
Reyna kini tengah mengunyah roti panggang yang Yasya buatkan khusus untuknya. Selai kacang dengan roti yang sedikit kering membuat Reyna tak bisa menghentikan makannya. Bahkan roti panggang yang tadinya ada sepuluh, kini hanya tersisa dua dipiring saji.
"Sayang, kamu kayanya suka banget ya sama roti panggang yang aku bikin. Besok mau aku buatin lagi?" kata Yasya yang kini duduk disamping istrinya membuat Reyna menoleh sambil masih bertahan mengunyah makanannya.
"Habis ini aku mau makan barbeque, temenin aku ya. Aku dulu waktu SMA ada langganan deket sekolah. Rasanya enak banget, boleh ya?" Yasya menaikkan sebelah alisnya, sambil menatap istrinya yang kini masih sibuk mengunyah roti ia tersenyum dan mengangguk. Benar-benar tidak seperti biasanya Reyna mempunyai nafsu makan besar.
Tapi tak apa, demi menyenangkan istrinya ia rela kok membeli makanan apapun untuknya.
"Ponsel aku mana?" tanya Reyna yang kini meminum susu disampingnya seraya matanya kesana kemari mencari ponsel miliknya yang tak terlihat sedari tadi.
"Nih" seru Yasya yang mengeluarkan ponsel berwarna putih itu dari dalam saku celananya membuat Reyna nyengir dibuatnya.
"Makasih ya sayang" ujarnya seraya segera mengetik dan memainkan ponselnya asal membuat Yasya terkekeh seraya menyesap kopi dan meraih koran disampingnya.
"Hallo Nay?" Reyna begitu antusias tatkala mendengar suara wanita dari sebrang sana. Wanita itu terkekeh geli sebelum mengatakan sesuatu pada kakak iparnya satu itu. Senyuman jahilnya terlihat kala suara disebrang sana yang terdengar panik membuat Reyna tersenyum menang.
"Iya, gue emang sengaja ngasih lo satu lemari lingerie seksi. Biar cepet dapetin ponakan dari abang gue, gimana semalam?" Reyna tertawa renyah kala Kanaya marah dan mematikan ponselnya sepihak.
Reyna semakin tak bisa menghentikan tawanya kala balas dendam yang ia lakukan kini berhasil, ia menatap Yasya yang kini tersenyum dan menggeleng padanya. Dasar wanita, selalu punya akal saja dia. Mungkin Reyna balas dendam karena seminggu mereka berbulan madu, Yasya setiap hari meminta jatah. Dan itu semua akibat Kanaya yang jahil memberinya satu koper besar berisi pakaian yang menggoda, dan tentu saja membuat adik Yasya ingin dipuaskan.
"Aku jadi inget bulan madu kita deh, minggu depan kita ke villa aku yuk!" ajak Yasya membuat Reyna membulatkan matanya. Memang sih tempat itu begitu indah, namun melihat tatapan seringai dari Yasya hanya mampu membuat Reyna menelan ludah. Pasti dibaliknya ia akan merencanakan sesuatu agar Reyna lemas dibawahnya.
"I-iya, boleh" kata Reyna serays mengangguk patuh membuat senyuman Yasya mengembang.
***
Hari ini adalah hari yang begitu mendebarkan untuk Luna. Setelah semalaman ia berkutat dalam pikirannya sendiri gadis itu kini memberanikan diri untuk menghadapi segalanya. Resiko akan ia tanggung nantinya jika kedua orangtuanya akan marah bahkan murka padanya.
Luna menghela nafasnya, ia percaya pada Zayn. Laki-laki itu sudah berjanji akan meyakinkan kedua orangtuanya untuk merestui hubungan yang tidak jelas ini. Hubungan yang hanya di dasari kerjasama tanpa orang lain tau. Jujur Luna sedikit sedih mengingat statusnya. Namun ia bisa apa? pandangan Luna kini beralih pada pintu apartemen yang terdengar suara ketukan serta bel dari sana.
Langkah kakinya perlahan berjalan kearah pintu, membukanya dan tersenyum kala pria yang kini tengah berpakaian rapi itu tersenyum padanya. Membawakan sebuah bunga dan terulur untuknya.
"Selamat pagi" sapanya seraya mengulurkan sebuket mawar merah untuk gadis yang kini masih tersipu seraya menerima bunga itu.
"Makasih Zayn" Zayn tersenyum, ia menatap manik mata Luna yang begitu indah itu. Penampilannya selalu sama, anggun dan menawan. Terlihat jelas guratan wajah Luna yang penuh dengan binar bahagia kala melihatnya membuat Zayn berdehem seraya tersenyum penuh arti.
"Kamu cantik banget hari ini Lun" perkataan itu sontak saja membuat senyuman Luna mengembang dengan rona dipipinya.
"Jadi, kemarin-kemarin aku nggak cantik gitu?"
"Cantik sih, kamu selalu cantik. Tapi lebih cantik yang sekarang" Luna memukul pelan dada Zayn menggunakan buket bunga itu. Luna tertawa renyah dengan gombalan maut pria satu ini. Kalau saja Luna tidak sadar diri, pasti ia akan tenggelam didalamnya.
"Dasar gombal!" seru Luna membuat Zayn mengerucutkan bibirnya. Kini Luna mempersilahkan Zayn untuk masuk dan meletakkan bunganya disamping vas di meja.
"Tunggu bentar ya, kamu duduk aja. Aku mau ambil tas dulu" Luna buru-buru masuk ke kamarnya. Rambutnya yang lurus namun ia bentuk ikal di ujungnya membuat Zayn masih bertahan menatap punggung Luna dari belakang. Dari punggung saja sudah terlihat begitu cantik, Zayn pasti akan sangat beruntung jika bisa mendapatkan gadis itu.
Senyuman mengembang terukir diwajah tampannya, mengingat hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu. Bagaimanapun caranya, Luna harus membatalkan perjodohannya itu. Entah mengapa mengingat jika Luna akan dijodohkan membuat pria itu sedikit gelisah dan seperti ingin segera menghentikannya. Mengatakan pada orangtuanya jika perjodohan yang dilakukan mereka salah jika Luna keberatan dengan itu.
"Berangkat yuk!" ajak Luna yang kini tengah bersiap dengan tas dan juga tote bag yang ia persiapkan untuk mamanya.
Zayn mendongak, ia menatap Luna yang kini telah selesai dan mengajaknya untuk pergi. Benar-benar cantik gadis dihadapannya ini, sikapnya anggun dan lembut seperti namanya.
"Ayuk" ajak Zayn seraya bangkit dan mengikuti langkah Luna dari belakang. Tak lupa gadis itu juga mengenakan high heelsnya sebelum benar-benar keluar dari apartemen.