The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kesombongan



Reyna dan Aldo kini tengah berdiri menatap sosok wajah tegas dihadapannya. Aldo yang kini hanya tersenyum seraya menatap Reyna yang tengah menunduk dengan tenang.


"Dokter Aldo silahkan anda keluar dulu" kata dokter Martin membuat Aldo membelalakkan matanya tak percaya, sedang Reyna kini menatapnya dengan wajahnya yang tampak tak bersalah.


"Tapi om, aku" ujarnya yang terhenti kala Martin mengangkat sebelah telapak tangannya.


"Saya disini adalah seorang dokter, tolong hargai posisi saya. Silahkan keluar atau saya terpaksa akan mengeluarkan anda dari rumah sakit ini" kata Martin dengan tatapan dinginnya membuat Aldo menghela nafasnya seraya mengangguk pasrah.


"Baik dokter" ujarnya seraya melirik Reyna dengan tatapan yang tidak suka. Reyna hanya bisa menunduk, ia bahkan merasa takut dengan sikap Martin barusan, terdengar seperti murka dan begitu serius pada keponakannya.


"Dokter Reyna, apa anda tau apa yang anda lakukan?" kata Martin membuat Reyna sedikit mendongak menatap manik mata tegas pria paruh baya itu dengan ragu.


"Maaf dokter Martin, saya bersalah, saya tau kesalahan saya menentang ketua team. Tapi jika saya harus dipecat."


"Saya tidak bertanya tentang kesalahan anda" kata-kata itu membuat Reyna mengangkat pandangannya lagi, keningnya berkerut dan semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan Martin padanya.


"Maksud dokter?" tanya gadis itu dengan wajahnya yang begitu polos dan mencerminkan sebuah pertanyaan begitu besar.


"Pengaduan dokter Aldo membuat saya tergugah, ternyata benar apa yang saya fikirkan, anda adalah dokter yang berbakat. Saya bangga pada anda dokter Reyna" perkataan Martin membuat Reyna terdiam, ia bahkan tidak tau apa yang harus ia katakan saat ini. Awalnya ia mengira akan dipecat namun malah sebaliknya.


"Selamat, anda saya rekrut sebagai perwakilan manager dan spesial dokter bedah jantung untuk saat ini dan seterusnya" kata Martin yang kini bangkit dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Reyna. Reyna segera membalasnya, ia bahkan tak menyangka dengan apa yang dikatakan Martin padanya.


"Dokter, ini beneran, saya sekarang dokter spesialis?" pertanyaan itu dan kesenangan Reyna dibalas senyum tipis dan juga anggukan oleh Martin.


"Tapi, kenapa dokter merekrut saya secepat ini? bukannya saya belum ada satu bulan bekerja" tanya Reyna yang kini mulai penasaran dengan jawaban dokter Martin padanya.


"Karena selama ini saya selalu diam-diam mengawasi setiap tugas dari dokter junior, dan saya melihat potensi anda. Sangat disayangkan jika anda tidak menyalurkannya, dari dulu saya selalu mencari pemahaman seperti anda dokter Reyna" kata-kata itu membuat Reyna mengangguk, meskipun awalnya ia tak berani menatap mata dokter Martin tapi setidaknya ini menjadi hal yang tak pernah dilupakan maupun dibayangkan olehnya.


***


Kini Reyna tengah mengemasi barang-barang dari dalam kantornya, kantornya begitu terlihat sepi karena teamnya masih sedang bertugas. Entah apa yang harus ia jelaskan pada Dinda, ia merasa tak enak hati pada yang lain, mengingat posisinya masih sangat junior dan paling muda diantara mereka.


Reyna kini mengemasi berkas dan juga barang-barangnya kedalam kardus. Tiba-tiba saja tanpa disadari dari arah luar muncullah Dinda yang kini terengah-engah menatap Reyna dengan tatapan tak percaya.


"Reyna, kamu mau kemana?" tanya gadis itu yang kini mulai mendekat dan membuat Reyna begitu terkejut. Gadis itu menghela nafasnya seraya menghentikan aktivitasnya dalam mengemasi barang-barangnya sendiri.


"Pulang" kata gadis itu yang membuat Dinda membelalakkan matanya.


"Kamu dipecat Rey?" tanya Dinda yang kini mulai menata khawatir pada posisi Reyna yang sekarang, gadis itu bahkan tak dapat melanjutkan perkataannya kala tiba-tiba Aldo datang dengan tatapan dingin seraya mengejek Reyna.


"Emang pantes kok dia dipecat, dokter yang nggak matuhin ketua, pasti bakalan kena karmanya, apalagi kalau tidak mematuhi prosedur rumah sakit kaya dia" kata Aldo yang kini tengah berdiri di ambang pintu menyandarkan punggungnya seraya tersenyum menang menatap Reyna dan juga Dinda.


"Eh, Do sombong banget sih lo, emang lo nggak bisa ya nggak usah cari masalah gitu? mentang-mentang keponakan dokter Martin lo seenaknya sendiri kaya gini" ujar Dinda yang kini memajukan tubuhnya dengan emosinya yang meledak-ledak membuat Aldo menyunggingkan senyumnya pada Dinda yang kini hendak menantangnya.


"Emang lo mau apa? gue ketua di team ini, lo mau ngadu ke atasan?, nggak bisa. Kalo lo ikut-ikutan kaya dia, dan cari masalah sama gue, gue pastiin lo bakal bernasib sama kaya dia maupun dokter lain yang berani sama gue" ujar pria itu membuat Reyna geram, bahkan gadis itu mengepalkan tangannya begitu kuat.


Dinda hendak maju, namun Reyna menghalangi langkahnya dan menggeleng untuk menenangkan Dinda. Tatapannya sudah begitu dingin dan penuh amarah, mungkin kini saatnya ia menunjukkan sikap Falery yang dulu pernah ia hindari dalam tubuhnya.


Reyna menghela nafasnya, tiba-tiba saja matanya memincing, dengan senyuman meremehkan pada Aldo. Tatapan Reyna berubah menjadi dingin, dengan sorot matanya yang penuh keangkuhan.


"Seorang dokter seharusnya punya attitude yang baik, kata-kata yang sopan dan juga punya moral, saya jadi ragu siapa yang menerima preman dan berandalan seperti anda ditempat ini. Berapa anda membayar HRD disini?" ujar Reyna dengan senyuman meremehkan membuat Aldo naik pitam dibuatnya.


"Lima juta? sepuluh juta? atau seratus juta?" pertanyaan itu membuat Reyna segera memainkan ponselnya dan kembali menatap Aldo yang kini sudah tak sabar hendak melawan Reyna.


"Lo udah dipecat, dan lo masih sombong kaya gini. Seharusnya dari awal gue minta perhitungan ke lo, tapi nggak apa-apa karena saat ini gue lagi happy, dan nggak mau kepancing emosi" ujar Aldo membuat Reyna menaikkan sebelah alisnya seraya menyunggingkan senyum.


"Asal lo tau Rey, bukan cuma lo yang bisa gue bikin pecat. Lo mau temen lo yang dibelakang itu gue tendang dari rumah sakit ini, gue bisa aja ngada-ngada karena orang yang nggak gue suka, termasuk lo!" perkataan Aldo membuat Reyna menahan tawanya, ia bahkan menutup mulutnya yang hendak ingin tertawa. Namun sedetik kemudian, tawanya menjadi tatapan tajam dan juga intens dari gadis tersebut.


"Sebelumnya saya minta maaf dokter Aldo yang paling ditakuti dan dihormati, maaf mengecewakan anda, tapi dengan hormat dan segala kekhilafan saya memutuskan untuk memecat dan mencopot posisi anda sebagai ketua team dari kantor ini" ujar Reyna dengan tegas membuat Aldo dan Dinda tercengang.


Reyna memasukkan ponselnya kembali kedalam saku, ia mengitari tubuh Aldo yang kini terasa kaku.


"Apa otak anda sudah kembali? masih belum menyadari? oh biar saya jelaskan sedikit dokter Aldo, ups saudara Aldo yang terhormat. Saya sebagai perwakilan manager memutuskan untuk memberhentikan profesi anda dan juga menghapus surat izin malpraktek selama tiga tahun ini" Perkataan Reyna membuat Aldo membelalakkan matanya, termasuk Dinda yang kini mulai tak percaya dengan apa yang dikatakan Reyna barusan.


"Jadi, lo nggak dipecat?" ujar Aldo yang kini mulai gemetaran.


"Nggak mungkin, lo pasti bohong, asal lo tau setiap dokter yang gue aduin pasti bakal dipecat. Lo cuma mau nakut-nakutin gue kan! nggak mungkin lo naik jabatan secepat ini, gue yang udah bertahun-tahun aja masih diposisi ini" kata Aldo yang kini memperhatikan langkah Reyna untuk duduk di bangku dan memutar tubuhnya. Gadis itu juga tersenyum angkuh menatap Aldo yang kini masih beradu dengan fikirannya sendiri.


"Siapa kamu berhak bicara seperti itu pada saya?! memangnya siapa yang memberikan rumah sakit ini untuk anda?! haaa?!. Asal anda tau saudara Aldo, dokter yang anda adukan tidak pernah dipecat, melainkan dimutasi dan juga naik pangkat di rumah sakit cabang. Begitu sombong dan lancang, itulah alasan kenapa anda tidak pernah naik pangkat sebelumnya" kata-kata Reyna membuat Aldo terguncang, ia masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Reyna barusan.


Aldo masih terdiam, dengan pandangannya yang mematung. Gadis itu bangkit dan menyerobot jas putih yang dikenakan Aldo dengan kencang dan menariknya dari kerah hingga tangan Aldo terguncang membuat pria itu merasa kesal. Tak hanya itu Reyna bahkan melemparkan jas tersebut tepat ke tong sampah yang berada dibelakangnya


"REYNA SIALAN!" teriaknya seraya melayangkan kepalan tangannya kearah gadis itu, namun dengan sigap Reyna meraihnya dan memelintir tangannya dengan kuat.


Plakkkk


Satu tamparan mendarat di pipi Aldo, dengan Reyna yang kini mendorongnya dengan kuat hingga Aldo tersungkur dibawah lantai.


"Sebenernya siapa lo?!" kata Aldo yang membuat Reyna mendekat dan berjongkok untuk meneriakkan kata-kata kasar pada pria tersebut.


"Saya Reyna Malik, dokter spesialis bedah jantung sekaligus perwakilan manager. Oh ya maaf sebelumnya karena saya pernah ikut karate, jadi saya cuma menghindar dan tidak sengaja, hehehe maaf ya" ujar Reyna yang kini bangkit dan membalikkan tubuhnya untuk kembali kearah kardus yang tadi ia kemasi.


Dinda masih terdiam, ia menatap Reyna dengan tatapan kagum dan senyuman bangga. Ia bahkan tak menyangka jika Reyna ternyata adalah dokter yang begitu hebat.


"Reyna kamu benar-benar jadi dokter spesialis sekarang, wahh selamat" kata-kata itu bahkan tak diindahkan oleh Reyna. Bahkan kini tatapannya berbeda dari sebelumnya, ia hanya tersenyum miring tanpa mau menyambut jabatan tangan dari Dinda.


Reyna membawa kardus yang berada ditangannya, ia bahkan tak melirik Dinda sedikitpun. Entah mengapa hal itu menjadi hal aneh bagi Dinda, karena Reyna bukanlah orang sedingin itu. Bahkan keberaniannya tadi bukan milik Reyna, seperti ada karakter lain dalam tubuhnya.


Reyna melangkahkan kakinya dan berhenti tepat disamping tubuh Aldo yang kini masih tak bangkit dan menatap Reyna tak percaya.


"Oh ya, bagi lulusan University of Central Florida, anda yang hanya bersekolah di kampus murah tidak ada apa-apanya untuk saya. Oh ya mohon maaf, saya tidak punya waktu untuk ini. Ngomong-ngomong dokter Dinda, saya punya tugas untuk anda" ujar Reyna dengan tegas sambil menatap manik mata Aldo yang kini penuh dengan tatapan kebencian.


"Iya dokter Reyna" tiba-tiba saja Dinda mendadak menjadi lugas dan menunduk untuk menghormati posisi Reyna.


"Saya sudah merekam kelakuan dokter yang tidak punya adab seperti dia. Jadi saya akan kirimkan buktinya dan silahkan masuk ke ruangan manager untuk melapor."


"Tapi dokter, saya" tiba-tiba saja kata-katanya terhenti tatkala Reyna menaikkan telapak tangannya.


"Tenang saja, saya yang akan menghubungi dokter Martin untuk masalah ini. Dia pasti akan menerima laporan kamu karena ini perintah saya" ujar Reyna dengan tatapan tajamnya pada Aldo dan segera melangkah keluar dari tempat itu membuat Dinda meremas jemarinya, dan Aldo kini mengacak rambutnya frustasi.