
"Tante, kasih saya kesempatan buat memantaskan diri. Saya akan membahagiakan Luna setelah kami menikah nanti. Lagipula tante tidak boleh memaksakan Luna dalam memilih pasangannya. Apa tante tidak ingin Luna bahagia?" Luna menatap Zayn dengan pandangan tidak menyangka. Ia melihat ambisi di matanya. Seolah apa yang ia katakan benar-benar tulus dan nyata. Luna beralih menatap mama, pandangan mamanya terlihat menyeramkan dengan guratan penuh ketidaksukaan pada Zayn yang masih kekeuh dengan pemikiran dan pandangannya.
"Tau apa kamu soal kebahagiaan anak saya?! saya mamanya Luna, dan saya tau apa yang saya lakukan pada anak saya sendiri. Justru kamu! kamu seharusnya menjauh dari putri saya yang terlahir dari keluarga terhormat seperti kami" ucapan tegas dan garang itu benar-benar terlontar dari wajah mama Luna yang kini sudah termakan emosi. Nafasnya memburu disertai jemarinya yang menunjuk pada pria yang ia pikir adalah pria yang mau merusak kehidupan putrinya.
Jelas-jelas Luna tau, bahwa kehidupan dan juga keluarga mereka punya aturan sendiri dan menentang hubungan di lain perjodohan. Tapi putrinya satu ini berani-beraninya membawa lelaki tidak tau dirinya bersamanya.
"Saya nggak ada waktu lagi buat ngeladeni kamu, lebih baik kamu angkat kaki saat ini juga dan menjauh dari putri saya" kata mama Luna tegas seraya bangkit dari duduknya. Luna menggeleng, ia benar-benar tak menyangka jika semuanya akan berakhir seperti ini.
Ia menatap Zayn yang kini tampak tersenyum padanya dan mengangguk, seolah memberikan ketenangan bagi Luna.
"Masuk Luna! kamu pergi ke kamar kamu sekarang. Sebagai hukuman, kamu nggak perlu lagi kerja ke Jakarta!" ucapan tegas itu membuat Luna membulatkan matanya. Ia meraih lengan Zayn dengan erat seraya menunduk. Luna tidak mau, ia benar-benar menyesal dengan keputusannya mengajak Zayn kemari. Zayn sudah jauh-jauh kemari hanya untuk membantunya, namun yang ia dapatkan hanyalah hinaan dari mamanya.
"Luna nggak mau ma, Luna nggak mau di jodohin. Luna cuma pengen sama Zayn" isak Luna seraya menatap Zayn dengan pandangan merasa bersalah. Zayn sebenarnya tak tega, menghapus jejak air mata Luna menggunakan punggung tangannya. Sontak saja, mama semakin marah dibuatnya. Lihatlah betapa intimnya hubungan mereka saat ini. Jangan-jangan apa yang dikhawatirkan mama selama ini terjadi.
"Luna! kamu mau durhaka ya sama mama?! dia itu nggak pantes sama kamu!" teriak mama Luna berapi-api. Sedangkan Luna hanya bisa menunduk seraya masih memegang erat lengan Zayn yang kini tampak mengernyit menatapnya.
Sejujurnya, Zayn sendiri juga bingung. Melihat ekspresi dan juga respon dari mama Luna yang begitu tidak menyukainya membuat nyali Zayn ciut seketika. Bagaimana tidak, ternyata ini semua tidak semudah apa yang ia bayangkan. Sedangkan ketika ia menghadapi masalah seperti ini, Zayn juga tidak bisa berbuat jauh.
"Luna, lebih baik kamu dengerin apa kata mama mu dulu. Aku juga orang jawa kaya kamu, nggak baik kalau kita maksa ditengah murka orangtua. Setelah ini kita cari jalan lain oke" Luna mendongak, ia menatap manik mata Zayn seraya masih meneteskan air mata. Ingin sekali rasanya menyeka air mata gadis dibawahnya ini. Namun mengingat ucapan mama Luna tadi, ia semakin tak berani menyentuh Luna lagi.
Bisikan Zayn bahkan seperti penenang untuknya. Luna akhirnya mau tak mau mengangguk. Ia kemudian bangkit disusul Zayn yang kini menatap mama Luna dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Kalau begitu, saya permisi dulu tante. Maaf kalau kedatangan saya kemari membuat tante jadi enggak enak kaya gini, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untuk-"
***
Luna meremas jemarinya erat-erat, ia menangis sedari tadi seraya memeluk lututnya diatas ranjang. Suara samar-samar papanya yang terdengar kencang seraya berbicara pada mama membuat Luna semakin ketakutan saja. Meskipun hanya samar-samar tapi Luna dapat mendengarnya dengan jelas.
"Papa sekarang liat kan pergaulan anak kita itu kaya gimana?! dia udah berani-beraninya pacaran!" suara mama terdengar nyaring mengatakan hal itu pada papa yang kini tampak terdiam seraya menatap mama yang sedari tadi mondar-mandir diruang tamu tanpa mau berhenti.
"Ini semua gara-gara papa, kenapa papa ngizinin Luna buat kerja keluar kota. Sekarang ini akibatnya. Ini yang mama takutkan!"
"Ma! mama diam sebentar bisa nggak sih! mama itu terlalu panik, terlalu gegabah. Memang mama pikir Luna masih anak kecil?. Papa yakin kok, Luna sudah dewasa. Dia pasti bisa jaga diri sendiri dengan baik" tukas papa tidak kalah berapi-api seperti yang mama katakan barusan.
"Papa ngomong gitu karena papa nggak tau cowok yang dibawa Luna itu kaya apa?!" Luna semakin menutup telinganya saat mama mulai menyinggung soal Zayn pada papa.
Sejujurnya Luna begitu takut, ia bahkan enggan mengangkat panggilan Zayn yang berdering sedari tadi. Rasanya Luna tak pernah membayangkan semuanya akan terjadi secepat ini.
Sampai akhirnya, suara perdebatan dari mama dan juga papa terhenti. Barulah Luna bisa menghela nafas leganya. Ia kemudian meraih ponsel yang bergetar sedari tadi seraya menelfon seseorang di sebrang sana.
"Halo"
"Luna, kamu nggak apa-apa kan?"