
Tiba-tiba saja pandangan Reyna mendadak kosong, fikirannya masih tak bisa berfikir dengan jernih. Ia memijit pelipisnya seraya berfikir tentang apa yang terjadi padanya.
"Sya, aku mau mandi dulu ya" kata Reyna yang ki merenggangkan tubuhnya seraya bangkit membuat Yasya mengangguk dan mempersilahkan.
Reyna melangkahkan kakinya, ia masih merasa aneh dalam dirinya. Untungnya ia dapat sadar seiring berjalannya waktu. Gadis itu menyiram tubuhnya sendiri menggunakan shower yang berada di kamar mandi. Seraya menikmati air hangat yang menerpa kulitnya, ia juga masih bergelut dengan hatinya.
Tiba-tiba saja matanya membelalak tatkala mengingat sesuatu yang terjadi padanya beberapa waktu lalu. "Falery!" gumamnya tanpa ragu lagi.
Yasya yang kini masih menunggu Reyna di ruang tamu merasa bosan. Pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar Reyna. Pandangannya mengedar keseluruh penjuru ruangan, ia berdiri dan membuka korden yang berada dibelakangnya.
Malam yang tenang, dan bertabur bintang diatasnya. Yasya masih tak mengerti, ia merasakan takut meski masih menggenggam tangan Reyna. Reyna yang begitu ia cintai, pandangannya tiba-tiba beralih menatap frame yang berada diatas nakas. Yasya menggeleng dengan kasar, ia mengusap wajahnya yang terasa lelah seharian.
Pria itu hendak keluar dari kamar Reyna, namun ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya kala melihat sesuatu tergeletak dibawah kolong ranjang milik Reyna. Jika saja ia tidak jeli, maka ia takkan melihat buku tersebut.
Perlahan Yasya memungut buku tersebut, ia baru menyadari jika buku itu adalah sebuah diary berwarna hitam. Seingatnya Reyna tak menyukai warna ini, pria itu menatap sekeliling, ia bahkan menatap arah pintu kamar Reyna. Setelah terlihat aman ia membuka buku tersebut perlahan.
"Sya, kamu ngapain?" pertanyaan itu membuat Yasya tersentak, ia membalikkan tubuhnya menatap Reyna yang kini tengah mengeringkan rambutnya menggunakan handuk yang ia bawa. Buru-buru Yasya memasukkan buku kecil tersebut kedalam saku celananya dibelakang seraya menutupinya menggunakan baju yang ia kenakan.
"Aku lagi nungguin kamu Rey, udah selesai ya?" pertanyaan itu membuat Reyna tersenyum dan mengangguk.
"Udah kok, kamu mandi aja sekalian" kata gadis itu membuat Yasya mengangguk dan melangkahkan kakinya, Yasya yang biasanya mendekat kini hanya tersenyum canggung menatap Reyna.
Hal itu membuat Reyna berfikir, ia tak tau, mungkinkah Yasya telah menyadari apa yang terjadi padanya, mengingat dirinya yang berubah. Yasya begitu mengenalnya, pantas saja ia merasa aneh padanya. Reyna menghela nafasnya, bahkan menatap cermin pun ia tak berani, takut jika saja kesadarannya menghilang.
Sementara itu Yasya yang tengah berada dikamar mandi mengunci pintu tersebut dari dalam dengan cepat. Perlahan ia membuka lembaran diary itu, ia membuka halaman pertama, dan betapa terkejutnya ia mendapati tulisan tersebut.
Tulisan asing yang bukan milik Reyna apalagi kata-kata tersebut sangat tidak mencerminkan diri gadis itu sesungguhnya.
Aku telah dibunuh tanpa sengaja, sekarang aku kembali karena keinginan kamu sendiri. Aku melawan Aldo yang mau menyerang mu, itu bagus daripada kamu selalu bersikap lemah sepanjang waktu.
Lalu dihalaman kedua ia membaca kata-kata yang membuatnya lebih tak percaya dari sebelumnya.
Dasar gadis lemah, aku susah payah mempelajari ilmu karate ku untuk melawan mereka, tapi kenapa kamu tidak memanfaatkannya Reyna?!.
Lebih baik, aku yang hidup dengan ragamu daripada karakter lemah seperti kamu. Jika aku tidak pernah ada dalam dirimu sebelumnya bagaimana kamu akan melawan Michael yang mau memperkosa mu.
Yasya mengambil buku tersebut dengan segera, ia membolak-balikkan buku tersebut dan menemukan sesuatu di akhir halaman. Tulisan yang lebih membuat pria itu tercengang dan menemukan jawaban yang sesungguhnya.
Aku mencintai Yasya, seharusnya Falery yang bersama dengan dia, bukan kamu Reyna. Tunggu saja, aku akan membuat Yasya melupakan kamu, dan aku yang akan menguasai tubuh mu.
Yasya kini tengah terduduk lemas, meski ia tak tau apa yang tengah terjadi pada gadisnya tapi ia sedikit lebih mengerti. Mungkinkah ia punya dua kepribadian ganda? kalau begitu ia harus menghubungi seseorang untuk membantunya sebelum segalanya terlambat.
Yasya kini keluar dari kamar mandi, ia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk dan hanya memakai kimono yang telah Reyna persiapkan untuknya. Yasya kembali memasuki kamar Reyna, dan betapa terkejutnya ia melihat Reyna tengah bercermin seraya menyisir rambutnya menggunakan sisir kecilnya. Dan yang lebih membuat Yasya tak menyangka, kini pakaian Reyna begitu tipis, dengan lingerie yang mempertontonkan bentuk tubuh indahnya dari atas sampai bawah.
Gadis itu menatap mata Yasya yang kini tengah memandangi dirinya. Gadis itu tersenyum dengan seringainya dan tatapannya yang seolah menggoda membuat Yasya menelan salivanya. Perlahan Reyna mendekati pria itu dan menarik lengannya.
"Yasya, ayo" ujarnya membuat Yasya terpaksa menurut. Reyna perlahan menindih tubuh pria itu dengan matanya yang berkedip, ia bahkan kini berani duduk diatas paha Yasya dan menggerayangi dada bidang pria tampan itu.
Reyna mencoba mencium bibir Yasya membuat pria itu membalasnya. Kini jemari Reyna semakin nakal hingga ia melepaskan tali kimono Yasya membuat Yasya refleks mendorong tubuh Reyna hingga dirinya tersungkur dibawah lantai.
"Aw... kamu kenapa sih Sya?!" ujar gadis itu seraya memperhatikan lututnya yang memerah. Kini Yasya kembali dalam kesadarannya, yang dihadapannya kini bukan Reyna melainkan Falery.
"Kenapa Rey, bukannya kita sepakat buat mempertahankan kesucian kamu sampai kita nikah" ujar Yasya kesal seraya membenarkan tali kimono yang terbuka dan hampir membuatnya telanjang bulat.
"Kita nikah sebentar lagi kan Sya, terus kenapa kalo kita ngelakuin duluan? emang kamu nggak pengen?" pertanyaan itu membuat Yasya semakin geram, ia bangkit dari duduknya dan membuka korden dengan kasar. Ia semakin yakin dengan apa yang dialami Reyna saat ini, dia bukanlah Reyna, Reyna pasti akan melindungi keperawanannya sebelum hari itu tiba.
"Sya, aku pengen berbagi cinta sama kamu, aku nggak pengen kehilangan kamu lagi, lagipula nggak ada salahnya kan kita ngelakuin duluan, kita sama-sama suka kan?" kata Reyna seraya memeluk tubuh Yasya dari belakang, ia juga menempelkan tubuhnya ke tubuh Yasya membuat Yasya semakin menatap jengkel padanya.
"Aku nggak suka Rey, dan sebelumnya kamu yang kekeuh buat mempertahankan ini. Kenapa sekarang kamu jadi berubah fikiran?" pertanyaan itu membuat pelukan Reyna merenggang, ia menatap Yasya yang kini melihatnya dengan tatapan kesal.
"Aku, aku berubah fikiran karena pengen lebih sama kamu sayang. Kenapa sih kamu nggak mau, apa aku kurang cantik? apa aku kurang seksi buat kamu?, kurang menggoda? kalo gitu akan bakal buka lingerie ini buat kamu" perkataan Reyna disusul dengan dirinya yang kini merobek lingerie itu membuat Yasya menatap tajam dirinya dan langsung keluar dari kamar tersebut seraya masuk ke kamar mandi.
Reyna yang melihat hal tersebut menggigit bibir bawahnya seraya mengumpat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Yasya. Selang beberapa menit kemudian pria itu keluar dengan memakai baju yang ia bawa.
"Aku pulang Rey, lebih baik aku tidur dirumah dengan tenang daripada disini" ujar pria itu tegas tepat diambang pintu membuat Reyna yang kini telanjang bulat menatapnya dengan menggoda. Yasya dapat melihat bagaimana polosnya tubuh gadis itu, kini Reyna takkan menyerah, ia bahkan berani mendekati Yasya yang hampir tak tahan dengan godaannya.
Namun sebelum gadis itu sampai tepat dihadapannya, Yasya buru-buru pergi dari sana dan keluar dari apartemen itu sebelum ia terlambat.