
Alan Gilbert
"Aaahh Daddy" teriakan gadis itu seperti menggema di seluruh kota, membuat siapapun yang berada dibawahnya panik ketakutan, apalagi Alan yang kali ini berteriak khawatir.
"FALERY!" Alan berlari, sambil menatap adik semata wayangnya yang kini terjatuh didepan matanya sendiri.
"Ahh" Falery memejamkan matanya kala dirinya tidak merasakan apa-apa.
Dibuka matanya dengan perlahan, Falery baru sadar bahwa dirinya ditangkap oleh tangan kekar membuatnya beralih memandangi mata sayu pria yang kini berdiri menggendong tubuh gadis itu ala bridal style.
Pandangan mereka saling bertemu, entah mengapa, ada rasa akrab yang membuat Falery nyaman pada sosok pria dihadapannya.
Falery memejamkan matanya, tanpa sadar kepalanya seperti berputar dan merasakan sakit.
"Ahhh" ada ingatan samar yang membuatnya mengingat dirinya sendiri memeluk dan tidur bersama seorang pria, namun wajahnya begitu tak jelas membuat bayangan itu menjadi tanda tanya besar bagi otaknya.
"Tu turunkan aku" ucap Falery membuat pria itu dengan cepat melepaskan kedua tangannya, membuat gadis itu terjatuh seketika.
"Aw kau gila!" Falery menatap tajam pria yang kini berdiri dengan angkuh, tiba-tiba ia ingat pria ini. Pria yang semalam membuat dirinya merasa kesal karena kehilangan moodnya untuk kesekian kali.
"Kau yang menyuruhku untuk melepaskan mu" ujar pria itu sambil membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah pergi melalui kerumunan orang.
"Kau! Hey pria gila!, kau telah merebut ruangan VIP ku direstoran! dasar ********! pria tidak tau malu, berhenti kau!" sumpah serapah dari Falery membuat pria itu berhenti tanpa berani menoleh dan langsung melangkahkan kakinya lagi, membuat gadis itu bangkit dengan segera.
"Fay, kau baik-baik saja?" kata Alan sambil memegang kedua pundak gadis itu yang kini beralih menatapnya dengan khawatir.
Falery hanya mengangguk sambil menampilkan wajah dinginnya.
***
Seorang gadis tengah diikat disebuah ruangan gelap dengan lampu berwana putih dibawahnya, gadis itu tampak menatap benci pada seseorang didepannya yang kini menatapnya dengan aura kekesalan yang mendalam.
"Kau, cepat lepaskan aku!" kata gadis itu sambil meronta, membuat Falery maju selangkah dan menggebrak meja didepan gadis itu.
Braakkkkkk
"Kau tau siapa aku ha? berani-beraninya kau mau mendorong ku terjun dari atas gedung itu, kau tau? kau gila!."
Plakk
Teriak Falery sambil menampar gadis itu yang kini tak lengah.
"Itu semua karena kau sendiri! kau yang telah merenggut pacar ku. Karena penampilan mu semalam dia akhirnya tergila-gila padamu dan memutuskan ku. Tak masuk akal!."
Falery menutup mulutnya, ada rasa geli seperti menggelitik perutnya atas omong kosong yang dikatakan oleh gadis bodoh yang kini terikat tali didepannya.
"Hahahaha bodoh hahahaha bodoh sekali aku berbaik hati ingin menolong mu dan ini balasan yang kudapatkan."
Prok prok prok
Suara tepukan tangan beserta berhentinya tertawaan dari gadis itu membuat Elizabeth bergidik.
"Ayahku bukan seorang narapidana, dia bukan kriminal!" kata gadis itu bernada tinggi.
"Oh aku lupa, dia adalah pria pemerkosa. Aku tau itu. Kau punya seorang ibu gila, dan adikmu mabuk-mabukan. Kau fikir aku tak tau bagaimana latar belakang mu itu? huh, hanya hitungan detik aku mampu mengetahui siapa kau. Jadi berhati-hatilah!" ucap Falery sambil melepaskan ikatan tali dari Elizabeth, membuat Elizabeth dengan cepat berdiri, namun Falery tak menghiraukannya.
Gadis itu tampak berjalan membelakangi Elizabeth yang kini mengepalkan tangannya dan siap untuk meninju tubuh gadis itu.
Namun dengan cepat Falery menarik lengan Elizabeth dan membanting tubuhnya hingga dirinya terhempas di lantai. Tampaknya gadis itu tidak tau akan kemampuan Falery yang begitu luar biasa dalam hal karate. Falery bahkan bisa merasakan dan mendengar gerakan kecil disekitarnya hingga jarak beberapa meter.
"Hiyaa!" teriaknya mengeluarkan jurus karate yang ia miliki.
Duakk
"Aaaahhh" teriak gadis itu kesakitan.
Falery tersenyum sinis, sambil mendekati Elizabeth yang kini terbaring lemah.
"Aku adalah Falery. Falery Gilbert. Jika kau tidak hati-hati padaku, maka aku akan menghancurkan hidupmu. Ini hanya awal, kau tidak akan tau betapa pedihnya jika dirimu berurusan dengan ku. Jadi, jangan ulangi kesalahan mu lagi Elizabeth Thompson"
Ucap Falery dengan nada dingin sambil berjalan dengan angkuh menjauh dari tubuh Elizabeth yang kini kehilangan kesadaran.
Langkah gadis itu santai sambil memasukkan kedua tangannya kedalam kantong jaket yang ia kenakan.
"Bagaimana kakakku?" pertanyaan dari Falery dibalas anggukan oleh pria yang menjadi bodyguard Falery setiap hari.
"Anda tidak perlu khawatir nona. Tuan Gilbert telah naik pesawat satu jam lalu, kira-kira dia telah sampai di Florida."
"Bagus, persiapkan alat-alat karate ku. Aku ingin berlatih"
"Lalu gadis itu? apa perlu saya panggilkan polisi untuk menangkapnya?" pertanyaan dari pria itu membuat Falery menggeleng dan segera berjalan mendahului Daniel.
Terlihat pria berwajah tampan tengah duduk disofa yang empuk, tepat diruangan hotelnya.
Kali ini pria itu meneguk dengan cepat anggur merah yang berada digelas dalam genggamannya. Tampak bola matanya membulat menatap lurus kedepan.
"Wajahnya sangat mirip dengan gadis penghianat itu! Falery Gilbert!."
Pria itu tampak membulatkan matanya sambil terus menikmati minuman kesukaannya.
"Tapi dia bukan Reyna. Sifatnya sangat kaku dan angkuh. Hanya saja, wajahnya yang membuat ku muak" Yasya mendengus, dilemparnya gelas yang telah kosong itu membuat serpihannya berserakan mengotori lantai berwarna putih itu.
Prannnkkkk
"Aaarrrghh sial sial sial!" Teriaknya keras dengan api kemarahan yang terlihat di wajahnya.
Buk buk buk
Yasya meninju sebuah tembok yang berada disampingnya, hingga dinding itu retak serta darah mengalir di jemarinya bekas tinjuan dari pria yang kini terlihat masih menahan amarahnya.
"Mau dia Reyna atau dia memang Falery! kenapa aku harus perduli? sudah 5 tahun Yasya! 5 tahun! kau masih sangat bodoh seperti dulu."