The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Pacar sayang



Matahari menyeruak memasuki kamar berhiaskan bunga mawar disetiap sisi ranjang. Gadis yang kini terlelap dengan matanya yang terpejam itu kini mulai membuka matanya. Ingatannya tiba-tiba menerawang, dimana malam pertama yang ia lakukan bersama orang yang paling ia cintai.


Ia melihat sekeliling kamarnya, padahal ia ingat mereka melakukannya di ranjang tengah pantai dan Reyna tertidur disana. Ia yakin pasti Yasya yang membawanya kemari. Reyna menarik selimutnya yang menutupi tubuhnya yang polos. Ia begitu terkejut melihat betapa ganasnya tatkala Yasya mengecup setiap bagian sensitifnya.


"Sayang, kamu pasti capek" Reyna membulatkan matanya tatkala Yasya tiba-tiba datang membawa secangkir teh dan duduk disampingnya. Ia buru-buru menyembunyikan wajahnya yang kini berubah memerah karena malu.


"Eng-enggak kok" sangkal wanita itu yang kini membalikkan tubuhnya memunggungi Yasya.


"Nggak usah malu, aku kan udah liat semuanya" Yasya menarik selimut Reyna membuat gadis itu membulatkan matanya kala tubuhnya kini terekspos.


"Yasya!"


Reyna terdiam sesaat kala Yasya kini menindih tubuhnya dan mencium bibirnya, ia segera melepaskan kimono yang ia kenakan dari tadi.


"Adil kan?" tanya Yasya dengan senyuman jahilnya. Reyna segera bangkit untuk duduk ia membiarkan Yasya masih duduk di paha mulusnya dan menatap suaminya itu dengan pandangan datar.


Mereka kini telah telanjang bulat, wajah Reyna yang semula memerah entah mengapa kini terpesona oleh tubuh Yasya. Pria itu segera menarik dagu Reyna dan mencium bibir istrinya dengan ganas.


"Kamu pengen coba posisi yang ini? kebetulan aku juga pengen nambah" Yasya memajukan tubuhnya, ia kembali melakukannya dengan posisi duduk.


"Sayang! ah!" desah Reyna tak tertahankan ketika Yasya semakin mengeratkan pelukannya dan meraba setiap tubuhnya.


Setengah jam berlalu, setelah mereka berdua melepaskan hasrat, Reyna memutuskan untuk mandi. Selangkangannya terasa perih saat ini, ia bahkan berjalan tertatih dan hampir jatuh. Namun dengan gerakan cepat Yasya segera menggendong Reyna.


"Aku bantu ya sayang, nanti kalau kamu udah terbiasa pasti nggak akan sakit lagi" Reyna mengangguk. Ia menatap wajah tampan Yasya selama suaminya itu mengantarnya sampai ke bath tub.


"Aku bahagia Sya" bisik Reyna yang kini sudah berendam air didalam bath tub seraya menyentuh pipi Yasya. Pria itu tersenyum lembut, ia meraih sabun dan mengusapkannya pada punggung Reyna dengan lembut.


"Aku lebih bahagia karena milikin kamu. Makasih sayang" kata Yasya seraya mencium bibir Reyna singkat membuat istrinya itu tersenyum.


***


Kanaya keluar dari kamarnya, rambutnya yang masih acak-acakan serta dirinya yang kini menguap menandakan bahwa ia baru saja bangun dari mimpinya.


Langkahnya lunglai menuju ruang makan, untung saja ini hari minggu. Kalau tidak, bisa-bisa dirinya akan berlari kesana-kemari karena bangun kesiangan.


"Pagi pa" sapa Kanaya yang kini duduk disamping papa yang tengah bersantai dengan cangkir kopi dan juga koran yang ia baca.


"Kamu baru bangun?" Kanaya meraih roti di piring dan mengoleskannya tatakala mata papanya kini melirik wajahnya yang masih terlihat kusut itu.


"Capek pa, kemarin kan aku ada acara nikahan adeknya kak Reyhan" seru Kanaya seraya mengunyah roti yang baru ia olesi selai strawbery kesukaannya itu.


Kanaya lupa, bahkan ia belum bilang pada orangtuanya jika dirinya sebenarnya sudah dilamar oleh Reyhan. Ia melirik papanya yang kini berdehem seraya membetulkan posisi kacamatanya.


"Kenapa kamu gugup gitu?" Kanaya menelan ludahnya. Reyhan mengajak dirinya menikah sebulan lagi dan ini hal yang sangat penting. Tapi entah kenapa ada rasa ragu dalam batinnya ketika hendak mengatakan pada papanya. Ia hanya takut papanya akan terkejut mendengarnya.


"Kak-kak Reyhan ngajak aku nikah sebulan lagi pa" mata papa Kanaya membulat, begitupun dengan mamanya yang kini buru-buru duduk setelah menguping pembicaraan mereka dari dalam dapur.


"Kok buru-buru Nay? kenapa? kamu hamil ya?!" teriak mama yang kini sudah berada disampingnya. Bahkan kini mata papa Kanaya seperti hendak membunuh mangsanya saat Kanaya merasa terpojokkan oleh tuduhan mamanya itu.


"Apa-apaan sih! aku nggak hamil! aku juga nggak bakal senekat itu sebelum nikah" kata Kanaya tegas seraya melanjutkan kunyahannya pada roti yang masih berada ditangannya.


Kini Papa dan Mama Kanaya merasa lega, hampir saja mereka jantungan karena keputusan yang dibuat oleh Reyhan secepat itu.


"Kak Reyhan nggak pengen ngajak aku jalan keluar sama dia keseringan. Dia takut kalau aku jadi bahan gosip tetangga, ya daripada kami kesana kemari jadi bahan omongan mending kita cepet nikah aja biar nggak nambah dosa" jelas Kanaya membuat mata mama berbinar dibuatnya. Ternyata selain tampan, baik dan kaya, calon menantunya ini sangat menghargai Kanaya. Mama Kanaya benar-benar bangga mengetahui jika anaknya tidak salah pilih.


Sedangkan papa hanya bisa manggut-manggut saja, ada benarnya juga mereka mempercepat pernikahan. Mengingat kedatangan papa dan mama kala itu yang langsung diberi kejutan tak menyenangkan oleh putrinya ia jadi merasa lega. Daripada mereka melakukan hal lebih nantinya, lebih baik dipercepat saja juga boleh.


"Kamu bikin mama kaget aja"


Suara bel membuat gadis itu bangkit dan meletakkan rotinya. Ia bisa menebak, pasti yang datang adalah Reyhan.


"Itu pasti kak Reyhan! aku mau bukain pintu dulu" kata Kanaya seraya melangkah buru-buru dan lari ke ruang tamu.


Kali ini Kanaya sudah berada diambang pintu, ia segera merapikan rambutnya yang acak-acakan. Tak lupa wajah datar ia persiapkan, ia tak mau terlihat ceria dihadapan Reyhan. Kanaya ingin merajuk Reyhan dulu sebelum ia mengatakan akan memaafkan kekasihnya itu.


Ceklek


Kanaya membuka pintu, ia menatap Reyhan dengan matanya yang membulat seraya menutup mulutnya tak percaya.


"Selamat pagi pacarku sayang" sapa Reyhan yang kini membawa bunga besar ditangannya. Bukan hanya itu, ia terlihat kesusahan tatakala dirinya menggendong sebuah Teddy bear yang begitu besar dipunggungnya. Bahkan Reyhan sedikit membungkuk karena ukuran boneka itu yang berkisar hampir 2 meter.


Bahkan dahi Reyhan sampai berkeringat dibuatnya. Tidak sia-sia ia membeli boneka sebesar ini untuk Kanaya, ia bahkan sampai kesusahan membonceng Teddy berwarna coklat ini sampai kerumah Kanaya. Kanaya segera meraih bunga itu dan menatap kekasihnya dengan matanya yang berbinar.


"Ya ampun kak Reyhan" Reyhan benar-benar romantis kali ini. Bahkan membujuk Kanaya saja ia sampai rela seperti ini, ia melirik motor yang terparkir dari balik pagar rumahnya. Entah bagaimana Reyhan membawa bunga besar dan boneka itu. Kanaya buru-buru membantu Reyhan untuk melepaskan tali yang mengikat kedua lengannya itu yang berfungsi untuk mengikat si boneka agar tidak jatuh.


"Ini semua buat kamu, kamu nggak marah lagi kan?" Kanaya menampakkan wajah manjanya. Matanya membulat ala puppy eyes dan segera memeluk Reyhan dengan erat. Ia tak perduli boneka yang dibawa Reyhan kini terjatuh. Ia benar-benar terharu akan kejutan dari Reyhan kali ini.


"Makasih kak Reyhan" ujar Kanaya sambil mengeratkan pelukannya pada pria itu.