
"Makasih ya Rey, semoga kamu dan Yasya bisa bahagia selamanya dan nggak akan ada lagi masalah diantara kalian" setidaknya meskipun ia tak dapat membalas begitu banyak pada gadis disampingnya. Namun ia rasa doa adalah hal terbaik yang bisa ia sampaikan pada Reyna.
Reyna pun tersenyum hangat, ia mengangguk sambil mengamini apa yang diucapkan Clara barusan.
Tampak kini Alfian berjalan santai kearah mereka, membawakan bungkusan yang berisi es krim untuk mereka.
"Aduh, maaf nih, lama nunggu ya?" tanya Alfian sembari memberikan bungkusan tersebut pada Reyna. Reyna hanya menggeleng, melihat keringat membasahi wajah Alfian membuat gadis itu sedikit tak tega mau memarahinya. Karena memang sebelumnya ia sangat kepanasan dan jarak tukang es krim tidak terlalu jauh.
"Nggak kok, santai aja Al" kata Reyna dengan santai sambil membuka bungkusan eskrim tersebut.
Hari semakin sore, senja menampakkan semburat merah di langit ibukota. Sedang kini Reyna tengah keluar dari mobil dan memberikan salam perpisahan pada pasangan yang kini akan menyambut kebahagiaan mereka.
"Aku masuk duluan ya, kalian yakin nih nggak mau mampir dulu?" tanya gadis itu yang kini telah berada di luar mobil Alfian dan Clara.
Keduanya hanya tersenyum, dan menggeleng untuk memberikan waktu bagi Reyna untuk beristirahat.
"Nggak lah Rey, kamu masuk aja" kata Clara.
"Yaudah, makasih ya untuk hari ini. Lain kali gantian aku yang traktir oke" ucap Reyna membalas.
"Boleh, oh ya untuk lamaran kerjaan kamu dirumah sakit kamu tenang aja Rey, aku bakal rekomendasikan kok. Jangan ngelamar di tempat lain loh, biar kita bisa satu kerjaan" kata Alfian membuat Reyna semakin tak enak hati dibuatnya. Sejujurnya ia ingin mengandalkan kemampuannya sendiri.
Toh lulusan dari universitas Florida pasti bisa menjamin ia masuk jika hanya dengan melihat kualitas kampusnya saja.
"Ah, nggak perlu repot-repot deh Al, kalo pun di tolak berarti belum rezeki aku aja" kata Reyna seraya menggaruk tengkuknya.
"Nggak apa-apa Rey santai aja, bukannya dari dulu kamu pengen jadi dokter ditempat aku kerja ya."
"Iya Rey, serahin semuanya aja sama Alfian, dia pasti bisa bantu kamu kok" kata Clara menambahkan membuat Reyna tak bisa berkata-kata.
Gadis itu hanya mengangguk sembari tersenyum kearah mereka. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Alfian dan Clara, butuh bantuan sedikit tidak ada salahnya bukan.
Apalagi dapat masuk ke rumah sakit idaman di ibukota. Fasilitasnya pasti juga oke, Reyna menimbang-nimbang sebentar keputusannya sebelum mengatakan 'iya' pada Alfian.
"Oke deh, kalo gitu makasih banget ya. Aku mau masuk dulu" kata Reyna mengakhiri pertemuan mereka.
Sembari melambaikan tangannya gadis itu tersenyum dengan pandangannya yang menatap kepergian mobil Clara dan juga Alfian yang melesat keluar dari area bangunan apartemennya.
Reyna menghela nafasnya, gadis itu dengan langkah cepat memasuki apartemennya yang berada di lantai 6.
"Reyna sekarang berubah ya, dia jadi makin cantik aja" kata Clara yang kini menatap jendela mobilnya seraya mengelus perutnya yang semakin membesar.
Alfian yang mendengar itu hanya tersenyum sambil melirik istrinya dengan tatapan manja. Ia tau betul apa yang dirasakan Clara saat ini, saat sedang hamil wanita pasti mengalami perubahan emosi yang tinggi, begitupun Clara. Dalam fikiran pria itu bisa jadi Clara cemburu, atau dia merasa tersaingi oleh kecantikan gadis itu, ataupun memang berniat untuk memujinya.
"Iya, secantik apapun Reyna berubah tetap kamu yang paling cantik buat aku" kata Alfian menimpali membuat Clara tersipu dengan wajahnya yang semakin menghangat.
Pandangannya masih enggan menatap suaminya. Ia memilih untuk bungkam seraya melirik pria tampan yang kini tersenyum menang dengan perkataannya barusan.
"Ihhh, gombal deh" kata Clara dengan manja membuat Alfian terkekeh.
Reyna kini tengah sampai di apartemennya. Gadis itu melepas sepatu hitam yang ia kenakan sembari berjalan lunglai menuju sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Gadis itu ambruk begitu saja dengan wajahnya yang terlihat lelah dan sedikit pucat.
Maklum, cuaca yang begitu berbeda dengan sebelumnya membuat gadis itu belum bisa menyesuaikan diri dengan hawa baru di Indonesia.
Gadis itu perlahan melangkah menuju kamar mandi, ia meletakkan tas kesembarang tempat.
"Capek banget sih" keluhnya sembari berkacak pinggang.
Setelah selesai dengan ritual acara mandinya, tampak wajah gadis itu semakin berseri dengan semangat yang kini telah kembali. Reyna keluar dari kamar mandinya dengan memakai baju piyama berwarna pink.
Perlahan langkahnya mendekati tas yang ia lempar tadi dan segera mengambil ponsel didalamnya.
Wajah usang Reyna berganti dengan senyuman tatkala ia mendapatkan pesan dari Yasya. Dengan wajah yang bersemu merah gadis itu segera membalas pesan dari Yasya.
Yasya: Selamat malam calon istri ku yang cantik.
Reyna: Yasya, nggak usah ngegombal deh.
Tiba-tiba saja setelah pesannya dibaca gadis itu malah mendapat panggilan video dari pria disebrang sana. Reyna tertegun seketika, padahal wajahnya masih acak-acakan, belum memakai bedak. Tak tau lagi apa yang seharusnya ia lakukan saat ini.
"Aduh gimana dong, belum juga dandan. Tapi kalo nggak cepet di angkat nanti dia marah" ujar Reyna seraya menggigit bibir bawahnya.
Tak ada waktu lagi untuk berfikir, ia hanya membiarkan rambutnya yang masih basah tergerai begitu saja. Segera ia mengangkat panggilan dari Yasya sebelum pria itu akan marah nantinya.
Reyna menghela nafasnya, gadis itu perlahan menata wajahnya dengan senyuman andalannya.
"Halo sayang" kata Yasya yang berada disebrang sana sembari tersenyum lembut kearah Reyna yang kini tersipu olehnya.
"Yasya, kenapa sih kamu mesti telfon nggak pernah izin dulu" ketus Reyna seraya memanyunkan bibirnya yang kini semakin terlihat manis dipandangan pria itu.
"Kenapa harus izin sama calon istri sendiri, emang kamu lagi sibuk ya? kalo lagi sibuk ya udah aku tutup aja deh."
"Eh, Yasya bukan itu maksudnya" ujar Reyna dengan manja. Tatapannya semakin kesal karena kini Yasya dibuat terkekeh oleh tingkahnya yang manja.
"Hehehe, apa sayang? kenapa?" tanya pria itu yang kini mulai membuat Reyna menghela nafas lelahnya. Perlahan matanya menunduk dengan wajahnya yang mulai memerah.
Yasya semakin bingung dibuatnya, ia tetap menatap Reyna sembari menunggu jawaban darinya.
"Ih, aku tuh baru mandi, belum dandan apalagi rambut aku masih acak-acakan" kata Reyna tanpa mau mengangkat pandangannya.
"Hahaha, jadi itu alasan kamu kesel ha? Reyna, Reyna... mau kamu belum mandi sekalipun, ataupun kamu baru bangun tidur kamu tetep yang paling cantik buat aku sayang. Kamu nggak perlu dandan aja udah cantik banget" ucapan Yasya membuat Reyna menahan malunya. Wajahnya semakin memerah tatkala Yasya mengatakan hal manis tersebut kepadanya.
Gadis itu hanya tersenyum menunduk sembari sesekali melirik Yasya dengan wajahnya yang semakin memerah.