The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Penyelamat jiwa




Falery dan Yasya kini tengah memasuki mobil. Tak ada perbincangan ditengah mereka. Hanya rasa canggung yang sedari tadi mengusik fikiran dan hati dari masing-masing insan yang tengah dirundung kebisuan.


Falery menelan salivanya, entah apa yang harus ia lakukan dan katakan saat ini. Fikirannya melayang dan pergi dari dunia nyata yang membuatnya semakin tak menyangka. Yasya masih setia dengan pandangan yang menjurus ke jalanan didepannya.


Salju semakin lebat turun dimana-mana, membuat gadis itu semakin kedinginan. Falery memeluk tubuhnya yang tanpa mengenakan jaket meski tubuhnya hampir beku. Bibirnya masih membiru dengan luka lebam disudutnya.


"Kau kedinginan..." Falery hanya menoleh dan tersenyum, sedang Yasya menghentikan kendaraannya. Pria itu melepaskan jaket tebalnya yang membungkus tubuhnya lewat sweater tebal.


Pria itu memakaikan jaketnya pada Falery yang kini tak sengaja semakin dekat kearahnya. Gadis itu menatap kedua bola mata yang sangat ia rindukan, begitupun Yasya yang kini menelan salivanya menatap gadis dihadapannya. Begitu cantik meski wajahnya semakin pucat.


Yasya mendekatkan wajahnya, tangannya merengkuh tubuh Falery yang kian menggigil oleh udara yang semakin membeku. Falery hanya mendongak dengan tatapan kagum yang tak pernah hilang sejak dulu. Yasya menempelkan bibirnya pada bibir Falery, menyalurkan kehangatan dalam setiap kecupan manis yang ia berikan untuk gadis dihadapannya.


Semakin dalam ciuman itu, maka semakin erat pelukan dari Yasya yang diberikan untuk Falery. Falery hanya bisa membalas, dengan semua kerinduan yang ada dihadapannya.


Hosh hosh hosh....


Falery mulai menghentikan aksi Yasya yang semakin dalam, kini tubuhnya berangsur hangat kembali.


"Dudah tidak dingin?" Falery mengangguk dengan wajahnya yang memerah tanpa mau menatap Yasya yang kali ini tersenyum kikuk.


"Terimakasih tuan" ucapnya sambil masih menunduk dengan tatapan malu.


"Kau kenapa Fay? wajahmu merah? kau sakit?" pertanyaan itu membuat Falery menggeleng, dirinya beralih menatap Yasya yang kini juga memandanginya.


'Wajahmu sangat mirip dengannya Fay... itulah alasannya kenapa aku tak pernah membencimu meski kau selalu benci padaku' batin Yasya.


"Boleh aku tanya sesuatu" Yasya mengangguk tanda setuju dengan tawaran Falery padanya.


"Darimana kau tau jika aku ada disana tadi?" Yasya menghembuskan nafasnya, dirinya mengeluarkan kotak obat di jok belakang, mulai mengeluarkan alkohol dan kapas. Falery hanya terdiam, menunggu jawaban dari Yasya sambil mengernyit heran dengan apa yang dilakukan olehnya.


"Biar kuceritakan sedikit... tadi saat aku dikantor."


Yasya mulai bercerita dengan perlahan mengobati bibir Falery yang mulai lebam disana.


Flashback on...


kring... kring...


Suara telepon dari ruangan presdir berdering, membuat pria itu segera mengangkat telepon dan menempelkan di telinganya dengan pundak yang menghimpitnya.


"Halo...." Terlihat Yasya masih fokus pada berkas-berkas dihadapannya sambil berbicara dengan orang disebrang sana.


"Iya... ummm" terlihat dirinya masih fokus sambil tak berhenti berbicara.


"Lain kali kau jangan telfon disini, ini telepon kantor, khusus untuk karyawan.. kau tak boleh sembarangan menelfon lewat sini. apa kau mengerti?" tiba-tiba suara dering ponselnya membuat pria itu terpaksa harus menghentikan panggilannya.


"Sebentar, aku ada panggilan masuk, kau datang saja jika kau mau okay."


Yasya segera meletakkan ponsel itu kembali. Lalu beralih mengangkat handphone di sisi kiri mejanya.


"Hallo...." Yasya masih menunggu panggilan itu sembari memeriksa berkas-berkas yang berada ditangannya. Pria itu menunggu beberapa detik namun tak ada jawaban dari sebrang sana. Dihentikannya aktivitas itu dan tiba-tiba sebuah suara membuat alisnya mengernyit.


"Al.. Alex... kumohon, lepaskan aku... aku mohon padamu. Aku tidak pernah mencari gara-gara denganmu kan? hiks."


Plakkkk....


Suara itu menggema ditelinga Yasya yang kini secara refleks membelalakkan matanya.


"Fay, Falery... kau disana?! jawab aku, kenapa kau bersama Alex? Fa..." tiba-tiba suara itu ia hentikan kala Alex berteriak.


"KAU MEMANG TIDAK PERNAH BERMASALAH DENGAN KU FAY! TAPI KAU SELALU MENOLAK KU ? KENAPA?! apa aku kurang jika memenuhi standar mu haaa? aku kaya! aku tampan dan mapan! banyak wanita yang mengejar ku... huh aku tak menyangka jika kau wanita yang selama ini sombong ternyata begitu lemah."


Mata Yasya membelalak, pria itu segera bangkit dari kursinya tanpa melepas ponselnya yang masih terdengar jelas suara Alex namun suara Falery hilang entah kemana.


"Falery? apa kau baik-baik saja?" Yasya mengerutkan keningnya, pria itu merasa khawatir dan cemas dengan apa yang dialami gadis itu. Tak butuh waktu lama, pria itu buru-buru menelfon beberapa orang suruhannya dan segera pergi dari kantornya.


Flashback off


"Dan begitulah, mengapa aku bisa tau kau ada dimana, aku melacak nomor telepon mu dan segera kuhubungi polisi."


Falery memandang sendu Yasya yang kini tak berhenti tersenyum dihadapannya. Gadis itu kembali mengalihkan pandangannya kala Yasya telah selesai mengobati luka memar disudut bibirnya.


"Aku... aku sangat berterimakasih padamu Yasya, entah bagaimana lagi jika tidak ada kau disaat itu."


"Sudah tidak apa-apa, yang penting kau sudah aman sekarang."


Falery menghembuskan nafasnya, dirinya merasa lega dengan bantuan Yasya padanya, namun satu hal yang menjadi pertanyaan besar dalam fikirannya.


"Boleh aku tanya lagi?" Yasya mengangguk.


"Tentu saja" katanya singkat.


"Yasya, maaf sebelumnya... tapi, malam itu saat Alex menjebakku dan kau menolongku, aku sangat berterimakasih padamu, tapi, saat itu, aku mengingat kau dan aku?" Yasya mengalihkan pandangannya, dia tampak ragu untuk menceritakan semuanya. Dia takut Falery tak lagi percaya padanya hingga akhirnya dia semakin membencinya.


Falery tercengang, dirinya tak menyangka akan membahas ini dengan Yasya. Namun kenyataannya membuat Falery sedikit kecewa, meski ada rasa lega dihatinya.


"Aku mengerti, aku percaya padamu... aku hanya tidak sadar, maaf aku tidak bermaksud, tapi saat itu kenapa kau tak melakukannya? bukankah itu kesempatan menguntungkan untukmu? eh tidak maksud ku bukan begitu" kata Falery dengan nada terbata takut menyinggung perasaan Yasya.


Yasya tersenyum simpul, kini tubuhnya menghadap Falery dan menatap kedua bola matanya yang indah.


"Aku bukanlah orang seperti itu Fay. Memang berat rasanya untuk menahan hasrat ku, tapi aku menghargai mu Falery, aku menghargai kesucian mu, aku tidak ingin menodai mu meski kesempatan berada didepan mataku. Sekali lagi, aku tidak bermaksud jahat... aku benar-benar minta maaf jika perilaku ku menyakitimu."


Falery menyentuh punggung tangan lelaki dihadapannya, dia tersenyum manis sambil meyakinkan Yasya.


"Tidak, kau tidak salah... justru aku sangat berterimakasih padamu Yasya, kau telah menyelamatkan ku saat itu. Sekali lagi terimakasih, kau selalu ada saat aku butuh bantuan, kau selalu menyelamatkan ku diwaktu yang tepat, aku tidak tau harus membalasnya dengan cara apa lagi" ucapnya dan dibalas anggukan oleh Yasya.


Yasya tanpa sadar menarik tangannya, membuat Falery mengangkat sebelah alisnya, dirinya semakin tak mengerti dengan apa yang dirasakan oleh pria dihadapannya ini.


'Ayo Fay katakan, katakan kalau kau sudah mengingat dirimu... katakan jika kau adalah Reyna.'


Falery menarik nafasnya dalam-dalam, kali ini dirinya bersiap untuk mengatakan yang sebenarnya pada Yasya.


"Yasya..."


"Falery...."


Ujar mereka bersamaan membuat keduanya saling bertukar pandang.


"Kau duluan Yasya" kata Falery.


"Tidak.. kau dulu Fay."


"Tidak tidak... aku ingin mendengarnya dulu, aku sudah banyak bertanya, sekarang giliran kau."


Yasya sempat berfikir, dirinya mengambil nafas dalam-dalam dengan memejamkan matanya.


Ucap Falery dengan matanya yang penuh harap. Gadis itu sangat berharap jika Yasya mengatakan dan membahas tentang Reyna. Falery tersenyum sambil menunggu kata-kata yang akan dimulai oleh Yasya.


"Maafkan aku..." Falery mengangkat sebelah alisnya.


"Apa?!" Falery masih terheran-heran, ia bertanya lagi seolah memastikan pendengarannya.


"Maafkan aku, karena selama ini aku selalu berlaku kasar padamu, aku tau aku salah, aku tidak seharusnya memaksamu... aku selalu menuduhmu, bahkan kita sebelumnya tidak pernah kenal. Kau benar Fay, aku memang gila hingga menyebabkan permusuhan diantara kita."


Falery semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Yasya padanya.


"Maksudmu?" tanyanya sekali lagi dengan nada lembut.


"Selama ini aku selalu menuduhmu sebagai Reyna... aku tau apa yang kau rasakan, kau pasti kesal padaku, oleh karena itu, aku benar-benar minta maaf padamu, aku harap kau tak membenciku Falery, dengan perlakuan ku yang sangat mengecewakan mu."


Falery terkekeh, dirinya menatap Yasya yang kini mulai terlihat heran padanya.


"Kenapa Fay?" tanya pria itu dengan pandangannya yang semakin tak mengerti.


"Tidak, tidak apa... aku sudah memaafkan mu Yasya... sebenarnya aku..." tiba-tiba suara ponsel Yasya berdering. Membuat pria itu dengan cepat mengalihkan pandangannya dan mencari keberadaan ponsel yang berada disaku celananya.


"Sebentar Fay..." Falery terpaksa menghentikan kata-katanya yang sempat menggantung. Dirinya beralih menatap jalanan didepannya sambil menunggu Yasya.


"Oh baiklah... saya akan kesana sekarang" Falery mengalihkan pandangannya lagi, pada Yasya yang kali ini mulai menatapnya cemas.


"Kenapa Yasya?" tanyanya penasaran di tengah ketidaksabaran nya.


" Maafkan aku Fay, aku ada meeting hari ini... oh iya, maafkan aku tempo hari, kau dipecat dari pekerjaan mu ditempat ku, aku akan berbicara pada produser nanti, kau tenang saja okay."


"Oh, masalah itu tidak perlu... aku juga sudah mundur... tapi aku ingin melanjutkan kata-kata ku tadi."


"Maafkan aku Fay, kali ini aku sangat buru-buru... em begini saja... sebagai gantinya, besok kau datang ke kantor okay. Kita sambil makan siang bagaimana?" Falery tersenyum kembali, walaupun rasa kecewa tumbuh sedikit dihati kecilnya, namun akhirnya akan ada kesempatan dimana ia akan mengatakan yang sesungguhnya pada pria yang sangat ia cintai.


Falery mengangguk lemah.


"Tidak apa-apa... kalau begitu kau bisa kembali dan melanjutkan pekerjaan mu, aku akan turun disini saja."


"Biar aku antar Fay..." Falery menggeleng, membuat Yasya semakin menatap khawatir padanya.


"Tidak perlu sungkan, dengan keadaan mu yang begini.. aku jadi semakin khawatir padamu."


"Aku sungguh tidak apa... aku akan naik taksi Yasya, kau tidak perlu khawatir... lanjutkan saja pekerjaan mu."


"Kau benar-benar keras kepala seperti dia" Falery mengangkat sebelah alisnya.


"Bukan siapa-siapa... baiklah aku akan memesankan sebuah taksi untukmu."


Falery tersenyum kembali, ia seperti tak sabar akan pertemuannya besok dengan Yasya. Hari-hari yang ia dambakan akhirnya akan tersampaikan juga.


Tak tau apa yang akan dikatakan oleh Yasya ketika nanti dirinya tau kebenarannya.


Falery hanya dapat berdoa semoga waktu bisa menyembuhkan segala luka yang ada.