The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Amarah dan benci



"Kak..." ujar Falery membuat sang kakak yang kini tersadar dari fikirannya yang melayang entah kemana.


"Rey...Reyna?" Falery mengangguk dengan tatapan serius dan mengintimidasi, ada rasa penasaran dihatinya kala mengingat betapa Yasya mencintai gadis misterius itu membuat dirinya sepertinya ingin sekali menggali lebih dalam rasa penasaran itu, pun begitu dengan perasaan Zayn yang kini terngiang akan sosok Reyna.


"Ak... aku tidak pernah mendengar nama itu" ucapnya membuat Falery menatapnya dengan pandangan curiga.


"Apa kau tidak berbohong padaku?."


"Sungguh, untuk apa aku berbohong padamu Fay?" Falery terdiam sesaat, matanya meredup, dan mengangguk pasrah.


"Kenapa? memangnya siapa dia? dan kau mendengar dari mana nama itu?."


Pertanyaan itu membuat Falery mengalihkan pandangannya pada sang kakak, digelengkan kepalanya untuk menutupi sesuatu yang terlah terjadi padanya.


"Aku hanya bermimpi, seseorang memanggilku dengan nama itu" ujarnya membuat Zayn kini mengangguk lega.


Hembusan angin yang mengikuti dinginnya musim salju, membawa gadis yang kini memakai setelan baju hangat beserta koper besar miliknya turun dari maskapai.


Gadis itu melangkah dengan langkah pasti sambil menunggu kendaraan yang hendak lewat.


"Huhhhhh" suara nafasnya dapat terdengar, beserta hawa dingin ditubuhnya yang menyelimuti dirinya.


tin... tin...


Suara klakson mobil berbunyi tepat dihadapannya, gadis itu melepaskan kacamatanya dan menatap sosok gadis dibelakang kaca mobil gelap itu.


"Tepat pada waktunya nona" ucapnya sambil tersenyum menyapa.


Gadis itu memutar bola matanya, dan melangkah malas untuk memasuki mobil sahabatnya.


"Kau telat lima menit El."


"Sudahlah Clara! kau tau kan betapa sibuknya aku."


"Oh ya? untuk apa kau memanggilku kemari?" ucapnya dengan nada ketus sambil memanyunkan bibirnya, membuat sang sahabat kini tertawa.


"Tidak ada, aku hanya ingin mengajakmu liburan disini, dirumah baruku."


"Tunggu! bukankah kau tinggal di Georgia?."


"Ada banyak cerita yang kau bahkan tak mengerti. Jadi diamlah sebentar, mari kita nikmati musim dingin ini dengan tenang okay" ucap gadis itu membuat sang sahabat kini mengangguk terpaksa.


Brakkkkk......


Suara keras berkas-berkas itu terdengar begitu nyaring tepat dihadapan wanita yang kini memakai baju kantoran.


Tubuhnya membungkuk sambil duduk dihadapan sang atasan yang kini tengah dilanda amarah, tampaknya ia tak berani menatap lurus mata sang presdir yang kini mulai memerah dengan rahang yang begitu mengeras.


"Tidak...." ucap wanita itu menggeleng pelan.


***


brakkk....


Suara keras itu kembali terdengar setelah Yasya melempar berkas-berkas itu tepat dihadapan karyawannya yang kini memejamkan matanya.


"Hitung lagi semua dari awal!" ucapnya sambil diikuti langkah dari wanita itu, tak lupa membawa berkas dihadapannya.


tok tok tok...


Suara ketukan pintu itu membuat Yasya kembali mendengus, diputarnya kursi yang ia duduki sambil menampakkan wajah yang diselimuti amarah yang baru saja terbakar dalam tubuhnya.


"MASUKK!"


Teriaknya, membuat sosok gadis itu masuk kedalam kantornya. Gadis itu berdiri dengan tatapan senyum hangat, namun dibalas datar olehnya.


"Presdir"


"Ada apa?" pertanyaan ketus itu membuat Falery terdiam seketika, memperhatikan setiap jengkal wajah amarah pria dihadapannya.


"Hari ini kami sudah survei tempat-tempat yang ingin dilakukan pemotretan."


"Bawa kemari berkas itu!" ucapnya dengan memijit pelipisnya, membuat gadis itu menatap kesal pada Yasya.


Langkah gadis itu cepat, sambil menyodorkan berkas, ditambah Yasya yang kini bangkit dari duduknya. Masih beberapa langkah gadis itu berjalan, ia tak sengaja terjerat dan terjatuh, spontan dengan gerakan cepat Yasya menarik dan memeluk tubuh Falery.


"Ahhhh...." Mata mereka saling bertemu, disusul dengan Yasya yang kini menelan salivanya, menahan gejolak dihatinya untuk tetap tidak tergoda oleh kecantikan Falery.


"Kau, jangan mencoba untuk menggoda ku!" ucapnya sambil mendorong tubuh Yasya yang kini dapat menyeimbangkan tubuhnya.


"Hey... siapa juga yang ingin menggodamu? apa kau gila haaa?! kau sendiri yang mencoba meraih pinggang ku, jika kau tidak rela menolong ku, maka abaikan saja aku."


Falery melemparkan berkas itu pada Yasya tepat dihadapannya, membuat pria itu meraih foto dibawahnya dan menimbang-nimbang.


"Tempat apa yang kau maksud! aku hanya mau tema yang kita bawa bertema musim gugur dan musim semi. Bukan tempat dengan penuh salju seperti ini."


"Tuan Iryasya Ferdiansyah, apa kau tau? bulan ini adalah musim dingin, apa kau ingin memaksaku bekerja dengan pakaian tipis seperti yang kau inginkan."


Brakkk.....


Yasya memukul meja dibawahnya, membuat Falery terjingkat dan menatapnya dengan amarah.


"Aku sudah memutuskan, jika kau tidak bisa memilih tempat yang sesuai dengan tema perusahaan kami, maka aku anggap kontrak kita batal."