The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Kebahagiaan yang menyedihkan



Yasya segera memakai kimononya yang telah ia persiapkan sejak tadi. Dirinya menatap Falery yang tertidur pulas dengan selimut yang membungkus tubuh polosnya.


Diraihnya ponsel yang ia bawa dan bersiap untuk memulai panggilan.


Meski malam telah lewat dan telah berganti dengan pagi namun pria itu tak bisa menahan Falery semakin lama.


"Hallo Alfian..."


***


"kenapa dengan Falery????"


"tidak perlu bertanya, aku hanya ingin kau menjaganya... dan jangan manfaatkan keadaan ini"


Terlihat Alfian masih ragu dan menatap sekilas pada Falery yang kini tak sadarkan diri ditempat Yasya tinggal.


Ia memantapkan hatinya dan mengangguk pasti.


"baiklah, aku akan menjaganya sampai dia siuman"


Ujarnya membuat Yasya tersenyum tipis. Entah mengapa ada keraguan dalam hatinya, ia seperti ingin selalu melindungi Falery, difikirannya hanyalah Reyna yang ia cinta, bukan orang lain yang mirip dengannya.


'seharusnya aku senang ketika gadis pembuat masalah itu pergi dari hidupku, tapi kenapa rasanya tak rela dan sesakit ini??? uh.. aku tidak akan pernah mengganggumu Fay, maafkan aku yang telah salah faham terhadapmu'


Batinnya sesak, membuatnya mau tak mau membuang perasaan itu sejauh mungkin dari fikirannya.


Kini Alfian membawa tubuh Falery yang sudah memakai pakaian hangat lengkap dengan syal dan juga topi cantik yang menghangatkan tubuhnya.


Alfian menggendong tubuh Falery ala bridal style dan membawanya pergi dari kediaman Yasya.


Waktu menunjukkan pukul 8.00 pagi, terlihat Falery yang menggeliat, dirinya kini tengah tertidur dengan nyaman ditempat Alfian tinggal.


Dirinya tampak berkali-kali mengernyitkan keningnya tanpa membuka mata.


Dalam mimpinya....


"Saya mencintai mu pak Yasya.... saya sangat mencintai pak Yasya..."


Yasya meraih tangan Reyna dan menggenggamnya, mereka saling tersenyum.


"Reyna... tolong... aku mencintaimu Reyna, aku sangat mencintaimu..."


"aku tidak ingin menyesal untuk mencintaimu Reyna"


Yasya menarik tengkuk dan mencium bibir Reyna yang indah, dengan sekejap mata gadis itu membulat dan ikut terbuai dengan ciuman Yasya yang tiba-tiba padanya.


"pa...."


"JANGAN PERNAH PANGGIL AKU PAPA....!!!!"


Suara teriakan itu membuat hati Reyna bergetar, sebuah air mata turun dari sudut matanya.


"hiks... Tuhan... apa salahku, kenapa cobaan selalu bertubi-tubi seperti menghantam jiwaku"


"Aaaaaaaaahhh...."


Falery berteriak kencang, tubuhnya bangkit tanpa sadar, gadis itu mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


hosh hosh...


Suara nafasnya kasar, dengan tatapannya yang tajam memenuhi ruangan. Gadis itu telah mengingat segalanya, dirinya memegang sebelah pelipisnya yang terasa pusing.


"pak... pak Yasya... aku... aku sudah ingat segalanya"


Ujarnya dengan senyuman yang mengembang. Terlihat dirinya meringis kesakitan kala kepalanya terasa pening dan pusing.


"ahhh apa yang terjadi semalam???"


Falery mencoba mengingat kejadian yang ia alami semalam, dan betapa terkejutnya ia saat ini kala dirinya berada ditempat asing.


"apa aku semalam melakukannya bersama Yasya???"


Falery tersenyum mengembang, wajahnya memerah menahan malu akan perbuatannya yang samar-samar ia ingat saat dirinya dan Yasya sedang melakukan sesuatu.


"Falery...."


Suara itu membangunkan lamunan manis gadis itu, dirinya menatap tajam kearah Alfian yang kali ini mulai mendekatinya.


"jangan mendekat Al..."


Ucap Falery dengan tegas dan dibalas gelengan darinya, Alfian rak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh gadis dihadapannya itu. Dirinya memaksa untuk duduk tepat disamping Falery yang kini mulai berteriak dan menjauh darinya.


"AL.... ENYAH KAU...!!! PERGI DARI HADAPAN KU"


"apa yang kau katakan Fay, aku ini tunangan mu... kenapa kau berubah seperti ini"


Plakkkk....


Falery menampar keras wajah Alfian yang kini tak bergeming. Gadis itu dengan segera keluar dari rumah Alfian dan meninggalkan pria itu sendirian disana.


"taksi...."


Falery menghentikan kendaraan dihadapannya, dirinya tampak cemas dengan keberadaannya saat ini. Apalagi usai mengingat masalalu nya. Entah apa yang harus ia katakan dan jelaskan, semuanya begitu menyakitkan dan meragukan untuknya.


Kali ini, harapannya hanyalah Yasya. Pria yang selama ini ia rindukan dan ia cintai.


"hiks... apa yang aku lakukan, hiks... seharusnya aku mencari tahu siapa diriku... Tuhan.. Semoga aku tidak terlambat... Jika Yasya adalah jodoh ku, mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya"


Ucapnya sambil menatap jalanan yang begitu penuh dengan salju yang berserakan disana.


Falery merutuki kebodohannya, dirinya sampai tak habis fikir dengan semua yang ia alami selama ini.


Sebuah mobil berhenti disebuah rumah besar, Falery segera keluar dari taxi itu. Gadis itu segera berlari menuju rumah dan mengetok pintu.


tok tok tok...


Tak ada jawaban disana, gadis itu mencoba membunyikan bel tepat disamping engsel pintu.


Tampak dirinya tak sabaran ingin memasuki rumah besar itu.


ceklek...


Suara terbukanya pintu membuat dirinya tersenyum menatap kakak iparnya Grace yang kini menatap datar padanya.


"kak Grace??? kau?? kenapa disini???"


Grace tak berkata, dirinya hendak menutup pintu itu dengan tatapan malasnya pada gadis dihadapannya itu.


"kak... kau kenapa???"


Falery mencoba menghentikan gerakan pintu yang mulai hampir tertutup dengan sempurna oleh Grace didalamnya.


"kak, kumohon izinkan aku masuk... aku ingin menemui daddy dan mommy"


Ucapnya sambil terus menahan pintu itu agar tidak tertutup.


Brakkkk...


Grace dengan kasar mendorong pintu itu hingga tubuh Falery terjatuh tepat dihadapannya, membuatnya menatap tajam Falery yang kini terdiam dengan seribu bahasa.


"kau ingin menemui mereka haaa????!!! seharusnya kau sadar kau siapa??? gara-gara dirimu, daddy sampai masuk rumah sakit dan mommy kecewa padamu"


Falery membelalakkan matanya, dirinya masih tak percaya dengan apa yang dikatakan Grace padanya. Gadis itu baru saja sampai dan hendak memberikan sebuah kabar, namun semua berbanding terbalik dengan apa yang dia angankan.


"APAAAA??!!!!! kenapa??? kenapa daddy bisa sampai masuk rumah sakit kak??? kenapa denganku???"


Sebuah tanda tanya besar membuat gadis itu tak bisa berfikir jernih. Grace melemparkan lembaran demi lembaran foto Falery yang tengah hampir dinodai oleh Alex.


Terlihat di foto itu bajunya robek dan berserakan diatas lantai, hanya menyisakan bagian tubuh Falery yang absurd.


"kak... aku sungguh tidak melakukannya..."


"aku tidak perduli padamu..."


Grace mencoba menutup pintu itu kembali, dan Falery mencoba untuk menahannya lagi. Gadis itu tak kuasa, tanpa sadar air matanya menetes deras.


Grace tak mau menghentikan aktivitasnya, begitupun tangan Falery yang kini mulai terjepit pintu itu sambil meringis kesakitan.


"kak... kumohon... hiks... biarkan aku jelaskan semuanya"


"Jangan harap Fay..."


Grace memaksa pintu itu untuk tertutup, namun sayang, tangan Falery terjepit dan terpaksa ia tarik hingga membuat darahnya bercucuran dari sana.


Brakkk...


"kakak... kumohon... aku bisa jelaskan"


Teriakan dari gadis itu tak digubris sama sekali oleh Grace.


Tak butuh waktu lama, kakak iparnya itu kembali dari lantai atas, tepat dibalkon kamar Falery dan melemparkan koper milik gadis itu.


"kakak...."


Falery tak dapat menemukan keberadaan kakak iparnya itu, dia segera mengambil barang-barangnya sambil sesekali mengusap air matanya yang berlinang.


Bahkan jemarinya yang berdarah seperti tak ia hiraukan sama sekali. Rasa sakit yang ia terima membuat gadis itu pasrah, kembali pada masa lalu yang membuatnya jatuh dan terlunta-lunta seperti saat ini.