The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Pernah



Maaf, mommy" ujarnya seraya membalikkan tubuhnya untuk masuk kedalam mansion tersebut dan mencari keberadaan Yasya didalamnya. Reyna masih bersembunyi dibalik pintu mansion itu, ia tak bisa melihat ibunya menangis karenanya maupun menunjukkan tangisnya yang kini tumpah ruah mengalir dipipinya.


"Reyna anakku, maafin mommy sayang" gumam wanita itu seraya menyandarkan punggungnya di pintu mobil.


Air mata gadis itu tumpah dengan pandangannya yang menunduk, tiba-tiba saja punggung tangan seseorang menyeka air mata itu untuk menghentikan tangisannya. Gadis itu mendongak, ia menatap Yasya yang kini tersenyum padanya.


Reyna langsung berhambur ke pelukan pria itu, ia menangis sejadi-jadinya seraya menyembunyikan wajahnya yang penuh dengan air mata tersebut.


Setelah semuanya terjadi, kini Reyna diantarkan oleh Yasya kembali ke apartemennya. Sebelumnya pria itu menawarkan untuk tetap tinggal di mansion, namun Reyna menolaknya.


Meskipun semuanya kini telah terungkap dan perlahan Reyna tersadar dengan apa yang ia alami, tapi ditubuhnya masih ada Falery. Sosok itu takkan menjadi baik selama ia belum membalaskan dendamnya. Meskipun Falery adalah pelindungnya, tapi kali ini Reyna sangat takut jika karakter itu menyakiti orang-orang disekitarnya.


Pandangan gadis itu beralih menatap Yasya yang kini tengah fokus menyetir seraya beberapa kali meliriknya. "Kamu kenapa sayang? kok ngelamun gitu?" pertanyaan itu sontak membuat Reyna menggeleng. Ia membuang muka dengan menatap pemandangan di sisi jalan untuk mengalihkan pandangannya dari Yasya.


"Maafin aku ya Sya, seharusnya hari ini adalah hari bahagia kita. Tapi aku, aku malah hancurkan keinginan kamu" kata Reyna dengan nada murungnya seraya menunduk.


"Sayang, aku nggak masalah kok, yang penting kamu baik-baik aja aku udah seneng kok. Ini keinginan kita berdua kan, bukan cuma aku aja. Aku janji bakal kasih kamu kejutan nantinya" perkataan itu membuat Reyna perlahan melirik pria disampingnya.


Ia tak tau seberapa niat Yasya untuk membuatnya bahagia. Ia bahkan selalu membuat Reyna tersenyum kembali meskipun ada yang mengganjal di hatinya.


"Aku sayang banget sama kamu" kata Reyna yang kini menyentuh punggung tangan pria itu dengan jemari lembutnya.


"Aku juga sayang banget sama kamu" balas Yasya yang kini masih fokus menyetir seraya sedikit meliriknya dan tersenyum.


Setelah sampai di apartemennya, Reyna kini bisa menghela nafasnya. Ada banyak hal yang terjadi beberapa hari ini hingga membuat kesehatannya terganggu. Kepalanya tiba-tiba saja merasakan pening, gadis itu buru-buru duduk dan memijit pelipisnya.


"Kamu kenapa sayang? sakit?" pertanyaan itu membuat Reyna menggeleng, sekaligus menatap Yasya yang kini telah duduk disampingnya.


"Mungkin aku cuma kecapean aja Sya, aku ke kamar dulu ya" seru Reyna yang kini hanya bisa berjalan tertatih karena kepalanya yang begitu pusing. Tiba-tiba saja gadis itu berhenti dari langkahnya, ia memijit pelipisnya dan tentu saja, hanya berkisar hitungan detik Reyna ambruk.


"Sayang!" teriak pria itu yang kini dengan cekatan menopang tubuh Reyna. Beberapa kali Yasya menepuk pipi Reyna dengan lembut namun tiada respon dari gadis itu. Akhirnya Yasya membawanya ala bridal style kearah kamarnya dan menidurkannya di kasur ukuran king size miliknya.


Pria itu dengan wajah yang begitu khawatir beberapa kali memegangi wajah Reyna yang terasa hangat. "Sayang, kamu kenapa sayang?" Yasya kini tak bisa berfikir dengan jernih. Ia beralih mengambil ponselnya dan menelfon Alfian untuk datang ke apartemen tersebut.


"Gimana Al? ada yang serius nggak?" pertanyaan itu membuat Alfian tersenyum dan menggeleng, ia melepaskan kacamatanya seraya mengajak Yasya mengobrol di luar untuk tidak menggangu Reyna.


Yasya dan Alfian kini tengah duduk di sofa, sedangkan Alfian sibuk menuliskan resep untuk ditebus oleh Yasya.


"Nggak ada yang serius kok Sya, dia cuma kecapean aja. Aku tulis resepnya buat diminum Reyna, karena aku nggak bawa obatnya kamu tebus ini" kata Alfian yang kini menyodorkan sebuah catatan kecil untuknya.


"Makasih ya Al, gue bener-bener terimakasih banget sama lo."


"Santai aja, kita ini sahabat harusnya saling membantu" kata Alfian yang kini tersenyum kearahnya. Sebenarnya bukan hanya sekedar rasa persahabatan itu yang membuat Alfian selalu bersedia untuk membantu Yasya dan Reyna, melainkan dia juga merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan pada gadis itu di masa lalu. Juga kebohongannya yang


menutupi kehidupan Reyna dari Yasya.


Entah mengapa, Alfian begitu menyesal akan hal itu, sampai ia pun tak bisa melupakan kesalahannya di masa lalu.


"Al, lo kenapa bengong?" pertanyaan itu membuat Alfian tersadar, ia kembali tersenyum seraya mengenakan kacamatanya kembali.


"Nggak apa-apa, gue cuma kepikiran Reyna aja, jujur gue prihatin sama dia tentang masa lalunya. Gue juga baru tau kehidupan Reyna sepahit itu, sampe dia bisa kaya gini sekarang" kata Alfian membuat Yasya menghela nafasnya.


"Dulu waktu pertama kali dia nangis dijalan, gue khawatir sama dia. Waktu itu gue udah punya pacar, dan gue salah satu orang yang pernah nyakitin dia juga. Gue nolong Reyna dan bawa dia ke apartemen, meskipun gue udah punya pacar, tapi gue cinta sama dia Al. Gue nyesel waktu itu, gue seakan-akan kasih harapan ke dia, sampai akhirnya dia nyatain perasaannya dan gue juga mau bales perasaan itu. Tapi pada akhirnya, keinginan kita tak semulus apa yang direncakan oleh Tuhan, tunangan gue dateng dan bilang kalau dia sama gue udah mau nikah."


Perkataan itu terhenti seketika, rasanya Yasya tak dapat melanjutkannya lagi, ketika ia mengingat hari itu, ia seperti kembali dalam masa-masa dimana Reyna terluka, dan itu juga membuat pria itu ikut merasakan sakitnya.


"Jadi, lo jangan merasa bersalah pernah nyakitin dia, karena gue paham kali ini, siapapun yang dia sayangi itu juga pernah nyakitin dia. Sama kaya gue, keluarga kandungnya, maupun keluarga angkatnya" perkataan Yasya membuat Alfian terperangah. Begitu beratnya kehidupan gadis itu, ia bahkan tak pernah mengalami hal semenyakitkan seperti Reyna. Pantas saja Reyna mengalami sakit mental.


"Ada banyak masalah kehidupan yang dialami Reyna, jadi gue mohon bantuan lo buat memperbaiki ini semua serta minta bantuan untuk nyembuhin penyakit Reyna" perkataan Yasya membuat Alfian tersenyum.


Ia tak bisa lagi membalas apa yang seharusnya dilakukannya, namun ia bisa membantu, setidaknya bisa mengurangi rasa bersalahnya pada Reyna di masa lalu.


"Gue bakal bantu semaksimal yang gue bisa Sya, karena bukan cuma lo sahabat gue, tapi Reyna juga sahabat buat gue" kata pria itu seraya merangkul pundak pria itu membuat Yasya tersenyum.