The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Pandangan yang buram



Bau obat-obatan menyengat, memenuhi seluruh ruangan, membuat gadis yang kini terbaring tak berdaya dengan perban mengelilingi kepalanya terbangun dengan matanya yang terbuka perlahan.


Falery terperanjat kala penglihatannya memburam dan tampak tak jelas. Dirinya mencoba mengerjapkan matanya beberapa kali, namun hasilnya tetap sama, pandangannya memburam kesegala arah.


"Falery... akhirnya kau bangun juga" ucap seorang wanita membuatnya mengenali suara itu dengan jelas. Ia mencoba meraba-raba barang didepannya dan memanggil Grace yang kini berdiri tepat dihadapannya.


"Kak... kak Grace, aku dimana? kenapa penglihatan ku buram kak, aku tak bisa menemukan mu, apa yang terjadi dengan mataku kak."


Mata Falery berkaca-kaca, dirinya menitikkan air mata bersamaan dengan tangan Grace yang memeluknya dan mencoba untuk menenangkan Falery yang mulai menangis.


"Tenang Falery... aku akan memanggilkan dokter, kau pasti baik-baik saja."


Grace segera melepaskan pelukannya dan bergegas keluar untuk memanggil paramedis.


Tak lama kemudian datanglah seorang dokter, pria setengah baya itu mengeluarkan senter berbentuk laser untuk memeriksa keadaan mata Falery yang kini memburam.


"Benturan keras dikepalanya mengenai syaraf penglihatannya. Untung saja tidak sampai mengalami kebutaan, dia hanya mengalami minus, kami sarankan agar nona Gilbert memakai kacamata mulai dari sekarang untuk membantu penglihatannya kembali seperti semula" ucapan dari sang dokter membuat Falery tak menyangka dengan apa yang ia alami. Rasa sakit yang ia alami seperti tak henti-hentinya menerjang dirinya.


Gadis itu hanya membisu dengan tatapan mata kosong. Fikirannya pasrah dengan apa yang terjadi pada hidupnya. Toh sekarang pun tiada lagi yang ia harapkan selain kehidupannya yang berlangsung lebih lama.


Tiada lagi kebahagiaan dimatanya. Jangankan kebahagiaan, pandangan didepan matanya pun kini memburam.


***


Kini Falery dapat melihat kembali meski harus memakai kacamata untuk membantu penglihatannya.


"Kak... siapa saja yang tau tentang keadaan ku?" tanya Falery pada Grace yang kini memotong sebuah apel untuknya.


"Tenang saja, tidak ada yang tau keadaan mu kecuali aku."


"Lalu Sarah?" Grace menggeleng, membuat gadis itu terlihat lebih lega dari sebelumnya. Namun sedetik kemudian pandangannya menjadi sayu dan beralih memeluk lututnya.


"Sudah bulan januari ya kak?" terlihat mata gadis itu menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam. Tak tau siapa lagi yang dapat merawatnya jika bukan Grace yang selalu mendukungnya.


Grace menatap kedua mata Falery yang terlihat murung dengan pandangannya yang kosong.


Wanita itu menyentuh punggung tangan Falery dengan lembut sambil menenangkan hatinya.


Padahal dirinya hanya mendengar Falery pingsan di bandara, namun perasaan cemas yang ia rasakan masih terasa hingga saat ini. Walau bagaimanapun, kesendirian dan juga kepedihan yang Falery rasakan juga merupakan akibat dari kebodohannya.


"Fay, aku sengaja tidak bertanya padamu karena aku tidak ingin kau berfikir terlalu keras hingga membuat kesehatan mu terganggu, tapi jika kau ingin mengungkapkan apa yang kau rasa, katakan saja padaku, jangan kau tahan sendiri.." Falery meneteskan air matanya dibalik kacamata yang ia kenakan. Rasa sedih yang ia rasakan kini seperti tertumpahkan begitu saja meski tidak dengan mengungkapkannya.


"Fay, ssttt" Grace memeluk kepala Falery, mengelus punggung gadis itu dengan lembut untuk menenangkan hatinya yang kini dilanda kesedihan.


Bahkan kesedihan Falery seperti bagian dari kesedihan yang ia rasakan juga.


"Kakak... hiks hiks hiks" tangisan Falery pecah begitu saja. Ia merasakan begitu sepi, tanpa penyemangat yang pasti, dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.


Dengan rasa sakit seperti bagian dari kehidupannya. Entah itu masa lalu atau masa kini yang ia jalani.


Setelah dua hari Falery dirawat dirumah sakit akhirnya gadis itu kini bisa bernafas dengan bebas.


Menjalani perawatan dengan berbagai obat-obatan dan juga makanan dari rumah sakit yang membosankan membuatnya merasa jenuh meski hanya dalam dua hari.


Gadis itu membuat sebuah coklat hangat kesukaannya dan sebuah cheesecake yang menemani paginya.


Pandangannya mengarah pada foto didalam buku jurnalnya. Sebuah foto yang mengingatkannya pada pria itu. Pria yang kini telah jauh darinya.


"Pada saat kau pergi.... Kau meninggalkanku saat tahun mulai berganti, kau meninggalkanku saat seharusnya semuanya akan dimulai pada bulan januari, saat semuanya seharusnya berawal, kau pergi dengan mengakhiri."


Ujarnya dan langsung menutup buku itu dengan segera.


Falery tak ingin menangis lagi, dirinya harus bangkit mengingat sahabatnya akan menikah enam bulan kedepan dari sekarang.


Yasya dan Sarah, pasangan yang serasi bagi Falery. Seorang sahabat dan juga masa lalunya menjadi sepasang insan yang saling mencintai.


Meskipun kecemburuan yang ia rasakan melebihi rasa bahagia yang ia terima, namun kebahagiaan dari orang yang ia sayangi lebih berarti daripada egonya sendiri.


tok tok tok


"Falery..." Sarah berhambur memeluk sang sahabat dengan wajahnya yang penuh kecemasan. Gadis itu tak henti-hentinya memeluk dan mengelus punggung sahabatnya karena sudah beberapa hari Falery seperti hilang dari peredaran.


"Akhirnya aku menemukan mu Fay... apa yang terjadi padamu? kemana saja kau selama ini Falery? kenapa kepalamu diperban? dan kenapa kau memakai kacamata? ceritakan padaku Fay? apa kau diculik lagi haa?."


Falery menggeleng, dirinya tersenyum dengan tenang sambil mengajak Sarah untuk masuk, duduk di sofa.


"Akan aku jelaskan... tapi sebelum itu kau duduk dulu" ucapnya dan segera mengambil secangkir coklat hangat untuknya.


"Maafkan aku Sarah, aku tidak memberitahu mu jika aku kecelakaan."


"APA?! kenapa bisa?" Falery menceritakan segalanya, namun ada satu posisi dimana ia harus menyembunyikan bahwa dirinya pingsan di bandara.


"Waktu kau telfon aku, aku baru ingat jika aku ada panggilan wawancara... setelah itu aku buru-buru pergi dari apartemen, karena saat itu jalan macet, aku keluar dari taksi dan berlari agar tidak terlambat, Namun sayangnya ditengah pelarian ku aku malah terjatuh dan pingsan, setelah aku bangun, pandangan ku memburam, dan aku harus memakai kacamata."


Sarah kembali mendekat pada Falery, dirinya memeluk sahabatnya itu yang kini seperti saudara baginya.


Rasanya penderitaan gadis itu tiada henti ia alami.


"Fay... kenapa kau tak langsung menghubungi ku? aku bisa menjagamu dirumah sakit, kau tidak harus sendiri disana."


Falery tersenyum dan merenggangkan pelukannya dari Sarah yang kini menatapnya dengan pandangan cemas.


"Tidak apa... ini memang sudah musibah, aku sengaja tidak memberitahu mu agar kau tidak khawatir padaku."


Sarah merasa menyesal, namun ditengah penyesalannya gadis itu juga bisa bernafas lebih lega.


Pandangannya mengedar ke seluruh penjuru apartemen. Gadis itu menemukan setumpuk barang-barang dan juga koper diluar kamar.


"Fay, kenapa ada kopermu diluar?" tanya Sarah yang kini tampak mengernyitkan keningnya.


Falery menelan salivanya. Namun kini sepertinya berbohong pun tiada gunanya lagi.


"Sarah aku... aku" gadis itu bingung harus memulai darimana, tatapannya mengarah pada Sarah dan mulai mengatur nafasnya perlahan, bersiap untuk menerima resiko dengan keputusan yang telah ia ambil.


"Maafkan aku, tapi aku sudah mendapat tempat tinggal baru... aku akan pindah."


Sarah masih terdiam dengan tatapan bertanya. Kini ia tak tau lagi dengan jalan fikiran Falery yang sulit ditebak.


Diraihnya punggung tangan sahabatnya dengan lembut.


"Fay, sebenarnya ada apa dengan mu? kita baru saja tidak bertemu dalam dua hari ini, tapi mengapa kau sepertinya menghindari ku, katakan ada apa sebenarnya?."


"Sarah, aku bersumpah tidak berniat untuk menghindar darimu, tapi kini aku sudah mendapatkan pekerjaan, aku merasa tidak enak jika harus tetap bergantung padamu."


Sarah menghembuskan nafas panjangnya, bersiap untuk mengatakan isi hatinya.


"Sebenarnya kau anggap apa aku? bukankah kita sudah melewati segalanya bersama, jadi untuk apa kau merasa tak enak padaku, aku juga tidak masalah jika kau tinggal disini. Bahkan jika kau mau aku akan memberikan apartemen ini untukmu... asalkan kau mau bersedia tinggal."


Falery mendengus, gadis itu mengusap wajahnya perlahan.


"Sarah... kau salah faham, kau pasti tau karakter ku kan, aku tidak ingin berhutang budi pada siapapun."


"Baiklah... anggap aku membalas hutang budi ku padamu karena kau telah mau menjadi sahabat terbaikku."


Falery mengusap wajahnya lagi frustrasi. Matamu mengerjap beberapa kali untuk meyakinkan Sarah.


"Persahabatan bukan tentang hutang Sarah... persahabatan ada karena sama-sama saling perduli, jika kau memberikan apartemen ini untuk mengganti persahabatan kita, maka kau tidak menghargai apa yang telah kita lalui... jadi kumohon, jangan cegah aku untuk pergi dari sini."


Falery menjeda kalimatnya, tangannya meraih jemari Sarah dan tersenyum lembut untuk sekian kali meyakinkan dirinya akan keinginan dalam lubuk hatinya.


"Apartemen ini milikmu... tapi aku juga punya kehidupan yang ingin aku tata sendiri, dan aku ingin menunjukkan kemampuan ku."


Sarah menghela nafasnya, dirinya mencoba untuk tenang. Dadanya seakan merasa lapang dengan apa yang Falery ucapkan. Yang penting tiada keterpaksaan didalamnya.


"Baiklah... aku menghargai keputusan mu Fay... tapi aku harus janji, jika terjadi sesuatu padamu jangan ragu untuk datang padaku, milikku adalah milikmu juga, kau harus ingat itu" ujarnya membuat senyum lega dan merekah terulas dipipi cantik Falery.


Kini tiada lagi yang ia bebankan, rasa bersalah dan juga sesuatu yang ia sembunyikan bisa berkurang dan berakhir dengan sendirinya.