The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Ciuman Alfian



tap tap tap ..


Suara langkah sepatu memenuhi ruangan menggema kamar mandi bertuliskan 'ladies' didepan pintu.


Falery memejamkan matanya, dirinya membuka matanya lagi dan menatap pantulan dirinya dalam cermin tepat dihadapannya.


"Huuufff....." gadis itu menghembuskan nafas panjangnya, ditariknya ikat rambut yang menggulung rambut panjangnya. Gadis itu mulai merapihkan dandanannya, matanya membulat dengan pipi merah diwajah ovalnya.


"Reyna...." suara itu terdengar bersamaan dengan sosok gadis dibelakangnya, membuat Falery menatap tajam gadis itu.


"Siapa yang kau maksud?" gadis itu terkekeh dengan wajahnya yang seperti merendahkan, membuat Falery menahan amarahnya untuk kesekian kalinya.


"Ssstttt... tenanglah nona Gilbert... ups, atau aku akan memanggilmu nona Malik" ujar Elizabeth dengan senyuman licik diwajahnya.


"OMONG KOSONG!! aku bukanlah Reyna... aku Falery" ucapnya dengan keras sambil memajukan tubuhnya, menghadang Elizabeth yang kini melipat kedua tangannya.


"Jangan biarkan aku membongkar semuanya Falery... kau adalah Reyna, Reyna Malik seorang anak dari hasil perselingkuhan, kau dilahirkan ibumu saat menikah dengan ayahmu... setelah kau dewasa dan bersekolah, kau dibuang begitu saja, dan menjadi wanita simpanan untuk menghidupi kebutuhan mu."


"TIDAK MUNGKIN!" teriakan itu menggema, membuat Elizabeth menghentikan kata-kata yang ia atur sedemikian rupa.


"Siapa yang akan percaya dengan kata-kata mu El, kau hanya ingin mempengaruhi kehidupan ku, tapi sayang sekali, aku tidak akan pernah menganggapmu."


Falery hendak melangkah, namun kakinya terasa terhenti tatkala mendengar suara dibelakangnya.


"Apa kau fikir hanya kau saja yang mampu mencari tahu latar belakang ku... kuberitahu Falery Gilbert... kau bukanlah bagian dari keluarga mereka, karena kau sebenarnya hanyalah anak pungut dari tuan dan nyonya Gilbert... darahmu adalah darah haram yang diturunkan dari ibumu Almira Syakieb... Seharusnya kau berterima kasih, karena aku sudah membantumu untuk menemukan jati dirimu sebenarnya."


Plakkkk ....


"Tutup mulutmu! daddy dan mommy tidak akan pernah membohongi ku... kau hanya iri dengan kehidupan ku yang bahagia, sedang hidupmu seperti dineraka."


Elizabeth menghempaskan wajahnya, dengan tatapan dingin dan senyuman devil, akhirnya dia mampu membuat Falery kini terbakar amarah.


"CK ck ck... kau percaya pada orang lain Falery??? aku ikut perihatin padamu, kau tidak usah repot-repot menyinggung masalah dari keluarga ku... keluargamu saja tidak ada yang perduli dengan kebenaran akan masa lalu mu."


Falery memundurkan tubuhnya, dirinya tak bisa berkata apa-apa lagi. Namun yang dapat ia rasakan adalah kecurigaan dalam masa lalunya kini mulai membuatnya penasaran.


***


tok tok tok...


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan gadis yang kini menatap dirinya didalam cermin.


Falery mengalihkan pandangannya, melangkah maju dan membuka pintu.


ceklek....


"Siap melayani anda tuan putri" ucap seorang pria tampan yang kini telah bersiap dengan jas dan juga pakaiannya yang rapi.


Ya, malam ini Falery tampak semakin cantik dengan dress panjang berwarna merah yang membalut tubuhnya, terlihat rambutnya yang kini digerai panjang sampai menyentuh punggungnya.


"Alfian" suaranya menggema begitu indah membuat Alfian tersenyum kearahnya.


"Aku akan menemanimu untuk hadir di acara pesta malam hari ini."


Falery membelalakkan matanya keheranan. Bagaimana Alfian bisa tau tentang acara yang ia akan hadiri malam ini, bahkan gadis itu sedikitpun belum bertemu atau bahkan menghubungi Alfian sejak pagi tadi.


"Kau.... bagaimana bisa tau?."


"Aku yang memberitahu dia" ucap Thomas yang kali ini melangkah mendekat dan berdiri tepat disamping Alfian.


"Dad, aku bisa kesana sendiri."


"Dan kau tidak mengajak ku Falery? aku ini tunangan mu."


Falery hanya bisa bungkam dengan seribu bahasa, dirinya terlihat tersenyum dengan lembut dan mengangguk untuk keterpaksaan yang ia alami.


"Baiklah, kita berangkat sekarang?"pertanyaan itu dibalas genggaman dari tangan Alfian yang membuat Falery kembali tersenyum mengembang.


Didalam mobil keheningan bahkan dapat gadis itu rasakan. Sangat tidak nyaman batinnya.


Falery masih enggan berkata, dirinya menatap jalanan yang sepi dengan sesekali menghembuskan nafasnya.


Falery tersenyum, menatap Alfian dengan wajahnya yang dirundung kekhawatiran.


"Aku, aku tidak tau Al."


"Apa maksudmu?" tanya Alfian lagi yang kini semakin tak mengerti.


"Al, apa kau fikir aku adalah Falery?" Alfian mengernyit bingung, dirinya semakin tak mengerti dengan sikap Falery kali ini yang terlihat gelisah.


"Alfian, apa aku bukan anak kandung mommy dan daddy? apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku kehilangan ingatan ku? aku benar-benar ck."


Alfian menarik kepala gadis itu dan menyandarkannya tepat di dada bidang atletis itu.


Membuat Falery semakin tenang dan lega akan perlakuan hangat Alfian padanya.


"Apa yang kau fikirkan Falery? mereka adalah keluarga mu, kau adalah putri kecil mereka, bukankah kau tau sendiri aku yang merawat mu setelah kecelakaan yang menimpamu... apakah itu belum cukup jelas?? dan siapa yang bilang jika kau bukan anak kandung paman Thomas ha?."


Falery bangkit dan menatap lekat mata pria yang kini menangkup kedua pipi gadis itu.


Ada kesedihan yang terpendam disana, gadis itu seakan ingin melihat suatu kejujuran dimata Alfian yang kali ini menatapnya dengan sayu.


Alfian memajukan wajahnya, dirinya semakin mendekat dan menyentuh dagu Falery yang kini hanya diam. Alfian mulai menutup matanya dan sekali lagi hampir menyentuh bibir Falery. Namun gerakan Falery begitu gesit untuk menghindari bibir Alfian yang hampir saja menyentuh bibirnya.


"Maaf..." ucapnya tanpa mau memandang Alfian lagi.


"Fay, kenapa kau menghindar?" Falery tak bisa berkata-kata, yang ada difikirkannya adalah pria yang selama ini ia benci. Namun kenapa seperti itu, bahkan tindakan Alfian wajar seperti ini, tapi kenapa dia menolak, sedangkan orang yang tidak pernah bertemu dengannya saja mencuri ciuman pertama itu dia malah membalasnya.


"Falery, tatap mataku! apakah kau mencintaiku?" ujar pria itu sambil menarik wajah cantik Falery yang kini beralih padanya lagi.


"Bukan seperti itu Al, aku hanya belum siap saja."


"Tapi kau bisa belajar."


Falery menggeleng, dirinya tampak ragu dengan apa yang akan ia lakukan tadi. Rasanya hatinya seolah bersalah pada Yasya. Entah mengapa fikirannya selalu melayang, mengingat wajah Yasya yang semakin membuatnya gila dan frustasi.


"Maafkan aku Al, bisakah kau menungguku sampai aku benar-benar siap?"


Alfian tersenyum lembut dan menarik punggung tangan Falery, pria itu menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Tentu aku akan selalu menunggumu sayang."


"Terimakasih Al."


***


"HADIRIN SEKALIAN, MARI KITA BUKA ACARA MALAM HARI INI DENGAN BERSULANG"


Suara Mc menggema membuat orang-orang yang berada didalam ruangan itu mengangkat gelas berisi wine masing-masing, termasuk Falery dan juga Alfian yang kali ini meminum wine itu.


"Bagaimana acara malam ini? kau menyukainya?" pertanyaan itu membuat Alfian mengangguk dan tersenyum kearah gadis yang berada didepannya.


Gadis itu menoleh kebelakang ketika dirinya merasakan ada orang yang menyentuh punggungnya.


"Presdir" ucapnya, diikuti tatapan Alfian pada Yasya yang kali ini menatapnya dengan senyuman yang membuat Alfian terkejut bukan main. Pria itu membelalakkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Nona Gilbert, apakah kau menyukai pesta yang kubuat secara khusus untukmu malam ini??? dan siapa gerangan yang kau bawa malam ini?" ucap Yasya dengan senyuman yang tersungging di bibirnya.


"Oh maaf, akan kuperkenalkan. Presdir ini dia tunangan ku, Alfian Mahesa, dan Al. Ini atasan ku, direktur pemilik saham terbesar perusahaan Forest. Presdir Iryasya Ferdiansyah."


Wajah pria itu mendadak pucat pasi dengan pandangan matanya yang kosong entah kemana. Yasya hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya yang tak kunjung dibalas oleh Alfian.


"Dokter Al..." ucapan Yasya membuat lamunan Alfian buyar dan beralih menatapnya dengan tatapan datar.


"Alfian..." kata Falery sembari menyenggol lengan pria dihadapannya.


"Presdir... bagaimana kau bisa tau jika dia adalah dokter?."


Pertanyaan itu membuat Yasya tersenyum kearah Falery dan menatapnya intens.


"Tentu saja, aku sangat mengenal Alfian... dia adalah dokter hebat... aku sangat kagum padanya" ucapan Yasya membuat Alfian semakin membelalakkan matanya dan menatap benci pada Yasya yang kali ini mulai tertawa kecil.