The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
Sebatas angan



"Nggak perlu, aku bisa sendiri!" kata Kanaya dengan suaranya yang sedikit meninggi membuat Reyhan menaikkan sebelah alisnya.


Tampak wajah Reyhan kini berubah menjadi kecewa, ia memang tak tau apa yang dirasakan Kanaya, tapi sepertinya Kanaya ingin sendiri saat ini mengingat dia seperti tak ingin diganggu.


"Kalo gitu, maafin aku ya Nay, kalo kamu ada masalah kamu cerita aja" ujar Reyhan yang kini kemudian kembali ke partisipannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Tak terasa air mata Kanaya menetes begitu saja, ia memegang mouse-nya kuat-kuat seraya memejamkan matanya sejenak. Andai saja Reyhan tau, sakit yang dirasakan Kanaya adalah tentangnya. Tapi alih-alih memikirkan itu, bisa jadi Reyhan tidak perduli padanya.


Apakah cinta yang Kanaya pendam selama ini memang hanya sebatas bertepuk sebelah tangan semata. Padahal mengingat perlakuan hangat dari Reyhan padanya begitu membuatnya nyaman, seolah-olah Reyhan juga sama mencintainya juga.


Kanaya menghapus air matanya yang mengalir tanpa bersuara, begitupun juga fikirannya yang melayang entah kemana. Daripada memikirkan hal tentang asmara, ia kini lebih baik memikirkan tentang pekerjaan daripada tentang Reyhan.


Jam menunjukkan pukul 15.00 waktunya memang paling pas untuk merenggangkan otot, termasuk Edwin yang kini menguap seraya mematikan PC-nya yang telah selesai dalam melakukan tugasnya tersebut.


Kini akhirnya hari panjang setelah seharian bekerja akhirnya usai juga. Termasuk Reyhan yang kini menatap meja Kanaya yang ternyata masih sibuk dengan pekerjaannya. Bukankah mereka tadi sudah berjanji untuk pulang bersama. Padahal pekerjaan itu adalah jatah lembur akhir pekan, yaitu besok tapi kenapa kelihatannya gadis itu masih saja enggan untuk meninggalkan proposal sebanyak itu.


Kini Edwin bangkit disusul dengan Reyhan yang kemudian melangkahkan kakinya dan berhenti tepat dibelakang Kanaya.


"Nay, kamu masih sibuk ya? kamu nggak luoa kan sama janji kita tadi siang?" pertanyaan itu membuat Kanaya sejenak menghentikan aktivitasnya.


"Kakak duluan aja, bentar lagi selesai kok" kata Kanaya singkat tanpa membalikkan kursinya. Reyhan tersenyum, itu berarti mereka bisa pulang bersama.


"Oke, jangan capek-capek ya" ujar Reyhan yang kini menepuk pundak gadis itu membuat Kanaya mengangguk.


Reyhan kemudian melangkahkan kakinya lagi, ia tersenyum seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sementara itu teman satunya yang kini merangkul pundaknya membuat pria itu terkejut seketika.


"Ada hubungan apa lo sama Naya? bukannya lo udah sama Novi ya?" pertanyaan dari Edwin membuat bulu kuduk Reyhan berdiri. Untung saja mereka sudah sampai didepan kantor divisi, kalau Kanaya dengar bisa tamat riwayat Reyhan.


"Tau darimana lo?" tanya pria itu dengan suaranya yang begitu lirihnya membuat Edwin tersenyum penuh arti.


"Emang lo kira gue blo'on gitu, gue tau kali kalo selama ini lo diem-diem jalan sama Novi. Hebat lo! untung adek gue nggak gampang buat jatuh cinta."


"Ngawur lo! gue nggak ada hubungan apa-apa sama si Novi, awas aja ya kalo gue denger gosip yang nggak-nggak" ujar Reyhan yang kini menahan emosinya. Namun sejenak ia memikirkan kata-kata Edwin tadi jika Kanaya memang tidak mudah jatuh cinta. Seketika wajah Reyhan terlihat murung hanya dengan memikirkannya.


"Tapi gue ingetin sama lo, kalo sampe adek gue baper, dan dia jadi frustasi gara-gara lo, gue yang bakal maju duluan buat ngehajar lo Reyhan!" perkataan Edwin dingin nan menohok membuat wajah Reyhan pucat pasi dan menghentikan langkahnya. Begitupun dengan Edwin yang kini tersenyum penuh arti padanya.


Reyhan hanya bisa menelan ludahnya, tanpa disadari Edwin mengisyaratkan jika seorang wanita kini telah menunggunya didepan sana.


"Reyhan!" teriak gadis itu membuat Reyhan mengikuti pandangan suara tersebut. Ia terkejut ketika tiba-tiba saja Novi memanggilnya membuat Edwin menaikkan sebelah alisnya seraya tersenyum penuh makna.


"Noh dicariin bidadari lo noh" kata Edwin seraya terkekeh.


"Pulang yuk, aku pengen makan seafood sama kamu" ujar Novi yang kini tiba-tiba saja sudah merangkul lengannya. Reyhan hanya bisa mengangguk menuruti.


"Gue cabut duluan ya bro" kata Edwin yang kini mulai melangkah menjauh untuk pulang. Ia juga tak ingin menjadi obat nyamuk diantara dua insan yang saling kasmaran. Dasar Reyhan sudah seperti wanita saja, katanya tidak ada hubungan tapi nyatanya tangan Novi bergelayutan. Begitu kata hati Edwin yang kini menahan tawanya sambil melangkah meninggalkan mereka yang tengah dimabuk asmara.


Novi dan Reyhan kini berjalan menuju parkiran, namun tampak dari arah belakang terlihat kedua tangan yang mengepal. Rasanya ingin sekali marah saat ini juga, namun emosi Kanaya kini hanya bisa ia redam mengingat statusnya yang memang bukan siapa-siapa.


"Nay, kamu kenapa? ayuk jalan" ajak Luna yang membuat Kanaya terperanjat dan mengangguk. Gadis itu menghentikan langkahnya kala dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Reyhan membonceng Novi dengan kecepatan tinggi keluar dari basemen. Rasanya hatinya memanas saat ini, padahal tadi Reyhan sudah bilang padanya untuk pulang bersama. Kenapa hati Reyhan sebercanda itu padanya.


"Kalian duluan aja ya, aku mau telfon papa buat jemput" kata Kanaya mempersilakan kedua temannya itu untuk pulang duluan.


"Yaudah kita balik dulu ya Nay, ati-ati lo" ujar Cindy membuat Kanaya mengangguk.


Kanaya memejamkan matanya erat-erat seolah beban berat menimpanya saat ini. Jujur saja baru pertamakali ini dirinya dibuat jatuh oleh perasaannya sendiri yang dari dulu tak pernah ia berikan pada siapapun.


Kanaya kini beralih mengambil ponsel ditas kecilnya, ia membuka riwayat chat. Satu pesan dari Reyhan membuat matanya mengerjap, gadis itu membuka pesan itu. Namun tebakannya salah, pikirannya yang semula menghakimi Reyhan kini berubah menjadi tanda tanya dikepalanya.


Reyhan menyuruhnya untuk menunggu dirinya, katanya ia ada urusan mendadak dan ia akan menjelaskannya setelah urusan dia selesai. Kanaya hanya bisa tersenyum, kali ini meskipun Reyhan berada dalam dekapan Novi tapi ia hanya ingin sebuah penjelasan dari pria itu.


Katakanlah jika Kanaya begitu bodoh, melihat dengan mata kepalanya sendiri dan mendengar apa yang telah terjadi. Tapi dirinya masih tetap percaya pada Reyhan.


"Aku akan nunggu kamu kak, dan ini yang terakhir. Aku harap kamu nggak ingkar sama janji kamu sendiri" Kanaya hanya berharap, semoga dibalik tanda tanyanya selama ini ada kejelasan.


Meskipun akhirnya dia yang akan tersakiti Kanaya hanya bisa apa?. Lagipula dia wanita, bukan seorang pria yang berhak memilih mana calon masa depannya nanti. Ia sudah mempersiapkan perasaannya yang memang akan kecewa nantinya, tapi ia tak kuasa menahan perasaannya sendiri.


Entah nanti Reyhan akan membuatnya kecewa sekalipun Kanaya tetap akan mengutarakan perasaannya meskipun akhirnya cintanya hanya sebatas bertepuk sebelah tangan.


"Aku cinta sama kamu kak Reyhan" gumam Kanaya seraya menarik nafas panjangnya.