The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Operasi



Keesokan harinya, gadis itu tampak masih memeluk Yasya meskipun ia berada didepan gedung rumah sakit. Sedangan posisi mereka saat ini tengah berada didalam mobil. Rasanya sangat berat untuk menjalani hari dengan keputusan yang harus ia ambil.


"Sayang, aku yakin sama kamu, kamu bisa ngadepin ini. Kamu kuat Reyna, meskipun aku nggak tau medis itu kaya apa, tapi akau akan selalu semangatin kamu" perkataan itu membuat Reyna tersenyum. Ia begitu beruntung tatkala Yasya mengatakan demikian.


"Makasih ya Sya, aku butuh kamu dan kamu selalu ada buat aku" ujar gadis itu sambil mengeratkan pelukannya membuat Yasya mengelus rambut gadis itu dengan lembut.


***


Pagi ini gadis itu segera ke ruangan tempat Reynaldi di rawat. Ia menatap lorong yang terlihat kosong tanpa ada Reyhan disana. Mungkin pria itu berada didalam. Reyna berdiap untuk mengenakan masker tak lupa kacamata yang ia persiapkan.


Ceklek


Suara terbukanya pintu dan menyeruaknya bau obat-obatan membuat gadis itu sudah sangat familiar. Berbeda dengan dulu yang begitu ia benci.


Gadis itu menatap seisi ruangan. Betapa terkejutnya ia melihat Reyhan yang tengah tertidur dengan wajah lelahnya. Bahkan baju kantornya masih melekat ditubuhnya, Reyna merasa tak tega. Ia mendekati Reyhan yang tengah tertidur dengan pulasnya. Begitu ingin ia menyentuh wajah pria itu, wajah kakaknya yang begitu ia rindukan.


Reyna segera menggeleng tatakala Reyhan tiba-tiba saja menggeliat. Pandangannya beralih ke arah ayahnya yang tengah belum sadarkan diri. Reyna memeriksa detak jantungnya, ia juga beberapa kali mengecek kesehatan jantung ayahnya. Dan benar sekali apa yang dikatakan suster kemarin. Reynaldi begitu membutuhkan operasi segera atau kalau tidak ia akan mengalami komplikasi yang begitu parah.


Reyna membalikkan tubuhnya, ia keluar dari ruangan itu dan menghentikan langkah perawatan yang hendak masuk.


"Ada apa dokter?" pertanyaan itu membuat Reyna membisikkan sebuah kata pada suster. Ia hanya merasa kasihan, hanya dengan membantu Reyhan dengan sederhana ia bisa membalas budi apa yang telah mereka lakukan semenjak kecil untuk Reyna.


Reyna melangkahkan kakinya kembali, ia melangkah menuju ruangannya dan menghela nafasnya dengan kasar. Ia merasa lelah dengan perasaannya, perasaan kasihan dan simpati terhadap Reynaldi.


Suara ketukan pintu menyadarkan Reyna yang kini tengah bersiap untuk melakukan operasi. Tiba-tiba saja ia membiarkan dokter Rudi masuk, kini pandangannya mengarah kearah Reyna yang terlihat sibuk dengan peralatannya.


"Dokter Reyna, tolong kami dokter pasien, pasien sedang kritis" suara deru nafas dokter Rudi menyadarkan fikiran Reyna. Ia menatap Rudi yang ternyata sudah memakai pakaian lengkap dan sepertinya baru saja keluar dari ruang operasi. Reyna merasa kecewa, ia dari tadi telah datang namun tak ada yang memberitahunya jika operasi dimulai. Gadis itu menghela nafasnya ia menatap tajam kearah Rudi yang kini terlihat panik.


"Sejak kapan operasinya di mulai?" pertanyaan itu membuat Rudi menunduk, ia sebenarnya tak berani karena itu adalah perintah dokter Martin padanya untuk sengaja menyembunyikannya pada Reyna.


"Itu dokter, baru saja" ujar Rudi yang membuat Reyna menarik nafasnya dan menahannya. Padahal bukan berarti ia tak ingin membantu, ia hanya bimbang, dan kini ia telah mempersiapkan segalanya. Ia sendiri malah kecewa dengan rekan-rekannya.


"Tidak mungkin, jika baru saja pasti pasien masih belum mengalami keadaan kritis seperti saat ini. Dokter Rudi, jika saya tidak diperkenankan untuk ikut dan bergabung dalam operasi ini, maka saya akan mundur, entah dari awal maupun akhir" perkataan Reyna bahkan membuat Rudi terperanjat. Ia bahkan tak menyangka jika Reyna bisa sekecewa itu.


Reyna tetap memakai atribut untuk melakukan operasi, namun bukan untuk memasuki ruangan operasi yang dilakukan dokter Martin dan teamnya, tapi untuk menyelamatkan ayahnya.


"Dokter Reyna, dokter mau kemana?" pertanyaan itu tak diindahkan olehnya. Ia berjalan cepat dan menemui suster yang baru saja lewat untuk bisa membantunya.


"Tapi dokter, " Reyna tersenyum ia mengisyaratkan pada suster tersebut untuk memenuhi permintaannya.


"Kita akan lakukan operasi diruang 2, kita harus mengoprasi pasien dengan segera. Keselamatannya lebih penting, saya mohon suster. Bawa pasien tuan Reynaldi keruang 2, dan saya akan mempersiapkannya disana" permohonan Reyna membuat suster tersebut mengangguk. Walau bagaimanapun meskipun Reyna adalah dokter tunggal dan tiada dokter lain yang mau membantunya, namun tak dapat diragukan lagi kemampuan gadis itu dalam hal medis seperti ini.


Reyna kini memasuki ruangan, ia mempersiapkan segalanya mulai dari bangsaldan juga sterilisasi ditempat itu. Ia menunggu beberapa perawat yang mau membantunya.


Setelah selesai akhirnya bangsal tersebut memasuki ruangan dengan Reynaldi yang berada diatasnya. Dan diikuti dua perawat untuk membantunya. Ia menatap suster yang kini menyerahkan alat-alat steril padanya.


"Dokter maafkan saya, tidak ada yang mau membantu kita selain" tiba-tiba saja wanita disampingnya membuka masker dan terlihat Dinda yang kini tersenyum kearahnya.


"Dinda" Reyna merasa tak menyangka, ia menatap haru pada Dinda yang tiba-tiba tersenyum dan mengangguk untuk setia membantunya.


"Aku akan bantu kamu Rey, kita kan sahabat" perkataan itu membuat Reyna berkaca-kaca.


"Makasih ya Din" hal itu membuat


Dinda menggeleng. Ia tak ingin membuat Reyna terharu dalam keadaan seperti ini.


Kini yang ditunggu pun telah tiba, semua alat-alat kedokteran dipasang melalui tubuh pria itu, lampu operasi juga menyala. Meskipun Reyna kekurangan tenaga, namun ia tak menyerah. Perlahan ia membedah bagian atas jantung. Ia mengerjakan hal itu dengan teliti tampak kesalah apapun. Namun ditengah pekerjaannya, tiba-tiba saja fikirannya melayang, ia mengingat kepahitan itu lagi, tiba-tiba saja suara itu datang lagi. Suara yang membuatnya hendak menyakiti orang lain termasuk ayahnya sendiri.


Mata gadis itu tiba-tiba saja menajam, ia menghentikan aktivitasnya


membuat suster dan Dinda kini yang membantunya kebingungan.


"Rey? ada apa?" pertanyaan itu bahkan tak digubris oleh Reyna. Reyna hanya terdiam, ia mengambil sebuah gunting dan menancapkan gunting itu kearah perutnya.


"Rey, apa yang kamu lakuin?" pertanyaan itu tak mendapat respon dari Reyna. Ia segera mencabut gunting tersebut yang membuat darah segar mengalir di perutnya. Ia tak perduli asalkan Falery tak datang saat ini, ia bisa menyelesaikan tugasnya.


"Cepet, naikin bangsalnya, ambil sarung tangan lateks satu lagi" ujar gadis itu membuat Dinda memberikan sarung tangan yang telah steril untuk Reyna.


"Jangan pedulikan aku, aku bisa. Ini tinggal setengah perjalanan aja" ujar Reyna kini yang terlihat pening. Reyna bahkan tak sadar draah ditubuhnya telah banyak bercucuran, ia hanya ingin membuat ayahnya kembali sadar dna sembuh.


'Pa, maafin Reyna selama ini. Reyna bakal selamatin nyawa papa sekali lagi, Reyna mohon jangan kecewakan peri kecil papa ini ya' batin Reyna dengan air mataby


yang mengalir dipipinya tanpa ia sadari.