The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Bukan salah



"Abang!" sontak Reyna menarik lengan kakaknya, sudah dari sangat lama Reyna ingin memeluk Reyhan. Ia sebenarnya sudah tau jika Reyhan bekerja di perusahaannya itupun dari Yasya. Awalnya Reyna tidak bisa menahan diri untuk menemui kakak kandungnya itu, berhari-hari ia selalu menunggu, mengintip dibalik pintu, merasakan kerinduan yang ia tahan didepan matanya. Kini bahkan Reyna sendiri tak menyangka jika dirinya berani menghadapi Reyhan seorang diri. Jika saja emosinya tak memuncak melihat Reyhan diperlakukan seperti itu tadi, ia mungkin takkan keluar dengan cara seperti ini.


Reyhan menggaruk tengkuknya, ia masih enggan untuk menatap adik kandungnya satu itu. Bahkan rasa bersalah masih sempat ia rasakan saat ini saat berada didekat Reyna.


"Rey-Reyna, abang emmm" ujar pria itu yang nampak gugup dengan pandangannya yang menjurus pada adiknya yang kini tengah meneteskan air mata. Sungguh hati Reyhan tersentuh, ia bahkan merasa bersalah telah membuat gadis dihadapannya menangis.


Beberapa pasang mata melihat mereka masih menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Pantas saja Reyhan begitu jenius, ternyata dia adalah salah satu pemilik dari saham Syakieb. Karyawan yang awalnya meremehkan dirinya kini hanya bisa tersenyum nanar seraya menahan malu akan kata-katanya tadi.


"Kamu! kamu kenapa nangis?" kata Reyhan yang kini mencoba menyeka air mata Reyna yang berlinang. Reyna kini tanpa sungkan memeluk tubuh Reyhan, ia menangis sesenggukan dipelukan kakaknya yang kini matanya ikut memanas.


"Mau berapa lama lagi abang sembunyi dari aku? apa abang nggak sayang lagi sama aku!" ujar Reyna seraya tangisannya yang semakin tersedu-sedu membuat Reyhan membalas pelukan adiknya itu dengan lembut seraya mengecup puncak kepalanya.


Reyna memang masih sama, selalu manja pada abangnya, jika saja Reynaldi melihat pemandangan ini pasti dirinya akan sangat bahagia sekali. Sejenak rasa bersalah itu hilang dengan kebahagiaan yang tak dapat Reyhan gambarkan saat ini. Reyna berada dipelukannya, ini semua bagai mimpi baginya.


'Reyna adikku, maafin abang selama ini selalu berbuat salah sama kamu' ujar Reyhan dalam batinnya.


***


Reyhan menatap makanan dihadapannya, ia tak berani menatap kedua mata Reyna yang kini masih menjurus padanya. Sudah enam tahun mereka berpisah kini rasa canggung dirasakan oleh Reyhan sendiri. Setelah drama dikantor tadi Reyna mengajak Reyhan untuk keluar dan makan di cafe, ia tak mau berlama-lama menjadi tontonan bagi banyak orang.


"Bang, gimana keadaan papa?" tanya Reyna dengan dengan nada suaranya yang lemah dan pandangannya yang masih menyiratkan kerinduan.


"Papa baik, dia kangen sama kamu Rey, semenjak papa denger kalo kamu meninggal papa bener-bener terpukul, dia nyalahin dirinya sendiri."


untuk terbuka pada adiknya itu. Ia juga merasa sedih saat mengingat betapa hancurnya hati Reynaldi dan juga kerapuhan yang ia alami selama ini. Reyna hanya bisa menutup mulutnya tak percaya, air matanya hampir saja jatuh dengan matanya yang semakin memerah.


"Ini juga kesalahan kami Rey, padahal dulu kami udah jahat banget sama kamu, nggak nyangka udah dua kali kamu selametin papa"


"Maafin aku bang, tapi bang Rey seharusnya nggak menghindar dari aku, waktu dirumah sakit mommy bilang kaya gitu karena dia sayang sama aku bang, dia cuma khawatir, bahkan setelah itu mommy nyesel udah nampar abang"


"Itu bukan karena tante Ajeng Rey, tapi aku sadar banyak orang yang sayang sama kamu, mereka ada disana dan bisa bikin kamu bahagia, sedangkan aku sama papa apa? kami udah bangkrut, kami nggak mau kamu masuk kedalam hidup susah, apalagi aku dan papa udah banyak menelantarkan kamu dulu Reyna" Reyna terisak, ia benar-benar tak pernah berfikir bahwa abangnya akan berkata seperti itu.


Awalnya Reyna memang membenci papa dan juga Reyhan, semenjak ia kembali hanya rasa itu yang ia tanam. Namun lama-kelamaan Reyna menyadari jika ia tak bisa bangkit dengan rasa kebencian, hatinya tidak damai dan selalu terganggu. Jika saja dari awal dirinya tidak mengedepankan egonya mungkin saja Reyhan takkan berfikir demikian.


"Abang pikir aku nggak sayang sama abang dan papa? abang pikir aku bakal seneng kalo kalian menderita?" ujar Reyna yang kini tak bisa menahan derai air matanya lagi. Reyhan yang melihat itu, ia merasa semakin bersalah membuat Reyna menangis. Kini ia bangkit dan beralih duduk disamping Reyna seraya memeluk tubuhnya, begitupun juga Reyna yang kini membalas pelukan pria itu yang begitu ia rindukan.


"Maafin abang Rey, abang selalu ngehindar dari kamu, abang nggak tau kalau itu bikin kamu tambah sedih" Reyna memegang erat baju kemeja Reyhan, rasa bahagia bercampur haru menjadi satu. Ini yang diinginkan Reyna sejak kemarin, inilah yang ia tunggu selama ini.


"Aku sayang sama abang, aku juga sayang sama papa, aku udah cari kalian kemana-mana, bahkan asal abang tau penyakit aku udah sembuh, jadi abang nggak perlu khawatir lagi. Soal penyakit aku papa jangan sampai tau, aku nggak pengen papa sedih" kata Reyna seraya mendongak menatap kakaknya yang masih bertahan merengkuh tubuh mungilnya.


"Aku janji nggak akan bilang ke papa, aku juga seneng banget denger kamu udah sembuh. Sekali lagi abang minta maaf sama kamu Reyna"


"Abang mau minta maaf sampai kapan? lagipula dulu itu cuma rencana jahat tante Cintya, itu semua bukan murni kesalahan abang dan papa. Ada banyak kisah aku yang mungkin abang belum tau semenjak aku menghilang dari kalian. Dan abang harus janji bakal cerita gimana keadaan papa setelah aku pergi" kata Reyna yang kini menaikkan jari kelingkingnya membuat Reyhan menautkan kelingkingnya pada jari Reyna.


"Jangan sampai papa tau soal gimana masalah kamu, aku nggak pengen papa sedih dan nyalahin dirinya sendiri" sambung Reyhan membuat Reyna mengangguk dan tersenyum kemudian ia kembali dalam pelukan Reyhan.