
Pukul 07.30, suasana rumah sakit masih belum begitu ramai namun cukup banyak orang yang berdatangan. Reyna kini telah sampai tepat dihadapan bangunan yang begitu megah itu, disusul Yasya yang kini menggenggam erat jemarinya.
Reyna tersenyum hangat seraya menatap Yasya yang kini lebih tinggi darinya. Gadis itu menyentuh pipi pria dihadapannya dan mengangguk.
"Kamu yakin?" tanpa fikir panjang lagi gadis itu mengangguk, ia tak mau lagi berfikir panjang tentang cita-citanya selama ini.
"Rey, kamu adalah pemilik saham di perusahaan Syakieb group, bahkan kalo kamu mau masuk, kamu bakal jadi CEO disana, itu hak kamu Rey, kenapa kamu harus susah-susah jadi dokter dan buat istirahat kamu berkurang" kata Yasya yang kini menatap Reyna dengan lekat.
Memang benar apa yang dikatakan Yasya, Syakieb group adalah haknya, dan semua aset yang ditinggalkan Almira atas namanya. Tapi sekarang keadaannya berbeda, semenjak ia di asuh dan dirawat oleh keluarga Gilbert, kepemilikannya beralih kepada Zayn yang kini notabennya adalah bos besar di perusahaan tersebut.
Meskipun dengan tanda tangannya ia bisa mencabut semua darinya, tapi Reyna tak melakukan itu. Ia takut keberadaannya akan diketahui oleh Zayn dan keluarganya, ia takut ia akan kembali memiliki keluarga lagi, mengingat apa yang dialami olehnya dimasa lalu.
Kini memberikan perusahaan itu pada Zayn tidak jadi masalah untuknya, mengingat jasa yang diberikan oleh keluarga Gilbert padanya lima tahun ini. Memberikan pendidikan, kasih sayang, dan juga pengobatan serta kasih sayang yang tiada batasnya. Selain berhutang budi, ia juga berhutang nyawa pada Thomas, jika saja ia tak pernah masuk dalam keluarga itu, maka Thomas pasti masih hidup hingga sekarang.
Terlebih apa yang dilakukan oleh Reyna selama disana, ia selalu berbuat ulah dan masalah. Dengan memberikan saham besar tersebut Reyna bahkan berfikir masih kurang untuknya membalas semua kebaikan dari keluarga angkatnya tersebut.
"Reyna!" suara sedikit keras dari Yasya membuat Reyna tersentak, gadis itu beralih mendongak setelah ia bergelut dalam fikirannya sejenak.
"Aku pengen cerita banyak ke kamu, tapi aku harus kerja dulu. Nanti siang aku bakalan cerita semuanya, aku janji kok" seru Reyna seraya menunjukkan senyumnya yang begitu manis itu membuat Yasya mengangguk.
***
Gadis itu kini telah masuk kedalam rumah sakit tersebut. Beberapa kali ia menghela nafasnya untuk melegakan perasaannya yang tengah dilanda kegugupan, mengingat ini adalah hari pertamanya memasuki rumah sakit sebesar ini. Bahkan rumah sakit yang berada di Florida tempatnya bekerja tidak lebih megah daripada ini.
"Reyna Malik ya?" tanya seseorang dokter cantik yang kini menyapa gadis itu, membuat Reyna mengangguk.
"Iya," kata Reyna singkat, dokter cantik itu kemudian mengulurkan tangannya dan hendak berkenalan dengan Reyna yang kini mulai menyambutnya dengan hangat.
"Kenalin, Dinda" Reyna membalas jabatan tangan dari gadis itu. Mengenal seseorang dihari pertama adalah kesan yang begitu baik untuk Reyna mengingat dirinya hanya mengenal Alfian yang notabennya dokter paling berpengaruh di rumah sakit ini.
"Salam kenal,"
"Aku juga rawat pasien dari UGD loh, kerja masih sebulan ini. Seneng banget akhirnya punya temen cewek juga, soalnya kebanyakan yang di UGD itu cowok semua dokternya, meskipun perawatnya banyak sih hehehe" kata gadis itu mencoba mengakrabi Reyna yang kini masih terlihat kaku dan belum terbiasa.
"Tolong bantuannya ya dokter Dinda, saya baru aja masuk belum berpengalaman soal ini" kata Reyna sesopan mungkin mengingat dirinya adalah dokter baru yang tidak tau menahu.
"Ayuk, ngomong-ngomong team kita ada berapa dokter, Din?."
"Dikit aja kok, cuma ada 4 dokter, ditambah kamu jadi 5 deh, banyakan suster."
Mereka berjalan seraya berbincang-bincang ringan. Reyna bahkan tidak pernah membayangkan jika hari pertamanya bekerja akan selancar ini bahkan bisa mendapatkan teman baru yang satu pemikiran dengannya.
Dinda, adalah dokter muda yang baru saja merintis cita-citanya diusia 23 tahun. Tak hanya itu, ia adalah dokter spesialis kulit. Dokter kecantikan adalah cita-citanya, meskipun begitu di awal karirnya ia harus berlatih dan belajar lebih banyak hal lewat UGD sebelum masuk tahap pemilihan dokter khusus.
Ya meskipun UGD adalah penanganan pertama, namun bisa dikatakan seluruh dokter pasti bisa melakukannya sebelum memasuki tahapan selanjutnya yang lebih serius.
Bagi dokter spesialis bedah jantung seperti Reyna ini adalah hal biasa baginya. Namun mengingat hari pertamanya ia berurusan dengan darah, ia hanya bisa melemas, mimisan dan kemudian pingsan. Namun ketakutan dan phobia itu bisa hilang dengan segenap keinginan dan juga tekatnya.
"Hay semua, kenalin ini dokter Reyna Malik mulai hari ini kita punya anggota baru" ujar Dinda dengan ceria memperkenalkan Reyna pada teman-teman dokternya. Dan benar saja, dokter-dokter itu semua adalah laki-laki, pantas saja Dinda sangat senang ketika Reyna datang. Sementara tiga lelaki tersebut tersenyum seraya saling melirik satu sama lain.
"Hay, Reyna" kata seorang pria dengan jambul rambut yang ia buat sekeren mungkin.
Wajah Reyna memang tidak diragukan lagi kecantikannya. Bagai dewi dari surga, apalagi rambutnya yang ia kuncir lurus panjang, sangat cantik dan menawan.
"Yang barusan nyapa kamu itu namanya dokter Darwin, yang disebelahnya namanya dokter Tian dan yang satu lagi" belum sempat Dinda mengenalkan pria disebelah Tian, namun lelaki itu langsung maju dan bergerak duluan.
"Wah cantik juga nih hehe, kenalin Aldo" ujar dokter dengan rambut kriting yang kini mengulurkan tangannya pada Reyna dan mulai menyambutnya.
"Rey, Reyna" ujar gadis itu seraya mulai melepaskan jemarinya dari cengkeraman tangan Aldo.
"Eh Do, biasa aja dong pegangnya. Reyna udah punya pacar tau" kata Dinda to the point membuat dua lelaki dibelakang Aldo ikut bangkit.
"Hah udah punya pacar!" teriak mereka bersamaan membuat Reyna menggeleng seraya memincingkan bibirnya yang terlihat kebingungan.
"Eng, enggak kok aku nggak punya pacar" kata Reyna membuat mereka bernafas lega.
"Cuma, calon tunangan aja hehe" kata Reyna membuat mereka kini beralih duduk dan seperti merasakan kecewa. Reyna yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Udah Rey cuekin aja, kamu duduk gih. Itu meja kamu ada tulisan nama kamu disitu" kata Dinda memberikan arahan membuat Reyna mengangguk dan menuju meja tersebut.