
"Um, sudah sudah, kita akhiri semua ini, aku sudah membuat mu sedih, pasti kau lapar kan hehehe" ujar Sarah yang kini mulai menghibur perasaan Falery. Membuat sahabat disampingnya itu terkekeh.
"Haha, tidak... kau berlebihan Sarah."
"Baiklah kalau begitu bagaimana kalau aku traktir kau makan, ini sudah larut, tapi kita belum makan apa-apa dari tadi."
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam disebuah restoran seafood. Restoran yang cukup terkenal di kota Florida.
Tanpa pikir panjang kedua sahabat itu memasuki restoran dan duduk disebelah kaca jendela yang langsung menghadap jalan.
Segera mereka memesan makanan pada pelayan yang datang.
"Fay, kenapa kau tak cari pasangan saja, jika kau mau aku punya banyak kenalan."
Falery menggeleng dengan cepat, baginya dalam hidupnya tiada lagi yang dapat ia banggakan maupun inginkan termasuk seorang pasangan.
"Hemmm... kenapa, umurmu hampir menginjak 22 tahun, sampai kapan kau mau melajang terus."
Falery menghela nafasnya. Mencoba menjernihkan fikirannya yang melayang entah kemana. Hidupnya telah tak berarti lagi, yang ia inginkan hanyalah kehidupan yang tenang saat ini.
"Aku masih muda Sarah, masih ingin bersenang-senang, sudahlah ck... malahan aku berfikir untuk tidak menikah nantinya."
Sarah membulatkan matanya. Dirinya hampir menyemburkan jus jambu yang ia minum saking terkejut oleh perkataan Falery.
"Uhuk... uhuk..." Sarah terbatuk-batuk ia bahkan nyaris mengotori meja makan dihadapan.
"Hey, kalau minum itu hati-hati" kata Falery memperingatkan.
Sarah mencoba menelan jusnya, ia mulai merasa lega setelah menghembuskan nafasnya beberapa kali.
"Bagaimana kau bisa berfikir untuk tetap melajang?! aku tak habis fikir denganmu" Sarah menelan salivanya, ia memutar bola matanya untuk bersiap memberikan pencerahan bagi sahabatnya yang kini membuat kepalanya pening.
"Kau harus menikah Fay, kau tak punya siapa-siapa didunia ini, dan aku tidak bisa menemanimu seterusnya" tutur gadis itu panjang lebar membuat sahabatnya kini merasa malas jika harus membahas itu setiap bertemu dengannya.
***
Mata elang itu melirik sebuah pembicaraan tepat dibelakangnya. Tak disangka seseorang yang tidak ingin ia temui kini duduk membelakanginya bersama dengan Sarah.
"Zayn... kau baik-baik saja?" tanya gadis cantik dihadapannya yang kini menatap pria dihadapannya dengan pandangan gusar.
Zayn mengangguk pada gadis dihadapannya yang merupakan teman kencan untuk beberapa hari ini.
"Tidak... bagaimana kalau kita..."
Suara dari belakang itu membuatnya tertegun saat Sarah mengatakan sesuatu yang tiba-tiba menyayat hatinya.
"Kau harus menikah Fay, kau tak punya siapa-siapa didunia ini, dan aku tidak bisa menemanimu seterusnya."
Pria itu diam seketika, fikirannya masih tertuju pada kedua sahabat yang kini mulai berbagi argumen dibelakangnya. Niatnya untuk pergi dari sana ia urungkan demi mengetahui apa yang sebenarnya mereka bicarakan.
"Apa yang ingin kau katakan Zayn?" tanyanya lagi yang kini mulai cemas dengan sikap Zayn yang berubah pendiam.
Zayn hanya tersenyum sambil menggeleng.
***
"Dua keluarga yang aku tinggalkan sudah cukup Sarah, jika suatu saat nanti aku memiliki keluarga lagi, entah bagaimana aku bisa terpaksa untuk meninggalkan mereka" ucap Falery dengan suara lemahnya. Dan pandangannya yang terlihat sayu.
"Kau tidak pernah salah Fay, jangan samakan masa depan mu dengan masa lalu mu karena itu semua berbeda, kau hanya terlalu baik, dan egois pada dirimu sendiri."
Falery menggeleng, dirinya mulai berkaca-kaca dengan kernyitan di dahinya. Memang benar apa yang dikatakan Sarah, tapi itu adalah pilihannya sendiri. Mungkin dengan begitu ia bisa hidup dengan tenang tanpa masalah yang terjadi padanya selama ini.
"Aku telah berhasil menyelamatkan papa ku, dan kesalahan ku adalah meninggalkan dia tanpa pamit, dan untuk daddy, aku tidak berhasil untuk menyelamatkannya Sarah... itu semua karena aku! jika di hari itu, dihari daddy siuman karena kehadiran ku, aku memenuhi janji untuk tidak meninggalkannya, aku pasti tidak akan menyesal seperti ini."
Falery tanpa sadar meneteskan air matanya. Meski begitu matanya yang memerah membuat sahabatnya frustasi.
"Fay, ini semua karena kak Grace bukan?! jika kau waktu itu tidak keras kepala, dia pasti akan mengakui semua kesalahannya, tapi apa yang kau lakukan Fay? kau harusnya jujur dengan begitu kehidupan mu tak mungkin sepedih ini."
Falery menutup mulutnya, dirinya bersiap bangkit untuk ke toilet wanita.
"Kau mau kemana Fay?" tanya gadis it6pada sahabatnya yang kini mulai perlahan melangkah.
"Aku mau ke toilet sebentar" jawabnya datar sambil melangkah kembali.
"Mau aku temani?" tanya Sarah lagi yang kini mulai khawatir.
Falery menggeleng. Dirinya menyeka air matanya dan tersenyum kembali.
Sarah memijit pelipisnya, ia sudah terbiasa berdebat hal seperti ini dengan sahabatnya. Namun kali ini berbeda karena dirinya akan pergi, dirinya akan jauh dari jangkauan Falery.
Ia tidak bisa membiarkan sahabatnya selalu egois seperti itu.
***
Ceklek....
Lima menit berlalu, kini Falery melangkah keluar meninggalkan toilet wanita.
Tiba-tiba saja sebuah tangan besar menarik lengannya, dirinya hendak berteriak namun sebuah tangan juga membungkam mulutnya.
Gadis itu tak tau siapa yang kali ini berbuat jahat lagi padanya. Ia merasa tidak mempunyai masalah dengan siapapun, tapi mengapa ada orang yang hendak menculiknya.
Fikiran Falery melayang, mengingat dimana ia diculik oleh Alex lalu disekap olehnya.
Gadis itu mencoba memberontak lagi. Penculik itu terus menariknya, membawanya kesebuah ruang khusus waiter.
Seseorang itu melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba, membuat Falery meringkuk dibawah lantai sambil menutup telinganya.
Matanya berkaca-kaca dengan dadanya yang bergetar hebat merasakan ketakutan yang tiada terkira, fikirannya pun masih melayang mengingat teriakan yang ia layangkan dan juga tawa dari Alex yang begitu menakutkan untuknya.
"JANGAN! KUMOHON JANGAN SAKITI AKU!HIKS... SIAPAPUN KAU, ALEX ATAU ELIZABETH! BUNUH SAJA AKU, HIKS... AK, AKU HIKS, SUDAH TIDAK PUNYA APAPUN."
Teriakan Falery menggema dengan perasaannya yang berdebar ketakutan. Tubuhnya merinding kala pria itu menyentuh kedua lengannya dan memaksanya untuk berdiri.
Gadis itu masih menangis dengan matanya yang terpejam. Tangisannya menjadi ditengah ketakutan yang ia rasakan.
"Falery" suara familiar itu membuat dirinya tak bisa berfikir jernih. Hanya dapat pasrah tanpa memikirkan apapun. Keringat dingin bercucuran dikeningnya. Menandakan trauma yang luar biasa bagi dirinya.
Pria itu mengguncang Falery sebelum rengkuhan hangat dirasakan olehnya.
"Fay, ini aku Fay, kau jangan takut lagi, maafkan aku jika aku menakuti mu."
Falery memberanikan diri untuk membuka matanya. Ia mulai merasa nyaman dengan pelukan itu, pelukan yang hangat.
Tidak salah lagi ini adalah orang itu.
"Ka.. kakak... hiks hiks a.. aku takut kak, takut sekali" kata Falery dengan suara seraknya sambil masih terisak.
Zayn menenangkan Falery, pria itu mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembutnya mencoba untuk menenangkan hatinya yang tengah ketakutan tiada terkira.
"Maafkan aku... maafkan semua yang pernah aku lakukan selama ini padamu, aku bahkan tidak tau betapa menderitanya kehidupan mu saat kau pergi ."
Falery memejamkan matanya sebelum rengkuhan itu melemah. Didorongnya tubuh Falery dan menatap lekat mata merah dibalik kacamata yang ia kenakan.
Sebuah penyesalan bagai petir menyambar diatas ubun-ubun Zayn membuat hatinya bergetar, tak tega, dan segala lara ia rasakan.
"Falery, aku sudah mendengar semuanya, aku sudah tau apa alasan mu Fay. Sekarang kau tak perlu takut lagi, biarkan aku mengetahui segalanya, ceritakan padaku okay?" kata Zayn dengan kesungguhan hatinya.
Falery masih menangis sesenggukan. Ia masih merasa trauma dengan apa yang terjadi padanya beberapa waktu lalu.
"hiks... kak... aku," Falery perlahan mengatakan segalanya dengan perjanjian bahwa Zayn tidak akan melakukan tindakan apapun dengan Grace.
Ia menceritakan segalanya, dimulai kala malam itu dan ketika ia mengingat segalanya. Mengingat masa lalu yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Falery juga menceritakan betapa ia tersiksa kala dirinya diculik dan dipaksa untuk menikah dengan Alex.