The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Perdebatan dengan papa



Pagi menyeruak, membangunkan pria yang kini tengah tertidur pulas sadar akan keadaannya yang masih berbaring diatas tempat tidur. Pria itu buru-buru menengok jam beker yang berada diatas nakasnya.


Pukul 06.00, dengan malas Reyhan meraih handuknya dan segera pergi untuk mandi. Hari pertama masuk kerja namun belum berangkat saja ia sudah tidak bersemangat. Entah mengapa, mungkin karena perdebatannya dengan Reynaldi kemarin hari membuat Reyhan tak bisa tidur semalaman.


Bisa terlihat dari kantung matanya yang berwarna hitam, bahkan pandangannya soal pernikahan sangat jauh dari pikirannya saat ini. Namun Reyhan mencoba untuk mengerti dengan jalan pikiran sang ayah. Kalau difikir-fikir, tiap hari ia harus membeli nasi bungkus maupun makanan dari luar, baju yang kusut maupun yang belum dicuci Iya sangat kerepotan dengan itu semua. Nasib anak lelaki berbeda dengan anak perempuan yang memang sejak awal berkarakter rajin.


Calon istri? bahkan meskipun Raihan banyak yang mendekati akibat ketampanannya, namun ia enggan merespon. Itu dikarenakan Reyhan memang sangat cuek apalagi jika itu tentang asmara. Entahlah, mungkin bisa jadi nantinya ia meminta ayahnya untuk mencarikannya seorang calon untuknya atau bagaimana. Yang pasti kali ini ia akan berusaha bekerja dengan giat, agar bisa mengumpulkan modal untuk pernikahannya kelak


Jika difikirkan lagi memang lucu, bekerja sepanjang waktu, mengumpulkan uang untuk modal pernikahan tapi calon saja tidak punya. Reyhan hanya bisa meringis mengingat kenyataan itu.


"Kamu kenapa Rey? kok lesu gitu?" tanya Reynaldi yang kini sudah menyiapkan kopi juga roti bakar untuk sarapan anaknya.


"Nggak apa-apa pa, cuma grogi aja, ini kan pertama kali Reyhan kerja buat orang lain" kata Reyhan dengan alibinya.


Reyhan hanya tersenyum kecut, jika saja ayahnya tidak terlalu menggebu untuk membuatnya stress ingin rasanya ia menikmati dunianya sendiri dalam kejombloan yang menurutnya begitu asik.


"Rey, kamu kan ganteng, masa sih temen kamu nggak ada yang naksir sama kamu dari dulu. Apalagi sekarang umur kamu itu udah hampir 30 loh, papa bentar lagi juga bakalan pikun, masa udah kaya gitu papa belum punya cucu sih" sindir Reynaldi membuat Reyhan terbatuk-batuk dibuatnya.


Padahal baru saja ia membatin apa yang mereka ributkan kemarin, sekarang malah dibahas lagi. Reyhan hanya bisa menghela nafasnya.


Belum sempat pria itu menyesap kopi, sebuah ketukan pintu membuat pria itu tersentak dan segera berlari untuk keluar tanpa memperdulikan tatapan Reynaldi yang menatapnya heran


Ceklek.


"Hay kak" kata Hengky yang kini menyapanya.


"Kebetulan lo kesini, lo harus bantuin gue lari dari papa" perkataan Reyhan membuat Hengky menaikkan sebelah alisnya.


"Maksud lo apa sih kak?" tanya Hengky dengan polosnya.


"Pa, aku berangkat dulu ya, Hengky jemput aku nih" teriak Reyhan pada papanya yang berada didalam. Hal itu membuat Hengky seketika membelalakkan matanya, ia sebenarnya tak tau ada konflik apa antara ayah dan anak itu yang membuat Reyhan sepertinya ingin cepat lari saja dari kediamannya sendiri.


Sesampainya di mobil, Reyhan menceritakan segalanya bahkan ia bercerita secara detail bagaimana papanya memaksa dia untuk segera menikah. Hal itu mengundang gelak tawa dari Hengky yang kini tak bisa mengontrol perutnya yang semakin sakit.


"Aduh kak, kocak banget sih ceritanya, gue sampai nggak bisa berhenti ketawa nih gara-gara lo" kata Hengky seraya masih tertawa dengan keras.


"Ya gimana ya kak, kalau dilihat dari umur lo sih seharusnya kau udah nikah, atau minimal punya calon lah. Masa cowok ganteng kayak lo nggak ada yang naksir sih, atau jangan-jangan" perkataan Hengky terhenti seketika dibalik senyum tengil dan juga lirikan dari Hengky yang membuat mata pria itu melotot.


"Gue normal woy! jangan asal ngomong lo!" teriak Rehan kesal di dalam mobil itu. Hal itu lagi-lagi membuat Hengky tak bisa menahan tawanya.


"Untung lo punya etikat baik buat nebengin gue, coba kalo nggak, udah bogem muka lo."


"Eits santai bro, santai. Gue tau kok kak, maaf nih emang sebelumnya kakak pernah pacaran ya? kok segitu parahnya sih, om Rey sampe hampir turun tangan segala" perkataan Hengky membuat Reyhan meliriknya. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir ya pacaran, tapi yang jelas ketika dulu ya fokus dengan sekolah dan pekerjaannya, Iya tak lagi mau memikirkan hal-hal seperti itu.


"Udah ah, males gue bahas itu, yang jelas gue nggak mau buru-buru dulu. Emang kalau nikah cuma modal umur doang, kesiapan juga perlu kali" kata Reyhan yang kini membuang muka menatap jalanan disampingnya.


***


"Makasih ya sayang" kata Reyna yang kini duduk di samping Yasya. Mereka kini telah sampai di kantor perusahaan Syakieb group.


"Selamat bekerja calon istriku, semangat ya sayang" kata Yasya yang kini tersenyum seraya mengecup puncak kepala Reyna dengan lembut.


"Kalo gitu aku masuk dulu ya Sya, takut kak Zayn nungguin" kata Reyna berpamitan, hal itu membuat Yasya tersenyum dan mengangguk.


"Entar siang aku jemput ya, kita makan siang diluar" perkataan Yasya membuat Reyna mengangguk seraya tersenyum tanda setuju.


Reyna kini berjalan melalui lobi, beberapa karyawan menyapanya dengan ramah. Meskipun belum ada pengumuman maupun konfirmasi bahwa dirinya adalah pemilik saham yang sesungguhnya, namun orang-orang di sana menghormati Reyna karena kakaknya sebagai presdir utama dari perusahaan tersebut.


Langkah Reyna tiba-tiba terhenti, kala dirinya menatap seseorang lelaki dengan perawakan tinggi, yang kini masuk kedalam lift. Sosoknya begitu familiar untuknya, ia mematung mengamati pria tersebut dari kejauhan, namun saat masuk, ternyata banyak orang yang membuat wajahnya kini tak lagi terlihat dari pandangannya.


'Reyna!' Batin Reyhan yang kini bersembunyi diantara orang-orang yang bertubuh tinggi disekitarnya. Meskipun ia tak melihatnya dengan jelas, tapi ia tahu bahwa itu adalah adiknya. Ingin sekali Reyhan bertemu dengan Reyna, ia ingin memeluknya walaupun cuma sekali, tapi apalah daya itu semuanya hanya mimpi dan harapan yang mungkin harusnya ia kubur dalam-dalam.


Keluar dari lift, Reyhan kini telah disambut oleh teman barunya yang kemarin menyapanya di kantin, siapa lagi kalau bukan Edwin.


"Gue nungguin lo dari tadi" kata Edwin membuat Reyhan hanya bisa menggeleng.


"Kantornya sebelah mana sih?" pertanyaan itu membuat Edwin melangkah seraya memberikan petunjuk pada temannya satu itu.


"Makanya, gue nungguin lo itu punya niat baik. Ya, kali aja lo nggak kenal siap-siap disini, makanya gue tungguin. Ikutin gue gih" kata Edwin membuat Reyhan hanya bisa menghela nafas seraya menggeleng. Memang benar juga apa yang dikatakan Edwin padanya, siapa lagi yang dapat memberitahunya jika bukan dirinya.