
"Tapi pa, enak aja Yasya mau ambil Reyna secepet itu, padahal dia kan baru balik" kata Reyhan membuat mata Reyna membulat. Memang benar jika dirinya baru kembali, tapi keputusan Yasya dan Reyna sudah bulat. Dua kakaknya itu benar-benar membuat kesabaran Reyna habis kali ini.
"Kalian ini sebenernya mau apa sih?!" tanya gadis itu tegas seraya bangkit dari duduknya dan menghadapi kedua kakaknya yang tengah bersedekap dada hendak menantang Yasya.
"Kami mau nguji Yasya dulu, layak atau nggak dia buat jadi calon suami kamu, kalau dia bisa lewati tantangan kami berarti dia boleh bawa kamu Rey" kata Zayn menambahi membuat Reyna menaikkan alisnya. Keterlaluan sekali dua kakak Reyna itu, sudah jelas Yasya adalah pria yang baik-baik masih saja mau mengerjai dirinya. Sayangnya Reyna takkan menceritakan apa yang mereka lalui pada Reynaldi, bisa runyam urusannya jika papanya itu tau bagaimana Yasya memperlakukannya dulu sampai sekarang.
"Kalian ini keterlaluan banget sih-"
"Oke, aku setuju" ucapan Reyna terpotong oleh kata-kata Yasya yang begitu meyakinkan, ditambah lagi senyuman andalan dari pria itu. Memang siapa yang takut untuk menghadapi dua orang itu, IQ Yasya juga tidak rendah- rendah amat. Untuk mendapatkan Reyna, ia juga harus menunjukkan kemampuannya, sekaligus meraih hati calon mertuanya itu.
"Sya! mereka itu cuma main-main, udah nggak usah diladenin" kata Reyna membuat Yasya kini bangkit dan tersenyum pada Reyna, ia mengisyaratkan bahwa semuanya pasti baik-baik saja.
"Apapun rintangan buat dapetin kamu, aku bakal hadapi semua itu Rey, tapi gue ada syarat, kalo gue yang menang, gue yang bakal ngatur kapan pernikahan bakal dimulai" ujar Yasya dengan tatapannya pada kedua pria itu yang kini tersenyum penuh arti seraya melirik satu sama lain.
"Oke" kata Reyhan dan Zayn kompak.
"Siapapun yang menang, nggak akan ngerubah keputusan papa buat nikahin Reyna sama Yasya, kalo kalian tetep ngehalangi tali jodoh Reyna, papa yang bakal jodohin kalian, biar kalian tau rasa" seru Reynaldi mengancam, membuat dua pria itu mengerucut sebal seraya matanya yang semakin membulat.
Yang benar saja, jika begini caranya sama saja Yasya sudah menang dari awal. Reyna menahan tawanya begitupun juga Yasya. Akhirnya dirinya dapat pembelaan juga dari calon ayah mertua, dengan begini restu dan kebahagiaan mereka sudah ada didepan mata.
"Pa! ini namanya sama aja dong, gimana sih" kata Reyhan mengeluh, begitupun Zayn yang kini menatap tajam kearah Yasya yang hanya bisa terkekeh seraya mengerlingkan sebelah matanya.
"Iya pa, itu namanya nggak adil" tambah Zayn dengan emosinya. Reynaldi hanya bisa menghela nafasnya, ia kemudian berjalan untuk menuju kamarnya.
"Udah ya, papa capek, mau istirahat. Reyna temenin Yasya ya, maaf ya nak Yasya om ke kamar dulu, kalian lanjutin aja" ujar Reynaldi seraya berjalan dan berpamitan pada Yasya. Reynaldi memang harus istirahat lebih awal karena memang usianya yang sudah lanjut. Yasya mengerti itu, baginya sudah cukup Reyna yang ada disampingnya, itu sudah mewakili keluarga Reyna sendiri.
Sedangkan kedua kakak Reyna itu masih menggerutu dengan kata-kata mereka yang dibuat kesal oleh Reynaldi tadi.
"Maafin abang-abang aku ya Sya" kata Reyna membuat Yasya tersenyum seraya berjalan kearahnya. Pria itu duduk disamping Reyna dan menyentuh rambut gadis itu yang panjang terurai. Sangat lembut, gadis paling cantik yang dimiliki Yasya saat ini tidak menyangka akan menjadi istrinya dalam waktu dekat. Yasya menarik dagu Reyna membuat Reyna tersipu dibuatnya, ditambah tatapan Yasya yang memabukkan membuat Reyna seperti tersihir untuk kesekian kalinya.
"Eh jangan macem-macem ya sama adek gue" suara itu keluar dari sekat ruang keluarga. Dan benar saja Reyhan telah mengintip kegiatan mereka dibalik sekat itu membuat Yasya menelan salivanya kasar seraya menarik jemarinya lagi, menjauh dari wajah gadis dihadapannya.
Reyna hanya bisa menggeleng seraya menahan tawanya. Jika saja mereka berada di apartemen saat ini, sudah habis bibirnya dilumat oleh Yasya. Mereka harus tetap
bersabar, sebentar lagi kebahagiaan akan segera tiba.
***
Sebuah mobil mewah berhenti disebuah basemen dan keluarlah para pimpinan perusahaan Syakieb. Kini Zayn yang keluar dari dalam sana, disusul Reyna, lalu kemudian Reyhan. Penampilan mereka bahkan membuat takjub beberapa karyawan, termasuk seorang yang paling menarik perhatian mereka, kalau bukan Reyhan siapa lagi. Mereka melangkah bersama seraya sedikit berbincang, ada kalanya beberapa kenalan Reyhan bahkan tak menyangka jika dia kini bak Cinderella pria yang kemarin hari menjadi bawahan dan kini dirinya sudah menjadi bos besar.
Ketika hendak memasuki lift, tiba-tiba saja langkah Reyhan tertahan. Lengannya seperti ditarik oleh seseorang, dan benar saja, siapa lagi yang bertindak kurang ajar kalau bukan Novi. Reyhan segera menepis tangannya, Zayn dan Reyna juga ikut menghentikan langkahnya. Percaya diri sekali wanita itu saat ini, ini juga adalah kesempatan bagi Reyhan untuk memutuskan hubungan terancamnya itu dengan Novi.
"Rey, kita kan pacaran?" Reyhan menatap wanita itu dengan intens, berani-berani sekali dia berkata demikian terhadap salah satu pemegang saham terbesar di kantor ini.
Reyna menaikkan sebelah alisnya, ia merasa tak asing dengan wanita itu yang baru saja bergelayutan manja dengan kakaknya. Tangan Reyna menarik lengan Reyhan untuk melindungi dirinya dari siasat wanita itu yang memang terlihat tidak baik.
"Kamu lebih baik kerja yang bener, saya udah tau siasat kamu buat naik pangkat setinggi itu. Mulai sekarang saya juga nggak akan kenal sama kamu lagi, hormati saya karena saya atasan kamu" ujar Reyhan tegas membuat Novi mengepalkan jemarinya. Ia fikir setelah beberapa hari merayu Reyhan ia akan membawanya kejalan kesuksesan, dan Reyhan juga akan mencintainya. Ia tak mengira jika tebakannya salah kali ini.
"Tapi kita udah ngelakuin itu Rey! kita udah berhubungan badan, kamu mau buang gitu aja setelah dapetin apa yang kamu mau!" teriak wanita itu membuat semua orang tercengang mendengarnya. Reyhan naik pitam, matanya memanas karena dipancing emosinya. Ia bahkan tak pernah sedikitpun untuk menyentuh wanita, mana mungkin ia mau berhubungan dengan wanita licik ini.
"Kamu-" Reyhan hendak memajukan tubuhnya, namu Reyna segera menahan tubuh Reyhan untuk tetap sabar. Reyna kemudian melangkah maju untuk menghadapi wanita itu, mana mungkin Reyna akan percaya dengan omong kosong yang baru saja ia utarakan.
Plakkk
Reyna melayangkan tamparan kepada Novi, Bahkan Reyna kini baru ingat Novi adalah kakak kelasnya, fikirannya melayang mengingat hari itu, dimana ia dan teman-temannya membully dirinya di dalam toilet.
"Berani-beraninya kamu nuduh kakak saya kaya gitu?! kamu kira selera dia serendah itu ha?!" teriak Reyna yang kini kepalanya seolah berapi-api. Semua orang yang berada disana hanya bisa berbisik-bisik, biarkan saja semua orang melihat bagaimana kelakuan wanita tidak tau malu ini. Zayn kini menenangkan Reyhan seraya membisikkan sesuatu padanya.
"Dari SMA sampai masuk kerja, kelakuan kamu tetep aja sama nggak pernah berubah, kamu saya pecat! sekaligus orang yang nerima kamu buat kerja disini" kata Reyna yang kini menampakkan wajahnya yang begitu kesal karena amarah.