
Falery memeluk lengan Yasya membuat Yasya menoleh gadis itu dan tersenyum hangat padanya.
"Tuan Ferdiansyah, kau sombong sekali rupanya, aku akan lihat bagaimana kekalahan mu nantinya."
"Kekalahan ku dalam bisnisku tidak lebih berarti daripada rasa cintaku pada gadis milikku Alex" kata Yasya sembari menarik lengan Falery untuk menjauh dari Alex yang kini menatap tajam padanya.
"Falery, kau takkan lepas dari genggaman ku, karena aku... Alexander Wiliam yang berhak memilikimu" gumam Alex dengan tatapan bencinya.
Falery menghentikan langkahnya tatkala dirinya telah jauh dari pandangan Alex, membuat pria didepannya menoleh pada gadis cantik yang kini menatapnya juga.
"Jika bukan karena orang itu, aku juga takkan mengatakan bahwa kau adalah kekasihku."
"Aku tau" ucap Yasya sambil mendekat.
"Jadi, bagaimana jika kau menjadi kekasihku sungguhan? agar kau mendapat perlindungan dariku."
"Aku adalah model terkenal, akan ku pilih orang yang benar-benar waras jika aku menginginkan sebuah perlindungan."
"Fay jangan lupa, aku telah menyelamatkan mu dari Alex, bisakah kau mengatakan hal yang halus dan baik padaku, terlebih lagi tempo hari aku telah menyelamatkan nyawamu, tidakkah kau punya rasa terimakasih sedikit saja padaku?"
Falery hanya terdiam sambil mengerutkan keningnya. Tak ada jawaban dari gadis itu membuat Yasya kembali melangkah tanpa memperdulikan Falery.
"Tunggu" ucap Falery seraya mengalihkan pandangannya. Membuat senyum terulas diwajah tampan Yasya mengembang walau kini membelakangi tubuh Falery.
"Aku akan mentraktir mu malam ini, dan untuk meeting, kita akan melaksanakannya setelah ini."
Yasya membalikkan tubuhnya, menghadap Falery yang kini juga ikut menatapnya.
"Baiklah."
Malam pun tiba, hawa dingin menambah suasana musim gugur yang telah usai pada masanya, meninggalkan daun kering yang kini tak lagi jatuh dari pohonnya.
Falery dan Yasya berada disebuah mobil, pria itu kini menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri kota Florida yang sedikit sepi.
"Kau mau kemana? ini bukan arah restoran yang aku maksud, kau salah jalan Presdir" ucap gadis itu dengan menatap kesal pada Yasya yang kini membelokkan mobilnya.
"Kau akan tau nanti."
"Apa kau selalu bertindak semaumu seperti ini haaa?" ucap Falery dengan nada kesal sambil mencubit lengan Yasya dengan gemas, membuat pria disampingnya meringis kesakitan dan terkekeh.
"Haha santai saja Fay, kau akan tau nanti."
Setelah lima menit berlalu, kini mereka berdua tengah sampai di hotel mewah. Ada keraguan dihati gadis itu yang semakin mengganjal mengingat dirinya pertama kali bertemu dengan Iryasya disebuah ruangan VIP.
"Yasya! kenapa kau bawa aku kesini?" Yasya hanya tersenyum dan melepaskan sabuk pengamannya kemudian melangkah keluar untuk membukakan pintu Falery.
"Kau" kata Falery geram.
"Jangan salah faham dulu, aku bukan mengajakmu tinggal disini, tapi kita akan makan di restoran hotel ini" ucapnya membuat Falery kali ini bisa bernafas lebih lega.
***
Seorang pria kini telah usai dengan pekerjaannya seharian setelah meeting dan beberapa pertemuan dengan rekan bisnisnya, membuat pria itu kini bisa menutup laptopnya dan merenggangkan otot tubuhnya yang berbunyi seiring dengan gerakan tubuhnya yang menggeliat.
Sebuah panggilan membuat Zayn mengalihkan pandangannya dan menatap layar ponsel yang berdering.
"Hallo" ucapnya tatkala mengangkat sebuah panggilan dari negara paman Sam yang begitu ia rindukan.
"Zayn... bagaimana kabarmu?"
"Aku baik kak, ada apa?" pertanyaan itu berubah menjadi ketegangan kala Alan mengembuskan nafas beratnya, menandakan hal penting yang harus dibicarakan.
"Kak, ada apa?."
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu."
"Apa berhubungan dengan Falery?" Alan terdiam membuat pria itu mendengus.
"Falery ingin menyusul mu dan mommy."
"Apa!"
"Kenapa begitu, bukankah kita sudah sepakat untuk membuat Falery hidup di Amerika selamanya."
"Kau tau Alfian? sepertinya gadis itu sangat menyukainya. Dia bahkan rela menjadi seorang dokter di Indonesia untuk selalu dekat dengannya."
Zayn terdiam, ada perasaan khawatir melanda hatinya kala mengingat hubungan diantara Alfian dan Falery. Pria itu takut jika Falery terluka lagi, mengingat kisah cintanya yang pernah kandas oleh egonya sendiri.
Zayn bangkit dan melangkah, sambil mendengarkan penjelasan dari sang kakak yang kini tengah berbagi perasaannya juga pada sang adik.
Pria itu menyandarkan tubuhnya, menatap kendaraan dibawah sana yang berlalu lalang ditengah teriknya sinar matahari, membuat matanya semakin sayu oleh keadaan.
"Kak walau bagaimanapun, kita tidak bisa membiarkan Falery kembali kemari, aku takut dia akan mengingat kejadian yang seharusnya tidak ia ingat.Kau tau bagaimana kesedihan dan juga kepedihan penuh air mata yang ia alami lima tahun silam."
"Aku tau Zayn, aku juga sudah menghubungi Daddy... dia juga takkan membiarkan gadis itu kesana."
Suara ketukan pintu membuat pria itu mengakhiri panggilannya pada sang kakak.
"Masuk....!" teriaknya.
"Kak nanti kuhubungi lagi, ada pekerjaan yang harus diselesaikan dulu'
tut...
ceklek...
Suara terbukanya pintu membuat pria blasteran itu menoleh, menatap sang karyawati yang kini hormat dihadapannya.
"Permisi Presdir."
"Ada apa?"
"Ada seseorang yang memaksa untuk bertemu dengan anda."
"Kenapa tidak telfon saya dulu?"
"Maaf, telfon resepsionis sedang perbaikan jadi kami terpaksa mengizinkan dia masuk."
Zayn mengerutkan keningnya, ada rasa heran pada dirinya kala melihat seorang pria yang kini berdiri dibalik pintu yang tak asing baginya.
"Siapa dia?"
"Tuan Malik, dari perusahaan Malik group tuan."
Zayn membelalakkan matanya, dadanya seperti berdebar dengan cepat. Ada ingatan pahit yang ia alami lima tahun lalu.
"Baiklah, suruh ia masuk" ucapnya membuat langkah pria itu perlahan masuk dan berhenti diambang pintu, memandangi wajah Zayn yang kini menatapnya dengan tatapan datar.
Flashback...
Zayn tengah disibukkan untuk memperbaiki gitarnya, ada rasa lelah setelah seharian memperbaiki alat musik yang ia miliki di toko klasiknya.
Pria itu mengusap peluh yang menetes didahinya.
brakkkk.....
"Zayn" panggilan familiar membuat pria blasteran itu menengadah, menatap pria yang kini memakai setelan kemeja masuk dan berdiri dihadapannya.
"Reyhan... kamu kesini? apa biolanya rusak?" Reyhan menggeleng, membuat Zayn mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Zayn... apa kau ingat teman perempuan mu yang tempo hari datang kesini saat aku membeli biola padamu?" pertanyaan itu membuat Zayn semakin bingung.
"Reyna?" Reyhan mengangguk, sedangkan Zayn hanya terdiam sambil bangkit, menunggu kata-kata dari Reyhan yang kini tergantung.
"Reyna... dia... dia adalah adik kandung ku Zayn."
Pria blasteran itu membelalakkan matanya, menjatuhkan gitar yang tengah ia perbaiki, membuat senarnya berhamburan dibawah sana.
"Zayn...aku minta tolong padamu, apakah kau tau dimana keberadaannya bersama keluarga barunya? dimana jasad adikku."
Zayn mematung, dadanya begitu sesak. Pria itu menatap tajam ke arah pria yang kini tersengal oleh nafasnya yang tak beraturan.
"DAMN.....!"
buk.... buk... buk.....
Pukulan bertubi-tubi itu jatuh ditubuh pria yang kini mencoba melawan dan menghindar dari Zayn yang begitu marah.
"Aaarghhh a.. pa yang kau lakukan Zayn!"
Zayn menendang tubuh pria yang kini terjatuh dan tersungkur dihadapannya, membuat Zayn menendang tubuh pria itu dengan keras.
"Uhuk... uhuk...."
Tubuh Reyhan kini dipenuhi dengan luka lebam membuat pria yang kini terlentang dilantai toko itu terbatuk untuk beberapa kali.
"Kenapa kau mencari jasadnya ha? apa kau belum puas menyiksa tubuh gadis itu? apa belum cukup bagimu untuk menyiksa dia ketika Reyna masih ada didunia?."
"Zayn... uhuk... uhuk" rahang Zayn semakin mengeras, rasa kesal yang ia rasakan kini bercampur dengan amarahnya yang semakin bergejolak.
"Kau dan ayah mu adalah seorang PEMBUNUH REYHAN, aku tidak akan memaafkan mu"
buk... buk... buk....
Zayn semakin gencar untuk memukuli tubuh pria itu yang kini semakin lebam oleh tinjuan yang dilayangkan Zayn padanya.
Flashback off.