribadi presdir. Kami akan memberikan nomornya padamu."


***


Dentuman musik menggema, ditengah para orang orang yang kini menari dan meliuk-liuk disebuah club sore itu.


Terkecuali Yasya yang kali ini tubuhnya telah lemas tak berdaya akibat meneguk banyak minuman keras. Seorang wanita tengah menemaninya untuk terus meminum wine yang hampir habis dalam botol besar itu, membuat pria yang kini hilang kesadaran itu menurut begitu saja.


"Oh sayang, ikuti aku, akan kuberikan kau kehangatan sepantasnya yang tak dapat diberikan oleh Falery mu" ucap wanita itu sambil membopong tubuh pria berbadan atletis itu menjauh dari keramaian.


Kini dengan kekuatannya yang tersisa wanita itu membopong tubuh Yasya didalam ruangan kamar bernuansa merah.


"Fay, Falery!" pria itu meracau tak karuan, membuat sang wanita tersenyum kecut sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.


"Falery, Falery ternyata kita berjodoh lewat pria mu. Kau takkan mampu menghindari ku lagi Fay" ucap Elizabeth dengan senyuman nanarnya.


Elizabeth yang kini memakai pakaian mini itu melepaskan kancing baju milik pria yang kini tergeletak diatas kasur besar itu, tak lama kemudian dia juga mencoba mengangkat dress-nya mencoba untuk menanggalkan pakaiannya, namun belum sempat wanita itu berhasil melepaskan dres ketatnya ketukan pintu membuat gadis itu mendengus kesal.


tok tok tok tok..


tok tok tok tok tok...


Awalnya wanita itu membiarkan suara ketukan itu, namun suaranya yang semakin nyaring dan tak mau berhenti membuatnya geram dan mendekat. Mencoba membuka pintu itu perlahan.


ceklek....


"Kau!"


Brakkkk....


"APA YANG KAU LAKUKAN! DIMANA IRYASYA?" teriak Falery dengan keras sambil mendorong tubuh Elizabeth, membuat wanita itu ikut mendorongnya dan mencoba untuk melayangkan tangannya, membuat Falery dengan sigap menangkap tangannya dan segera memutarnya, membuat Elizabeth tak bisa berkutik.


"KAU SIALAN! CEPAT LEPASKAN AKU!" Falery mengarahkan pandangannya yang terdapat Yasya kini terbaring lemah dengan kemejanya yang kini tergeletak di lantai membuat gadis itu menahan amarahnya.


"Tidak akan terkecuali kau mau pergi dari sini."


"Apa hakmu mengusirku dari ruangan yang telah kupesan."


"Baiklah jika kau tak mau, akan kulakukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah aku lakukan sebelumnya."


Falery memukul pundak gadis itu menggunakan sikunya dengan keras, hingga dalam sekejap gadis itu tak sadarkan diri.


Dengan cepat Falery menyeret tubuh Elizabeth dan membawanya ke kamar mandi diluar kamar dan menaruhnya dalam bathtub.


Dengan cepat gadis itu berlari menuju ranjang yang terdapat pria itu disana.


Rasa gundah seperti menyelimuti hati Falery dalam hatinya, hatinya ikut sakit melihat keadaan Yasya kali ini.


"Iryasya... bangun" ucap gadis itu sambil menepuk pipi pria itu berkali-kali, mencoba membangunkan kesadaran Iryasya yang sempat hilang.


Perlahan, Yasya membuka matanya, pria itu menatap lama gadis yang kini tersenyum kearahnya, diraihnya tengkuk gadis yang tepat diatasnya itu, membuat Falery terjatuh dan ambruk menghimpit tubuh Yasya yang berada dibawahnya membuat bibir mereka bertemu.


Falery menarik kepalanya lagi secepat kilat.


"Iryasya, ini aku.. Falery" ucap gadis itu dengan nada tegas.


"Kau bukanlah Falery, kau Reyna.. Reynaku" ucap pria itu dengan suara seraknya yang sedikit terbata.


Yasya segera bangkit, dengan sekuat tenaga yang tersisa, pria itu kini menjatuhkan tubuh Falery dan membalikkan posisi mereka.


"Yasya... apa yang kau lakukan?" Falery mencoba untuk bangkit dan menghindar, namun dengan cepat pria itu menindih tubuh Falery dan menciumi leher jenjangnya.


"Hentikan Yasya" Yasya terus menggerayangi tubuh indah gadis itu, membuat Falery meronta, namun tenaga gadis itu kini seperti kalah kuat dengan tubuh Yasya yang begitu besar. Yasya menciumi setiap jengkal leher Falery dan memberikan tanda disana membuat Falery tak tahan mengeluarkan desahannya.


"Yasya, kumohon" Yasya beralih menciumi bibir indah Falery, namun Falery berulangkali menolaknya, membuat pria itu tak perduli ditengah kesadarannya yang hilang entah kemana.


"Aku, aku Falery" Yasya kini mencoba bangkit, membuka resleting juga ikat pinggangnya, namun saat itu membuat kesempatan Falery menghindar semakin besar. Falery dengan cepat bangkit dan menampar wajah Yasya.


Plakkkkkk.....


"SADAR IRYASYA! INI AKU, FALERY KENAPA KAU JADI SEPERTI INI HAAAA?!" Yasya menjatuhkan dirinya, tubuhnya lemas tanpa sengaja meracau tak karuan.


"Sudah kubilang, kau bukan Falery, kau adalah Reynaku, namun kau tak pernah percaya padaku, wajahmu dengannya bahkan tak ada sejengkal perbedaan apapun" pria itu meneteskan air matanya mengingat kenyataan pahit ketika Alfian melamar Falery didepan semua orang, membuat kesempatannya jadi hilang.


Gadis itu menatap Yasya dengan pandangannya yang begitu sayu, antara kesal ataukah kasihan pada pria satu ini. Falery kini duduk menghadap Iryasya yang kini menunduk dengan air matanya yang berlinang.


"Katakan, apa yang ingin kau katakan?" kata Falery yang kini mencoba untuk menghela nafasnya.


"Aku hanya ingin membahagiakan mu Rey, aku sudah tergila-gila padamu sejak awal kita bertemu. Kau telah pergi begitu lama, dan aku tak ingin kesempatan itu terbuang sia-sia. Namun aku kalah dengan Alfian. Kenapa si penghianat itu selalu saja muncul, dia bahkan yang membunuhmu Reyna."


Falery mengernyitkan keningnya, ada tanda tanya dalam benaknya kala pria satu ini mengenal Alfian yang baru saja datang.


"Aku sangat mencintaimu Reyna. Jangan pernah tinggalkan aku lagi."


Falery menggeleng, menghapus fikirannya yang sempat melayang tinggi bersama dengan penasarannya yang ikut terbawa oleh kata-kata Iryasya. Gadis itu kini menarik tubuh besar pria itu yang tengah bertelanjang dada sedari tadi.


"Ikuti aku.. kau harus sadar kali ini."