
Seminggu kemudian setelah Reyna menjalani sebuah operasi yang didampingi oleh dokter Al dirumah sakit Amerika dirinya kembali pulih, namun sayangnya akibat operasi itu membuat Reyna kehilangan ingatannya.
Dia tidak ingat siapa namanya dan orang-orang disekitarnya. Meskipun begitu dokter Alfian yang selalu membantu kesembuhan dari gadis itu setiap hari, walau hasil akhirnya adalah nihil.
Semenjak saat itu, Reyna diangkat oleh keluarga Gilbert sebagai putri mereka, putri yang sangat mereka cintai meskipun tiada darah keturunan yang mengalir didalam tubuhnya.
Kebersamaan Alfian dan Reyna membuat benih-benih cinta diantara mereka tumbuh yang meskipun hanya sekedar memendam. Namun rasa cinta itu akhirnya pupus kala Alfian harus kembali ke tanah air yang memanggilnya.
Alfian kembali bersama Zayn, karena berbagai urusan yang harus dijalaninya membuat Zayn terpaksa tinggal di Indonesia untuk menyelesaikan urusannya.
Flashback off.
Zayn mengalihkan pandangannya, matanya terpejam menghapus masa lalu itu. Ada rasa bersalah mendalam dalam fikirannya yang melayang, mengingat orang-orang di masa lalu Reyna yang kini entah bagaimana kabarnya.
Namun yang pasti Zayn hanya bisa menghela nafas saat dirinya ingat janjinya pada gadis itu bahwa mereka akan membuka lembaran baru dan menutup rapat masa lalu yang membuatnya terluka lagi.
Ini semua keinginan Reyna, gadis kuat itu kini menjadi lebih kuat lagi dengan sifatnya yang bertolak belakang dengan masa lalunya.
"Kami menyayangimu Fay, tidak akan ada lagi luka lama seperti yang kamu rasakan dulu" gumam Zayn sambil menghela nafasnya.
***
Satu jam berlalu, pesawat yang dinaiki Yasya dan Falery kini telah mendarat.
Membangunkan gadis itu yang kini menggeliat, merasakan kantuk yang tersisa dalam jiwanya begitupun Yasya yang kini menoleh menatap Falery yang tengah sadar dalam mimpi indahnya.
"Kita sudah tiba..." ucap Yasya kini tersenyum pada Falery yang masih bersandar di bahu lelaki itu, membuat gadis itu segera bangkit dan mengalihkan pandangannya.
"Reyna?" panggilan itu membuat Falery muak tiap kali menatap pria gila yang kini berada disampingnya, dengan wajahnya yang masam Falery meninggalkan Yasya yang masih mematung memandanginya dengan tatapan kerinduan.
Falery menarik kopernya dan berjalan santai, tubuhnya merasakan dingin semenjak turun dari pesawat tadi.
"Rey...." ucapan dari seseorang pria yang tak asing untuknya membuat gadis itu membalikkan tubuhnya saat dirasa lengannya disentuh oleh seseorang.
"Kau lagi" kata Falery dengan nada kesal sambil menggerutu.
"Sudah kubilang aku bukan Reyna, kau salah mengenali orang tuan. Jadi tolong lepaskan aku."
"Tidak... sampai kau katakan siapa yang memberikan mu kalung itu?"
"Kalung?" Falery merasa bingung, ada hubungan apa pria itu dengan kalung yang diberikan oleh orang tuanya. Apakah pria dihadapannya ini begitu miskin? hingga dirinya mempertanyakan kalung yang tak seberapa padanya.
"Permisi tuan sudah kukatakan, nama ku Falery. Kau tau Falery kan, bagaimana dengan inisialnya. Ku fikir kau cukup cerdas dengan pakaian mu yang terhormat, namun ternyata aku salah. Maaf permisi" ucap Falery sambil menghempaskan tangan lelaki itu dengan kasar dan berlalu begitu saja meninggalkan Yasya yang masih tak mau menyerah padanya.
"Falery Gilbert, tunggu... jika kau bukan Reyna, tolong buktikan padaku" Falery hanya berhenti sejenak dan melanjutkan langkahnya lagi, namun langkah itu disusul oleh Yasya yang kini menghadangnya.
"Kau ini kenapa?? kau kurang kerjaan haa? aku sibuk" ucap gadis itu sambil melalui tubuh pria itu, namun dengan gerakan cepat Yasya menarik lengan gadis itu lagi membuatnya menahan emosinya yang sedari tadi ia tahan.
"Aku yakin kau hanya berpura-pura. Kau pasti mengenaliku kan, kau tempo hari bahkan memanggil namaku" ucapan dari Yasya membuat Falery menggeleng tak mengerti, dahinya berkerut menandakan segudang pertanyaan dihati dan fikirannya yang semakin bingung.
"Apa kau gila tuan? bahkan aku tidak tau namamu, aku juga tidak mengenalmu. Bagaimana aku bisa memanggil namamu. Apa kau gila?!."
"Kau yang gila! kau telah pergi begitu saja, aku kira kau tidak akan kembali lagi setelah sekian lama. Tapi ternyata, kau lebih membuatku kecewa dari sebelumnya Reyna" ucapan itu membuat Falery tertegun, entah mengapa, meskipun dirinya semakin dibuat bingung oleh perkataan pria asing dihadapannya, tapi hanya mendengar ia berkeluh membuat hatinya ikut sakit.
"Sudah kubilang aku bukan Reyna, bahkan aku tidak pernah memanggil namamu" ujar Falery dengan berlalu pergi menjauh dari pria yang kini menunduk lesu, tangannya mengepal menahan amarah dalam tubuhnya yang hampir menyerah oleh masa.
"Iryasya Ferdiansyah" ucapan dari Yasya membuat Falery berhenti seketika, dan sedetik kemudian melangkahkan kakinya lagi, meninggalkan Yasya yang kini berdiri mematung dengan tatapan berkaca-kaca dari matanya.