The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Pahit dan mengusik



"Rey!"


"Al!, aku mohon, ini hidup aku. Kamu nggak tau betapa susahnya aku dulu, yang kamu tau aku punya orang tua dan keluarga. Tapi kamu nggak tau gimana perlakuan mereka ke aku" ujar Reyna yang kini mulai meneteskan air mata.


Namun sedetik kemudian akalnya kembali, dan ia segera menghapus air matanya yang tak berguna itu. Alfian hanya terdiam tanpa mau menatap Falery yang kini masih enggan memandangnya.


"Ma, maaf Al, aku kelewatan, maaf" kata Reyna yang kini mulai tenang kembali. Alfian menarik nafasnya dalam-dalam, ia mencoba tersenyum pada gadis itu. Meskipun kata-katanya tadi cukup keras ditelinganya namun mungkin inilah keputusan Reyna.


Alfian memang tidak tau bagaimana kehidupan Reyna yang dulu. Yang ia tau, bahwasanya keluarga gadis itu begitu menyesal dan sangat ingin bertemu dengan Reyna yang terakhir kalinya, hidup ataupun mati.


Alfian menepuk pundak gadis itu, membuat pandangan gadis itu mengarah pada Alfian yang kini mulai mengerti situasi Reyna yang tengah kacau.


"Aku tau kok Rey, maaf udah ikut campur urusan kamu. Aku memang nggak tau apa yang kamu alami dulu, tapi aku ngerasa harus sampaikan ini ke kamu. Untuk yang terakhir kalinya, aku tanya ke kamu, apa kamu mau denger penjelasan aku tentang mereka?" Reyna sempat diam sesaat. Pandangannya menatap kosong heels yang ia kenakan. Dikira masih kalut dengan apa yang dilakukan oleh keluarganya dulu, namun di sisi lain, ia juga ingin mengetahui apa yang hendak dikatakan oleh Alfian padanya.


"Rey, kalo kamu nggak mau nggak apa-apa, aku nggak maksa kok" ujar pria itu membuat Reyna mengangkat pandangannya dan menatap Alfian dengan lekat.


"Rey,"


"Nggak perlu Al, aku udah mutusin untuk nggak lagi berhubungan sama mereka. Itupun bukan aku yang mutusin hubungan ini, tapi mereka sendiri yang pengen aku jauh."


"Maksud kamu apa Rey?" tanya Alfian yang membuat gadis itu membelalak. Ia bahkan tak sadar bahwa ia baru saja keceplosan.


Gadis itu tiba-tiba bangkit seraya meremas jemarinya yang terlihat basah oleh keringat dingin.


"Sorry Al, aku harus cabut dulu, aku buru-buru" ujar Reyna yang kini membuang muka dan segera melangkah untuk menjauh dari Alfian. Bahkan teriakan dan juga panggilan dari sahabatnya itu tak digubris olehnya.


Alfian sempat mengejar langkahnya, namun langkah gadis itu begitu cepat hingga membuat pria itu akhirnya menyerah.


"Sebenernya ada apa dengan masa lalu kamu dan keluarga kamu Rey? kesalahan apa yang membuat kamu jadi egois kaya gini" gumam pria itu yang kini menatap punggung Reyna yang semakin menghilang dari pandangannya.


Reyna kini telah masuk kedalam taksi yang baru saja ia pesan. Pandangannya masih terasa dingin dengan matanya yang berkaca. Tiap kali ia merasa bahagia, tiap kali ia merasakan puas, ia selalu mengingat mereka.


Reyna tak ingin lagi kembali pada masa-masa itu. Bahkan kehidupannya sudah ia rencanakan sebelumnya. Hidup sendiri memang sepi, hidup sendiri memang terasa susah dan juga hampa. Tiada yang dirindukan, tiada yang didambakan saat ia pulang. Tiada yang menyambutnya kala dirinya merasa lelah. Namun apa arti semua itu jika akhirnya ia akan dicampakkan dan dibuang.


Sudah cukup hidupnya menjadi Reyna dan Falery yang dulu. Sekarang ia ingin menjadi dirinya yang sekarang tanpa mengenal masa lalu yang selalu melukainya.


Gadis itu mengusap air matanya yang terjatuh tanpa sengaja. Ia masih melihat jalanan yang lengang tak seperti biasanya.


"Pak, berhenti di supermarket depan ya, saya mau belanja" ujarnya setegar mungkin. Membuat sang supir taksi menghentikan mobilnya disisi jalan.


Gadis itu kemudian memasuki supermarket yang diisi dengan banyak sayuran dan buah-buahan disana. Tiba-tiba saja pandangan menatap sebuah cheesecake yang tertera di etalase bagian kue.


Fikirannya kembali melayang, tersenyum dengan hangat mengingat Yasya yang kini jauh darinya. Perlahan gadis itu menghampiri kedai kue tersebut, ia menatap lama cheesecake yang ada disana sambil menunggu pelayan menghampirinya.


Tak butuh waktu lama, seorang pelayan wanita menghampirinya seraya tersenyum menawarkan.


"Ah, iya mbak, saya minta satu box ya" ujarnya penuh semangat. Pelayan tersebut mengangguk.


"Baik mbak, ditunggu sebentar ya saya ambilkan yang masih fresh didalam. Mau topping rasa apa mbak?" tanya pelayan itu lagi membuat Reyna tampak berfikir sejenak.


"Blueberry aja deh mbak" ujarnya membuat pelayan itu tersenyum seraya membalikkan tubuhnya untuk menuju dapur.


Sementara itu Reyna masih memutar kembali fikirannya yang masih terbang tinggi. Hanya memikirkan Yasya saja membuat dirinya seperti orang gila yang tersenyum tanpa alasan. Apalagi jika bertemu nanti, bagaimana ia akan mengutarakan isi hatinya.


Tak sampai dua menit berlalu, pelayan wanita tersebut akhirnya kembali dan menghampiri Reyna seraya membawakan bingkisan serta box yang ada didalamnya.


Reyna menyambut dengan tersenyum, ia akhirnya meraih uang yang berada di tasnya untuk diberikan pada pelayan tersebut.


"Makasih ya mbak" kata Reyna seraya menerima bingkisan tersebut.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, ia tanpa sadar mendongak dengan tatapannya yang terkunci. Tangannya melemas seketika dan tanpa sengaja menjatuhkan cheesecake yang ia bawa.


Matanya membelalak dan segera menunduk. Ia mengambil kembali bingkisan tersebut dan bangkit untuk segera pergi dari sana.


"Reyna!" suara yang familiar itu membuat Reyna terdiam seketika. Dahinya berkerut bingung dengan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


Ia menghentikan langkahnya sesaat beberapa langkah menjauh dari pria yang tak asing baginya itu. Kemudian pria itu mendekat, meraih pundak Reyna yang kini tersentak.


"Kamu Reyna kan? nggak salah lagi" ujar pria itu yang kini membalikkan tubuh gadis itu yang kini terdiam seketika.


"Heng, Hengky" ujarnya dengan suara yang terbata sekaligus terkejut tiada terkira.


Ia bahkan tak menyangka bisa bertemu sahabat masa lalunya itu. Hengky bahkan berubah, ia bertambah tinggi dengan jakunnya yang semakin terlihat. Rambutnya semakin tertata dan dewasa.


Seperti Reyna yang kini mulai menyadari perubahan Reyna, gadis yang dulunya hanya setinggi pundaknya kini sudah setinggi telinganya. Gadis yang dulunya berambut hitam dan sedikit bergelombang, kini menjadi sedikit merah dan lurus juga panjang. Warna matanya berbeda karena memakai softlens. Pandangannya berubah tegas tanpa ragu.


Reyna melangkah mundur beberapa senti dari pria itu yang kini masih tak menyangka dengan keberadaan Reyna yang berada didepan matanya.


Padahal Reyna telah pergi, namun dihadapannya adalah Reyna yang asli. Meskipun ia tampak berbeda dari yang ia kenal semasa SMA, tapi wajahnya masih sama dengan yang dulu.


"Reyna! kamu kenapa bisa ada disini? kamu kemana aja selama ini! bukannya dulu kamu?" tanya Hengky yang seketika menghentikan kata-katanya seraya memalingkan wajahnya sesaat.


"Ayo ikut aku" kata Hengky seraya menarik lengan gadis itu secara paksa membuat Reyna semakin tak mengerti.


"Kemana Ky? aku nggak mau!" kata Reyna seraya menghempaskan tangan Hengky. Reyna masih terkejut dengan kehadiran Hengky yang berada dihadapannya.


Dan tiba-tiba saja Hengky memaksanya untuk ikut bersamanya. Ia berfikir bahwa posisi ini sangat akward untuknya.