
Gadis itu mendengus, ada rasa lelah memenuhi punggungnya setelah perjalanan panjang, tangannya menahan dagu dimeja riasnya yang kini berada dikamar bernuansa pink miliknya.
Ada perasaan gundah memenuhi hati dan fikirannya.
'Kau telah pergi begitu saja, aku kira kau tidak akan kembali lagi setelah sekian lama... tapi ternyata, kau lebih membuatku kecewa dari sebelumnya Reyna.'
Entah mengapa, kata-kata dari pria yang bahkan tidak pernah ia kenal sebelumnya kini terngiang begitu saja dalam ingatannya.
Seharusnya ia tak perduli, namun mengapa setiap kata-kata menyakitkan itu seperti sebuah bayangan yang tak pernah hilang bagi Falery. Seperti apa yang dikatakan pria itu benar-benar terjadi.
"Bibi....." suara mungil itu membuat Falery menoleh dan tersenyum saat melihat wajah tampan dari ponakannya itu, pria kecil itu berlari membuat Falery merentangkan kedua tangannya lebar, dan memeluk Louis yang kali ini juga memeluknya dengan erat.
"Sayang... bibi rindu padamu."
"Aku juga rindu pada bibi... bibi jangan pergi lagi, aku ingin bermain denganmu" Falery melepaskan pelukannya, tersenyum lembut pada ponakannya itu membuat Louis tak bisa berhenti untuk terus tersenyum.
"Uh ponakan bibi yang tampan... bibi hanya seminggu berada disana dan kau merindukan ku haa? kalau begitu bibi punya sesuatu untukmu."
Ucap Falery sambil meraih sebuah kotak mobil-mobilan berwarna biru yang sengaja ia siapkan untuk Louis.
"Yey... terimakasih bibi... aku sayang padamu... muachhh" ucap Louis sambil memeluk dan mencium gemas pipi Falery, membuat Falery tersenyum . Pria kecil itu berlari keluar dari kamar gadis yang kini bangkit.
Falery meraih gitarnya, dipetik gitar itu dan duduk di kursi rias memainkan gitar itu dengan indah sambil mengalirkan perasaan dan juga fikirannya lewat nada lagu 'perfect' dari ed Sheeran kesukaannya.
Didalam bayangannya, ia mengingat ciuman pertamanya, mengingat dirinya terjatuh dari gedung dan ada sosok pria tampan yang menopang tubuhnya, pria itu menarik tubuhnya membuat gadis itu bersandar pada dinding menghadap Yasya.
Falery menghentikan aktivitasnya seketika, membuka kedua matanya setelah kelopak itu tertutup dengan sempurna. Raut wajahnya berubah menjadi bingung dan amarah oleh fikirannya sendiri.
Ada debaran didalam jantungnya yang berpacu tak beraturan membuatnya keringat dingin tanpa sebab.
Falery melangkahkan kakinya, menjatuhkan tubuhnya pada kasur empuk diranjang miliknya, gadis itu menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih.
"Iryasya Ferdiansyah? jadi itu namanya?" gumam gadis itu sambil menarik kalung emas putih yang ia kenakan. Kalung berukir huruf F itu masih seperti tanda tanya baginya.
***
Ruangan tata rias dengan berbagai alat makeup terpampang didepan seorang gadis yang kini tengah duduk dengan santai, menikmati riasan dari seorang perias yang ahli dalam makeup artis.
"El... kau begitu memukau" ucap seorang perias sekaligus asisten pribadinya pada gadis dihadapannya dengan senyuman mengembang, antara kekagumannya pada gadis itu serta kebanggaan dirinya akan makeup yang ia ciptakan.
"Kau berlebihan, biasa saja" ujarnya dengan penuh keangkuhan.
"Aku yakin jika kau mengikuti kompetisi ini kau pasti akan menang" kata sang perias menyemangati, membuat kobaran semangat dalam diri Elizabeth memuncak.
"Semuanya akan melihat sendiri hasilnya, dan aku akan mencapai tujuan ku...dendam ku pada gadis itu takkan pernah bisa terbalaskan hanya dengan membunuhnya menggunakan satu tangan saja."
"Kau yakin? kau tidak takut pada keluarga Gilbert? kau tau kan bagaimana kuasa dalam keluarganya."
Sorot mata tajam gadis itu pada cermin didepannya menbuat kata-kata perias itu bagai tamparan dan juga ancaman kecil untuknya.
"Aku tidak perduli bagaimana dengan keluarganya... jangan kan seorang jendral... jika dia anak dari seorang raja ataupun presiden sekalipun takkan kuberi ampun."
Kini niat gadis itu begitu tajam, ada pula dendamnya membuat harinya yang buruk kini menjadi semangat yang membuat gadis itu kembali bangkit.
Elizabeth Thompson