The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Toko perhiasan



Yasya dan Reyna kini telah berada didalam mobil, wajah kesal Reyna tunjukkan mengingat tadi dirinya yang belum selesai bicara pada kakak dan sahabatnya itu lalu Yasya tiba-tiba memanggilnya.


"Kamu kenapa cemberut gitu? ada yang salah ya?" pertanyaan itu tak digubris oleh Reyna, bahkan kini wajahnya berpaling menatap jalanan yang begitu ramai akan suasana ibukota yang semakin memadat.


"Sayang?" kata Yasya lagi yang masih tak digubris. Yasya hanya bisa menggeleng seraya tertawa kecil melihat tingkah lucu Reyna.


Setelah sampai di toko perhiasan Reyna segera keluar dari dalam mobil, ia bahkan tak menggubris pandangan Yasya yang mengarah padanya sejak tadi.


Yasya kemudian keluar untuk mengikuti Reyna yang kini berdiri disebelah mobilnya seraya menyandarkan punggungnya. Dengan langkah cepat pria itu menahan tangan Reyna dan mendekatkan wajah diantara mereka.


"Aku tau kamu kesel, tapi mereka juga buruh waktu buat berduaan, masih marah ya?" pertanyaan itu tak digubris oleh Reyna, ia masih bertahan memalingkan wajahnya membuat Yasya gemas dan mencium pipi Reyna sekilas.


"Yasya! ini ditempat umum tau, kalo dilihat orang gimana?!" protes Reyna seraya matanya yang melotot kesal pada calon suaminya satu itu.


"Jangankan cium pipi, aku bakal buktiin ke semua orang kalau Reyna cuma punya Yasya seorang" niat Reyna untuk marah pada pria itu kini hilang begitu saja. Perkataannya itu benar-benar mengesalkan, tapi sangat romantis menurut Reyna. Wajahnya kini memerah seraya menunduk, menutupi pipinya yang merona oleh godaan pria tampan dihadapannya.


Dengan cepat Yasya segera menggandeng Reyna untuk masuk kedalam toko itu, interior mewah nan cantik menyambut mereka dari luar toko. Emas, berlian dan permata berkilau dari dalam etalase yang berjejeran membuat mata gadis mana saja pasti langsung terpikat oleh pesona perhiasan didalamnya.


Yasya menggandeng jemari Reyna untuk menuju etalase didepannya, mata Reyna tertuju pada cincin dan juga gelang yang berada didalamnya. Benar-benar cantik dan indah untuk dipandang.


"Bisa saya bantu pak?" tanya seorang pelayan toko membuat Yasya melirik cincin pernikahan dihadapannya.


"Saya sama calon istri saya mau cari cincin buat acara pernikahan, tolong carikan yang paling bagus ya mbak" pelayan toko itu mengangguk, ia mengambilkan beberapa cincin dari dalam etalase itu dan menunjukkan pada Yasya.


"Sayang, kamu suka yang mana?" pertanyaan itu tak digubris oleh Reyna, ia masih terdiam menatap gelang emas yang tak jauh dari pandangannya. Yasya tersenyum, buru-buru ia menyuruh pelayan itu untuk mengambilkannya untuk Reyna juga.


"Mbak tolong ambilkan set gelang yang ada di sana juga ya" kata Yasya menunjuk gelang yang di pandangi Reyna sejak masuk tadi. Reyna tiba-tiba tersadar matanya membelalak menatap Yasya yang kini tersenyum manis padanya.


"Sya, itu pasti mahal kan?" perkataan Reyna bahkan membuat Yasya terkekeh. Dia sudah bilang, apa yang pantas untuk Reyna dan apa yang ia inginkan akan ia penuhi selama dia mampu.


"Gelang itu nggak seberapa jika dibanding aku yang udah milikin kamu, dan Tuhan yang udah selametin kamu berkali-kali" perkataan Yasya membuat Reyna terharu, ia masih enggan memalingkan pandangannya pada pria yang kini meraih gelang itu untuk dipakaikan pada Reyna yang kini hanya bisa mematung.


"Gimana? bagus nggak?" Reyna menatap pergelangan tangannya yang kini telah dihiasi emas bermata berlian yang begitu indah. Rasanya ingin ia menangis, ia begitu beruntung mendapatkan pria seperti Yasya. Matanya kini menunduk, ia meneteskan air mata kebahagiaan. Entah mengapa fikiran Reyna mengingat cobaan yang pernah mereka lalui dulu. Hampir kehilangan nyawa, bahkan raga hampir tak sempurna, hingga Yasya yang hampir dimiliki oleh sahabatnya sendiri. Mereka tak mudah melalui itu semua jika bukan karena takdir Tuhan.


"Hey! kamu kenapa nangis?" tanya pria itu yang kini menangkup wajah Reyna membuat matanya menatap gadis itu khawatir.


"Aku yang lebih bahagia sayang."


Yasya tak perduli keadaan toko itu, baginya kini yang paling berharga dan paling ia cintai adalah Reyna. Ia tak perduli dengan tatapan orang-orang yang menantap mereka dengan pandangan iri maupun mencemooh. Baginya perasaannya saat ini kalah dengan rasa canggungnya.


***


Reyna dan Yasya melangkah keluar dari toko itu, dengan tangan mereka yang saling bertautan membuat Reyna tersenyum bangga. Perlahan tangan Yasya membukakan pintu mobil untuk calon istrinya, dengan Reyna yang kini menyambut uluran tangan dari pria itu.


"Yasya!" suara tak asing itu sontak membuat mata Yasya membelalak. Begitupun pandangan Reyna yang beralih menatap wanita dibelakang mobil mereka, berdiri mematung seraya menatap laki-laki dihadapannya yang kini hanya bisa terdiam tanpa bersuara.


"Sya! itu tante-"


"Sebaiknya kita nggak usah perduliin hal yang nggak penting Rey, kita langsung ke toko kue aja ya" ajak Yasya yang memotong kata-kata Reyna sepihak membuat gadis itu mengernyit bingung.


Yasya segera melangkah untuk memasuki mobilnya, namun lengannya ditarik oleh seseorang yang kini ia yakini adalah wanita itu.


"Sya! ini mami nak, mami perlu ngobrol sama kamu sebentar" ujar wanita itu memohon membuat Yasya tak mampu berkata-kata selain melepaskan jemari wanita itu yang kini bergerilya dilengannya. Reyna yang melihat kejadian itu didalam mobil hanya mampu terdiam seraya bertanya-tanya. Sebenarnya masalah apa yang terjadi pada keluarga Yasya? hingga Yasya kini dengan teganya mengabaikan ibunya sendiri.


"Maaf, saya ada urusan penting, jangan ganggu saya" kata Yasya yang kini meninggalkan wanita itu lalu masuk kedalam mobil dan segera menyalakan kendaraannya. Reyna masih menunduk, ia enggan untuk bertanya saat mereka masih berada ditempat yang sama dengan Dian.


Mobil pun menyala, meninggalkan wanita paruh baya yang kini menatap kendaraan itu menjauh dari pandangannya. Tatapannya pilu, seolah hendak mengatakan penyesalannya yang terdalam. Namun apa lagi yang perlu diharapkan, ini semua juga akibat dari apa yang ia lakukan.


Reyna masih menunduk terdiam, ia sedikit melirik Yasya yang berubah menjadi dingin sepeninggal Dian dari pandangan matanya. Ia ingin bertanya namun ragu, tapi jika Reyna masih bungkam akankah Yasya terbuka? Reyna adalah calon istrinya, sudah sepantasnya Yasya terbuka dengan masalah pribadinya dan membagi beban dengannya.


Dengan segenap rasa gugupnya, gadis itu mengeratkan genggaman di rok span kerja hitam yang ia kenakan. Bukan hanya penasaran, tapi ia lebih peduli dengan perasaan Yasya saat ini.


"Sebenernya apa yang kamu sembunyiin dari aku Sya? kenapa kamu gitu sama mami kamu? kamu pernah bilang kamu bakal cerita soal ini, dan aku udah nunggu itu"


"Rey, aku lagi nggak pengen bahas itu" kata Yasya membuat Reyna mengangkat pandangannya seraya menatap Yasya dengan seksama.


"Tapi aku perlu tau Sya! aku calon istri kamu, sampai kapan kamu mau tertutup terus sama aku? kamu nikahin aku bukan cuma mau milikin aku doang, tapi secara batin kamu juga nikahin keluarga kita juga. Menikah bukan cuma urusan antara dua orang yang saling berhubungan, tapi disana ada keluarga yang nggak secara langsung bakal jadi saudara" ucap Reyna panjang lebar membuat Yasya mengerem laju mobilnya secara tiba-tiba, membuat gadis itu hampir terjatuh dari kursinya jika saja ia tak memakai sabuk pengaman.


"Sya!" teriak Reyna yang kini menahan air matanya yang hampir terjatuh dan memanas.