The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Falery atau Reyna?



"Kak... cita-cita ku hanyalah menjadi seorang dokter" ucap gadis dengan sinar matanya yang tegas dan berapi-api, menandakan bahwa Falery bersungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan.


"Tentu saja kau bisa menjadi seorang dokter, kakak tidak memaksamu. Tapi kali ini Fay, jangan libatkan cita-citamu dalam masalah ini. Kita sudah menandatangani kontrak selama satu tahun, kau tidak bisa mundur begitu saja."


Rahang Falery mengeras, hatinya terasa tertusuk duri tajam, ada rasa kesal bercampur kecewa melanda hatinya. Ingin sekali ia menyudahi profesinya seperti saat ini.


"Aku tidak mau tinggal disini, aku ingin ikut mommy ke Indonesia. Aku ingin menjadi dokter disana bersama dokter Alfian."


"Apa kau bercanda Fay? daddy tidak akan mungkin mengizinkan mu. Jangan kan daddy, akupun takkan membiarkan mu kembali kenegara itu."


Dahi Falery berkerut, ada perasaan mengganjal pada dirinya kala mendengar Alan berkata seperti itu.


"Apa maksudmu kak? kenapa aku tidak boleh kesana?" tanyanya dengan tatapannya yang mengintimidasi.


"Kau tidak akan pernah pergi kesana, aku bisa membuat mommy dan Zayn untuk tinggal disini jika kau mau."


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau katakan" ucap Falery sambil mengalihkan pandangannya pada Alan. Tangan gadis itu mengepal menahan gejolak dihatinya yang kian sakit oleh cita-citanya yang tak mampu ia paksakan.


"Fay... kakak sibuk, jangan berulah okay! kau sudah dewasa, dan jangan manfaatkan kebebasan mu. Kau boleh menggerutu semaumu, tapi hal ini akan kita bahas setelah kau selesai dengan tugasmu." Ucap Alan sambil beralih pergi dengan buru-buru, membuat gadis itu tak dapat menahan tubuh sang kakak yang kini semakin menjauh darinya.


Tubuh Falery melemas, ada rasa amarah yang tak dapat ia ungkapkan pada siapapun kali ini.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, membuka pintu ruangan direktur dengan perlahan, menatap wajah tampan pria yang kini melipat kedua tangannya menunggu kehadiran Falery yang kini masih mematung diambang pintu.


"Sudah selesai?" ucap Yasya membuat gadis itu menggeleng, menghembuskan nafasnya dan sekaligus membuang rasa khawatirnya.


"Sudah direktur" ujarnya dengan lirih.


"Biklah... silahkan masuk!" ucap Yasya sambil dibalas anggukan oleh Falery yang kini menatap datar wajah pria itu.


Falery beralih duduk, tepat didepan Yasya yang kini menatapnya dengan intens.


Yasya masih menikmati setiap jengkal wajah Falery yang begitu cantik dan anggun meski makeup yang ia pakai cukup sederhana dan natural. Bibir mungil yang indah, dengan mata lebar yang membulat sempurna, serta hidung bangir dan kulit putihnya yang mampu membuat siapa saja pasti akan tergoda jika bertemu dengan gadis itu walau hanya pada pandangan pertama saja.


"Falery Gilbert, atau Reyna Malik?" pertanyaan itu membuat Falery tak bisa menahan amarahnya lagi


"Maaf.... apa kau buta tuan, kau telah bertemu dengan kakakku, dan kau masih berfikir jika aku adalah kekasih masa lalumu."


Yasya bangkit dari tempatnya duduk, mendekat maju pada gadis dihadapannya itu dengan senyum tipis diwajah tampannya.


"Bisakah kau bertindak dengan akal sehatmu? ini kantor tuan, jangan melakukan permainan yang tidak penting lagi."


Yasya menarik lengan Falery, membuat gadis itu terduduk dimeja, sedangkan posisi Yasya kini menindih tubuh mungil Falery yang menatapnya dengan pandangan benci.


Falery menatap mata itu, mata indah dan teduh yang selalu nyaman dalam ingatannya yang hilang. Entah mengapa pria dihadapannya ini tak mudah ditangani oleh seorang Falery.


Pria itu meraih tengkuk gadis dihadapannya, ******* bibir gadis itu dengan lembut, membuat nada melodi yang indah bersama dengan rasa manis dibibir Falery yang kini membalas ciumannya. Namun sedetik kemudian, gadis itu tersadar dengan apa yang ia lakukan dan segera menggigit bibir pria itu, membuat Yasya menghentikan ciumannya.


Plaakkkkkk.....


Sebuah tamparan mendarat dipipi pria tampan itu yang kini menatap Falery dengan tatapan sayu.


"Mesum....! apa kau selalu bertingkah seperti ini pada setiap karyawan wanita mu tuan." Ucapnya sambil mendorong tubuh Yasya dengan kasar.


"Fay."


"CUKUP! kau selalu memanggilku Reyna, Reyna, Reyna! bagaimana aku bisa mengenalmu, sedangkan kau pertama kali bertemu denganku saja acuh. Apa kau adalah orang yang plin plan tuan Yasya? kau menganggap ku sebagai musuhmu, kemudian memanggilku sebagai kekasih masa lalumu! apa kau benar-benar orang gila. Jika kau bukanlah orang yang dikenal oleh kakakku, maka aku tidak akan segan-segan untuk memukulmu."


Kata Reyna panjang lebar, membuat hati Yasya merasakan sedikit penyesalan pada dirinya akan perlakuannya yang terlalu berlebihan.


Falery meraih tasnya, dirinya berjalan cepat menuju pintu yang tak jauh dari pandangannya.


Genggaman tangan dari seseorang dilengannya membuat gadis itu berhenti melangkah begitu saja.


"Tunggu."


"Ada apa lagi direktur? kau belum puas melecehkan ku."


Yasya menarik lengan gadis itu, ditatapnya mata gadis yang benar-benar tak asing baginya, mata Reyna yang selalu ia rindukan.


"Maafkan aku nona Gilbert, mungkin aku sedikit keterlaluan padamu."


"Sedikit? hah? kau bilang kau sedikit keterlaluan? sikapmu itu bukan hanya sedikit, tapi benar-benar keterlaluan. Ini adalah pertemuan bisnis, dan aku belum sempat bernafas lima menit di kantor mu dan kau mempermalukan ku seenaknya."


"Baiklah... aku minta maaf, apapun yang kau katakan, tapi aku hanya ingin meminta satu hal. Jangan pernah membenciku" ucapan itu membuat Falery terdiam, tak dihiraukannya perkataan Yasya yang kini menatap pasrah padanya, dihempaskan tangan kekar pria itu, lalu melangkah menjauh dari Yasya untuk kemudian keluar dari ruangannya.