
"Apa yang kau inginkan Clara?" pertanyaan datar itu membuat Clara mendongakkan pandangannya. Gadis itu menitikkan air matanya, merasakan penyesalan yang selama ini iya rasakan pada dirinya sendiri.
"Hiks... Al... aku sangat mencintaimu. Kumohon jangan tinggalkan aku, aku tak bisa hidup tanpamu. Hiks aku rela memberikan apa saja yang kau mau, asalkan itu dapat membuatmu kembali."
Alfian seperti rak tega melihat gadis dihadapannya itu menangis, namun semuanya hanyalah kenangan yang tak mungkin bisa menyatu kembali. Bayang-bayang itu adalah mimpi terburuk baginya.
flashback on.
Seorang pemuda kini berjalan menuju altar pernikahan, sosok itu adalah Alfian yang kini berpakaian rapi dan tampan dengan setelah jas putih dan seluruh pakaiannya serba putih.
Seluruh sorakan dari para tamu undangan yang hadir membuatnya tersenyum kearah mereka.
"Alfian...." suara seseorang yang menyentuh pundaknya dari belakang membuatnya menghentikan langkahnya sebelum sampai tujuannya.
Seorang lelaki kini membisikkan sebuah kata padanya.
"Alfian, Clara hari ini pergi keluar negeri. Dia terpaksa meninggalkan upacara pernikahan, dia. "
flashback off.
"CUKUP CLARA! JANGAN BUAT AKU MEMBENTAKMU LAGI! tolong pergi dari sini dan jangan pernah temui aku lagi. kau sudah cukup membawaku dalam setiap masalah."
***
cekrek cekrek cekrek....
Suara kamera terdengar menggema, bahkan diluar studio dapat terdengar dengan jelas.
"Yup, bagus... lagi" suara arahan dari fotografer membuat wanita dihadapan kamera berlenggang dengan gayanya yang begitu apik dan natural.
"Stop" kata Kenzo menghentikan.
"Kenapa?" pertanyaan itu keluar dari Elizabeth yang kini menatap heran pada Kenzo sang fotografer.
"Kita harus menunggu model utama dulu."
"Oh ayolah Kenzo, kau berlebihan. Biarkan ini mudah, cukup potret aku saja."
Kenzo masih terdiam dengan tatapan matanya yang penuh keraguan.
ceklek...
Suara terbukanya pintu terdengar begitu nyaring hingga Kenzo membalikkan tubuhnya, menatap Falery yang kini telah tiba diambang pintu, berdiri mematung melihat sosok Elizabeth.
"Nona Gilbert?" Falery menatap tajam Elizabeth yang kini juga membalas tatapannya dengan malas.
"Nona, kenalkan dia."
"Elizabeth Thompson. Kau fikir aku tidak tau?."
"Ya benar, jadi dia adalah...."
"Aku tak perduli siapa dia, PECAT DIA!" suara itu membuat Kenzo kini berkeringat dingin merasakan atmosfer kebencian pada diri Falery yang seakan ingin membunuh mangsanya
"Memangnya kau siapa memecat seseorang sesukamu? kau begitu tidak profesional, sudah jelas terlambat, tidak datang untuk minta maaf, lalu membuat masalah ditempat kerja."
"Humpphh. Kau lihat sendiri kan betapa bermoralnya dia?" ucap Falery sinis pada Kenzo yang kini tak berani berkata-kata. Gadis itu hendak keluar kembali, namun langkahnya terhenti tatkala pria bertubuh tinggi tengah berdiri dihadapannya.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan tuan presdir" ucapnya dengan nada kesal.
Yasya menarik kengan Falery, membawanya ke ruangan pribadinya.
"Yasya, lepaskan aku !."
Hati Falery sebenarnya ingin sekali memukul pria ini, namun fikirannya masih berakal. Ia tak mungkin membuat masalah dengan presdir.
"Apa lagi yang kau inginkan Yasya?!" Falery berteriak lantang, wajahnya semakin memanas ketika dirinya menatap Yasya yang kini tersenyum sinis padanya.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kau inginkan gadis kecil. Apa kau selalu egois begini?."
"Sebenarnya siapa yang egois? kau atau aku...? mohon maaf tuan Iryasya Ferdiansyah... dengan berat hati aku katakan, aku telah salah menilaimu" ucap Falery seraya membalikkan tubuhnya, hendak keluar dari ruangan tersebut. Namun dengan gerakan cepat Yasya menarik lengan gadis itu, mendorongnya hingga kini dirinya menghimpit dinding bersamaan dengan Yasya yang kini menahan tubuhnya.
"Aaahhh...." teriakan gadis itu membuat Yasya membungkam mulutnya dengan bibirnya. Falery berkali-kali memberontak, dirinya mencoba menutup diri pada Yasya, namun perlakuan Yasya kini seperti diambang batas.
Falery terpaksa menggigit bibir bawahnya, membuat Yasya meringis kesakitan dan memundurkan wajahnya.
dakkkk....
Falery menendang lutut pria dihadapannya, membuat Yasya kini mundur beberapa langkah.
"Apa kau tak puas menindasku haaa?! sebenarnya apa yang salah dari dirimu Yasya...,?!."
"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang salah pada dirimu Reyna?!."
.
"Reyna?! kau fikir aku Reynamu itu? bisakah kau melihat bahwa aku adalah Falery, apa kau buta?!" Yasya menarik nafasnya dalam-dalam, dirinya seakan ingin berteriak sekencang mungkin. Hatinya seakan terkoyak oleh perkataan Falery pada dirinya.
Yasya melangkah mundur, dirinya menatap pemandangan diluar jendela, lengannya bersandar didinding, dirinya seakan gemas dengan semua yang ia lalui.
Mata pria itu berkaca-kaca, tak bisa ia menjelaskan kesedihan yang ia alami pada Falery.
"Yasya... maafkan aku..." ujar gadis itu menepuk pundak pria yang kini mulai meneteskan air matanya. Falery merasakan kesedihan yang dialami oleh pria satu ini. Mungkin dirinya juga merasakan sakit, namun entah kenapa kehadirannya begitu penting, dirinya seakan ikut sedih atas apa yang dialami oleh pria satu ini.
Yasya masih terdiam dengan pandangannya yang kosong.
"Aku tau apa yang kau alami, tapi ini salah Yasya, aku bukan Reyna. Aku adalah Falery... kau salah paham tentang itu... jadi."
"Nona Gilbert ini salahku, aku yang seharusnya minta maaf padamu" ucapnya sambil menghapus air matanya sendiri.
"Presdir..." Yasya mengangkat sebelah tangannya, pertanda ingin menghentikan kata-kata Falery yang kini tertahan di tenggorokannya.
"Malam ini akan ada pesta pengesahan proyek kita, jika kau berkenan, hadirlah di hotel Gloria."
"Ba... baiklah presdir... tapi kau."
"Falery, tolong tinggalkan aku sendiri."
"Yasya."
"Kumohon padamu... tinggalkan aku sendiri" ucapan Yasya dengan nada tegas membuat Falery menunduk dan mengangguk. Entah mengapa rasanya gadis itu ingin selalu menemani disetiap kesedihan yang dialami oleh pria itu. Falery ingin memeluknya, menghapus jejak air matanya yang baru saja berlinang. Gadis itu menangis dalam hatinya, tergores oleh luka yang ia buat sendiri tanpa sengaja.