
"Ya Reyhan, saya sudah menjodohkan Kanaya" ucap tegas papa Kanaya membuat Reyhan menatap Kanaya dengan dahinya yang berkerut dan ekspresi yang penuh tanda tanya membuat Kanaya hanya bisa menelan ludahnya.
"Pa-"
"Saya dan Kanaya saling mencintai om" belum sempat Kanaya melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Reyhan mengambil alih. Sontak saja mata Mama Kanaya membulat, ia semakin senang dengan anak muda yang berfikiran terbuka. Ia membiarkan suaminya itu sengaja menguji keduanya sebelum memberikan persetujuan.
"Saya tau kalau Kanaya sudah dijodohkan, tapi terlepas dari itu semua Kanaya dari awal tidak setuju dengan perjodohan ini"
"Apa benar itu Kanaya?" pertanyaan datar itu menjurus pada Kanaya yang kini mengangguk dan memegang jemari Reyhan.
"Iya pa, aku emang nggak setuju buat dijodohin. Dan sebelumnya aku juga udah pernah bilang ke mama kok, cuma aku belum berani aja cerita soal kak Reyhan ke kalian" ungkap Kanaya membuat Reyhan membalas genggaman dari Kanaya dan menyembunyikan tangan mereka dibawah meja.
Mama yang mendengar hal itu hampir saja tersedak dan segera mengambil minum. Padahal ia dari tadi ingin menonton pertunjukan yang seru, tapi tiba-tiba Kanaya menariknya membuat ia mau tak mau harus ambil bicara. Memang benar sih dulu Kanaya pernah bilang tidak mau dijodohkan, ia juga sempat menyinggung soal punya pacar.
Mama Kanaya melirik papa yang kini menatap tajam kearahnya. Kenapa juga istrinya itu tidak memberitahukan hal sepenting ini padanya.
"Iya sih, dulu Kanaya pernah bilang pa, mama juga lupa mau ngomong ke papa" kata Mama dengan senyuman andalannya membuat Papa hanya bisa menggeleng.
Papa Kanaya melepaskan kacamatanya, ia mengunyah suapan terakhir dan menatap kedua anak muda dihadapannya itu dengan seksama. Dilihat dari Reyhan dia terlihat bertanggungjawab, meskipun putrinya masih sedikit manja dan kekanakan tapi sepertinya melihat hubungan keduanya Kanaya hanya bisa bersama dengan orang yang ia cintai.
"Mama gimana?" pertanyaan itu membuat mama menatap lamat-lamat putrinya yang kini hanya bisa menunduk seraya menggigit bibir bawahnya itu. Ia tau perasaannya sangat gugup kali ini. Sedangkan Reyhan, ia sedang menunggu keputusan dari calon mertuanya itu.
"Kalo mama sih setuju aja, selama Kanaya seneng mama bakal kasih restu" Kanaya dan Reyhan saling berpandangan. Mereka melepaskan nafas lega yang tertahan dari tadi. Namun kini keputusan selanjutnya ada ditangan papa Kanaya yang terlihat masih mengamati Reyhan dengan pandangannya yang penuh menyelidik.
"Kanaya, laki-laki pilihan kamu harus bertanggungjawab. Apapun yang terjadi pada kalian nantinya, dan masalah ditengah rumah tangga kalian, itu bukan lagi urusan orangtua."
"Jadi?" tanya Kanaya yang kini menaikkan sebelah alisnya menatap papa yang tersenyum pada mereka.
"Papa restuin hubungan kalian" perkataan papa membuat Reyhan dan Kanaya akhirnya bisa tersenyum lega. Sekaligus bahagia dirasakan oleh Reyhan, lampu hijau sudah menyala. Kini selanjutnya tinggal Reyhan yang memperkenalkan Kanaya pada papanya.
"Makasih om, tante" Ujar Reyhan yang kini tersenyum pada kedua calon mertuanya itu, disusul dengan senyumannya pada Kanaya yang kini menahan rona diwajahnya.
***
Kanaya melangkahkan kakinya berjalan beriringan bersama dengan kekasihnya. Siapa lagi kalau bukan Reyhan yang kini menggandeng tangannya. Reyhan mengajak Kanaya untuk berjalan-jalan sebentar, kebetulan didekat kompleks perumahan Kanaya terdapat taman kecil yang biasa digunakan anak-anak untuk bermain. Beberapa ada yang duduk dibawah pohon untuk sekedar bersantai seperti halnya Reyhan dan Kanaya yang kini beralih duduk disebuah gazebo.
"Nikah yuk sayang!" ajak Reyhan tiba-tiba seraya mencium lembut jemari Kanaya membuat gadis itu tersipu.
"Kak Reyhan, jangan gombal deh"
"Aku serius, setelah Reyna nikah giliran kita yang bakal nikah. Sebulan lagi gimana?" pertanyaan itu sontak membuat Kanaya membelalakkan matanya. Ia menangkap binar mata Reyhan yang menatapnya sungguh-sungguh. Jantungnya terasa berdegup kencang kala Reyhan berulangkali tersenyum padanya.
"Se-sebulan lagi?! kenapa cepet-cepet?"
"Aku mau kita cepet halal, aku sama papa juga udah beli rumah kok buat kita kedepannya" Reyhan menyentuh lembut puncak kepala Kanaya. Ia tau dihati Kanaya masih terdapat ragu akan tawarannya yang tiba-tiba.
"Kamu tenang aja sayang, ada Zayn yang nemenin papa. Nanti setiap hari minggu kita pulang ke rumah papa" memang Reyhan berencana untuk membeli dua rumah sekaligus. Satu untuk dirinya dan Kanaya ketika sudah menikah dan satunya lagi untuk Papanya.
Reyhan sudah memikirkannya matang-matang, ia ingin setiap saat berdua dengan Kanaya. Ingin menghabiskan waktunya dengan gadis cantik dihadapannya. Setiap kali mengingat pagi itu di hotel membuat Reyhan kadang bermimpi dimalam hari. Tak tahan jika semakin lama ia harus berpisah dengan Kanaya walaupun hanya satu hari saja.
"Aku sayang sama kakak, kalau itu mau kakak aku setuju" kata Kanaya yang kini tersenyum ramah pada pria dihadapannya. Sekali lagi Reyhan selalu terpesona oleh kecantikan gadisnya. Jika saja ini bukan ditempat umum pasti bibir Kanaya sudah basah dilumat olehnya.
"Reyhan" suara tak asing itu membuat keduanya tersentak. Begitupun dengan Kanaya yang kini membulatkan matanya menatap Novi yang tiba-tiba datang dengan tatapannya yang penuh amarah.
Berbeda dengan Reyhan yang kini kepalanya seolah berapi-api melihat kehadiran Novi yang membuat dirinya tambah muak. Reyhan hanya diam, ia hendak melangkah sambil menggandeng tangan Kanaya namun dengan cepat Novi mencekal lengan pria itu membuat Reyhan semakin murka.
"Lepasin gue!" teriak Reyhan pada Novi yang kini masih tak tau malu menggandeng tangannya.
"Reyhan, kenapa kamu jalan sama dia?" tanya Novi yang kini beralih menatap Kanaya dengan tatapannya yang penuh kebencian.
"Aku ini pacar kamu Rey! kamu bilang mau nikahin aku setelah kamu lakuin itu-"
"Cukup! lo nggak perlu mancing-mancing emosi Kanaya maupun gue, itu udah basi tau nggak?! kalo lo nggak mau gue lapor polisi atas dugaan pencemaran nama baik, lo lebih baik pergi sekarang" kata Reyhan dengan nada keras seraya mengguncangkan tangannya agar lepas dari cengkraman Novi.
Novi tak terima, bukannya kemarin itu Kanaya mempercayainya? kenapa sekarang semuanya tidak sesuai dengan keinginannya? Novi benar-benar murka, matanya memanas. Reyhan segera menarik lengan Kanaya untuk menjauh dari wanita gila yang mengejar-ngejar dirinya itu.
"Aku nggak terima Rey! aku cinta sama kamu. Dia itu cuma cewek murahan!" Novi menarik Kanaya dengan kencang, hingga Kanaya terlepas dari genggaman Reyhan.
"Lo gila ya Nov?!" teriak Reyhan yang kini mencoba untuk meraih lengan Kanaya namun Novi segera menarik kencang Kanaya yang tampak ketakutan.
"Kak Reyhan" gumam Kanaya dengan matanya yang hampir meneteskan air mata.
"Diem lo! gue nggak terima ya elo ngambil Reyhan dari gue! Reyhan cuma milik gue!" teriak Kanaya sambil melayangkan tinjunya pada Kanaya yang kini berusaha keras menutupi wajahnya agar terhindar dari pukulan wanita gila itu.
Namun tanpa disangka, Reyhan dengan cepat menghadang tubuh Novi membuat tinjuan itu mengenai dada bidangnya.
"Arrgggh" Reyhan jatuh tersungkur, Kanaya yang melihat itu segera berjongkok dan membantu Reyhan untuk bangkit.
"Kakak!"
"Rey-Reyhan, kenapa?!" tatapan tajam Reyhan membuat Novi menggantungkan kata-katanya, ia menutup mulutnya seraya segera berjongkok.
"Ini semua gara-gara lo cewek murahan!" teriak Novi yang kini mendorong Kanaya untuk menjauh dari tubuh Reyhan membuat pria itu benar-benar sudah murka kali ini.
"Lo yang murahan! gue sama Kanaya mau nikah! dan gue nggak bakalan biarin orang yang nyakitin calon istri gue hidup dengan tenang" kata Reyhan seraya mengangkat tubuh Kanaya ala bridal style. Ia tak perduli dengan luka lebam di dadanya, kali ini prioritasnya hanyalah Kanaya. Kanaya hanya bisa menatap manik mata indah pria itu yang kini dipenuhi oleh kilatan amarah dimatanya.
Reyhan hendak melangkahkan kakinya, namun sedetik kemudian, ia membalikkan tubuhnya dan menatap Novi yang kini masih bersimpuh diatas tanah dengan amarah yang memenuhi ekspresinya.
"Inget kata-kata gue Nov, atas apa yang lo lakuin sama Reyna dulu, penjara bukan hukuman yang sepadan buat lo. Ditambah lo udah bikin calon istri gue tersinggung, lo tunggu aja tanggal mainnya" ujar Reyhan seraya menggendong Kanaya dan menjauh dari Novi yang kini masih terdiam dengan tubuhnya yang bergetar ketakutan.