The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Dinda kepo



Istirahat siang telah hampir berakhir lima menit kemudian, namun Reyna tak kunjung kembali dari acara makan siangnya. Kini di kantor hanya bersisa kan Dinda yang tengah menahan dagunya dan menunggu seseorang untuk masuk kedalam ruangan tersebut.


Tiba-tiba saja masuk seorang lelaki yang familiar baginya, Darwin kini tengah tersenyum kearahnya seraya melambaikan tangan sok manisnya itu membuat Dinda memutar bola matanya.


Darwin adalah sosok pria periang, dia humble dan yang paling genit diantara teman-temannya. Usianya sekitar 25 tahun, dokter muda spesialis gizi yang baru saja membuka praktek dirumahnya sendiri.


Sedangkan Aldo, dia adalah pria yang juga periang namun sering jahil dan mengesalkan. Meskipun tampaknya ia selalu tebar pesona, namun sejatinya ia adalah pria yang lebih humoris dengan rambutnya yang sedikit keriting. Bisa dibilang Aldo dokter yang paling tua diantara teman-temannya, umurnya saja sudah menginjak kepala tiga.


Yang terakhir masuk adalah Tian, sikapnya serius dan lebih lembut. Namun disisi kelembutannya ia juga jarang membuka hati pada seorang gadis, kalau Dinda tebak Tian bisa jadi dulunya pernah dilukai oleh seseorang yang ia sayangi. Padahal sayang sekali, wajah Tian lumayan tampan dibandingkan dengan teman-temannya yang lain, dia juga seumuran dengan Darwin.


Sedangkan Dinda sendiri, ia adalah sosok gadis yang kritis dan kepo. Namanya juga perempuan, bahkan sekarang pun ia masih sempat-sempatnya menunggu kedatangan Reyna untuk bertanya perihal Alfian padanya.


"Eh Din, bengong aja lo! entar ke sambet setan baru tau rasa lo" ujar Darwin yang kini menyenggol lengan gadis itu membuat Dinda mengerucut sebal.


"Lo bisa diem nggak sih?! gue lagi nungguin Reyna, emang lo nggak kepo apa hubungannya Reyna sama dokter Alfian?" tanya Dinda yang kini mulai menatap serius Darwin yang hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Enggak, gue nggak kepo tuh. Gue malah kepo, kenapa lo kok kepo sama hubungannya Reyna sama dokter Alfian?" ujar Darwin seraya mendekatkan wajahnya kearah gadis itu membuat Dinda membelalakkan matanya seraya menarik wajahnya hingga menjauh dari tatapan Darwin.


Dinda memijit pelipisnya seraya menggeleng mendengar pernyataan dari Darwin. Tian dan juga Aldo sepertinya mereka cuek-cuek saja, dilihat dari Tian yang tengah mengoperasikan komputernya dan Aldo yang kini tengah memakan cemilan seraya memilah-milah berkas yang berada dihadapannya.


Sedang kini padangan Dinda melotot pada Darwin yang masih menatap lekat wajahnya tanpa mau berkedip.


"Sumpah ya, gue heran deh, kok cuma gue sih yang kepo sama hubungannya dokter Al sama Reyna, gue berasa paling ****** deh disini" ujar Dinda seraya menggeleng.


"Nah, lo tau gitu. Emang kenapa kalo ada hubungan diantara mereka, lo cemburu gitu" kata Darwin seraya mengerlingkan sebelah matanya.


"Sembarangan kalo ngomong! lo nggak tau ya, si dokter Al itu udah punya istri tau! udah hamil juga istrinya" ujar Dinda menjelaskan membuat Darwin hanya manggut-manggut saja seraya terkekeh mendengar penuturan dari Dinda.


Tiba-tiba saja Reyna masuk dengan senyumnya yang biasa ia torehkan membuat aktivitas didalam sana terhenti seketika dan mereka melempar senyum pada Reyna.


Tak butuh waktu lama Reyna melaksanakan tugasnya kembali. Sementara Dinda, ia ingin sekali menanyakan perihal hubungannya dengan Alfian, namun sepertinya hal itu harus ia tahan sampai waktunya pulang nantinya.


Waktu berlalu begitu cepat, kini shift mereka akan berganti dengan petugas medis yang lain. Reyna kini tengah merenggangkan tubuhnya rasa lelah ia rasakan. Ia melirik jam yang kini sudah menunjukkan pukul 15.30, untung saja tidak ada lemburan jadi Reyna madih bisa sempat berkencan dengan Yasya.


Tian dan Darwin kini telah mengemasi barang-barangnya, mereka akhirnya pamit disusul Aldo yang kini mulai beranjak pergi. Dan tersisa lah Reyna juga Dinda yang kini mendatanginya.


"Rey, langsung pulang aja nih nggak mau nongkrong dulu" tawar Dinda basa-basi membuat Reyna tersenyum dan menggeleng.


"Aku ada janji Din, maaf ya lain kali aja" tolak Reyna sesopan mungkin agar Dinda tak salah paham tentangnya.


"Apa kamu ngira aku sama Alfian ada apa-apa?" tanya Reyna seraya terkekeh membuat Dinda mengerucutkan bibirnya sebal. Padahal rasa kepo nya sudah menjalar di ubun-ubun.


"Ih Reyna, kan aku tanya serius" ujar Dinda yang kini mulai membuang muka membuat Reyna menggeleng.


"Alfian itu temen aku, bahkan dia yang rekomendasi aku buat masuk ke rumah sakit ini. Mana mungkin aku ada hubungan sama dia, ya meskipun dia lumayan sih hehehe" ujar Reyna seraya menyenggol bahu Dinda membuat gadis itu mulai paham dengan situasi Reyna.


"Jadi kamu temennya dokter Al? hebat dong, wah sampe direkomendasi loh. Pasti kamu temen deketnya kan" tanya Dinda yang kini mulai merasa kepo tingkat dewa. Reyna hanya mengedikkan bahunya seraya bangkit, gadis itu merangkul Dinda untuk berjalan bersamanya.


"Alfian itu sahabatnya do'i, otomatis Al juga temen ku. Apalagi istrinya juga deket sama aku, jadinya sekarang hubungan kami biasa aja. Malah tadi siang kita makan siang bareng" kata Reyna seraya berjalan beriringan dengan Dinda yang mulai menelaah perkataannya.


"Dokter Al itu ganteng tau Rey, sayang aja sih udah punya istri" ujar Dinda dengan ekspresinya yang sedikit sedih setelah mengutarakan perkataannya barusan.


"Hehehe dokter muda kaya Al itu emang banyak yang ngefans sih, aku dulu juga pernah sebelum jadi dokter. Tapi dokter ganteng ganteng yang masih perjaka banyak kan, kaya dokter Tian, Darwin juga oke, apalagi Aldo lebih mateng" ujar Reyna seraya mengerlingkan sebelah matanya membuat Dinda mencubit lengan Reyna membuat gadis itu mengaduh kesakitan.


"Rese deh" kata Dinda seraya memutar bola matanya.


"Hehehe, kamu pulang sama siapa Din? mau pulang bareng nggak, kebetulan aku dijemput nih" seru Reyna yang kini mulai menawarkan membuat Dinda menimbang-nimbang tawaran dari Reyna.


Mereka berdua kini berhenti tepat didepan gedung bertingkat tersebut dengan Reyna yang kini masih menunggu jawaban dari Dinda.


"Nggak perlu deh Rey, kamu pasti dijemput sama cowok kamu kan?" pertanyaan itu hanya dibalas anggukan oleh Reyna.


Tiba-tiba saja dari jauh mobil mewah memasuki halaman rumah sakit membuat Dinda tercengang seketika.


"Mobilnya bagus banget Rey, kayanya yang punya rumah sakit ini deh" ujar Dinda menebak-nebak membuka Reyna menggeleng.


'Yaelah Din, itu bukan pemilik rumah sakit tau" gumam Reyna dalam hati seraya memutar bola matanya. Tiba-tiba saja pandangannya beralih pada mobil tersebut yang mendekati mereka dan tanpa disadari Yasya kini membuka kaca jendela mobil tersebut membuat Reyna tersenyum, namun berbeda dengan Dinda yang kini mulai menelan salivanya tanpa bisa mengedipkan matanya.


"Hay sayang" ujarnya membuat Reyna tersenyum simpul.


"Ha, hay juga sayang" tiba-tiba saja suara dari Dinda membuat gadis disampingnya meliriknya dengan tatapan kesal.


"Dinda! dia cowok aku" ujar Reyna yang kini membuat Dinda tersentak sadar dengan apa yang dikatakan oleh Reyna padanya.


Hal itu membuat Yasya menggeleng, dengan Reyna yang membulatkan matanya kesal pada temannya satu itu sedang kini dirinya bersedekap dada, disusul Dinda yang hanya bisa menggaruk tengkuknya.