The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Zayn yang bangkit



Langkah kaki seorang gadis kini memasuki rumahnya. Ia tengah tersenyum merekah dengan pandangannya yang berbinar-binar.


Akhirnya ia berhasil menyatukan sahabatnya dengan Michael. Sebelumnya ia sempat berfikir untuk mempersatukan Falery dan bosnya, mengingat gadis itu yang tidak pernah mau maju atau bahkan berusaha dengan hidupnya.


Gadis yang tidak pernah bisa melupakan masa lalunya sekalipun masa lalu itu telah menyakitinya. Sejujurnya Lilia juga prihatin dengan keadaan Falery. Sebagai sahabatnya ia juga perhatian pada gadis itu meskipun yang diperhatikan tidak pernah peka.


Mendengar betapa banyak perjuangan dan juga usaha gadis itu jatuh bangun dari kisah hidupnya. Kini mungkin saatnya ia bahagia, terlebih lagi Michael menyukainya. Ya, itu rumor itu bagai rahasia publik yang tidak diketahui oleh keduanya.


Entah darimana rumor itu berasal. Tapi melihat perhatian yang diberikan Michael padanya sudah cukup membuktikan bahwa sang bos memang menyukai seseorang seperti Falery.


Memang tidak dihiraukan lagi kecantikan gadis itu. Wajahnya yang putih meski tanpa makeup, hidung bangir dan juga bibir tipis yang seksi membuat mata lelaki mana saja yang memandangnya bisa jatuh cinta meski hanya dengan satu pandangan mata saja.


Ya meskipun gadis itu yang dulu tampak percaya diri dan sekarang dia mengubah penampilannya seformal mungkin. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa gadis itu memang sangatlah cantik.


Ceklek


Lilia membuka pintu kamar mandinya. Ia baru selesai mandi, terlihat dari rambutnya yang basah serta kimono yang menempel ditubuhnya.


Tak butuh waktu lama, ia kembali berkutat pada penampilannya didepan cermin.


tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat gadis itu menaikkan sebelah alisnya.


"Siapa yang datang di jam begini?" ujarnya sembari melirik jam beker yang berada dihadapannya yang menunjukkan pukul 19.35 .


Matanya menyipit, Lilia kemudian bangkit dari kursi riasnya dan melangkah menuju pintu depan.


Gadis itu memastikan tamunya lewat jendela dan betapa terkejutnya ia melihat keberadaan Falery yang berada dibalik pintu rumahnya.


Dengan cepat Lilia membuka pintu tersebut.


"Lia" ujar gadis itu sembari memeluk sahabatnya. Gadis itu masih tak bergeming, ada apa lagi yang menimpanya sehingga matanya terlihat sembab seperti itu.


"Masuklah Fay, kita bicara didalam" ujar Lilia membuat gadis itu mengangguk sembari tersenyum kearah sahabatnya.


***


Senyum mengembang ditujukan oleh Zayn yang kini telah siuman dan menemukan keluarganya didepan matanya.


Terkecuali Grace yang kini pergi entah kemana. Pria itu tersenyum kearah Alan dan juga Ajeng.


"Syukurlah nak akhirnya kamu sadar juga. Kau tau mommy sampai ketakutan sekali melihat mu kritis seperti itu. Mommy tidak tau lagi harus berbuat apa jika kamu" ucapan Ajeng tiba-tiba saja terhenti. Isakannya menyusul suaranya yang sumbang dengan matanya yang memerah oleh air mata kesedihan.


"Mom, aku sudah tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir lagi" ujar Zayn menenangkan hati Ajeng yang kini dilanda kecemasan pada putranya itu.


"Nak, selama ini kita sudah salah paham dengan adikmu. Falery ternyata hanya dijebak oleh Grace" ujar Ajeng dengan pandangannya yang sayu, namun pandangan itu dibalas senyuman oleh Zayn yang kini mengusap air mata wanita paruh baya itu.


Fikirannya kalut dengan apa yang ia lakukan sebelumnya. Ia bahkan bingung untuk memperbaiki segalanya.


"Mom, ini semua juga salah ku. Jika bukan karena Grace" ujar Alan dengan pandangannya yang menunduk. Kata-kata pria itu bahkan menggantung begitu saja ditengah hatinya yang telah resah.


"Ini bukan salahmu Alan, yang terpenting kita harus membawa adikmu pulang. Kita harus memperbaiki ini semua nak, jika saja daddy masih ada, mungkin dia akan sangat bahagia" ujar wanita itu dengan pandangannya yang sayu serta air mata yang ia tahan.


Memang benar apa yang dikatakan Ajeng. Apalagi Falery adalah sosok putri yang sangat dicintai Thomas, sebelum ajal menjemputnya bahkan ia sangat ingin menemui putrinya itu. Meskipun ia tau, Falery bukanlah putri kandungnya.


Tapi dengan bodohnya keluarga itu percaya akan hasutan orang lain daripada putri mereka sendiri. Kini tiada lagi yang dapat mereka katakan, hanyalah penyesalan yang mendalam akibat ulah mereka sendiri terhadap Falery.


Tentu saja, mereka tidak sepenuhnya bersalah mengingat akar masalah ini yang sebenarnya dibalik rencana jahat Elizabeth yang memperdaya Grace.


Ceklek


Suara pintu terbuka, membuat mereka bertiga menatap datar wanita yang kini menunduk pilu dengan pandangannya yang kosong kearah lantai.


Wanita itu menuntut seorang pria kecil yang kini beralih menatap orang-orang dewasa dihadapannya yang menatap ibunya dengan pandangan asing.


"Louis sini sayang" ujar Alan membuat anak itu berlari kearahnya san tersenyum lembut. Tak butuh waktu lama Alan membungkuk, ia membisikkan sesuatu pada pria kecil itu.


"Sayang, kau datanglah pada grandma dan paman Zayn ya, daddy dan mommy akan kembali memberikan sebuah es krim untukmu" ujar Alan dengan senyuman keyakinan membuat pria kecil itu tersenyum manis sembari menatap Ajeng dan Zayn yang kini mengulas senyum padanya.


"Benarkah daddy?" tanya pria kecil itu lagi, lalu dibalas anggukan oleh Alan yang kini mendorongnya pelan kearah Zayn dan juga Ajeng.


Tak butuh waktu lama, Louis akhirnya menurut. Pria kecil itu berhambur memeluk Ajeng yang kini menyambut pelukannya dengan hangat.


"Lou, granma sangat merindukanmu sayang" ujar Ajeng sembari menggendong tubuh Louis menuju bangsal Zayn dan mendudukkannya disana.


Pandangan Alan kini menatap lega pada sang anak semata wayangnya. Namun sedetik kemudian tatapannya beralih pada Grace yang kini mulai pasrah dengan apa yang hendak dilakukan Alan padanya.


Tangisannya masih tertahan karena keberadaan Louriyang seharusnya tidak ia lihat karena masalah yang ditimbulkan oleh ibunya sendiri.


Langkah Alan tegas, mendekati Grace yang kini masih terdiam diambang pintu sembari melewati tubuhnya. Pandangan Zayn tajam tanpa menatap matanya.


"Ikuti aku Grace, kita perlu bicara" ujarnya dengan sorot matanya yang tajam seraya melangkah kembali tanpa memperdulikan Grace yang kini tengah menumpahkan air matanya.


Tanpa disadari wanita itu menangis lagi. Mengingat apa yang ia lakukan adalah kesalahan besar. Apalagi menyembunyikannya, ya mungkin ini adalah permintaan Falery. Ia seharusnya menerimanya dari awal, seharusnya ia tak menurut dengan apa yang Falery katakan.


Sejujurnya ia sudah mempersiapkan hal ini sedari dulu. Mempersiapkan hal buruk yang mungkin akan terjadi karena perbuatannya sendiri.


Namun ketika ia terlena, ia bahkan lupa dengan konsekuensi yang harusnya ia terima dari awal. Apalagi Falery telah mengingat semuanya kembali.


Sudahlah jika hanya berma seandainya maka kehidupan tak akan berjalan dengan semestinya. Sekarang sudah saatnya Grace mempertanggung jawabkan perbuatan serta resiko yang harus ia terima.