
"Itu bukan kaya gitu Rey caranya, tapi kaya gini" ujar Reyhan menuturkan, seraya mengambil laptop dari pangkuan Reyna yang kini tengah berfikir serius.
"Aduh, abang! aku belum selesai nih" kata Reyna yang kini mencoba merebut laptop itu kembali, namun buru-buru Reyhan menaikkan jari telunjuknya dan mengisyaratkan untuk diam.
"Wah, seru amat, nih gue bawain pizza" kata seorang pria yang kini tiba-tiba masuk ke kamar Reyhan membuat kedua kakak beradik itu menoleh. Dapat dipastikan kini keduanya tengah tersenyum sumringah menatap tiga box pizza didepan mata keduanya kala Zayn datang dan membelikan sesuatu yang mereka butuhkan dari tadi.
"Nggak dari tadi aja, udah laper nih gue!" kata Reyhan sewot membuat Zayn hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Dasar, nggak tau terimakasih, masih aja protes, gue balikin aja deh ke tukang jualannya" ujar Zayn membuat Reyhan menggeleng seraya menarik box pizza itu untuk disembunyikan. Reyna yang melihat dua pria itu hanya bisa tertawa. Gadis itu beruntung sekali mempunyai kakak yang sangat menyayangi dirinya Zayn dan Reyhan.
Kali ini mereka bertiga tengah berkumpul dikamar Reyhan. Meskipun cukup sempit, tapi bagi mereka tidak apa jika bisa merasakan kebersamaan. Kedua pria itu memang sengaja memberikan pelajaran privat tentang bisnis kepada adik perempuannya itu yang kini hanya bisa menggaruk tengkuknya karena memang tidak mengerti sama sekali.
"Sampe sini paham?" pertanyaan dari Reyhan mendapat gelengan dari Reyna yang kini tengah menyengir kuda. Baginya melihat angka dan juga nilai kurs ditabel itu hanya membuat kepala Reyna pecah saja, dari dulu gadis itu memang tidak menyukai hal yang berbau bisnis seperti ini, kenapa juga Reyhan dan Zayn selalu memaksanya? toh ada Reyhan yang memang lebih tau menahu masalah ini daripada dirinya.
"Aduh lo itu ngajarin yang bener dong Rey, pasti ngasal, makanya Reyna nggak paham. Sini kak Zayn ajarin" kata Zayn yang kini menarik lengan adiknya membuat gadis itu memanyunkan bibirnya. Sedangkan Reyhan membulatkan matanya tak percaya. Kurang jelas bagaimana, dia bahkan mengulang-ulang angka agar Reyna paham, tapi memang dasar Reyna saja yang lemot.
"Sampek sini udah paham?" lagi-lagi Reyna menggaruk tengkuknya. Memang benar dirinya tidak berbakat soal keuangan apalagi hal besar seperti menjadi CEO perusahaan. Kalau saja tidak ada Zayn, pasti dari awal Syakieb group sudah bangkrut sejak awal.
"Udah ah, aku emang nggak bisa kok, ngapain sih maksa mulu. Kepala aku kek mo pecah tau nggak!" kata Reyna yang kini akhirnya bangkit dan meninggalkan kedua kakaknya itu. Reyna keluar dari kamar, rasanya kepalanya kini pusing mengingat angka-angka tadi yang masih terngiang dikepalanya.
Reyna melangkahkan kakinya dengan gerakan kakinya yang begitu kesal. Ia melangkah menuju dapur, tak disangka ia bertemu dengan Reynaldi yang kini tengah menikmati susu di malam hari.
"Reyna? kenapa? berantem lagi sama kakak-kakak kamu?" tanya Reynaldi yang kini menoleh menatap putrinya yang tengah mengambil air dingin dari dalam kulkas. Reyna berjalan menuju Papanya dan duduk dihadapan Reynaldi dengan wajah kusutnya. Wajahnya terlihat lelah seraya menghembuskan nafas lelah setelah meminum air putih yang baru saja ia tuangkan kedalam gelas.
"Aku capek pa, aku udah bilang dari awal kalo aku bukan anak bisnis, udah aku bilang juga biar bang Reyhan aja yang nanganin, lagian kan ada-" suara Reyna tiba-tiba terhenti kala ketukan pintu terdengar ditelinganya.
"Ada siapa Rey?"
"Siapa Rey?" kata Reynaldi yang kini berjalan menuju ruang tamu. Dapat ia simpulkan bahwa pria itu yang kemarin hari kerumahnya dan berkata bahwa dirinya adalah temannya Reyhan.
"Pa, ini Yasya, ayo masuk Sya" ajak Reyna membuat Yasya tersenyum. Memang tidak salah putrinya memilih calon suami, sudah tampan, dan terlihat auranya yang memang mencerminkan pria yang begitu baik. Sejak pertama kali melihat Yasya, Reynaldi memang sudah menyukai pria itu dari awal. Pria yang sopan dan bijak, itulah yang dilihat dari mata Reynaldi.
Setelah mereka berbincang-bincang, Reyna kembali membawakan nampan berisi jus jeruk untuk Yasya. Kini setelah mendengar cerita dari Yasya, Reynaldi semakin yakin jika Yasya memang pilihan yang terbaik untuk putrinya.
"Gimana perusahaan kamu? lancar?" tanya Reynaldi membuat Reyna duduk disamping papanya. Ia tersenyum kearah Yasya seperti memberikan kode bahwa dirinya sangat mencintai pria itu.
"Lancar om, kebetulan minggu lalu kami menang tender dari perusahaan cabang Malaysia. Padahal saya dulu jurusan pendidikan, nggak nyangka bisa gantiin papi" kata Yasya membuat Reyna sedikit tersindir. Baru saja ia tadi menyinggung masalah itu pada Reynaldi sekarang malah terulang lagi lewat Yasya.
"Bagus dong, itu artinya kamu berbakat, saya bangga sama kamu" kata Reynaldi membuat Yasya tersipu dibuatnya. Kini lampu hijau sudah didepan mata, dilihat dari ekspresi Reynaldi, sepertinya dirinya juga telah menyukai Yasya sejak awal.
"Jadi maksud saya kemari, saya ingin melamar Reyna untuk jadi istri saya om. Saya sudah pernah melamar Reyna sebelumnya, tapi untuk lebih serius lagi, saya mau ketemu om Rey langsung" Reynaldi tersenyum, memang anak muda jaman sekarang maunya cepat-cepat. Tapi kini beban Reynaldi sedikit berkurang mengingat Reyna akan dipersunting, tinggal satu lagi putranya yang agak kolot itu merayu wanita. Sepertinya Reynaldi harus meminta bantuan kepada Yasya soal PDKT kepada lawan jenis agar Reyhan juga ada kemajuan.
"Om sebagai orang tua selalu mendukung keputusan anak-anak, jika kalian saling mencintai, om nggak keberatan sama sekali" kata Reynaldi membuat Reyna tersipu dan menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang kini merona.
"Jadi, om setuju?" pertanyaan itu mendapat anggukan dari Reynaldi membuat kedua sejoli itu saling menatap satu sama lain. Akhirnya, semuanya berjalan dengan lancar, tinggal menghitung hari dan mereka akan segera menikah.
"Eh, enggak-enggak papa setuju bukan berarti kami juga setuju" kata Reyhan diikuti Zayn dibelakangnya yang tiba-tiba saja mengejutkan Reyna dan Yasya yang menatap kedua pria itu dengan intens.
"Iya pa, aku sama Reyhan juga berhak bikin keputusan. Enak aja main ambil anak orang terus setuju gitu aja, Reyna itu mahal" kata Zayn membuat Reyna menggeleng seraya menepuk jidatnya.
"Hey, daripada kalian iri kalo Reyna bentar lagi nikah, mending kalian cepet cari mantu buat papa. Lagian heran juga, kalian itu cowok tinggal milih mana yang mau dinikahin, masa kalah sama Reyna" kata Reynaldi membuat Yasya dan Reyna hanya bisa menahan tawa.
Sedangkan kedua pria itu hanya bisa mengerucut sebal. Memang benar juga apa yang dikatakan Reynaldi, mereka adalah laki-laki, jika ingin menikah tinggal memilih, tidak seperti perempuan yang hanya bisa menunggu.