
Kini Reyna dan Yasya berjalan keluar dari pemakaman tersebut, dengan Yasya yang menggenggam jemari Reyna membuat gadis itu membalas genggaman tangan dari pria disampingnya.
"Sya, gimana pendapat om Adi soal aku yang sebatang kara ini? apa beliau nggak keberatan?" tanya Reyna yang tiba-tiba membuka suara membuat Yasya menghentikan langkahnya dan membuat Reyna mengikuti instruksinya dengan menatap lekat mata pria yang lebih tinggi darinya itu.
"Sayang, papi nggak akan keberatan tentang status kamu saat ini. Papi seneng kalo kamu masuk keluarga kita, bahkan papi udah siapin rumah sebelum kita nikah, jadi kamu jangan khawatir. Terlalu banyak yang kita hadapi sebelum kebahagiaan kita terukir, dan aku akan perjuangin kamu sampai kamu bener-bener bahagia Reyna."
"Sya, bahagia ku itu ada di kamu, cukup kamu ada disamping aku itu udah bikin hidup aku sempurna."
Kini Yasya semakin mengulas senyumnya, pria itu bahkan mendekatkan tubuhnya dan mengecup lembut kening Reyna. Gadis itu bisa merasakan kehangatan, hatinya merasa lebih tenang tatkala ada Yasya disampingnya.
"Reyna, maafin aku sebelumnya, tapi papa dan Reyhan? mereka juga berhak tau tentang keadaan kamu yang sekarang" kata Yasya seraua melanjutkan langkahnya dengan pelukan hangat di lengannya dari Reyna.
"Bukannya aku nggak menghargai pendapat kamu, tapi aku masih trauma Sya. Awal dari kehancuran hidup seorang Reyna berawal dari keluarganya. Aku takut mereka mencampakkan aku lagi kaya dulu."
"Itu cuma ketakutan kamu, apa kamu nggak pernah berfikir untuk mencoba? sekalipun mereka bakal bersikap kaya dulu, tapi setidaknya kamu mencoba. Apalagi mereka kalo mencari kebenarannya, pasti mereka bakal seneng banget dam bakal nyesel pernah nyakitin kamu."
Reyna masih terdiam, ia berfikir sejenak seraya menghembuskan nafasnya. Perkataan Yasya memang ada benarnya, namun sakit itu terlalu mendarah daging dihatinya. Ketakutan juga trauma yang ia rasakan melebihi keinginannya kali ini untuk kembali.
"Lebih baik aku nyesel buat nggak ketemu mereka lagi Sya, daripada aku harus nyesel karena disakiti keluarga sendiri. Kamu ngomong gitu karena kamu nggak pernah ada di posisi aku yang sekarang. Bagaimana jika diusir keluarga sendiri, pendidikan bahkan hancur karena mereka, hidup bergantung pada orang lain. Walaupun aku nggak salah, dan kenyataannya, mereka yang salah Sya" kata Reyna yang kini mulai menahan air matanya.
Kini Reyna dan Yasya telah sampai disamping mobil dimana mobil pria itu terparkir. Yasya mencoba memeluk gadisnya meski air mata menetes dipipinya.
"Tapi mereka juga korban sayang, mereka juga nggak tau kebenarannya. Dan kamu pernah cerita kan kalo sebenernya kamu sama tante Almira itu cuma dijebak" Reyna melepaskan pelukannya dari dada bidang pria dihadapannya. Tatapannya sayu menatap kedua mata teduh itu, tatapan penuh kasih dan sayang dari seorang Yasya untuknya.
"Tapi mereka juga salah Sya, meskipun mereka ngira aku bukan anaknya papa seharusnya mereka nggak perlakukan aku kaya gitu. Aku juga punya perasaan Sya, aku punya hati dan aku juga manusia kaya mereka, tapi kenapa mereka bahkan nggak ngasih aku kesempatan" Reyna kini mengalihkan pandangannya yang nampak memerah. Ia tak kuasa melihat Yasya yang menatap iba padanya.
"Seenggaknya, kalo mereka punya perasaan mereka nggak akan ngusir aku dengan cara nampar sampai mukul aku Sya" kata-kata Reyna begitu dalam dengan air matanya yang mengalir dan suaranya yang bertambah serak.
Yasya kini tak kuasa melihat pemandangan dihadapannya, ia dengan segera memeluk erat tubuh Reyna yang kini tengah menangis sesenggukan dengan air mata yang berlinang. Sebuah air mata kekecewaan dan juga kesakitan dalam masa lalunya yang kelam membuat dirinya terguncang.
"Maafin aku sayang, maafin aku karena udah maksa kamu. Aku nggak bermaksud buat bikin kamu sedih, aku cuma pengen kamu kumpul sama keluarga kamu" kata-kata Yasya membuat hati Reyna melunak. Mungkin benar apa yang dikatakan Yasya, Yasya bahkan tidak berniat jahat dengan mengembalikan ingatan kelam itu dari Reyna. Bagaimana Yasya memperdulikannya membuktikan bahwa pria itu begitu mencintai Reyna dengan setulus hati.
***
"Kamu mau makan apa sayang?" pertanyaan itu keluar dari mulut Yasya yang kini tengah fokus menyetir mobil sedang Reyna tak mau melepaskan pelukannya dari tubuh pria tersebut.
Kali ini usai dari pemakaman Almira, mereka berdua memutuskan untuk makan bersama. Reyna masih terdiam, ia menatap kosong jalanan yang kini mereka telusuri ditengah ramainya ibukota.
"Reyna" panggilnya sekali lagi membuat gadis itu tersentak dari lamunannya.
"Mau makan apa sayang?" tanya Yasya mengulangi membuat Reyna tersenyum lembut seraya menatap wajah pria disampingnya yang begitu tampan.
"Terserah kamu aja deh, aku ngikut" kata Reyna membuat Yasya akhirnya berfikir sejenak untuk mencari tempat yang tepat untuk mereka berdua.
"Gimana kalo makan seafood dipinggir jalan aja, mau nggak?" pertanyaan itu membuat mata gadis itu membulat. Mungkin baginya tempat seperti itu biasa, namun baru kali ini Yasya memintanya untuk makan ditempat seperti itu.
"Kamu nggak apa-apa makan ditempat kaya gitu? tumben."
"Nggak apa-apa sayang, aku tau tempat enak nggak jauh dari sini. Mau coba nggak?" pertanyaan itu membuat Reyna mengangguk seketika seraya tersenyum senang mendengarnya.
Langit yang semula terang kini berubah menjadi gelap, pertanda bahwa waktu akan berlalu dengan adanya matahari yang mulai memudar dari tempatnya berasal.
"Pak cumi satu porsi sama udang gorengnya ya" kata Yasya tatkala dirinya tengah sampai ditempat yang ia maksud. Sebuah warung makan sederhana dipinggir jalan, tempatnya pun cukup sempit namun nyaman bagi Reyna.
Kini bahkan gadis itu tengah duduk dengan nyaman di atas kursi panjang yang khusus diperuntukkan bagi pengunjung yang datang.
"Sayang, minumnya apa?" pertanyaan itu membuat pandangan Reyna menoleh dan berfikir sejenak.
"Es jeruk aja deh" balasnya membuat Yasya mengangguk seraya memesankan pesanan Reyna yang baru saja ia tanyakan.
Yasya kini dengan semangat menghampiri gadis itu, tangannya menggenggam jemari Reyna yang berada tepat diatas meja membuat gadis itu menoleh dengan senyuman yang memukau.
Untung saja masih sore jadi mereka adalah pelanggan pertama karena kebetulan warung itu baru saja dibuka. "Kamu persen apa Sya?" pertanyaan itu membuat Yasya menahan kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Reyna tanpa bisa berkedip sedikitpun.
"Cumi sama udang" seketika tubuh Reyna kaku. Bukannya ia tidak suka dengan makanan tersebut, namun ingatannya membuat gadis itu menatap Yasya dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya.
"Kenapa Rey? kamu nggak suka?" pertanyaan itu sontak membuat Reyan menggeleng, ia bahkan tak mengindahkan pandangan pria yang kini menatapnya dengan pandangan khawatir.
"Aku suka tapi," tiba-tiba saja perkataan Reyna berhenti bersamaan dengan penjual yang mengantarkan makanan tersebut pada Reyna dan juga Yasya.
"Makasih pak" kata Yasya dengan senyuman membuat pria setengah baya itu mengangguk dan membalas senyum. Pandangan Reyna beralih menatap oseng cumi dan juga udang krispi dihadapannya.
Seketika ingatannya kembali terbuka mengingat bagaimana dulunya dirinya dan Reyhan tengah makan bersama. Tepatnya sebelum Reyna diusir dari rumahnya sendiri.
"Kamu kenapa Rey? kalo nggak suka bilang aja, nggak apa-apa kok, aku bisa pesen yang lain" perkataan itu membuat Reyna tersenyum dan menggeleng.
"Nggak apa-apa kok Sya, aku suka, udah yuk kita makan" meskipun dilanda kegelisahan yang mengganjal dalam dirinya, Reyna masih bisa menelan makanan tersebut demi Yasya. Makanan yang ia makan mengingatkannya pada Reyhan, mungkin itu cukup untuk mengungkapkan kerinduan pada sosok abangnya yang kini mungkin telah hidup bahagia.