The Secret Of My Love S2

The Secret Of My Love S2
6 bulan berlalu



6 bulan kemudian....


Langkah gadis ditengah pemakaman dengan pakaiannya yang serba hitam serta kacamata yang membalut kedua mata Falery.


Kini masa dimana salju menghadang telah usai. Masa itu berganti dengan mekarnya bunga berwarna-warni disetiap ujung jalan dan taman.


Meski begitu, masa yang telah berganti menjadi hari yang cerah dengan kupu-kupu berterbangan bahagia dan juga matahari bersinar diatas sana, namun tidak dengan Falery.


Baginya masa ini adalah masa dimana kehidupannya diuji kembali. Dengan beratas namakan takdir yang mempermainkannya lagi dan lagi.


Ditengah para manusia yang telah beristirahat dengan tenang, gadis itu melangkah, melewati beberapa batu nisan dengan nama yang tertuliskan disana.


Pandangannya sayu kala melihat nisan bertuliskan nama Thomas Gilbert tak jauh dari kakinya berdiri. Dengan hati yang bergetar juga perasaan yang begitu menyayat hati, Falery bersimpuh dan membawa sebuket bunga untuk pemakaman sang ayah.


"Selamat pagi daddy... daddy apa kabar? Falery sangat merindukanmu."


Falery seakan tak tahan dengan matanya yang hampir pecah oleh tangisan yang sempat ia tahan.


"Hiks... maafkan Falery... Falery adalah anak yang nakal, Falery menyesal dad... jika waktu bisa diputar kembali, Falery bersedia dihukum bahkan menggantikan posisi daddy saat ini hiks... hiks..." tangisan Falery pecah begitu saja. Fikirannya melayang, mengingat kejadian dimana ia mendapat kabar duka dari Grace bahwa sang ayah telah menghembuskan nafas terakhirnya.


Flashback on...


Langkah Falery dengan senyuman yang mengembang membuatnya semakin semangat untuk menengok sang ayah yang beberapa hari tidak ia kunjungi.


Terakhir kali gadis itu melihat keadaan Thomas, pria paruh baya itu tersenyum dan juga bahagia. Serta keadaannya yang mulai stabil kembali.


Kini akhirnya setelah beberapa saat Falery mengalami hal tersulit dalam hidupnya, dirinya mampu menjenguk Thomas lagi.


Langkahnya terhenti di lobi kala dirinya hendak memasuki ruangan yang ia tuju.


Suara dering pada ponsel Falery membuatnya terperanjat melihat panggilan dari Grace.


"Halo kak... aku sudah hampir sampai diruang daddy, aku sudah berada di lobi "


Grace tak kunjung menjawab, dirinya malah terisak membuat Falery mengernyit bingung. Tiba-tiba saja hatinya terasa sesak seakan apa yang akan disampaikan Grace adalah berita yang tak ingin ia dengar selamanya.


"Jenapa kak?! apa yang terjadi...?! kenapa kau menangis! daddy baik-baik saja kan."


"hiks... Fay ... kau harus kuat, daddy pasti bahagia, aku yakin dia pasti sangat menyayangi mu."


Lidah Falery kelu dengan matanya yang berkaca-kaca. Wajahnya memerah menahan hancurnya hati yang mulai ia perbaiki.


Tenggorokannya terasa tercekat, tak kuat untuk mengucapkan sebuah kata.


"APA MAKSUDMU?!! KATAKAN DENGAN JELAS KAK!" suara Falery yang semula biasa kini semakin meninggi, gadis itu mengusap wajahnya kasar bersamaan dengan air mata yang menetes melalui pipinya.


Terlihat beberapa orang menatapnya dengan tatapan aneh. Bahkan gadis itu tak menggubris orang-orang disekitarnya.


"Maafkan aku Fay... ini semua salahku, daddy.. daddy telah pergi Fay."


Falery tak kuat lagi, ponsel yang ia genggam ia jatuhkan begitu saja, ponselnya yang remuk dibawahnya tak ia pedulikan sama sekali. Kini tubuhnya lemas seketika dengan tangisannya yang begitu menjadi, gadis itu berlari dengan kencang, menangis ditengah-tengah pelarian.


Ketika telah sampai diambang pintu, terlihat keluarga angkatnya yang kini mengerumuni seorang pria paruh baya yang tengah terbujur kaku dengan kain putih yang menutup wajahnya.


"Hiks... dad..., a.. apa yang harus aku lakukan sekarang" ujar Falery penuh keraguan. Dirinya memerosotkan tubuhnya dibalik dinding yang penuh dengan suara tangisan. Bahkan terdengar suara Zayn yang begitu berat tengah mengamuk.


"INI SEMUA KARENA FALERY MOM! HIKS... DAD... BANGUN!! AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN DIA MOM...." kata-kata Zayn bak petir yang menyambar tubuhnya yang kini semakin lemas. Tak tau lagi harus bagaimana, gadis itu masih bertahan dengan posisinya.


Mendengarkan keluarga angkatnya mengatakan beribu sumpah serapah yang tertuju padanya. Baginya bukan masalah jika ia disalahkan, tapi kematian Thomas adalah pukulan terberat baginya.


Flashback off.


Falery bangkit, dirinya menghapus air matanya yang menetes deras melalui pipinya.


Gadis itu membalikkan tubuhnya, pandangannya menatap tanah dibawahnya. Terlihat sepasang sepatu laki-laki dihadapannya, gadis itu tersentak matanya menengadah menghadap pria yang kini menatapnya dengan aura kebencian.


Pandangan Falery menatap sayu pada Zayn yang kini melewati tubuhnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Falery menunduk, dirinya melangkah dan menjauh dari Zayn yang kini mulai bersimpuh dihadapan nisan sang ayah.


Mungkin percuma saja untuk mengajak pria itu bicara, bahkan dirinya hanyalah seseorang asing yang hadir untuk menghancurkan kehidupan keluarganya.


***


Seorang lelaki bertubuh tinggi kini memasuki ruangan CEO, dirinya dengan percaya diri membenahi posisi jasnya.


"Ehem... bro... gue denger, seminggu lagi lo mau nikah sama bule ya" ucapnya seraya melangkah mendekati Yasya yang kini masih fokus pada monitor dihadapannya tanpa menggubris kehadiran Satya.


"Eh busyeet... gue dicuekin gitu."


Yasya menoleh pria itu sekilas dan melemparkan sebuah undangan untuk Satya yang kini beralih duduk dihadapannya.


"bacot" ujar Yasya malas sambil melanjutkan pekerjaannya yang masih tertunda.


"Wiihhhh ternyata elo bisa move on juga ya" seketika kata-kata dari Satya membuat pria itu menghentikan aktivitasnya dan menatap tajam pada sahabatnya yang kini membuka undangan dengan tatapan polos.


"Mau lo itu apa sih Sat... bosen idup lo!" ucapnya dengan kasar membuat Satya tiba-tiba bangkit dan menyentuh kedua punggung sahabatnya, lalu memijitnya dengan pelan.


"Santai Sya... santai... gue becanda bro" ucapnya dengan wajahnya yang sedikit ketakutan oleh sikap Yasya yang baru saja tersulut emosi.


"Lagian lo ngapain sih kesini? ganggu gue kerja aja lo."


"Oh jadi lo ngusir gue" kata Satya yang kini mulai menggoda sahabat satunya itu.


Yasya memijit pelipisnya, pria itu tampak frustasi dengan apa yang ia rasakan.


"Yodah... gue pamit... tapi awas kalo lo sampek nyari gue... gue inget-inget perbuatan lo yang kek gini ke gue" ucapnya seraya melangkah menjauh dari Yasya. Namun tanpa ia sadari sebuah tangan menahan lengannya membuatnya menatap Yasya yang kini memandanginya dengan wajah memelas.


"Bisa nggak lepasin ini tangan... jijik gue, berasa kaya homo tau nggak."


Yasya menjitak kepala sahabatnya, kini rasa kesal bercampur bimbang dengan sedikit bercampur terhibur ia rasakan selama keberadaan Satya disampingnya.


"Ih sakit tau..." ucapnya dan langsung duduk dihadapan Yasya kembali seraya melipat kedua tangannya.


"Ngomong aja... gue dengerin" lanjut Satya lagi.


"Sat... sebenernya gue belum siap buka hati lagi" ujar pria itu sambil memijit pelipisnya.


"Terus lo ngapain nerima perjodohan ini ha?! bukannya lo udah janii sama diri lo sendiri buat gak nikah selain sama mantan lo itu"


"Dia bukan mantan Sat... dia takdir buat gue."


"Terserah deh lo mau bilang apa,"


Yasya menghembuskan nafas beratnya, dirinya mengusap wajahnya beserta rambutnya kebelakang. Menahan gejolak yang ia rasakan beberapa waktu lalu.


"Gue nggak bisa liat bokap gue mohon-mohon ke gue."


Satya menatap sahabatnya dengan pandangan mengintimidasi.


"terus, kasih tau ke gue... maksud lo apa ngasih perhatian ke do'i kalo emang lo nggak sayang haa? lo mau buat dia berharap gitu" kata-kata dari Satya membuat Yasya semakin bimbang. Entah apa yang ia fikirkan sebelumnya, tapi memberikan sebuah perhatian adalah bentuk bukti untuk meyakinkan hatinya sendiri.


"Sat... sebenernya bukan gitu maksud gue."


"terus maksud lo apa *******!" kata Satya kasar yang tak mengerti sama sekali dengan apa yang hendak diinginkan sahabatnya satu ini.


Yasya mengacak rambutnya frustasi. Diraihnya buku coklat kecil yang selalu menemani kesehariannya. Terselip sebuah foto kecil disana, dan dengan segera pria itu memberikannya pada Satya.


Dengan kecepatan kilat, Satya menyerobot foto itu dan mendadak terjingkat seketika.


"Busyeet... ini Reyna Sya, udah gede aja, lo edit pakek aplikasi apa nih?" kata Satya terkejut sekaligus kagum.


"Namanya Falery...."