
Hyaaa
Hyaaa
Teriakan menggema di seluruh ruangan, kala gadis itu berlatih karate dengan keringat yang bercucuran di pelipisnya.
Tampak beberapa kali Falery memasang kuda-kuda dan menghantam tubuh Daniel yang kali ini mencoba untuk menghindari pukulan dari gadis dihadapannya itu.
Hyaaaaaaaaaa!
Bukkkk
Gadis itu menarik lengan Daniel dan mendorong tubuhnya bak master karate ahli membuat pria yang lebih dewasa dari gadis itu meringis kesakitan yang kini terbaring diatas lantai.
"Aw...." teriak Daniel sembari meringis kesakitan karena teknik Falery yang cukup luar biasa
"Kau itu terlalu lemah, kenapa kau tidak melawan? haaa?!" Daniel duduk dengan memegang punggungnya yang tengah merasakan sakit oleh pukulan kuat dari Falery yang notabennya adalah bosnya sendiri.
"Ma... maaf nona, saya tidak bisa" ucapnya dengan terbata sambil menunduk, seolah takut pada wajah Falery yang kini memerah oleh amarahnya sendiri.
"Kau!" teriakan Falery terjeda kala ponselnya berbunyi, melantunkan lagu kesukaannya. Gadis itu dengan santai membalikkan tubuhnya sambil menghela nafasnya, meraih ponsel yang berada didalam tasnya sambil menatap malas pada Daniel yang kini tersenyum tenang jauh dari tempatnya berdiri.
"Hallo" ujar gadis itu dengan malas .
"Hay Fay" suara tak asing dari sebrang sana membuat gadis itu menatap datar.
"Heum?"
"Kau tidak rindu padaku?" pertanyaan dari sahabat Falery membuat gadis itu bergidik ngeri. Bukan Sarah namanya jika tak mengganggu hari-hari Falery yang semakin membuat moodnya berantakan, namun meskipun begitu Sarah adalah sahabat yang paling mau menerima dirinya dengan sifatnya yang angkuh dan tidak perduli.
"Tidak... aku punya banyak hiburan disini" ucap Falery dengan dingin membuat gadis disebrang sana memanyunkan bibirnya.
"Baiklah... beritahu dimana kau sekarang??? aku sedang berada di Georgia" ucapan dari Sarah membuat Falery membelalakkan matanya.
"Apa?!" teriaknya sambil membelalakkan matanya.
.
.
.
.
.
.
Hyaaaaaaaaaa.....
Hyaaaaaaaaaa....
Suara teriakan beserta gerakan ahli dari Falery menggema di seluruh ruangan berdinding putih. Matanya merah menyala bersamaan dengan rasa kesalnya mengingat sesuatu yang membuatnya tak suka.
"Fay .. you okay????"
Falery menghentikan aktivitasnya kala Sarah melontarkan pertanyaan padanya.
"kenapa???"
"kau adalah master, seharusnya kau membuat pria asing itu bertekuk lutut di depanmu, ketakutan karena kau punya keahlian ini... mengapa kau diam saja???"
Pertanyaan dari Sarah membuat Falery mengernyitkan keningnya, ada tanya yang seperti memenuhi otaknya. Mengapa??? apa yang dikatakan Sarah tidak ada yang salah, dirinya adalah seorang master. Tapi pandangan itu seperti akrab dalam ingatannya yang dulu.
Falery ingin menarik kembali ingatan itu, namun fikirannya seperti kalah, ada rasa sesak ketika dirinya melihat pria itu menderita, pria yang bahkan tidak ia kenal. Tapi mengapa seolah raganya harus lemah kala mata mereka saling bertemu???
Falery mendengus, membalikkan tubuhnya menghadap sang sahabat yang kali ini berdiri tepat dihadapan. Gadis itu melayangkan tinjunya pada Sarah yang dengan cepat menangkap kepalan jari dari Falery.
"jangan mengalihkan pembicaraan Fay...."
"kau bicara apa???"
"baiklah jika kau tak suka... kita bisa bicarakan yang lain... bagaimana dengan kak Alan???"
"dia pulang lebih dulu..."
"Apa???!!!!! apa kau gila???!!! dia akan membunuhmu jika kau berkeliaran disini sendiri???"
"sudahlah... aku hanya ingin kebebasan ku beberapa hari... lagipula sudah cukup kakak ku mengawasi ku selama ini"
"ck ck... kau ini... kapan kau mau berubah, tetap saja keras kepala... lalu Elizabeth???"
Pertanyaan dari sahabatnya itu membuat Falery memutar bola matanya malas. Hanya mengingat wajah gadis itu membuat Falery seperti mual.
"aku malas berurusan dengannya..."
Falery beralih pergi dari sana, meninggalkan Sarah yang kini menatap kesal pada sahabatnya yang begitu dingin itu.
.
.
.
.
.
.
.
Angin berhembus, menembus kulit putih dua gadis yang kini berjalan beriringan dengan mantel tebal serta syal menyelimuti tubuh mereka dari dinginnya udara sore itu.
Bangunan tinggi serta ramainya jalanan sore itu menambah hangat suasana ditengah musim gugur yang hendak melepas masanya. Termasuk Falery yang kini meminum coklat hangat ditangannya bersama dengan Sarah yang mengulas senyum setelah meminum coklat yang ia nikmati kala itu.
"huhhhh... hangatnya...."
Falery hanya menoleh dengan senyuman tipis yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang-orang disekitarnya.
Jalanan ramai beserta angin yang berhembus membuat syal yang dikenakan oleh gadis itu tersenggol dan menjerat seseorang yang berada dibelakangnya, membuat gadis itu membalikkan tubuhnya menatap pria yang membuat hatinya berdebar hebat.
Mata mereka saling bertemu, termasuk Yasya yang kini menatap sayu mata indah yang begitu ia rindukan.
Pria itu menarik syal berwarna pink itu dan menjatuhkannya dengan segera, membuat Falery mengalihkan pandangannya pada syal yang berada diatas aspal itu.
"mengganggu...."
Ucap Yasya dan segera membalikkan tubuhnya hingga dirinya hendak pergi dari sana.
"kau....!!!!"
Yasya melangkahkan kakinya dengan santai, membelakangi Falery yang kini menatapnya dengan tajam.
Falery melangkahkan kakinya dengan cepat, mengikuti pria itu dan ketika dekat meraih lengan Yasya, membuat pria itu membalikan badannya menatap wajah cantik Falery yang kini menatapnya dengan tajam.
Wajahnya cantik mempesona, benar-benar seperti bagian dari masa lalunya, dengan alis tegas dan mata yang lebar serta hidung bangir. Rambutnya tergerai indah bersamaan dengan angin yang berhembus dengan dingin , membuat gadis itu tambah cantik.
Yasya meraih lengan Falery yang tengah memegang tangannya, menghempaskan tangan gadis itu, membuat Falery membelalakkan matanya.
Falery Gilbert as Wank Zixuan
Iryasya Ferdiansyah as Lin gengxin