The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Spesial story 5



Suara dering ponsel ditengah permainan panas Kanaya dan Reyhan menggema, mereka sama-sama saling acuh dengan suara sekitar. Dua pasangan suami istri yang masih terhitung pengantin baru itu berbaring di atas ranjang dengan posisi Kanaya yang berbaring dibawah Reyhan. Bahkan suara dering ponsel Kanaya yang tadinya begitu kencang kini kalah dengan suara erangan Kanaya yang menahan wajah meronanya, dibalik jemari yang mencakar punggung suaminya.


"Ah ah uh kak Reyhan"


"Tahan sayang" ujar pria itu seraya masih menaik turunkan tubuhnya di atas tubuh Kanaya yang kini mendesah tak karuan. Selang beberapa menit kemudian pelepasan mereka akhirnya membuat Reyhan ambruk di atas tubuh Kanaya.


"Kamu nikmat banget Naya, aku jadi pengen lagi deh" Kanaya memerah, ia menangkup wajah tampan suaminya dan hendak mencium bibir Reyhan, namun hal itu urung saat dering ponselnya berbunyi.


"A-ada telpon, aku angkat dulu ya kak"


"Tapi aku belum puas, aku pengen lagi" ujar pria itu seraya menciumi leher Kanaya membuat wanita itu kegelian dibuatnya.


"Besok pagi kan bisa, kita udah jalan tiga ronde loh, masa kamu nggak capek?" Reyhan menggeleng, ia masih mengusik tubuh Kanaya dengan wajahnya. Pantas saja Kanaya selalu kwalahan saat melayani suaminya, tubuh suaminya memang se atletis itu, otot besar dengan perut kotak-kotak bagai roti sobek adalah alasan dan penyebab Reyhan bisa kuat melakukannya hingga lima ronde sekali main. Tubuh mungil Kanaya seolah di rusak oleh pria bertubuh besar itu, oleh karenanya setiap kali mereka selesai berhubungan badannya akan terasa sakit dan pegal-pegal.


"Kak, minggir dulu dong, aku mau ambil handphone nih" dengan lemah Reyhan kemudian menyingkirkan tubuhnya dari Kanaya, wanita itu terkekeh geli saat melihat milik suaminya masih bertahan berdiri tegak. Kanaya tak menggubrisnya, ia pun segera meraih ponsel yang berada di atas nakas, dan melihat panggilan tak terjawab dari sahabatnya.


"Reyna telpon kak?"


"Ngapain dia malam-malam begini telpon, kaya nggak ada kerjaan aja" ucap kesal Reyhan saat melihat ponsel Kanaya yang tidak lagi berdering karena ulahnya yang masih bergelayut manja ditubuh istrinya tadi.


"Pffft, kalau disini emang malam kak, tapi kan disana siang. Ini yang telpon adik kamu sendiri loh, kamu kok kesel gitu?" Reyhan mendengus, ia bangkit lalu meraih handuk kimono dan langsung memakainya. Reyhan kemudian tersenyum penuh makna kearah Kanaya yang kini menatapnya dengan pandangan bertanya.


"Aku tunggu di bathtub ya, aku siapin air angetnya"


"Tapi kan kak, katanya kita mandi bes-"


"Enggak, kita mandi malam ini. Ini hukuman karena kamu udah mengabaikan suami kamu dan memilih adik ipar kamu" kata Reyhan tersenyum licik dan langsung berjalan cepat ke kamar mandi di dalam kamar tersebut.


"Tapi kan Kak?-"


Brakkk


Kanaya menggeleng seraya tersenyum simpul melihat sikap Reyhan yang begitu kekanak-kanakan, rasanya ia masih tak menyangka jika mereka bisa menikah secepat ini setelah pacaran. Kanaya juga ingin sekali segera mendapatkan kabar baik, namun hingga saat ini kabar kehamilannya belum terlihat ujungnya sama sekali.


Pikiran Kanaya buyar saat ponselnya kembali berdering untuk kesekian kali. Ia segera mengangkat ponsel itu melihat Reyna yang menelponnya sedari tadi.


"Hal-"


"Nayaaa!!!! lo dari mana aja sih kok nggak angkat telpon gue? pasti lagi bikin adek ya sama Bang Rey"


"Mana ada! gu-gue tadi lagi BAB tau" jawab Kanaya terbata saat ia juga terkejut dengan ucapan spontan Reyna yang menusuknya, seolah benar-benar mengetahui mereka tengah membuat cinta. Kanaya celingak-celinguk seraya segera menutup tubuhnya dengan selimut, ia menatap setiap sudut kamar barangkali ada CCTV yang tersembunyi disana.


"Nay gimana kabar kak Zayn?" Kanaya mendengus, ia tak tahu harus cerita apa pada Reyna. Nyatanya ia tak bisa berbuat banyak saat pria itu selalu uring-uringan saat mencari istrinya di negara asing yang padahal Kanaya sendiri mengetahui dengan jelas keberadaan Luna.


"Yah gitu deh Rey, nggak mau makan, dia juga sering keluar rumah buat cari Luna. Gue sebenernya kasihan sama Zayn, tapi gue juga nggak bisa ngasih tau keberadaan Luna, karena Luna udah percaya ke gue tentang cerita dan keberadaannya saat ini. So far, Zayn taunya Luna masih di Amerika" celoteh Kanaya panjang lebar.


"Ck kasian banget, sumpah deh! gue pengen nyumpahin tuh orang" kata Reyna kasar membuat Kanaya terkejut dan langsung membelalakkan matanya.


"Rey! kok ngomong gitu. Gitu-gitu Zayn kakak angkat lo"


"Bodo amat! salah sendiri jadi cowok jahat banget sama istrinya sendiri. Untung lo nyuruh gue pura-pura nggak tau, coba kalo nggak, bakal gue maki-maki tuh-"


"Sssttt Reyna jangan ngomong sembarangan lo, lo kan lagi hamil, pamali" bisik Kanaya membuat Reyna di seberang sana hanya mampu diam seribu bahasa seraya menutup mulutnya.


"Sorry gue keceplosan, hehe. Maklum hormon sensitif ibu hamil" tambah Reyna seraya tertawa kecil.


"Btw ada apa lo nelpon gue?" Reyna menghela nafasnya, ia kemudian melirik sekitar dan berbisik pada sahabatnya itu. Dengan seksama Kanaya menyimak apa yang dikatakan sahabatnya sekaligus adik iparnya itu yang bercerita panjang lebar.


Selang lima menit kemudian Kanaya telah selesai mengobrol dengan Reyna, ia kemudian menghela nafasnya dan segera meraih kimono yang tergantung di dalam lemari lalu kemudian memakainya kemudian ia melangkah ke arah kamar mandi.


Belum sempat Kanaya mengusap wajahnya lagi, ia dikejutkan oleh sepasang tangan besar yang melingkar di perutnya. Kanaya membalikkan tubuhnya menatap suaminya yang kini mulai mengangkat tubuh istrinya dan mendudukkannya di wastafel dan langsung mencium bibir mungilnya.


***


Brakkk


Zayn membanting pintu kamarnya lalu keluar dari kamar itu seraya menyeret koper yang berisikan barang-barangnya. Ia tidak bisa tinggal diam di rumah jika tidak mencari keberadaan istrinya yang entah berada dimana saat ini, tapi yang jelas ia yakin bahwa Luna masih berada di Amerika, karena tidak mungkin wanita itu pulang ke Indonesia sendirian. Jika ia memang sudah berada di Indonesia, tidak mungkin bagi keluarga Luna tidak menghubunginya sampai detik ini.


"Zayn, kau mau kemana lagi?" tanya Alan yang datang dari arah kamarnya yang berada di ujung lorong. Zayn tak menghiraukannya dan langsung berjalan begitu saja menatap kearah depan, wajah Zayn terlihat amat lelah, mata panda nya tercetak jelas di bawah kelopak mata, pria tampan itu. Bahkan baik Alan maupun Reyhan tidak dapat mencegah Zayn sedikitpun yang mengerahkan setiap usahanya untuk menemui dan mencari Luna. Bahkan ia sudah melibatkan polisi dan tentara untuk menemukan Luna, tapi hasilnya tetap saja nihil. Salah satu dugaan yang menjadi alasan bagi Luna tidak ketemu sampai saat ini adalah, bahwa gadis itu memang sedang tidak berada di Florida dan mempunyai seseorang yang menopangnya untuk menyembunyikan dirinya.


"Zayn! aku tanya sekali lagi! kau-" teriak Alan yang terlihat melebarkan langkahnya untuk menyamai langkah adiknya, namun perkataan itu terhenti saat tiba-tiba Zayn menghentikannya langkahnya tepat di depan kamar Reyhan dan Kanaya yang tengah berdebat tentang sesuatu.


"Luna nggak mungkin kaya gitu kak, kakak liat sendiri kan di video itu kalau Luna menolak"


"Tapi informan kita nggak mungkin salah, kamu juga lihat kan di video itu beneran dia" Zayn tiba-tiba masuk kedalam kamar mereka dengan mimik wajah tegas dan muram, ia kemudian menyahut ponsel yang di pegang Kanaya dan langsung melihat video apa yang tengah kedua pasangan itu debat kan.


"Luna?!" Zayn memperhatikan rekaman video itu, dan ia yakin jika wanita yang di peluk oleh seorang pria itu adalah istrinya. Seketika hatinya terasa sakit, bersamaan dengan rasa lega yang tidak dapat di gambarkan. Kanaya dan Reyhan saling melirik kearah Zayn yang kini terlihat senang melihat istrinya lagi meski hanya berada dalam rekaman video.


"Za-Zayn?"


"Ini dimana Rey? ini di Indonesia kan? lo tau dimana dia sekarang? kenapa lo nggak kasih tau gue? lo sengaja ya?!" kata pria itu berapi-api seraya menarik kerah Reyhan yang tampak terlihat pucat, tapi ditengah rengutan wajah Zayn terselip rasa lega dan bahagia mengetahui keadaan Luna yang baik-baik saja.


"Zayn! kami cari tau soal Luna lewat agen rahasia di Indonesia!" kata Kanaya dengan nada tinggi, membuat cengkraman pria itu melemah dan melepaskannya dari kerah Reyhan. Sejenak Reyhan takut jika pria dihadapannya itu akan memukul wajahnya karena menyembunyikan keberadaan istrinya, tapi untungnya Kanaya segera melerai emosi Zayn sesaat.


"Apa?"


"Kamu kira kami cuma diam aja disini?, kami juga cari keberadaan Luna, Luna itu sahabat aku" tegas Kanaya membuat Zayn terpaku dan mencerna apa yang dikatakan istri dari saudara tirinya itu.


"Kalaupun cowok itu pilihan Luna, gue mohon lepasin dia-"


"Lo diem Nay! jangan ngomong sembarangan ya!" teriak Zayn seraya memajukan tubuhnya, lalu dengan cepat Reyhan menghadang pria itu dengan tubuhnya.


"Maksud lo apa teriakin istri gue kaya gitu? so far, the fault lies with you. Seharusnya lo sadar diri dong, kalo lo emang salah dari awal-"


bukkk


"Zayn! lo gila ya?!"


Satu pukulan mendarat di wajah Reyhan membuat Kanaya histeris di buatnya, Alan yang melihat kejadian itu dari luar kamar langsung menarik Zayn hingga tubuhnya menjauh dari Reyhan yang kini berada di pelukan istrinya.


"Sayang kamu nggak apa-apa kan?" Reyhan hanya mengangguk dan mereka berdua melirik Zayn yang terlihat menggila semenjak ia mengetahui keberadaan Luna.


"Mereka benar Zayn, kau yang memulai ini semua. Luna bahkan tidak tahan hingga melayangkan surat cerai padamu, seharusnya kau terbuka padanya. Kau anggap apa istri mu itu ha?" tambah Alan membuat Zayn tambah frustasi dan memberontak berusaha untuk melepaskan pertahanan Alan padanya.


Zayn kini segera bergegas menaiki pesawat untuk terbang ke Indonesia, pikirannya melayang. Ia masih mengingat video Luna bersama pria asing itu, betapa sakit hatinya melihat pemandangan itu. Mungkin itu yang dirasakan wanita itu ketika suaminya sendiri menarik lengan wanita lain dihadapannya tanpa menjelaskan apapun. Zayn kemudian bangkit dari kursi tunggu, ia kemudian keluar dari bangunan airport dan langsung menaiki pesawat yang tak jauh dari kakinya berdiri saat ini. Tak dipedulikannya panggilan yang tanpa henti untuk menghubunginya, yang ia pikirkan hanyalah menemui Luna secepat mungkin dan mengajaknya untuk kembali padanya.


Di sisi lain Luna kini bersiap untuk tidur, semenjak Fabian mengutarakan perasaannya, Luna semakin tak ingin keluar dari apartemen itu, ia takut bertemu dengan pria itu. Bagi Luna yang sudah menikah dan di cintai seseorang selain suaminya adalah hal yang menggelikan untuknya, ia merasa takut melakukan hal yang tidak seharusnya. Walau bagaimanapun, dalam keadaan apapun, meskipun Zayn tidak menaruh hati padanya sedikitpun, namun Luna masih sadar betul akan statusnya.


Luna menarik ponselnya, ia melihat foto pernikahannya bersama dengan Zayn. Pada saat itu, ia berpikir bahwa senyum Zayn adalah senyum kebahagiaan yang sama seperti apa yang ia rasakan meskipun di antara keduanya belum pernah mengutarakan cinta sebelumnya. Tapi melihat senyum Zayn seperti itu, seolah mereka benar-benar saling mencintai. Jemari Zayn yang masih terasa hangat memeluknya, membuat Luna tidak akan pernah melupakan hari bahagianya menjadi seorang istri dari seseorang yang benar-benar ia cintai dalam diam.


Tanpa sadar, air mata Luna menetes, ia mencoba memejamkan matanya namun hasilnya nihil, ia tak dapat tertidur juga. Pikirannya kacau, belum lagi hampir tiap hari mama Luna menelpon dan menanyakan kabarnya saat mereka tengah bulan madu.


Keesokan harinya, Luna beranjak keluar dari apartemennya ia melangkah ke pintu darurat untuk menghindari Fabian kalau saja mereka akan berpapasan nantinya. Semakin lama Luna melangkah menuruni anak tangga rasanya tubuhnya terasa semakin lemah dan lelah, padahal tidak biasanya ia merasa seperti itu. Luna menyandarkan punggungnya di tembok lalu melangkah kembali setelah nafasnya mulai teratur lagi, atau mungkin karena ia belum sarapan, sehingga tubuhnya mudah merasa kelelahan.


Setelah Luna berhasil keluar dari apartemennya, ia kemudian berjalan kearah minimarket terdekat untuk membeli keperluannya. Rasanya tubuh Luna terasa semakin melemah, padahal hari masih pagi namun ia merasa amat lemas. Alexa masuk kedalam minimarket dihadapannya, ia kemudian berjalan kearah sabun untuk membeli perlengkapan mandi, tanpa sengaja matanya melirik pembalut yang tertata rapi di samping kanannya, pikirannya melayang, bahkan ia baru menyadari jika ia terlambat datang bulan. Pikiran itu tak dihiraukannya, ia hanya mengedikkan bahu dan memilih perlengkapan mandinya lagi dan berjalan kearah rak makanan dan minuman. Luna memilih beberapa mie instan dan beberapa roti untuk di simpan di apartemennya.


"Mbak lagi sakit ya? mukanya pucat banget" kata seorang karyawan yang tiba-tiba menghampirinya, membuat Luna hanya mampu menggeleng dan melangkahkan kakinya menuju kasir, tanpa sadar langkah wanita itu terlihat lunglai seolah tak memiliki banyak tenaga untuk berjalan beberapa langkah ke depan. Dan benar saja, dua langkah kemudian Luna jatuh pingsan tepat di tengah-tengah banyak orang mengantri di depan kasir.