The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Hatters Novi



Jam istirahat tiba, kini semua karyawan satu persatu keluar dan hendak makan siang. Begitupun Cindy dan juga Luna, dua sahabat yang saling menempel satu sama lain. Sambil berjalan menuju kantin mereka tampak berbincang-bincang seraya terkadang memberikan candaan.


"Eh Lun, lo tau kan pak Jeremi yang manager itu."


"Apaan? hem, gue tau nih lo pasti punya gosip baru kan. Udah ah nggak usah bahas yang nggak penting, eh hari ini kok gue nggak liat Kanaya ya" kata Luna dibalas tawa kecil dari Cindy yang kini mensejajarkan langkah mereka.


"Iya nih, biasanya dia pasti keluar kok buat makan, masa iya dia nggak laper" ujar Cindy yang kini menghentikan langkahnya kala dirinya sudah sampai di kantin kantor yang cukup lumayan luas.


"Eh liat tuh si Novi, gayanya sok kecakepan banget sih, lagian tuh cowok mau aja nempel sama cewek uler kaya dia" ujar Cindy yang kini menatap Novi penuh dengan kebencian. Namun Luna hanya menggeleng seraya memutar bola matanya malas. Memang Cindy adalah salah satu haters dari Novi, jadi dirinya tidak pernah telat mendapat informasi seputar gosip dari wanita seksi itu. Ya meskipun ada benarnya juga, Novi adalah "ayam kantor" tapi itu bukanlah urusan mereka sebagai karyawan biasa. Takutnya nanti malah menyinggung atasan dan membuat posisi mereka terancam.


"Udah deh nggak usah diladenin, cari tempat duduk gih" ujar Luna membuat Cindy mengerucutkan bibirnya sebal. Luna mengarahkan pandangannya keseluruh penjuru kantin. Ia menemukan bangku kosong diujung ruangan yang nampak ramai, dengan cepat Luna menarik lengan Cindy untuk duduk ditempat itu.


"Tau nggak, ternyata cowoknya Novi itu satu divisi loh sama si Naya, gosipnya mereka juga udah pernah jalan bareng, tapi giliran dateng si uler, Kanaya mundur deh" kata Cindy melanjutkan omelannya yang memang selalu menjadi sumber utama pencarian gosip.


Mendengar hal itu Luna hanya bisa mengernyit bingung, jika hal itu benar bisa jadi apa yang dikatakan Cindy masuk akal. Tempo hari saja saat Kanaya ada janji makan siang bersama teman misteriusnya itu, tiba-tiba Kanaya bersikap kesal, bisa dipastikan gadis itu memang ada hubungannya dengan pria tampan yang kini duduk disamping Novi.


"Gila deh, padahal cantikan Kanaya kemana-mana" lanjut Cindy yang kini mengunyah kripik kentangnya yang sudah ia buka seraya matanya masih melotot menatap arah samping jauh dari pandangannya.


"Eh, yang bener?" tanya Luna yang kini menatap tajam arah kedua pasangan itu yang


kini tengah makan suap-suapan. Rasanya ingin muntah saja, pamer kemesraan didepan umum, seolah Novi ingin membuktikan kepada semua orang bahwa pria itu hanya miliknya.


Cindy semakin mempercepat makan kripik kentang itu, ia gemas sendiri ketika mendengar topik gebetan temannya yang direbut tanpa permisi. Dan sialnya lagi, si cowok mau-mau saja dengan Novi.


"Emang ada di muka gue tampang bercanda? ya bener lah! kalo gue jadi Kanaya gue pasti juga bakal ngelakuin hal yang sama. Jijik banget punya saingan cinta rasa PSK, si cowok pasti juga udah nyicipin ayam kantor itu, makanya dia pindah haluan sama cewek yang gampangan!" ujar Cindy geram seraya melototi Luna yang kini hanya bisa menggeleng saja. Cindy memang gila, mulutnya itu lebih pedas daripada komentar netizen di dunia maya. Terkadang bahkan Luna sampai takut-takut sendiri jika omongannya yang pedas itu sampai ketauan orang dalam yang penting. Bisa runyam urusannya.


"Eh ngomong-nya jangan sembarangan lo, nanti kita tanya aja langsung ke Kanaya kalo emang bener dia udah PDKT sama tuh cowok, gue juga penasaran sih" kata Luna seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Sebenarnya Luna bukan hanya penasaran, tapi ia juga peduli. Mengingat perasaan Kanaya kemarin yang berubah-ubah, Luna jadi kepikiran apa yang dikatakan Cindy memang benar.


Ditengah mereka menyantap makanan ringan seraya berbincang-bincang ringan, tiba-tiba saja seorang pria kini duduk didepan bangku mereka. Cindy terperanjat sedang Luna hanya bisa membulatkan matanya ketika cowok itu tiba-tiba tersenyum sok ganteng pada dua sahabat itu.


"Hay! boleh duduk sini nggak?, kebetulan nggak ada bangku kosong nih" sapa Edwin yang kini membuat kedua sahabat itu mengernyit.


"Boleh kok, kan udah duduk" kata Luna membuat Cindy terkekeh.


"Kalian temennya Kanaya ya?" pertanyaan itu membuat Cindy dan Luna saling menatap. Mereka melihat cowok itu bersamaan dengan pandangan heran. Memang mereka tidak pernah melihat cowok dihadapan mereka itu, terkesan asing. Mungkin saja anak baru juga batin keduanya yang kini mengangguk bersamaan.


"Kamu siapa ya? kok kenal sama Naya?" tanya Luna yang kini mulai penasaran. Sedang Cindy hanya bisa menyeruput jus mangga yang berada didepan matanya itu.


"Eh, lo kakaknya Kanaya kan, pasti tau dimana dia? btw kok dari pagi nggak keliatan? ada acara apa sampe minta izin segala?" pertanyaan itu membuat Edwin menghembuskan nafasnya.


"Nggak ada acara apa-apa kok, dia lagi nggak enak badan aja makanya minta izin. Oh ya, ngomong-ngomong kemarin pas Kanaya pulang ada bareng nggak sama kalian?" pertanyaan itu sontak membuat Luna dan Cindy menggeleng.


"Enggak tuh, katanya dia mau pulang sendiri dijemput papanya" ujar Cindy yang kini menyeruput jusnya lagi, sedang Luna hanya menyimak seraya memakan cemilan dihadapannya.


"Kanaya sakit kok nggak ngabarin kita sih, jenguk yuk" ujar Luna dengan ekspresi sedikit kesalnya. Mendengar hal itu Cindy menghentikan aktifitasnya dan menatap manik mata Luna yang mulai terlihat khawatir itu.


Walau bagaimanapun Kanaya adalah teman seangkatan mereka. Meskipun bisa dibilang gadis itu tak terlalu dekat dengan teman-temannya, tapi Cindy maupun Luna juga peduli padanya.


"Boleh, sekalian aku mau nanyain sesuatu ke dia" balas Cindy seraya meraih keripik kentang yang berada dihadapannya.


***


Edwin melangkahkan kakinya dengan malas, tatapannya datar seperti hendak membunuh seseorang. Langkahnya terhenti kala sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang.


"Win, lo mau jenguk Kanaya kan habis ini, gue ikutan ya" ujar Reyhan yang kini menatap Edwin keheranan.


Edwin menatap datar wajah Reyhan yang kini seolah polos. Sebenarnya Edwin sedari siang telah mengecek CCTV kapan terakhir Kanaya keluar dari kantornya. Lantaran ia curiga, bahkan kedua temannya tak mengetahui dimana keberadaan gadis itu. Sedangkan yang dekat dengan Kanaya hanyalah mereka dan satu lagi yaitu Reyhan.


Edwin juga sempat menelfon orangtua Kanaya, ia menyuruh Mama Kanaya untuk mengecek ponsel siapa yang terakhir Kanaya hubungi. Mengingat Kanaya pulang malam-malam, sendirian dan tidak ada lemburan membuat kakak sepupu Kanaya itu tambah curiga.


Ditambah lagi dari balik CCTV terlihat Kanaya tengah menunggu seseorang selama berjam-jam sampai hari menggelap, dan jangan lupakan Reyhan yang turun dari motornya lalu pergi begitu saja. Ingatannya pun kembali saat ia tak sengaja membuka buku kecil yang ada di partisipan Kanaya yang bertuliskan bahwa dia begitu mencintai Reyhan.


Bukkk


Satu tinjuan mendarat di pipi Reyhan yang kini membelalakkan matanya. Ia kini menatap mata Edwin yang tiba-tiba saja memerah dengan pandangannya yang penuh amarah.


"Win! maksud lo apa mukul gue ha?! emang gue salah apa sama lo?!" teriak Reyhan yang kini berada di basemen tempat mereka hendak menaiki kendaraan masing-masing.


"Lo nggak usah pura-pura Rey! gue tau Kanaya sakit gara-gara lo?! lo jahat banget sih Rey"


"Mak, maksud lo apa Win? gue bahkan nggak tau kenapa Kanaya bisa sakit, dan gue baru tau sekarang, gue" belum sempat Reyhan melanjutkan perkataannya Edwin segera memukul wajah Reyhan lagi dengan brutal. Kali ini ia emosi, emosi sekali, bahkan ia tak menyangka jika Reyhan begitu tega mencampakkan adiknya itu.


"Aaaarrgh, Win stop!" teriak Reyhan yang sama sekali tak diindahkan oleh pria itu.


"Gara-gara lo, Kanaya nungguin lo sampek malem dan dia pulang ujan-ujanan. Lo nggak tau Rey dia sakit apa?! lo mau dia mati haa?! asal lo tau Rey, Kanaya udah jatuh cinta sama lo" perkataan Edwin membuat Reyhan yang kini tersungkur membelalakkan matanya tak percaya.